Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Dibagian kedua ini, saya akan menceritakan sistem operasi Windows paling ikonik. Aplikasi atau perangkat lunak paling banyak di pakai di seluruh dunia. Sesuai gambar yang saya unggah di blog ini. Juga kita akan melihat data pengguna Microsoft paling laku di dunia dan mengapa masih banyak yang menggunakan MS XP ini.
Pertama,
mari kita lihat kepanjangan dari XP pada sistem operasi ini. Ada beberapa
penjelasan dari kepanjangannya. XP bisa diartikan sebagai eXPerience, ya, sebuah hal yang ingin dibuat Microsoft sebagai pengalaman indah atau pengalaman
baru bagi seluruh pengguna di dunia. Sistem operasi pertama di dunia yang
menawarkan gambar dan warna yang menarik saat itu. Dunia yang sudah tidak hitam
putih atau sekadar abu - abu seperti pada OS sebelumnya atau seperti DOS yang
hanya berwarna hitam pekat dan putih tulisannya. Dunia pertama yang
sangat visual appeal alias menarik dan cakep di mata pengguna
Microsoft dan mungkin pencinta produk Microsoft sejak Win 3.1 atau Win NT 3.1
dan Windows 2000 atau bahkan Windows Me.
Microsoft XP ini juga merupakan salah satu produk terbaik kala itu setelah versi Windows sebelumnya yang dianggap kurang sukses dan tidak menarik secara tampilan. XP sendiri setelah diluncurkan menjadi sistem operasi paling banyak digunakan, sejalan dengan bertambahnya jumlah pengguna PC di seluruh dunia yang terus bertambah, bahkan mencapai miliaran. Keuntungan XP selain tampak indah secara visual desain, OS ini juga paling ringan dengan tampilan yang dianggap berkelas. Lalu XP juga sistem operasi paling mudah diinstal, dimodifikasi, hingga paling lengkap tools-nya saat itu bagi pengguna Windows, tentu saja dengan versi di bawahnya.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Pernahkah melihat tampilan antarmuka dari sistem operasi buatan paling awal dari Microsoft seperti ini?
Saya mengalami era awal dengan tampilan antarmuka (User Interface) seperti ini di era SD sejak rumah saya kedatangan CPU dengan prosesor Intel Pentium 1. Suatu hal yang saya, sebagai seorang, sangat senang karena memiliki alat permainan yang kala itu sudah sangat keren, walau baru ada game 2D hitam putih dan belum berwarna. Misalnya, permainan pac-man dan Tetris yang area permainannya sebelumnya hanya saya lihat di gadget milik teman. Ayah saya, walau seorang lulusan teknisi, namun tidak pernah memanjakan kami dengan konsol permainan seperti Nintendo atau playstation. Inilah alat permainan dan alat belajar saya : PC dengan otak Pentium 1 dan Windows paling awal yang saya sangat ingat bentuk dan tampilannya sampai sekarang. Masa-masa indah saat dunia seakan baru saja terbuka.
Alat ini juga yang membuka dan menyadarkan saya akan kemajuan teknologi di era tersebut. Sejak SD, saya sudah sering meminjam alat ini bersama kakak saya, jika dia menggunakan PC untuk membuat tugas kuliah dan persiapan skripsinya sambil main tipis - tipis agar ada hiburan kilahnya. Kalau saya, bukan sekadar alat bermain game lawas, melainkan juga untuk belajar membuat tulisan tentang sekolah saya kala itu. Tulisan tentang apa pun yang saya bahkan lupa - lupa ingat saat ini. Namun, saya ingat, setiap saya membuat tulisan dengan sistem operasi ini, Ayah saya sering melihat saya mengetik dan membuat format berbagai bentuk.
Kegemaran saya mengutak-atik di Word pada sistem operasi Windows, terutama juga inilah yang membuat saya mulai menggemari aplikasi - aplikasi buatan Microsoft, tidak terkecuali Excel dan PowerPoint. Rasanya baru kemarin saya belajar menyalakan komputer kakak sebagai hadiah dari Ayah dan membuat ketikan pertama. Walaupun saya tidak menggunakan komputer sesering kakak atau saya pribadi. Beliau paham mengetik dan membuat laporan sederhana dengan alat ini. Karena beliau juga sering membuat laporan dengan Ms. Word dan aplikasi sistem terkomputerisasi di tempatnya bekerja. Aplikasi - aplikasi yang sudah saya kuasai di rumah jadi terasa mundur ketika di SMP saya pribadi masih menggunakan Wordstar dan Lotus 1-2-3. Di rumah sudah menggunakan aplikasi lebih visual, lalu di sekolah kembali ke lingkungan model diketik tipe CLI (command line interface), sebuah hal yang saat itu terasa amat aneh bagi saya, seakan mempelajari 2 hal canggih namun dengan jarak yang terpaut sangat jauh.
Wordstar dan Microsoft Word adalah aplikasi yang memiliki fungsi yang sama, namun dengan tampilan yang sangat jauh berbeda. Walaupun saya sudah akrab dengan tampilan visual, mengaktifkan mode di DOS dan WIndows sendiri terasa seakan belajar dua hal sekaligus saat itu. Seru, namun membuat saya kadang memprotes guru/pengajar ilmu komputer saya, yang saat itu belum mengenal istilah TIK atau Informatika. Walaupun SMP saya adalah sekolah kecil, namun fasilitas sekolah saat itu sudah lebih dari cukup. Uniknya, saat itu perangkat komputer bersifat mobile alias belum terpasang di satu ruangan khusus, namun berpindah sesuai dengan jadwal di sekolah kami atau di sekolah lain yang masih satu yayasan. Jadwal praktik komputer saat itu bergantian dengan sekolah lain dalam 1 kawasan di Jakarta Utara.
Ada 3 sekolah dengan jadwal bergantian, Kadang kami pun diminta membantu mengangkat dan memindahkan peralatan saat jadwal praktik. Hal yang membuat saya juga jadi belajar praktik memasang dan mencopot perangkat keras kala itu. Belajar langsung bahwa praktik komputer karena membantu guru komputer yang datang seminggu sekali kala itu. Padahal di rumah saya sudah belajar Windows 3.1 dan bukan DOS lagi. Namun, menurut ayah saya, saat saya menginfokan bahwa mata pelajaran komputer yang ada di sekolah harus diikuti. Lebih baik diam dan jangan menyakiti perasaan guru komputer-mu, begitu menurut beliau, berbicara bijak.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Mungkin tidak banyak orang yang pernah mendengar web bernama LinkedIn. web buatan Reid Hoffman yang dibuat ide dan dikembangkan awal di ruang tamu rumahnya sejak 2003. Kemudian berpindah di kantor wilayah Mountain View, California Amerika Serikat. Reid sendiri merupakan orang lama di dunia teknologi informasi, dahulu merupakan eks-eksekutif Paypal, perusahaan milik Elon Musk yang sangat terkenal di dunia teknologi. Sehingga aplikasi ini menjadi sangat terkenal di kalangan profesional pencari kerja dan perekrut kerja di dunia sekitar 2006 dengan mulainya tingkat keuntungan atau profit yang mulai terlihat yang sejalan dengan keuntungan dari pengguna yang terus bertumbuh. Perusahaan semakin berkembang dan mendapatkan IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham perdananya di 2011.
setelah resmi semakin
menguntungkan, maka perusahaan besar lain seperti Microsoft mulai membeli
sebagian besar sahamnya di 2016 dengan proses akuisisi senilai $26.2 million
atau setara Rp 461.9 trilyun jika di konversi ke nilai tukar hari ini di 6 September 2026. Kenapa Microsoft sebagai perusahaan yang pernah memonopoli
perangkat lunak dunia seperti operating system Windows-nya
yang terkenal atau aplikasi lunak office-nya yang saat ini masih
mendominasi sebagai jawara aplikasi lunak terbanyak dipakai di Laptop dan PC
baik yang resmi maupun bajakan di Indonesia. Perusahaan ini jika mengakuisisi,
pastinya ada pertimbangan bisnis dan adanya kepentingan ekonomi maha besar.
Jadi LinkedIn memang memonopoli juga seperti Microsoft di era Pendiri nya Bill
Gates, sampai akhirnya kalah di pengadilan Eropa. Tentu LinkedIn diharapkan
bisa memonopoli pasar yang diemban aplikasi berbasis web ini.
Apa yang dapat digunakan pada
LinkedIn saat ini?
Pertama, ini adalah aplikasi
pertama yang menghubungkan perusahaan multinasional dan Nasional di Indonesia
yang menghubungkan informasi langsung dengan pekerjanya yang sudah karyawan
tetap sebagai anggota. kedua, aplikasi ini menghubungkan perusahaan dengan
pencari kerja baik level awal sampai yang sudah profesional. Ketiga aplikasi
ini menghubungkan bagian HRD (Human Resources Department) atau bagian
pemberi kerja yang dapat langsung terhubung dengan pencari kerja tanpa
ditengahi perusahaan lain alias tanpa Outsourcing system yang
terkenal memberikan kesulitan seperti potongan upah kerja besar atau sistem
kontrak yang tidak jelas. Sehingga LinkedIn semacam pasar terbuka tiga rangkai
sekaligus: perusahaan utama, perwakilan perusahaan melalui HRD dan pencari
kerja level tertentu. Biasanya dengan kemampuan dan keahlian tingkat menengah
dan mahir.
LinkedIn digunakan untuk
perekrutan lintas negara bahkan lintas benua, hingga saat ini sangat mampu
digunakan. Banyak pekerja lokal Indonesia saat ini bisa bekerja di luar negri
tanpa harus hadir terlebih dahulu di sesi interview di Amerika Serikat atau Eropa
dengan membuang uang mahal untuk mendapat pekerjaan Impian dengan keuntungan
/ benefit bentuk Dollar atau Euro. Bahkan pekerja
dengan keahlian spesifik bahkan sekarang sudah dicari pencari pekerja /
perekrut perusahaan (HeadHunter) besar luar negri langsung di Indonesia.
Baik dengan Interview atau bisa datang langsung ke perusahaan perekrut sebagai
wakil perusahaan asing tersebut di Indonesia.
Dengan kondisi ini, aplikasi ini
memiliki secara langsung data diri dan menyimpan jutaan orang - orang yang
berkeahlian tingkat menengah hingga tinggi, tidak hanya di bidang informatika
namun juga orang - orang di bidang akutansi, ekonomi dan keahlian - keahlian
lainnya. Perusahaan juga dapat mengakses dan melihat karyawan - karyawan
potensial dari perusahaan saingan maupun divisi - divisi internal perusahaan
lain, lengkap dengan seluruh isi tim yang terkoneksi. Inilah kekuatan
sebenarnya dari LinkedIn. Jadi jika dahulu orang - orang profesional hanya
dapat di lihat oleh rekan se-profesi atau yang tergabung dalam profesi yang
sama. Saat ini cukup dengan bergabung sebagai pengguna LinkedIn maka kita dapat
membuka basis data sebagian pekerja profesioaal di seluruh dunia. Apalagi jika
kita pengguna tingkat / level Premium maka
kita mampu melihat seluruh fungsi LinkedIn. Mulai dari melihat perusahaan,
melihat siapa yang tertarik dengan keahlian kita baik secara perorangan,
orang-orang perekrut Headhunter hingga perwakilan perusahaan
langsung seperti staff atau level C (Chief) manajemen di perusahaan
tersebut.
Maka jika kita bertanya dan
ingin tahu perusahaan apa yang merekrut, siapa yang direkrut dan kebutuhan
perusahaan itu seperti apa setiap waktu. LinkedIn adalah web paling dicari di
dunia. Maka Microsoft sebagai pemilik saat ini, sangat mudah melihat rekanan
bisnisnya atau bahkan pesaingnya dalam perekrutan karyawan terbaik di seluruh
dunia. Walaupun pastinya masih tidak 100% membuka tabir rahasia perusahaan,
namun setidaknya sudah 90-95% rahasia pekerja di sebuah perusahaan sangat jelas
mudah di akses. Jadi pekerja profesional sekarang selain harus memiliki
kompetensi resmi bidangnya, setidaknya agar diakui adalah wajib memiliki akun
LinkedIn.
Apakah anda memilikinya?
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Sekolah sejatinya adalah rumah
kedua. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, inklusif, dan
bebas dari segala bentuk ancaman agar proses penyerapan ilmu serta pembentukan
karakter dapat berjalan optimal. Untuk menjamin hal ini, pemerintah
melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) telah menetapkan regulasi tegas mengenai pencegahan
kekerasan. Merujuk pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP),
terdapat 6 (enam) kategori kekerasan yang dilarang keras terjadi di lingkungan
sekolah. Sebagai pendidik, saya ingin mengajak Anda semua untuk mengenali
kategori-kategori tersebut agar kita bisa bersama-sama melakukan pencegahan.
Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:1. Kekerasan FisikIni adalah bentuk kekerasan yang
paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku
terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal
- hal yang dimaksud adalah memukul, menendang, perkelahian, tawuran,
penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan
sekolah.
2. Kekerasan PsikisBerbeda dengan kekerasan fisik,
kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak
fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau
membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain pengucilan,
penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan
yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.3. Perundungan (Bullying)Perundungan merupakan irisan
dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik
utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan
relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa
daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior
yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat. 4. Kekerasan Seksual Kekerasan seksual mencakup
setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang
bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi
secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya pelecehan
fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto
pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki
nuansa seksual.5. Diskriminasi dan IntoleransiLingkungan belajar harus
menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi
ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan
hak peserta didik. Hal yang termasuk ke dalam kategori ini adalah, membeda-bedakan
perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit,
jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan
intelektual, mental, sensorik, dan fisik).6. Kebijakan yang Mengandung
KekerasanKategori ini sering kali luput
dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung
kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis)
di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya
kekerasan. Contohnya antara lain peraturan sekolah yang mewajibkan
hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi
sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.Mencegah kekerasan bukan hanya
tugas kepala sekolah atau guru bimbingan dan konseling, melainkan tanggung jawab
kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam
bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan
ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.
Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Setelah kita
mengetahui pengertian Fatherless dan dampak serta akibat yang
ditimbulkan dari hal ini pada tulisan saya Cara Pendidik membantu Siswa -
Siswi "Fatherless" pada bagian satu dan bagian kedua. Maka hal –
hal berikut kita dapat berikan pemahaman dan pengertian yang cukup terkait hal
ini.
1. Jika seorang anak laki-laki kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria mencoba memberi pemahaman dan konsep-konsep sebagai pria. Misalnya, konsep tentang bagaimana seorang laki-laki harus bisa memperbaiki benda-benda, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana
memperlakukan perempuan dengan baik, misalnya tidak memaki dan tidak memukul
perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapian serta tanggung jawab
sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai-nilai
sebagai laki – laki anti-merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak
beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan
pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di
depan umum. Serta memberikan kegiatan-kegiatan yang baik dan benar sebagai
laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh-contoh kebaikan dan tindakan terpuji.
Sehingga mereka memiliki gambaran seorang ayah dan gambaran pria yang tepat.
1. Jika seorang anak laki-laki kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria mencoba memberi pemahaman dan konsep-konsep sebagai pria. Misalnya, konsep tentang bagaimana seorang laki-laki harus bisa memperbaiki benda-benda, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik, misalnya tidak memaki dan tidak memukul perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapian serta tanggung jawab sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai-nilai sebagai laki – laki anti-merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di depan umum. Serta memberikan kegiatan-kegiatan yang baik dan benar sebagai laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh-contoh kebaikan dan tindakan terpuji. Sehingga mereka memiliki gambaran seorang ayah dan gambaran pria yang tepat.
2. Jika seorang guru Perempuan memberikan contoh kepada murid laki – laki. Berikan kepada mereka penjelasan tentang bagaimana menjadi imam dan kepala keluarga yang baik. Berikan konsep saying kepada keluarga baik kepada kakak atau adiknya, kepada ibunya. Berikan cara-cara yang tepat untuk melindungi perempuan dan anak-anak (atau adik kelasnya jika di sekolah). Berikan contoh kasih sayang seorang ibu yang peduli anaknya. Ciptakan rasa memiliki keluarga yang baik dan tepat. Ajarkan cara mencuci baju atau mencuci piring sehingga mereka tidak menganggap itu pekerjaan perempuan saja. Ajarkan juga menjaga kebersihan rumah (dan sekolah jika di kelas dan sekolahnya) agar mereka paham bahwa menjaga kebersihan adalah tugas tidak hanya perempuan saja.
Demikian sedikit yang mungkin dapat kita bantu, Jika ada di antara murid atau siswa-siswi kita yang memiliki konsep fatherless atau sosok ayah yang tidak ada atau sosok ayah yang punya perilaku kurang positif dan membuat mereka jadi membenci sosok yang seharusnya memberi contoh baik dan memberi kasih sayang yang tepat.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Ada celetukan seorang emak -
emak super pede ke suaminya. begini katanya : "hari begini mane ade yang
gratis bang, ke WC umum saja bayar seribu, dua ribu" begitu ucap
nyablaknya yang saya dengar dari sedikit kejauhan. Sang suami pun dengerin dengan diam dan ngangguk, mencoba memahami sedikit kemarahan istrinya yang dipahami sebagai tanda sayang mungkin.
Lalu saya kembali berpikir, benarkah
demikian, pikir saya. Apakah udara yang saya hirup ini berbayar dan akan ditagih sama
sang pembuat sang tanaman atau pencipta sang pembuat yaitu TUHAN? Apakah di
alam surga nanti, saya akan di tagih bon - bon tagihan atas udara saya hirup
selama puluhan tahun saya di bumi? Mungkinkah saya diminta pertanggungjawaban
atas hak atau kewajiban saya bernapas di dunia selama ini atau entah sampai
usia kapan selesai.
Denger kata - kata ini, saya jadi deg dalam
hati. Jika dunia ini semuanya benar bayar, maka harusnya ke siapa? kalau ada
pengusaha yang sudah kuasai udara bebas, seberapa mengerikan uang tunainya atau
digit - digit angka Rupiah atau mata uangnya. Mungkin mengalahkan Elon Musk
atau mega trilyuner di negeri Patung Liberty yang kekayaannya selalu dipantau
dan ditulis di laporan kekayaan. Pengusaha yang seakan paling kaya, padahal
saya yakin diatas orang kaya masih ada yg lebih orang kaya yang diam - diam atau
introvert. Saya berpikir - pikir benar, bahwa apa ya yang membuat dunia ini
menjadi segalanya tidak gratis dan berbayar semua seperti pikiran ibu ini. Setidaknya pahami pikiran spesial emak-emak ini tentang ekonominya. Berbayar
di kota kan tidak serta-merta berarti harus membayar di desa.
Dalam ilmu ekonomi, kita pasti menganggap apa-apa yang berbayar sebagai liberalisme pasar atau, dalam istilah modern, pasar monopoli tunggal. Padahal tidak semua hal saat saya mengetik
ini pun monopoli saya saat berpikir dan menyampaikan ide. Udara untuk bernapas
dan membagikan ide belum semuanya punya nilai yang sama mahalnya, asal belum dikomersialisasi. Masih bisa dibagikan, misalnya untuk lomba blog yang diadakan Om
Jay ini. Memang akan ada hadiahnya berupa nominal, namun tidak semua peserta akan dapat hadiah, kan. Pasti ada yg setiap lomba pulang dengan tangan
kosong.
Jadi, tidak semua hal di dunia ini dibayari, walau oligopoli oleh sebagian perusahaan yang itu-itu saja pasti akan makin kuat dan makin sempit pemiliknya. Perusahaan sekarang, terutama dari Eropa dan USA, makin banyak yang semakin besar nilai sahamnya maupun kepemilikan lahan dan alat produksinya. Namun, untungnya di Republik Indonesia belum semuanya dioligopoli oleh negara-negara maju tersebut.
Misalnya, produk anti-masuk angin yang punya slogan "orang pintar minum..." ini masih punya sebagian saham lokal. Produk lain contohnya bagi penyuka menghirup nikmatnya lintingan tembakau
buatan perusahaan "Penyimpanan Garam", ini juga masih kepemilikan
lokal setahu saya. Dua perusahaan ini masih sering membagikan cuma - cuma
keuntungannya lewat dana CSR (corporate social responsibility) yang
menggratiskan. Misalnya untuk dana kesehatan masyarakat atau memberikan
beasiswa pendidikan atau beasiswa bagi atlet di olahraga pukul bulu alias bulutangkis
Jadi saya masih
berkesimpulan, di negeri yang katanya banyak oli tapi bukan minyak rem ini.
Negeri kita masih banyak yang gratis, tentu saja tidak seperti suara dari
emak-emak yang saya dengar di kisah di atas. Banyak pengusaha kita yang punya hati
nurani punya banyak gratisan buat kita. Catatannya, asalkan kita punya prestasi,
punya keahlian, punya spesialisasi yang unik. Bukan sekadar bicara dan tidak
berbuat apa-apa lalu bilang " di dunia ini tidak ada yang gratis".
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Dalam dunia pendidikan, fatherless ditelaah dari bagaimana struktur dan dukungan keluarga memengaruhi performa sekolah, ketahanan akademik (academic resilience), dan perilaku belajar siswa. Ayah memiliki peran unik dalam menanamkan disiplin, pemecahan masalah secara logis, dan dorongan eksplorasi akademis.
Pada bagian kedua ini, saya
selaku penulis ingin mengajak pembaca dalam sudut pandang lebih luas, bukan
hanya dari sudut pendidikan dan keguruan yang akan saya berikan gambaran sebab
dan akibatnya kepada anak didik kita saja, namun juga kepada seluruh isi
sekolah kita. Mari kita bahas beberapa temuan dari peneliti dan tulisan mereka
yang saya temui. Mari kita lihat satu persatu satu persatu dari dunia
pendidikan terlebih dahulu.
Dampak - dampak yang mungkin timbul dari tidak adanya figure menempel
pada peserta didik laki – laki maupun pada peserta didik perempuan:
a. Penurunan prestasi akademik : Anak-anak fatherless cenderung
memiliki motivasi belajar yang lebih rendah dan rentan mengalami kesulitan
konsentrasi di kelas. Motivasi ini di dapat anak dari ayah – ayah yang rajin
atau tekun bekerja, yang dirumahnya ayahnya memiliki sifat ulet dan mau
membantu keluarga (bukan hanya membantu istri, namun juga di masyarakat). Gambaran
ayah yang tekun, rajin, serba bisa tentu akan membuat anak lebih mencontoh
sifat baik ini. Apalagi jika ayahnya senang membaca buku, atau memperbaiki
kondisi rumah, berkebun atau memelihara hewan tertentu, maka anak juga akan
melihat ini.
b. Ketahanan akademik (Academic
resilience) menurun: Ketika menghadapi kegagalan di sekolah
(seperti nilai buruk atau kurang dari standar kelas), anak tanpa figur ayah
yang mendukung sering kali lebih mudah menyerah atau menyalahkan diri sendiri. Sehingga
anak kurang dapat beradaptasi jika nilai turun, mudah menerima apa adanya diri.
Tidak berusaha bertahan untuk mencapai nilai lebih baik, pasrah yang mengarah
ke negatif dan jadi sulit menyelamatkan diri jika sudah gagal.
c. Potensi Putus Sekolah: Kurangnya
pengawasan ganda dari orang tua membuat anak fatherless lebih rentan
membolos atau terlibat dalam masalah kedisiplinan sekolah yang berujung pada
tingginya angka drop out. Jadi ayah yang terus mengikuti perkembangan
belajar dan keseharian putra – putrinya akan lebih memiliki awarness
atau kesiap siagaan jika terjadi masalah dan segera berkonsultasi dengan wali
kelas dan mungkin guru – guru lain terhadap anak – anaknya. Bagi yang tidak
memiliki ayah ini, maka akan tidak ada yang menjaga, sehingga sering kali
meyebabkan resiko drop out karena masalah ini lebih besar lagi.
Ketiga hal
diatas adalah temuan berdasarkan penelitian dengan judul “Dampak Ketiadaan
Peran Ayah (Fatherless) terhadap Pencapaian Akademik Remaja: Kajian Sistematik
(pada Jurnal Psikologi dan Pendidikan UNJ, 2024)1. Kajian ini
menyimpulkan bahwa ketiadaan peran ayah berdampak sangat merugikan pada
pencapaian akademik dan membutuhkan intervensi komprehensif di lingkungan
sekolah. Penelitian oleh Fitroh, S. F., 2014, Jurnal PG-PAUD Trunojoyo dengan
judul “Dampak Fatherless Terhadap Prestasi Belajar Anak” juga
menggambarkan hal yang mirip dengan dampak yang timbul. Tulisan Fitroh ini juga
jadi satu rujukan klasik di Indonesia yang membuktikan secara empiris korelasi
antara absennya ayah dan penurunan capaian belajar anak usia dini.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
sumber
1) https://journal.pubmedia.id/index.php/pjp/article/view/2567
Anita bertanya pada temannya, "Itu si Budi kan fatherless?" sambil senyum-senyum kecil. Sambil sok tau menjelaskan kosakata English kekinian menjelaskan kepada Juleha
sahabatnya. Anita menjelaskan bahwa istilah itu adalah kata lain dari yatim, alias anak yang ditinggal meninggal oleh ayah kandungnya. Walaupun sudah ada ayah tiri.
Datanglah Pak Anto, Beliau mulai menjelaskan di tengah jam istirahat yang hanya
15 menit dengan konsep yang lebih tepat. Fatherless adalah kosakata baru di Indonesia, Banyak kalangan pendidikan dan di
luar pendidikan belum memahami istilah ini. Adapun yang mendengar ini
menyamakan dengan istilah sugarless = sedikit gula atau tanpa gula. Jadikan istilah ini menyamai tidak adanya ayah kandung. Jikalaupun punya ayah
tiri atau ayah sambung, tetap dianggap fatherless. Mungkin ini sedikit gambaran
sederhana yang dipahami oleh banyak orang lainnya juga.
Tapi mari
kita bedah lebih lanjut istilah ini, dari sudut pandang pendidikan, ilmu
psikologis dan hal – hal lainnya. Sehingga sudut pandang kita sebagai pendidik juga lebih dalam dan luas dalam menanggapi istilah yang perlu penjabaran yang lebih detail.
Berapa banyak Siswa - siswi yang kita kenal sangat akrab ?
Berapa yang kita tahu tentang kehidupan aslinya ? Berapa yang kita pahami tentang kesulitan berpikir mereka dan perbedaan sifat mereka di rumah, di sekolah, dan di masyarakat ? Jika sudah
mendapat informasi kondisi mereka dalam data fisik misalnya Kartu Keluarga yang
menunjukkan secara hukum bahwa ada kepala keluarga, apakah artinya siswa –
siswi kita sudah memiliki figur ayah? Sebagian pembaca pasti merasa yakin
sudah. Bagaimana jika di Kartu Keluarga, kolom atas kiri, nomor paling atas atau nomor satu, benar ada nama laki-laki, namun jika kita cocokkan dengan nama ayah kandung siswa-siswi kita, ternyata namanya berbeda? Apakah ini juga berlaku untuk kata 'fatherless' itu? Setujukah kita untuk meletakkan konsep ini pada anak-anak didik kita? Secara aturan, mungkin benar anak ini tidak memiliki ayah kandung (entah
karena cerai mati atau cerai hidup). Banyak kejadian saat ini, laki – laki dewasa
usianya lebih pendek dengan rerata usia hidup dibawah 50-60 tahun. Namu nada juga,
tentu saja cerai hidup. Inilah yang sering terjadi ketika ayah kandung masih hidup namun tidak pernah datang, tidak pernah menemani masa tumbuh kembang anak-anaknya. Konsep fatherless inilah yang digunakan oleh para pakar psikologi. Jadi bukan hanya dari sisi dokumen fisik.
Namun demikian kita akan bahas lebih detail tentang
konsep fatherless ini pada bagian kedua pada tulisan di blog ini, baik
dari sisi psikologi, hukum dan pendidikan dan catatan data dari ahli – ahli atas
temuan konsep baru ini dalam tumbuh kembang dan efek sebab akibat yang
ditimbulkan dan dampak lansung maupun tidak langsung terhadap anak didik kita,
agar kita mampu menjembatani kehidupan mereka di sekolah dan membantu prestasi
mereka di sekolah dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Waktu
berjalan sambil mengajar, saya mencoba melamar kerja di luar dunia pendidikan. Tentunya
di dunia teknologi informasi sesuai perkuliahan yang saya tekuni dan saya dapat
tambahan ilmunya di lembaga pendidikan. Ilmu yang terus bertambah, memang harus
di gunakan di bidang dan praktik langsung tentunya akan sangat baik dan
menyeimbangkan diri saya pribadi. Pendidik kursus yang memiliki pengalaman
nyata dan pengetahuan realita industry akan lebih baik menurut saya kala itu. Pengalaman
dunia industri atau pengetahuan di pekerjaan yang sama yang saya ajarkan di
lembaga kursus, tentu akan memperkuat posisi saya di lembaga sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan begitu juga akan menguatkan teori saya di pekerjaan
yang menuntut ilmu yang terbaru. Jadi keduanya sama menguntungkan dan sama –
sama saling mendukun satu sama lain. Bekerja di dua tempat: perusahaan PMA (Penanaman
Modal Asing) dari negara pusatnya di Jepang dan Lembaga Pendidikan yang berbasis
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris membuat saya cukup mengalami kelelahan
fisik dan kadang mental. Apalagi saat itu masih harus memegang privat di sabtu
sore atau minggu sore membantu menyelesaikan tulisan murid veteran AL yang
masih menggebu – gebu dengan pengalamannya. Walaupun sangat pelan, penyelesaiannya
masih harus tetap menunggu beliau yang menulis.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Pengalaman
dunia industri atau pengetahuan di pekerjaan yang sama yang saya ajarkan di
lembaga kursus, tentu akan memperkuat posisi saya di lembaga sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan begitu juga akan menguatkan teori saya di pekerjaan
yang menuntut ilmu yang terbaru. Jadi keduanya sama menguntungkan dan sama –
sama saling mendukun satu sama lain. Bekerja di dua tempat: perusahaan PMA (Penanaman
Modal Asing) dari negara pusatnya di Jepang dan Lembaga Pendidikan yang berbasis
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris membuat saya cukup mengalami kelelahan
fisik dan kadang mental. Apalagi saat itu masih harus memegang privat di sabtu
sore atau minggu sore membantu menyelesaikan tulisan murid veteran AL yang
masih menggebu – gebu dengan pengalamannya. Walaupun sangat pelan, penyelesaiannya
masih harus tetap menunggu beliau yang menulis.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Jika kita bertanya apa itu kemerdekaan Pendidikan ? Sebagai Guru tentu saja fasilitas pendidikan yang adil merata dan bisa digunakan oleh semua Guru. Apalagi perangkat keras atau perangkat lunak yang gratis itu sudah cukup sebagai Guru pengampu mata Pelajaran Informatika seperti saya. Saya coba membahas beberapa hal lain yang menjadi kemerdekaan dunia pendidikan saat ini dari sudut keadilan yang lebih luas.
Kemerdekaan dalam dunia pendidikan saat ini tidak lagi hanya sekadar bebas dari belenggu fisik atau paksaan kurikulum yang kaku, melainkan kebebasan untuk mengakses ilmu pengetahuan serta mengekspresikan kreativitas tanpa batas. Bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), fase perkembangan remaja awal ini merupakan momen krusial untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka secara mandiri. Pemanfaatan teknologi informatika menjadi motor penggerak utama yang memberikan ruang gerak luas bagi guru dan murid untuk menciptakan suasana belajar yang dinamis, relevan, dan menyenangkan. Melalui digitalisasi, setiap individu memiliki kesempatan yang seimbang untuk berkembang sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing.
Memerdekakan cara belajar berarti membongkar sekat-sekat kelas tradisional dan menggantinya dengan ruang kolaborasi virtual yang tidak terbatas oleh dinding fisik sekolah. Guru Informatika memegang peranan strategis dalam memfasilitasi transformasi ini dengan mengenalkan berbagai platform digital yang berfokus pada efisiensi dan inovasi pembelajaran. Kemerdekaan belajar hadir ketika teknologi digunakan bukan sekadar sebagai alat pengganti papan tulis, melainkan sebagai media untuk mengasah berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian siswa. Dengan landasan teknologi yang tepat, pembelajaran di tingkat SMP dapat ditransformasikan menjadi proses eksplorasi yang memberdayakan dan interaktif bagi seluruh warga sekolah.
1. Pemanfaatan Aplikasi Rumah PendidikanAplikasi Rumah Pendidikan hadir sebagai platform inklusif yang memerdekakan siswa SMP dalam mengakses materi pembelajaran berkualitas kapan saja dan di mana saja. Platform ini menyediakan beragam sumber daya digital, mulai dari buku teks elektronik, modul interaktif, hingga audio-visual yang dirancang sesuai dengan kebutuhan kurikulum nasional. Kehadiran aplikasi ini memangkas kesenjangan akses informasi, sehingga setiap siswa, baik yang berada di pusat kota maupun di daerah terpencil, mendapatkan hak dan kualitas materi belajar yang setara. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih materi yang ingin mereka pelajari secara mandiri, mengulang topik yang sulit, serta mengevaluasi pemahaman mereka melalui latihan soal yang interaktif.
Bagi para pendidik, Rumah Pendidikan memberikan fleksibilitas tinggi dalam merancang pembelajaran yang terdiferensiasi di dalam kelas. Guru dapat mengarahkan siswa untuk mengeksplorasi materi secara mandiri sebelum diskusi kelas dimulai, sehingga waktu tatap muka dapat difokuskan pada kegiatan pemecahan masalah dan proyek kolaboratif. Keberadaan fitur-fitur pendukung di dalam aplikasi ini juga memfasilitasi guru untuk memantau perkembangan belajar murid secara personal dan objektif. Dengan demikian, proses edukasi tidak lagi berpusat pada pengajaran satu arah dari guru, melainkan berkembang menjadi proses pembelajaran mandiri yang menumbuhkan rasa tanggung jawab serta kesadaran belajar sepanjang hayat pada diri siswa SMP.
2. Kreativitas Tanpa Batas Bersama Aplikasi CanvaCanva menjadi salah satu aplikasi yang memberikan dampak signifikan dalam memerdekakan ekspresi visual dan kreativitas siswa jenjang SMP. Pada usia remaja, menyampaikan ide secara visual sering kali menjadi cara yang paling efektif dan menarik bagi mereka untuk menunjukkan pemahaman atas suatu konsep. Canva menyediakan antarmuka yang ramah pengguna beserta ribuan templat presentasi, poster, infografis, dan video yang memungkinkan siswa menyusun karya digital profesional tanpa harus menguasai perangkat lunak desain yang rumit. Melalui media ini, tugas sekolah yang dahulunya terasa menjenuhkan kini bertransformasi menjadi ruang eksplorasi seni dan penyampaian gagasan yang penuh warna.
Dari sudut pandang pembelajaran Informatika, Canva tidak hanya mengajarkan tentang estetika visual, tetapi juga melatih keterampilan komunikasi digital dan etika media. Siswa diajak untuk mempublikasikan ide-ide mereka, menyusun struktur informasi secara logis, serta memahami pentingnya hak cipta saat menggunakan elemen grafis. Guru dapat memanfaatkan Canva untuk penugasan berbasis proyek, di mana siswa bekerja secara kolaboratif dalam kelompok untuk menyelesaikan sebuah poster kampanye sosial atau presentasi ilmiah. Kemerdekaan untuk mengekspresikan pikiran melalui desain visual ini terbukti mampu meningkatkan rasa percaya diri, daya kritis, serta motivasi belajar siswa SMP secara menyeluruh.
3. Optimalisasi Akun Belajar.id dalam Ekosistem GoogleIntegrasi aplikasi Google melalui akun Belajar.id membuka ruang kolaborasi tanpa batas yang sangat esensial bagi pembangunan karakter siswa SMP di era digital. Dengan akun Belajar.id, siswa dan guru mendapatkan akses luas ke berbagai fitur premium Google Workspace for Education, seperti Google Docs, Slides, Sheets, Drive, dan Google Classroom. Fitur penyuntingan bersama secara real-time dalam Google Docs atau Slides memerdekakan siswa dari batasan ruang dan waktu ketika mengerjakan tugas kelompok. Mereka dapat saling memberikan masukan, membagikan ide, dan menyelesaikan proyek bersama meskipun berada di rumah masing-masing, yang secara langsung mengasah keterampilan komunikasi serta kerja sama tim.
Selain memfasilitasi kolaborasi, ekosistem Google berbasis akun Belajar.id ini mengajarkan manajemen data dan literasi digital yang sangat krusial bagi generasi muda. Penggunaan Google Drive mendidik siswa untuk mengorganisasi berkas digital mereka secara rapi dan aman di awan (cloud), sementara Google Classroom menciptakan alur penugasan yang transparan dan ramah lingkungan tanpa kertas. Akun Belajar.id juga menjamin keamanan privasi data siswa dalam lingkungan digital yang terekosistem dengan baik. Pengalaman menggunakan alat-alat kolaboratif ini memberikan kemerdekaan belajar yang terstruktur, sekaligus mempersiapkan siswa SMP dengan kecakapan digital yang dibutuhkan di jenjang pendidikan selanjutnya maupun dunia kerja masa depan.
4. Eksplorasi Pembelajaran 3D dan AR Melalui Assembler EduAssembler Edu membawa kemerdekaan belajar ke tingkat yang lebih tinggi dengan menghadirkan teknologi Augmented Reality (AR) dan materi 3D ke dalam ruang kelas SMP. Konsep-konsep abstrak dalam mata pelajaran seperti IPA, Geografi, maupun Informatika kini dapat divisualisasikan secara nyata dan interaktif di hadapan siswa. Melalui aplikasi ini, siswa tidak hanya membaca teks atau melihat gambar dua dimensi di buku, tetapi dapat memutar, memperbesar, dan mengamati objek 3D seperti struktur sel, tata surya, atau komponen perangkat keras komputer secara langsung. Pengalaman belajar yang imersif ini membangkitkan rasa ingin tahu yang mendalam dan membuat proses pembelajaran menjadi jauh lebih berkesan.
Penggunaan Assembler Edu juga memerdekakan siswa untuk berperan aktif sebagai pencipta konten digital (content creator), bukan sekadar konsumen teknologi. Siswa SMP dapat memanfaatkan fitur kreator di Assembler Edu untuk merancang presentasi berteknologi AR mereka sendiri sebagai bentuk laporan proyek atau tugas akhir. Aktivitas ini melatih logika spasial, pemikiran komputasional, serta kemampuan bercerita (storytelling) berbasis teknologi pada siswa. Dengan mengintegrasikan Assembler Edu ke dalam kurikulum Informatika, sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, di mana daya imajinasi siswa dapat berkembang tanpa batas seiring dengan perkembangan teknologi modern.
Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Prompt :
“Saya Guru Informatika. Buatkan artikel kemerdekaan pendidikan di sekolah jenjang SMP dengan bahasan-bahasan sebagai berikut :
1. Aplikasi Rumah Pendidikan
2. Aplikasi Canva
3. Aplikasi di google dengan akun belajar.id
4. Aplikasi Assembler edu
buat tulisan setiap paragraf minimal 200 kata dengan panjang minimal tiap bahasan 2 paragraf masing – masing”
“Saya Guru Informatika. Buatkan artikel kemerdekaan pendidikan di sekolah jenjang SMP dengan bahasan-bahasan sebagai berikut :
1. Aplikasi Rumah Pendidikan
2. Aplikasi Canva
3. Aplikasi di google dengan akun belajar.id
4. Aplikasi Assembler edu
buat tulisan setiap paragraf minimal 200 kata dengan panjang minimal tiap bahasan 2 paragraf masing – masing”

Malam ini saya merenung kembali sebagai pendidik, apa yang sudah saya lakukan untuk membantu siswa – siswi saya pribadi? Terutama yang orangtuanya sudah tidak punya salah satu orang tua atau bahkan keduanya karena sudah wafat atau meninggal. Bantuan apa yang saya sudah coba ulurkan tangan, sebisa saya dan semampu saya untuk mereka yang memanggil saya Pak setiap hari, yang mencium tangan saya setibanya di depan sekolah atau di depan kelas seusai mengajar. Hal-hal sederhana apa yang membuat saya sebagai orang tua mereka di sekolah sesungguhnya.
Berikut hal – hal sederhana yang coba saya lakukan
sebagai pendidik yang memiliki tugas tambahan/merangkap sebagai operator data
:
1. Saya
selalu memastikan data kondisi orang tua mereka dari KK atau kartu keluarga,
memastikan kelengkapan orang tua kandungnya. Jika lengkap dan kondisi keluarga
sesuai kondisi kenyataan atau realitas, tidak perlu saya ulurkan tangan secara
langsung. Namun, jika orang tua lengkap namun ada kerentanan ekonomi, saya menyarankan untuk meminta bantuan untuk kondisi ekonominya, minimal pertama-tama mengecek data desil di kelurahan dahulu, mengingatkan mereka tentang kondisi data pribadinya di Dukcapil/Kependudukan dan Catatan Sipil wilayah terdekat agar lengkap dan bersih dari kondisi yang merugikan mereka ke depannya.
2. Jika siswa – siswi yang kehilangan pencari
nafkah utama alias yatim karena ditinggal wafat. Maka ini jadi salah satu
prioritas utama yang wajib dibantu di sekolah kami dan harus diprioritaskan serta dibantu. Pertama, dengan memastikan ibu yang masih hidup, pendapatannya, kondisi rumah, dan apakah ada anggota keluarga lain yang membantu. Data berikutnya meminta orang tua yang masih hidup untuk mengecek data KK dan desilnya di kelurahan. Jika sudah aman, kami inputkan di Dapodik (Data Pokok Pendidikan) milik bahwa tertulis Yatim dan pendapatan orang tua di bawah Rp 500.000 atau di bawah satu juta rupiah. Hal selanjutnya adalah memastikan semua data sesuai dengan syarat bantuan dari
pemerintah daerah seperti KJP (Kartu Jakarta Pintar) atau dari Kementerian
pendidikan untuk PIP (Program Indonesia Pintar). Selanjutnya, proses mengajukan
dengan pemenuhan semua dokumen yang diperlukan dilakukan kerja sama dengan keuangan sekolah.
3. Jika kedua orang tua sudah wafat dan hanya
ada kakak kandung atau keluarga lain yang membantu, pastikan ada wali atau saudara
yang siap membantu mengurus dokumen – dokumen KK serta dokumen pribadi siswa
atau siswi. Minta wali tersebut membantu mengurus data ke kelurahan dan Dukcapil
dan memastikan lolos Dukcapil untuk anak tersebut. Baru usahakan mengajukan
dengan dokumen yang dimiliki.
4. Jika bantuan sudah pasti tercantum untuk kondisi - kondisi di atas, kadang saya pribadi memantau secara berkala pencairan dan pelaporan bantuan mereka. Terutama yang orangtuanya “single parent” entah
karena Yatim atau piatu atau bahkan keduanya. Perhatian kita sama
pentingnya dengan saat kita mengajukan bantuan untuk mereka. Paling sederhana adalah dengan mengingatkan pencairan, pelaporan, dan kondisi pemakaian yang tepat guna dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan atau saat ini disebut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kedisiplinan dalam bentuk perhatian kita akan memperpanjang bantuan dan meringankan kondisi mereka.
Kadang bantuan tidak harus
memberi uang atau harta dari kantong kita sendiri, Terkadang bantuan kecil guru
dan pendidik dalam mengulurkan tangan, memproses, dan mengajukan sudah menjadi salah
satu cara bersedekah atau berderma kita sebagai orang tua mereka di sekolah.
Nominal berapa pun semoga bisa mengurangi beban ekonomi mereka, asal tertib dan
teratur serta disiplin dalam menerima, menggunakan dan melaporkan bantuan.
Mereka akan lebih bahagia jika orangtuanya di sekolah yang tidak mereka miliki di rumah saat ini, sama kasihnya seperti mereka dulu terima. Itulah uluran
tangan yang bisa saya lakukan.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Berikut mungkin sedikit kisah, beberapa kepala keluarga yang memilih antara panggilan jiwa sebagai pendidik dan tuntutan sebagai kepala. kisah yang pasti banyak di pelosok negeri. Terlepas ini adalah cerita fiktif. Namun saya yakin perjuangan seperti ini ada ribuan di kota - kota besar, hingga pelosok desa di daerah 3T di seluruh wilayah Indonesia. Kebanggan sebagai kepala keluarga dan sebagai pendidik yang sama harus menjaga moral - adab dan adat budaya serta profesionalisme yang terkadang tanpa batas di manapun berdiri di depan kelas, di sekolah dan juga di hadapan masyarakat. Di hadapan Masyarakat dan orangtua yang kondisinya berubah - ubah, ada yang mendukung dan bahkan ada yang menentang. Silahkan dibaca cerita fiktif ini :
" Di balik meja kayu tua di sudut ruang guru yang mulai pudar catnya, saya sering teringat awal mula menapaki jalan ini. Sudah bertahun-tahun masa kerja saya jalani di dunia pendidikan, mendidik ribuan anak bangsa dengan harapan mereka bisa menjadi lentera bagi Indonesia. Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian yang tulus demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, ketika gema kata merdeka berembus di setiap penjuru negeri, sebuah pertanyaan mengusik benur sanubari saya sebagai seorang guru laki-laki: apakah salah jika seorang pendidik menuntut kesejahteraan yang layak di tanah airnya sendiri?
Sebagai kepala keluarga, tanggung jawab yang saya panggul tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi. Di rumah, ada senyum anak-anak dan harapan seorang istri yang membutuhkan penghidupan yang mencukupi. Namun, kenyataan sering kali memaksa kami hidup dalam keterbatasan. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan hidup kian melonjak tinggi, sementara apresiasi terhadap profesi pendidik kerap kali terasa stagnan. Waktu yang saya curahkan dari pagi hingga petang untuk menyiapkan bahan ajar, memeriksa tugas, dan membimbing siswa seakan tidak berbanding lurus dengan ketenangan finansial yang didapatkan. Apakah pantas jika upaya mencukupi kebutuhan dasar keluarga dianggap sebagai bentuk pengikisan keikhlasan?
Di era modern yang serba cepat ini, tuntutan terhadap guru semakin kompleks. Kami dituntut untuk terus adaptif dengan perkembangan dunia global, menguasai teknologi, dan membentuk karakter generasi muda agar berdaya saing. Namun, bagaimana mungkin seorang guru dapat mentransfer ilmu dengan optimal jika pikirannya masih terbagi oleh kecemasan akan biaya hidup esok hari? Menyuarakan aspirasi untuk kehidupan yang lebih baik bukanlah sebuah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah tuntutan logis agar profesi ini tetap bermartabat dan memiliki daya tarik bagi generasi penerus.
Kesejahteraan dan pengabdian tidak seharusnya diposisikan sebagai dua hal yang bertolak belakang. Sebuah bangsa yang benar-benar merdeka adalah bangsa yang mampu menghargai para pahlawan tanpa tanda jasa dengan tindakan nyata, bukan sekadar pujian manis di hari peringatan. Menuntut hak untuk hidup sejahtera bukanlah kejahatan, melainkan langkah awal agar kami dapat mengabdi secara utuh tanpa dibebani kecemasan mendasar. Sebab, ketika guru sejahtera, kualitas pendidikan pun akan terangkat, dan masa depan bangsa akan makin cemerlang."
Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
aplikasi: Google Gemini, prompt sumber :
"Saya guru laki-laki, buatkan saya naskah karangan untuk blog dengan tema cerita bebas dan judul berikut ini "Salahkah Guru menuntut Hak Sejarahteranya di Negeri yang Merdeka?"
cerita minimal 500 kata dan memiliki kata-kata berikut: keluarga, kesejahteraan, pengabdian, waktu, usia, masa kerja, dunia, Indonesia, merdeka dan tuntutan.
naskah karangan dibuat dalam minimal 4 paragraf. buat senatural mungkin dengan kata-kata dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) versi terbaru."
Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama
satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri
saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, impian memiliki
lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu
cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat
itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar
tidak merasa bersalah. Saat muda adalah saat mencoba keberanian dan kemauan untuk belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul, saya coba menapaki pembangunan sebuah tempat kursus sendiri walau dengan kegagalan kecil di akhir, karena memang modal dengkul. Tanpa karyawan, saya berusaha sendiri. Tapi setelah
dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya
saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.
Setelah itu, saya tetap menjalani diri sebagai tutor
dan instruktur komputer sesuai dengan ilmu dasar saya. Namun, saya juga mengasah kemampuan mengajar ilmu bahasa Inggris dengan keahlian saya karena saya yakin kemampuan bahasa Inggris saya cukup dengan TOEFL di atas 450 poin kala itu di usia 25 tahun. Maka di usia 27 tahun saya memberanikan diri untuk mengajak English dari tingkat anak-anak SD dahulu, lalu naik ke tingkat-tingkat di atasnya. Sehingga dalam 1-2 tahun saya sudah mampu
mengajar English untuk SMA dan orang dewasa yang level dasar. Sambil tentu saja di
tahun yang sama saya mengajar komputer semua jenjang usia bahkan sampai lansia/pensiunan.Ada satu kisah
yang saya bisa ambil dari murid paling tua saya saat itu. Usianya sudah 70 tahun,
mantan Angkatan Laut yang sudah bergabung di LVRI Tingkat Jakarta Timur saat
itu. Beliau, jiwanya masih pejuang betul, saya rasakan, masih mau menulis sebuah
buku autobiografi tentang dirinya sendiri. Minimal bukunya bisa diterbitkan dan
diberikan ke anak – anak atau cucunya kelak, begitu pesannya. Syukur – Syukur bisa
diberikan ke LVRI atau ke pihak lain yang berminat memperbanyak. Misi saya
hanya satu menurut beliau, membantu merapihkan tulisan dan teks yang beliau
buat di Microsoft Word, menata tulisannya agar rapih, mengecek tulisan di Word.
Beliau ini murid paling disiplin saya pernah ajarkan. Waktu sesibuk apa pun beliau, dipastikan beliau meminta didampingi untuk menulis karyanya. Beliau suka bercerita
masa mudanya di Angkatan Laut, tugas – tugasnya di Irian Jaya, di wilayah -
wilayah Indonesia kala itu. Termasuk tugas menjelang masa pensiunnya saat berkantor dan diminta menjemput rekan-rekan yang terbunuh dan dikembalikan ke Indonesia dari negeri seberang di era Orde Lama yang baru bisa dikebumikan ulang di era Orde Baru. Sebuah tugas berat mengatur pemulangan dan negosiasi saat itu
antarnegara, antardaerah sehingga bisa dikembalikan ke keluarga masing-masing di berbagai daerah setelah puluhan tahun. Beliau bercerita apapun yang
jadi tugasnya saat itu. Namun itu hendak dijadikan buku dan misi saya tetap
sama, memastikan tulisan beliau se akurat mungkin jika harus naik cetak kelak.
Sebuah kebanggan saya kala itu, tidak punya tempat kursus namun bisa membantu
salah satu pejuang era Orde Lama dan era Orde Baru sekaligus.
Namun, saat itu ada panggilan
lain bagi saya untuk terus mengajar, tidak hanya beliau, tetap ada semangat
untuk mengajar anak - anak muda. Kala itu, istilah Indonesia Emas 2045 baru
terdengar, konsep untuk masa depan negara yang lebih baik untuk generasi
selanjutnya. Maka saya setelah melatih Veteran ini, saya tetap sediakan
mengajar English dan Komputer untuk anak – anak di lembaga Pendidikan yang
dahulu dan sambil mencari lembaga pendidikan lain di Jakarta Utara. Kebetulan Kawan
dulu marketing, memberikan sebuah awalan untuk mengajar di daerah Mangga Dua, Jakarta
Utara. Wilayah baru dengan kondisi masyarakatnya yang tentu 100% berbeda. Di sini
saya mengajar English kepada 5 bocah keturunan usia sekolah SD. Tentu mereka di awal
merasa saya berbeda dengan mereka, namun pelan tapi pasti kedekatan mereka
dengan saya bertumbuh. Saya sudah dianggap kakak oleh mereka berlima. Ini pun
bukan pengalaman saya mengajar siswa sekolah dasar di lembaga, jadi saya paham
betul pendekatan terhadap cara belajar mereka. Belajar dahulu, sambil bermain
kemudian. Sambil sesekali memberi mereka hadiah makanan ringan atau sekedar teh
segar sesekali jika kenaikan Tingkat di kelas. Memberi mereka kebanggaan bahwa
mereka berhasil naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Karena secara ekonomi,
mereka jauh lebih mampu, kalau adu harga jajanan mereka pasti saya kalah. Namun, mendekati mereka agar mau belajar dan terus mau belajar setiap minggu 2 kali adalah
tantangan unik. Membuat mereka rajin datang saja sudah perlu usaha, Mereka
datang bukan disuruh mami atau papinya lagi, tapi karena kemauan sendiri.
Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, impian memiliki lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar tidak merasa bersalah. Saat muda adalah saat mencoba keberanian dan kemauan untuk belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul, saya coba menapaki pembangunan sebuah tempat kursus sendiri walau dengan kegagalan kecil di akhir, karena memang modal dengkul. Tanpa karyawan, saya berusaha sendiri. Tapi setelah dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Jika hari ini saya memilih berdiri di depan kelas, di
depan anak - anak sekolah. Bukan hal pertama yang saya lakukan, bukan juga
sepuluh tahun lalu. Bukan pula karena paksaan nasib atau alasan ekonomi. Saya
percaya ini rencana TUHAN, panggilan yang saya harus lakukan bukan demi saya
pribadi, mungkin demi orang banyak.
Saya pertama kali mendidik, atau lebih sederhana, mengajar bukan di sebuah
sekolah, bukan di sebuah lembaga pendidikan. Namun di
kampus, sebagai tim LitBang (Pelatihan dan Pengembangan) salah satu bagian dari
tim di bawah Perkumpulan Mahasiswa. Sepenuhnya alasan saya diberikan bagian ini,
100% tidak saya pahami.
Saya dulu, sejak SD sampai lulus SMA, adalah siswa biasa
dengan keberanian hampir nol besar jika diminta maju, karena sering demam
panggung dan gemetar. Namun nilai rapor saya memang tidak jelek - jelek sekali, kisaran 10
besar sampai 2 besar di kelas sejak SD sampai lulus SMA. Anggaplah introvert
tapi lumayan tidak kosong kalau pakai istilah kekiniannya. Diberikan amanah
sebagai litbang yang menyiapkan materi pelatihan, menyiapkan lab komputer
dengan segala perangkat keras dan perangkat lunak. Menyiapkan diri sesekali
jika diminta kakak senior untuk menjadi asistennya jika diperlukan. Inilah mungkin dasar
dan pertama kali saya memegang apa yang disebut mengajar atau melatih orang - orang seusia saya atau di bawah umur saya.
Setelah magang, mencari pengalaman sesuai passion dan ilmu di kampus
ternyata melalui PKL masih sulit. Terlebih ditempatkan di divisi marketing sebuah sole agent perusahaan mobil berbahan bakar solar saat itu di bawah grup Astra di wilayah Sunter, Jakarta Utara, cukup membuat kaget. Dengan ilmu minim tentang komputer, diharuskan belajar alat-alat elektronik semacam faksimile, mesin fotokopi, dan komputer yang sudah lebih canggih yang belum dimiliki kampus. bagian PKL dan
magang saat itu pun di divisi Marketing Support yang saya belum pernah dapat
konsepnya. Magang pun hanya jadi keseharian tanpa ada mendapat ilmu apapun.
Selepas magang selesai dan lulus kuliah pun, saya mendapati beberapa kali panggilan kerja dan kesempatan interview, Tidak serta-merta ilmu komputer saya dilihat sebagai sebuah keahlian yang cukup mendukung kepercayaan bagian HRD untuk menerima saya. Padahal IPK 3.01 lebih tinggi dibandingkan dengan 19 teman
seangkatan saya, walau masih kalah dengan 3 orang lainnya. Jadi, jika ada istilah nilai tertinggi, itu tidak menjamin seseorang mudah mendapatkan pekerjaan. HRD era modern tidak butuh 100% orang pintar dan berprestasi tinggi. Ada hal lain di luar angka-angka itu. Itu pun saya amini sekarang sebagai pendidik. Hal yang perlu saya jelaskan dan berikan pemahamannya dengan lebih baik kepada siswa-siswi saya, walau mereka masih di tingkat SMP. Pintar itu perlu, namun memiliki keahlian-keahlian yang beragam atau sesuai cita-cita atau hal positif juga diperlukan di masa depan.
Pekerjaan saya di bidang pendidikan, namun bukan di sekolah sebagai guru.
Sebagai instruktur atau tutor, sebuah lembaga pendidikan ternama yang
pusatnya di Jakarta Timur. Cabangnya berjumlah ratusan dengan konsep franchise
yang tersebar di Indonesia. Sebuah pekerjaan selama kurang lebih 3 tahun yang
memberi saya banyak ilmu baru, bahkan yang belum saya dapatkan di kampus.
Adapun jika sudah dapat di kampus, di tempat kerja ini ilmu saya bertambah
lebih banyak dan saya menjadi semakin mahir. Bahkan ilmu tingkat manajerial seperti jabatan supervisor dan
asisten manajer cabang. Ilmu tentang bagaimana merekrut, menangani bawahan
mulai dari 3 orang hingga 20 orang pada waktu yang bersamaan dalam satu tahun.
Ilmu lain pun saya dapatkan tiap bulan dengan menangani proyek-proyek
pelatihan, baik dengan sekolah negeri maupun swasta, tingkat SMP maupun SMA.
Bahkan sesekali mengatur proyek kerja sama dengan divisi atau subbagian kementerian negara di era
Presiden ke-6. Sebuah ilmu yang menambah kepercayaan diri saya.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Di era Kurikulum Merdeka dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep
Learning), budaya literasi di jenjang SMP tidak lagi berdiri sendiri di
dalam kotak mata pelajaran masing-masing. Ketika guru Bahasa Indonesia dan guru
Matematika berdialog, literasi dan numerasi mewujud sebagai satu kesatuan cara
berpikir yang utuh dan saling menguatkan.
1. Apa itu literasi di SMP?
Literasi di tingkat SMP kini melampaui
kemampuan sekadar mengeja kata atau merangkum isi bacaan. Dalam konteks deep
learning, literasi adalah kedalaman berpikir saat menyerap dan mengolah
informasi. Siswa diajak untuk membedakan fakta dan opini, menganalisis pesan
tersirat, mengevaluasi kebenaran teks, serta menyampaikan kembali ide-ide
kompleks secara runtut dan santun. Literasi adalah fondasi untuk memahami makna di
balik tulisan.
2. Apa itu numerasi di SMP?
Meluruskan miskonsepsi yang sering
terjadi: numerasi bukanlah lomba berhitung cepat atau menghafal rumus rumit.
Numerasi adalah kecakapan bernalar menggunakan konsep matematika untuk
menyelesaikan masalah nyata. Di jenjang SMP, numerasi berarti siswa mampu
membaca data grafik, mengenali pola, menghitung estimasi, dan mengambil
keputusan yang logis berdasarkan angka dan data kuantitatif.
3. Apa keuntungan numerasi bagi Siswa-Siswi?
Penguasaan numerasi
yang mendalam memberikan keuntungan nyata bagi perkembangan mental siswa:- Nalar Pemecahan
Masalah: Siswa terbiasa membedah masalah besar menjadi bagian-bagian
kecil yang terstruktur.
- Tidak Mudah
Terkecoh: Siswa menjadi lebih kritis terhadap informasi, terutama
klaim statistik atau grafik manipulatif yang beredar di media sosial.
- Kecakapan Hidup
Praktis: Membantu siswa dalam mengelola waktu, merencanakan keuangan
pribadi, hingga memperhitungkan risiko secara rasional.
4. Apa Kaitan Numerasi dengan Mata Pelajaran Informatika?
Hubungan
keduanya sangat fundamental. Jantung dari pelajaran Informatika adalah Computational
Thinking (Berpikir Komputasional). Guru Matematika melihat bahwa struktur
logika pemrograman, penggunaan variabel, pembuatan alur flowchart,
hingga algoritma dasar di kelas Informatika sebenarnya adalah penerapan
langsung dari penalaran numerasi. Tanpa logika numerasi yang kuat, siswa hanya
akan menjadi pengguna teknologi tanpa memahami cara kerjanya.
5. Apakah numerasi dapat digabungkan dengan pelajaran Informatika?
Penggabungan ini sangat bisa dilakukan dan merupakan bentuk ideal dari deep
learning lintas disiplin ilmu. Siswa dapat mengumpulkan data di lapangan,
mengolah angka tersebut menggunakan perangkat lunak lembar kerja (spreadsheet)
di kelas Informatika, lalu memvisualisasikannya menjadi grafik interaktif.
Melalui kolaborasi ini, angka dari matematika diolah dengan alat dari informatika, lalu dijelaskan kembali menggunakan bahasa yang komunikatif dalam bahasa Indonesia. Hasilnya, siswa tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga
memiliki kedalaman berpikir yang utuh.
Naskah resmi oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Guru, "di gugu dan di tiru", mungkin ini salah satu hal yang pernah kita dengar dari rekan sesama guru. Dulu juga guru kita pernah memberi kata ini kepada kita, sebuah konsep nilai diri sebagai panutan. Bukan hanya di kelas, tetapi juga di sekolah dan bahkan di masyarakat. Dahulu, banyak guru kita mungkin juga tetangga kita atau bahkan masih dekat dengan keluarga kita, mungkin sanak saudara dari keluarga besar kita. Kita bersekolah di kampung yang pendidiknya kita kenal dengan baik, karena masih satu kampung yang sama. Jadi mereka sangat menjaga sikap dan perilaku di kampung tersebut.
Mungkin ada juga, kita bersekolah karena orang tua kita, mengenal watak dan perilaku guru yang mengajar kita saat itu. Jadi, semacam ada rasa kepercayaan agar kita sebagai anaknya mendapat guru yang sudah sangat akrab dengan orang tua kita. Karena perilaku dan watak mereka yang baik, yang penuh contoh nilai - nilai moral yang diakui sebuah keluarga atau sebuah kampung yang sama. Jadi sering kali guru yang mendidik kita karena ada kesamaan nilai - nilai yang orang tua kita anut. Pendidikan yang berdasarkan kepercayaan satu sama lain, atas kesamaan jiwa dan hati. Antara orang tua dan guru terdapat kesamaan perasaan dan pemahaman yang saling.
Sebuah hal yang mungkin sedikit demi sedikit mulai bergeser saat ini. Karena sekarang bersekolah terkadang karena kemampuan ekonomi atau keinginan orang tua mencapai nilai tertinggi dan prestasi terbaik bagi putra-putrinya. Ada juga karena fasilitasnya yang dianggap mewah dan lingkungan pertemanannya yang elit bagi orang tua, bukan lagi karena melihat kebutuhan anak. Bisa juga karena kesulitan ekonomi dari keluarga, anak disekolahkan karena gratis tanpa biaya apa pun, kalau bisa malahan dapat bonus A, B, C, D dari sekolahnya yang memang sangat manusiawi sebagai makhluk sosial. Mungkin ada juga yang sekolah karena jaraknya dekat dan tinggal jalan kaki, ini terutama bagi jenjang - jenjang bawah. Namun, acap kali karena rasa ketidakpercayaan orang tua terhadap kebiasaan putra-putrinya yang dianggap suka melanggar aturan atau "dicurigai" sering bepergian tanpa kabar jika sekolahnya lepas dari pantauan mereka. Kondisi terakhir ini bukan hanya di jenjang sekolah dasar, tetapi juga di jenjang menengah dan atas. Bahkan acapkali di jenjang politeknik atau universitas, orang tua tidak percaya anak yang mereka lahirkan dan besarkan dianggap bayi besar yang tidak bisa dipercaya dan dibri kepercayaan lebih.
Inilah juga yang membuat guru atau pendidik saat ini mengamini perilaku anak-anak tersebut untuk memberi batasan, aturan, dan garis yang sering kali dan acapkali cukup keras. Kadang ditemui terlalu keras, bukan untuk disiplin, melainkan juga mengarah pada pemaksaan. Padahal seharusnya siswa-siswi diberikan batasan dan aturan, bukan langsung, namun diberi alasan mengapa, apa dampaknya jika melanggar, atau bagaimana jika terjadi hal-hal yang salah jika dilakukan. Berikan murid-murid kita alasan, dampak, dan risiko, serta perkuat kemampuan pola pikir mereka ke depannya. Memberikan mereka, akan seperti dampak di waktu akan datang jika mereka berbuat salah atau jika mereka tidak memhami kondisi. Memang, masa depan dan perubahannya tidak ada yang tahu secara pasti, namun dengan memberi kebebasan dan kemerdekaan berpikir, semoga kita menciptakan anak - anak dan kelak manusia-manusia yang berpikir dan berperilaku merdeka bukan karena hanya sekadar takut.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay















