Tampilkan postingan dengan label komputer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komputer. Tampilkan semua postingan
--
0

 


Karya baru Resident Evil  2026 yang terbaru saat ini diperankan oleh tokoh utama yang berbeda. Setelah franchise film Resident Evil yang sebelumnya diperankan oleh Milla Jovovich sebagai Alice sejak 2002 hingga 6 seri selanjutnya yang berakhir pada 2016, kemudian dilanjutkan dengan Resident Evil: The Final Chapter yang berakhir pada 2016 ini, kini sudah masuk chapter baru pada 2026 dengan selisih 10 tahun tanpa film baru. Film ini berasal dari permainan atau gim horor besutan rumah produksi gim Capcom. Pada seri gim yang lebih banyak karena memang ini salah satu seri gim paling laku keras karena alur ceritanya yang mendebarkan dengan latar campuran misteri, horor dan science fiction. Gim ini laku keras karena menguras adrenalin baik sebagai game, sejak awal di buat dan di edarkan. Gim nya sudah lebih banyak versinya dengan penjualan selalu sangat baik, Baik agar tidak berlama - lama membahas film terbarunya, kita lanjut langsung saja.

Berikut resensi versi saya : 

Kepanikan massa dan penularan virus secara eksplosif dalam film ini menghadirkan kilas balik yang sangat kuat terhadap realitas wabah COVID-19 yang pernah melanda dunia. Meski COVID-19 tidak mengubah manusia menjadi monster fisik, pola penyebaran patogen, ketakutan akan kontak fisik, dan kepanikan sosial yang tergambar di layar lebar terasa sangat familier. Film ini mengeksploitasi trauma kolektif global tersebut dengan memperlihatkan betapa rentannya pertahanan medis ketika dihadapkan pada patogen mutan yang agresif. Kegagalan karantina awal serta lemahnya transparansi informasi di Raccoon City mencerminkan betapa fatalnya dampak yang timbul jika kewaspadaan terhadap ancaman biologis diabaikan. Narasi fiksi ilmiah ini berhasil memanfaatkan ingatan penonton tentang penutupan kota dan isolasi mandiri untuk membangun ketakutan psikologis yang jauh lebih mendalam.

Risiko penularan penyakit menular berbahaya lainnya juga menjadi subteks kritis yang sangat berbobot di sepanjang cerita film ini. Resident Evil (2026) menekankan bahwa ancaman krisis kesehatan global tidak berhenti pada satu jenis virus saja, melainkan terus mengintai akibat potensi mutasi biologis maupun interaksi manusia dengan lingkungan. Gambaran kehancuran Raccoon City memperingatkan kita akan bahaya laten munculnya patogen baru dengan daya tular tinggi serta masa inkubasi yang sulit terdeteksi. Eskalasi konflik di dalam film menjadi gambaran nyata bagaimana kegagalan mitigasi awal dapat memicu kehancuran sistemik yang melumpuhkan peradaban. Sinematografi yang memperlihatkan ruang-ruang publik yang sepi dan rumah sakit yang kewalahan menjadi pengingat pahit tentang mahalnya harga sebuah kelalaian dalam penanganan wabah.

Secara keseluruhan, Resident Evil (2026) berhasil membuktikan dirinya sebagai film fiksi ilmiah yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga kaya akan refleksi sosial yang kontekstual. Penggabungan genre survival horror dengan narasi bio-terorisme menghasilkan karya yang relevan dengan dinamika kesehatan global masa kini. Keberhasilan film ini terletak pada kemampuannya menyentuh celah ketakutan paling nyata dari masyarakat pascapandemi, yaitu ancaman krisis kesehatan yang lepas kontrol. Bagi para pencinta fiksi ilmiah, karya ini menyajikan kombinasi sempurna antara sensasi mencekam dan wawasan kritis akan pentingnya kesiapsiagaan biosafety. Film ini mengingatkan kita bahwa monster yang paling menakutkan dalam sejarah manusia sering kali berukuran mikroskopis dan tak kasat mata.

Menjaga kesehatan diri dan menerapkan protokol sanitasi secara disiplin adalah langkah krusial untuk melindungi diri serta orang-orang di sekitar kita dari ancaman penyakit menular. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan imunitas, dan tanggap terhadap gejala sakit merupakan benteng pertahanan utama dalam mencegah terjadinya krisis kesehatan yang lebih besar di masa depan.

Sutradara Zach Cregger berhasil menghadirkan napas baru bagi waralaba film fiksi ilmiah Resident Evil (2026) melalui alur cerita survival horror yang sangat mencekam. Mengikuti kisah Bryan, seorang kurir medis yang terjebak di Raccoon City saat wabah virus T mematikan pecah, film ini secara bertahap menyeret penonton ke dalam kepanikan kolektif yang luar biasa. Ketegangan visual yang disajikan tidak lagi berfokus pada aksi bombastis pahlawan super, melainkan pada perjuangan manusia biasa dalam bertahan hidup di tengah kehancuran kota. Atmosfer horor isolatif yang dibangun begitu nyata, memperlihatkan bagaimana sebuah sistem kemasyarakatan dapat runtuh seketika ketika patogen tak kasat mata menyebar tanpa kendali. Setiap adegan pengisolasian wilayah dan runtuhnya fasilitas medis terasa sangat relevan, menjadikan fiksi ilmiah ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan cermin kecemasan sosial.

 
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay

--
0

 


Hari ini saya coba meresensikan film bulan September 2026 berjudul HOPE. sebuah karya besutan sutradara Korea Selatan Karya Na Hong-jin. Pemenang Daniel A. Craft Award for Excellence in Action Cinema di New York dan  di Festival Film Cannes 2026 untuk memperebutkan penghargaan tertinggi Palme d'Or. Film ini mendapat sambutan luar biasa berupa standing ovation (tepuk tangan meriah) selama 7 menit dari penonton Cannes.

Berikut resensi versi saya: 

Bagi Anda para pencinta fiksi ilmiah yang mendambakan tontonan dengan ketegangan intens dan alur yang sulit ditebak, karya terbaru asal Korea Selatan berjudul Hope ini adalah jawaban yang sempurna. Film ini berhasil menyajikan perpaduan fiksi ilmiah bertema invasi makhluk asing dengan balutan misteri lokal yang sangat mencekam sejak menit pertama. Mengambil latar di kawasan perkampungan pinggir pantai Hop, premis cerita dibuka dengan penemuan tak lazim yang mengancam kedamaian warga setempat. Penonton langsung disuguhi atmosfer misterius saat hewan ternak warga ditemukan tewas mengenaskan secara tidak wajar. Kekacauan berdarah ini menandai dimulainya teror tak kasatmata yang siap merenggut nyawa siapa saja. 

Keunggulan utama Hope terletak pada transisi konflik yang dibangun sangat rapi dan bertahap hingga menyentuh puncaknya. Petunjuk awal mengenai ancaman ini sempat dikira berasal dari hewan buas biasa seperti beruang atau macan oleh polisi setempat bernama Beom-seok dan kelompok pemburu pimpinan Sung-ki. Namun, temuan jasad pemilik peternakan dan luka misterius pada korban lain mengarahkan mereka pada kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Keadaan semakin memburuk ketika kota terisolasi dan jejak raksasa mulai ditemukan di berbagai sudut permukiman. Penonton diajak menyusuri lorong-lorong kota yang porak-poranda sambil merasakan ketakutan nyata yang dialami para karakter.

 Misteri yang menyelimuti asal-usul makhluk alien ini menjadi daya tarik utama yang dijamin membuat mata Anda tidak bisa berpaling dari layar. Melalui penyelidikan kepolisian dan aksi nekat warga, penonton secara perlahan melihat wujud asli alien yang jangkung, ganas, serta memiliki anatomi unik mirip manusia. Penemuan bayi alien oleh seorang pemburu lokal menjadi titik balik cerita yang sangat emosional sekaligus menegangkan. Keputusan fatal pemburu tersebut memicu amukan induk alien yang ternyata mengamuk di seluruh kota hanya demi mencari anaknya yang hilang. Pembedahan ilmiah terhadap bangkai alien turut menambah kedalaman fiksi ilmiah film ini dengan menyajikan fakta biologi makhluk luar angkasa tersebut.

 

Aksi kejar-kejaran yang dihadirkan Hope patut diacungi jempol karena mengeksekusi elemen laga dan sinematografi dengan sangat luar biasa. Kolaborasi antara polisi wanita Sung-e dan petugas lokal dalam melawan alien berukuran masif menghasilkan adegan pertarungan yang benar-benar memicu adrenalin. Penggunaan berbagai macam senjata berat, aksi kejar-kejaran kendaraan, hingga adegan berburu di dalam hutan lebat tersaji sangat dinamis dan menegangkan. Setiap karakter diuji batas ketahanannya saat berhadapan langsung dengan alien pemangsa yang responsif terhadap gerakan. Ketegangan ini berhasil dipertahankan konsisten, membuat durasi film terasa berlalu tanpa ada momen yang membosankan. 

Tak hanya menjual adegan aksi visual, Hope memiliki keunikan tersendiri dengan memasukkan perspektif emosional dari sisi sang makhluk asing. Momen ketika induk alien terlihat meneteskan air mata saat mencari anaknya memberikan nuansa simpati yang jarang ditemukan dalam film invasi alien biasa. Kedatangan kapal induk serta kemunculan alien dengan tingkatan hierarki baru di akhir cerita memperluas skala ancaman menjadi jauh lebih masif. Penonton dipaksa menyadari bahwa kekacauan di desa Hop hanyalah permulaan dari invasi Bumi yang jauh lebih besar. Kedalaman cerita seperti inilah yang membuat Hope terasa berbobot dan meninggalkan kesan mendalam setelah menontonnya.

 

Bagi Anda yang sudah terbiasa dengan film bergenre fiksi ilmiah barat, film Hope memberikan kesegaran baru dengan sentuhan kearifan lokal Korea yang sangat pekat. Interaksi antarwarga, dinamika tim pemburu tradisional, hingga respons kepolisian daerah dalam menghadapi ancaman luar angkasa terasa sangat riil dan membumi. Balutan humor tipis di tengah kepanikan warga juga disisipkan dengan pas tanpa merusak ketegangan utama cerita. Kombinasi unsur lokal dan teknologi tinggi ini membuktikan bahwa sinema Asia mampu mengemas cerita fiksi ilmiah kelas dunia. Pengalaman menonton ini akan membuka sudut pandang baru tentang bagaimana sebuah bencana global direspons dari tingkatan masyarakat terkecil. 

 Jika Anda mengaku sebagai penikmat film sci-fi sejati, menyia-nyiakan film Hope tentu menjadi sebuah kerugian yang sangat besar. Film ini menyajikan paket lengkap yang memenuhi dahaga akan ketegangan, estetika visual, cerita berbobot, serta performa akting para pemain yang amat memukau. Anda akan diajak merasakan sensasi emosi yang naik turun, mulai dari merinding ketakutan hingga terpana oleh keindahan efek visualnya. Jangan ragu untuk segera meluangkan waktu dan memasukkan Hope ke dalam daftar tontonan wajib Anda minggu ini. Rasakan sendiri sensasi teror luar angkasa yang diracik secara jenius dan tidak terlupakan dari bioskop Korea Selatan.


Setelah selesai menikmati ketegangan dalam Hope, dijamin Anda akan langsung ketagihan dan berburu film-film fiksi ilmiah serupa. Menonton film seperti Hope membuka pintu untuk menjelajahi lebih banyak karya sci-fi Korea modern lainnya yang tak kalah berkualitas. Sensasi memecahkan misteri dan menyaksikan perjuangan manusia bertahan hidup melawan ancaman tak dikenal adalah pengalaman sinematik yang selalu dirindukan. Mari ajak teman maupun keluarga Anda untuk bersama-sama menikmati keseruan genre fiksi ilmiah yang semakin berkembang pesat ini. Bersiaplah untuk terperangah dan larut dalam petualangan imajinasi luar biasa yang ditawarkan oleh film-film berkualitas ini.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay

--
0

 



Kali ini saya menyempatkan diri buat mengobrol santai dengan 5 tipe penonton yang berbeda setelah mereka selesai menonton film Spider-Man: Brand New Day. Penasaran bagaimana pandangan mereka? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

1. Fans Berat Marvel Universe (MCU)


1. Fans Berat Marvel Universe (MCU)

"Angin segar yang mengembalikan akar Spider-Man ke komik klasik!"

Sebagai penggemar berat MCU, Spider-Man: Brand New Day ini beneran terasa seperti angin segar yang sudah lama ditunggu-tunggu setelah kerumitan multisemesta (multiverse) di fase sebelumnya. Film ini sukses mengembalikan akar karakter Peter Parker ke ranah yang lebih personal dan membumi (grounded), persis seperti dinamika komik era klasik. Penulisan naskahnya cerdas banget dalam mengeksplorasi dampak emosional dari mantra Doctor Strange—Peter harus membangun kembali hidupnya dari nol tanpa bantuan teknologi canggih Stark. Easter eggs yang disebar sepanjang film juga terasa alami dan enggak dipaksakan cuma demi memanjakan penggemar. Kemunculan musuh-musuh baru dengan motivasi yang lebih manusiawi memberi ketegangan yang pas untuk arah baru MCU. Secara keseluruhan, ini transisi sempurna yang membuktikan kalau Spider-Man enggak selalu butuh ancaman tingkat kosmis untuk tampil memukau!

2. Pelajar SMP (Usia 15 Tahun)

"Seru banget dan relate parah sama kehidupan anak sekolah!"

Film Spider-Man: Brand New Day ini seru banget dan relate parah sama kehidupan anak sekolah kayak aku! Konflik Peter Parker saat berusaha beradaptasi di lingkungan barunya tuh terasa miris tapi juga kocak—mirip banget kalau kita baru masuk sekolah baru dan belum punya teman. Aksi menggantung Spider-Man di antara gedung-gedung New York kelihatan keren banget dan visualnya benar-benar memanjakan mata dari awal sampai akhir. Selain itu, selingan humor di tengah adegan pertarungan bikin suasana bioskop enggak tegang terus. Aku paling suka adegan saat dia bikin kostum dan peralatan sederhananya sendiri pakai barang seadanya, kelihatan kreatif banget. Habis nonton film ini, rasanya langsung pengin punya kekuatan super juga biar bisa melewati masalah sehari-hari dengan santai!

3. Orang Dewasa / Rekan Kerja

"Lebih dari sekadar film pahlawan super: sebuah drama kemanusiaan yang menyentuh."

Menonton Spider-Man: Brand New Day memberikan pengalaman cerita yang mengejutkan karena alurnya jauh lebih dewasa dan menyentuh daripada yang saya bayangkan. Film ini tidak sekadar menjual ledakan atau aksi pahlawan super, tetapi juga menyoroti perjuangan kelas pekerja, rasa kesepian, serta tanggung jawab hidup yang harus dipikul seorang pemuda. Melihat Peter Parker berjuang membayar sewa kamar dan membagi waktu antara pekerjaan harian serta kewajibannya terasa sangat relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Akting para pemerannya terasa alami dan mampu membawa penonton ikut merasakan beban emosional karakter utama. Sinematografi dan jalan ceritanya tertata rapi sehingga mudah dinikmati, bahkan oleh orang yang tidak mengikuti belasan film Marvel sebelumnya. Ini adalah drama kemanusiaan yang dibungkus dengan sangat apik dalam balutan film aksi.

4. Pencinta Film Pahlawan Super (Genre Enthusiast)

"Standar baru untuk film pahlawan super skala street-level."

Bagi pencinta genre pahlawan super, film ini memenuhi semua kriteria ideal sebuah eksekusi cerita yang otentik. Koreografi pertarungannya dirancang sangat dinamis, memaksimalkan kelincahan fisik Spider-Man tanpa terlalu bergantung pada efek gambar bentukan komputer (CGI) secara berlebihan. Penokohan karakter protagonis dan antagonisnya yang memiliki kedalaman moral yang seimbang, membuat benturan ideologi di antara mereka terasa sangat intens. Struktur cerita klasik mengenai pengorbanan personal demi kebaikan yang lebih besar dieksekusi dengan pendekatan yang segar dan modern. Film ini berhasil menangkap esensi sejati dari sosok pahlawan super: seseorang yang terus bangkit berdiri meski dunia berulang kali menjatuhkannya. Spider-Man: Brand New Day layak disebut sebagai salah satu standar baru untuk film pahlawan super berkonsep jalanan (street-level).

5. Penonton Bioskop Biasa / Penikmat Akhir Pekan

"Tontonan akhir pekan yang seru, menghibur, dan mudah diikuti!"

Jujur saja, saya datang ke bioskop tanpa ekspektasi tinggi dan tidak terlalu mengikuti alur cerita film-film Spider-Man terdahulu. Namun, Spider-Man: Brand New Day ternyata sangat menghibur dan ceritanya mudah sekali diikuti dari awal sampai akhir. Tempo alur ceritanya pas—tidak terasa membosankan maupun terburu-buru—sehingga waktu dua jam di bioskop terasa berjalan cepat sekali. Efek visual dan musik pengiringnya benar-benar memanjakan mata serta telinga, membuat pengalaman menonton di layar lebar terasa sepadan dengan harga tiketnya. Karakter utamanya sangat mudah disukai karena sifatnya yang ramah, gigih, dan selalu berusaha berbuat baik meskipun sedang tertimpa banyak masalah. Film ini benar-benar tontonan akhir pekan yang memuaskan dan cocok dinikmati bersama teman maupun keluarga.

Demikian sedikit wawancara ringan yang saya buat dengan beberapa orang yang saya temui di awal September lalu. semoga resensi filmnya bisa menambah sudut pandang kalian. Ingat Jangan beli atau nonton bajakan. Tonton
dari layar resmi dan penyedia resmi.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay

--
0

 

Menurut pakar kegempaan yang sudah mulai diperdengarkan dan diberikan kepada masyarakat terkait Kassandra paradox kedua yang akan kita bahas saat ini adalah Sesar Lembang. Pembaca sekalian bisa membaca pada link yang saya berikan di kalimat sebelumnya. Berdasarkan catatan sejarah, gempa yang bersumber dari Sesar Lembang pernah terjadi 600 tahun lalu. Lepasan energi tertahan berarti sudah ratusan tahun tertahan, Pastinya ada lepasan energi lagi yang akan muncul di tahun - tahun depan, walau belum dapat dipastikan waktu tepatnya. Sekali lagi, hal-hal besar yang berisiko besar rasanya kurang digubris masyarakat kita dan kurang dipersiapkan dengan baik. Bukti-bukti apa yang sudah dilepas ke masyarakat oleh para ahli melalui website resmi, media massa dan media sosial, tampaknya belum membuat masyarakat lebih peduli atau  high awareness atas info penting ini. Masyarakat nampaknya lebih banyak bersikap pasrah, seakan menunggu kiamat datang adalah bagian dari iman, dan pasrah serta percaya pada nasib baik saja.

Menurut data dari sumber, sesar ini memiliki panjang: ± 29 km, membentang dari wilayah Padalarang (Kabupaten Bandung Barat) hingga Jatinangor/Gunung Manglayang. Kemudian punya kecepatan pergerakan: aktif sekitar 1 hingga 4 milimeter per tahun. Angka ini termasuk lambat, namun terus bergerak yang menyebabkan risiko terus tumbuh per tahun dengan angka kemungkinan jika terjadi gempa berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 6,5 – 7,0. Ini sebuah angka signifikan jika melihat link yang saya cantumkan dalam sistem kegempaan, angka yang, jika bergerak lebih dari 1 menit, dapat meratakan bangunan-bangunan rumah tanpa fondasi kuat dan tahan gempa. Belum lagi jika terjadi gempa di bangunan era Belanda yang masih ada di sekitar Bandung.


Menurut pakar gempa pada video dari ESDM ini, pemetaan wilayah utama sesar dan wilayah sekitar yang terdampak sudah dipetakan risikonya dan dimunculkan secara resmi. Tinggal bagaimana pemerintah daerah Jawa Barat pada umumnya dan pemerintah daerah Bandung mengelola data ini. Jangan sampai Kassandra Paradox terjadi lagi, seperti kasus likuifaksi di Sulawesi dan gempa bumi di wilayah Aceh yang memakan banyak korban. Jika Sesar Lembang tidak diantisipasi, korban bisa berlipat - lipat jumlahnya karena jumlah penduduk di Jawa Barat juga lebih banyak. Semoga pengetahuan dan peringatan yang sudah dilakukan menjauhan kita dari sikap masa bodoh dan menganggap waktunya masih lama atau bahkan mungkin tidak kena. Jadilah warga yang bukan sekedar lari dan menyelamatkan diri, namun harus jadi warga yang peduli diri, keluarga dan tetangga atau masyarakat luas.

Caranya bagaimana agar terhindar dari dampak utama jika terjadi gempa yang bersumber dari Sesar Lembang ini?

        Pertama, menurut ahli kegempaan, jangan membangun rumah di dekat atau persis di depan sesar tersebut. Menurut ahli peneliti gempa, jarak aman dari garis retakan sesar sudah cukup pada radius minimal 40 meterPemerintah Provinsi Jawa Barat melalui peraturan konservasi kawasan menetapkan sempadan atau zona penyangga (buffer zone) selebar 200 hingga 250 meter di sisi kiri dan kanan Sesar Lembang dan tidak mengizinkan pembangunan permukiman atau adanya bangunan di area tersebut. Sejumlah kajian mitigasi bencana mengadaptasi standar aman sekitar 100 hingga 150 meter dari titik suar atau rekahan patahan aktif. Intinya, semakin jauh semakin baik, namun ada prasyarat lain agar lebih aman.

            Kedua, untuk membuat atau mendirikan bangunan di kawasan Bandung Raya yang mendekati jalur sesar, struktur wajib didesain dengan standar tahan gempa yang kuat. Wilayah dengan jarak sangat dekat (di bawah 3 kilometer dari jalur utama) menuntut kewaspadaan ekstra terhadap amplifikasi guncangan gempa yang besar.

Sebenarnya, memahami kemudian merancang bukan hanya jarak, melainkan jenis bangunan yang baik, tentunya mengurangi korban jiwa dan kerusakan yang sangat parah.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay



--
0

 


Kemungkinan kita belum pernah mendengar Paradoks Kassandra atau Cassandra Paradox.  Maka mari kita bahas hal yang baru ini dari beberapa sudut dan apa kaitannya dengan kondisi akhir - akhir ini yang sudah terjadi di Indonesia. Setidaknya selama 9 bulan terakhir. Apa kaitannya dengan paradoks ini? Apa kaitannya dengan kebencanaan negeri kita? Dan bagaimana mencegah bencana menjadi hal buruk atau sangat buruk?

Kassandra atau Cassandra dalam sejarahnya berasal dari nama seorang putri kerajaan Troya dalam mitologi Yunani. Seorang putri cantik yang dicintai Dewa Apollo dan diberikan berkah kekuatan dapat memprediksi kejadian di masa mendatang oleh dewa ini. Namun, karena Kassandra sendiri tidak mencintai dan menolak Apollo, maka diberikan kutukan tambahan dalam kekuatannya, yaitu tak seorang pun akan mempercayai ramalannya, meskipun selalu benar. Dalam konteks era kekinian yang penuh modernitas, Kassandra Paradoks merujuk pada fenomena ketika seseorang atau kelompok (umumnya cerdik pandai / ilmuwan / pakar di bidangnya) memberikan peringatan penting tentang bencana atau krisis yang akan datang, namun acap kali diabaikan oleh masyarakat atau pengambil kebijakan karena dianggap pesimis atau tidak sejalan dengan narasi dominan atau kemajuan industri atau kekuatan ekonomi. Bisa juga dianggap menghambat modernitas dan pembangunan suatu bangsa atau kelompok tertentu. Lebih tepatnya, tidak populer dan dianggap anti-pembangunan.


Konsep paradoks Kassandra ini membuat banyak kejadian, baik di sebuah bangsa maupun di sebuah negara, menjadi kerawanan dan acapkali menjadi bencana besar dengan korban puluhan hingga ribuan. Misalnya, di negeri indah kita ini, sudah berapa kali para pakar dan ilmuwan memberikan informasi dan peringatan yang berdasarkan ilmu yang mereka kuasai dan bukan sekadar tebakan tentunya. Mungkin hanya waktu saja yang menjadi penghalang yang membuat mereka tidak mampu menentukan hari, menit, dan detik kejadian secara tepat dan akurat. Bukan karena tidak bisa, tapi sampai saat ini belum ada alat yang bisa dibuktikan secara ilmiah mampu menghitung waktu kejadian. Bagaimanapun, peringatan ini pastinya sudah diprediksi dan sudah sesuai dengan kepakaran mereka.

Bagaimana pengetahuan dari ilmu pakar atau ahli di bidang kebencanaan ini seharusnya dipakai? Kita ambil contoh saja tentang ilmu gunung berapi yang baru saja terjadi beberapa hari lalu, bencana ringannya. Pakar ke Gunung Apian dari Kementerian ESDM pada dokumen LAPORAN KHUSUS Nomor : 1154.Lap/GL.03/BGL.2026  ini sudah memberikan informasi di websitenya sejak Juli 2026. Bahkan di sana sudah ada foto sebagai bukti fisik dan data rekaman alat - alat pelacak yang ditampilkan. Namun, sepertinya pemerintah daerah di dua provinsi terdekat, Lampung dan Banten, tidak menyebarluaskan potensi abu vulkanik atau minimal mengundang media untuk membahas risiko yang akan dihadapi penduduknya. Entah karena dianggap tidak penting atau memang dirasa masih aman jika memang terjadi atau memang waktunya masih lama.

Namun, tidak lama kemudian, kejadian dari informasi ini dipasang di situs web Kementerian ESDM. Pada bulan September, letusan yang sudah diperingatkan lembaga resmi ini pun akhirnya benar - benar nyata. Letusan pada hari Jumat dan Sabtu berdampak hingga hari Senin dan Selasa, bahkan bukan hanya di 2 provinsi, melainkan hingga lebih dari 4 provinsi, termasuk Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Bahkan ada laporan di beberapa kabupaten di Jawa Tengah yang sempat mendapati abu vulkanik dari letusan ini di wilayahnya, walau lebih tipis.


Betapa sulitnya untuk mengerti bahwa ilmu pengetahuan sudah bukan hanya meramalkan, namun sudah sampai pada memprediksi, sebuah data valid dan berdasar hal ilmiah bukan lagi tebak - tebakan untuk dipercayai masyarakat kita dan terlebih pejabat negara ini yang seharusnya sudah lebih melek dan paham pendidikan tinggi. Melihat data dan mempelajari data sudah seharusnya dipahami dan disebarkan untuk keselamatan dan kesehatan kita semua. Data sudah di depan mata, Jika tidak digunakan dengan tepat dan sesuai kepentingannya, malah hanya jadi sekadar data. Namun, jika data sudah dipergunakan dengan tepat dan sesuai kebutuhan, maka bisa menyelamatkan. Sudah saatnya warga negara ini dibuat lebih bernalar dan berakal. Sekadar percaya tahayul dan percaya bahwa semua sudah waktunya dan semua sudah takdirnya harus mulai pelan - pelan diseimbangkan, sehingga tidak memakan korban lebih banyak. Sehingga nyawa manusia menjadi hal berharga, bukan karena dugaan dan bukan sekadar karena ini adalah takdir.

Bagaimana dengan pengetahuan terkait Sesar Lembang? Saya akan membahas di blog ini di post selanjutnya.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


--
0

 


Dibagian kedua ini, saya akan menceritakan sistem operasi Windows paling ikonik. Aplikasi atau perangkat lunak paling banyak di pakai di seluruh dunia. Sesuai gambar yang saya unggah di blog ini. Juga kita akan melihat data pengguna Microsoft paling laku di dunia dan mengapa masih banyak yang menggunakan MS XP ini. 


Pertama, mari kita lihat kepanjangan dari XP pada sistem operasi ini. Ada beberapa penjelasan dari kepanjangannya. XP bisa diartikan sebagai eXPerience, ya, sebuah hal yang ingin dibuat Microsoft sebagai pengalaman indah atau pengalaman baru bagi seluruh pengguna di dunia. Sistem operasi pertama di dunia yang menawarkan gambar dan warna yang menarik saat itu. Dunia yang sudah tidak hitam putih atau sekadar abu - abu seperti pada OS sebelumnya atau seperti DOS yang hanya berwarna hitam pekat dan putih tulisannya. Dunia pertama yang sangat visual appeal alias menarik dan cakep di mata pengguna Microsoft dan mungkin pencinta produk Microsoft sejak Win 3.1 atau Win NT 3.1 dan Windows 2000 atau bahkan Windows Me.


Microsoft XP ini juga merupakan salah satu produk terbaik kala itu setelah versi Windows sebelumnya yang dianggap kurang sukses dan tidak menarik secara tampilan. XP sendiri setelah diluncurkan menjadi sistem operasi paling banyak digunakan, sejalan dengan bertambahnya jumlah pengguna PC di seluruh dunia yang terus bertambah, bahkan mencapai miliaran. Keuntungan XP selain tampak indah secara visual desain, OS ini juga paling ringan dengan tampilan yang dianggap berkelas. Lalu XP juga sistem operasi paling mudah diinstal, dimodifikasi, hingga paling lengkap  tools-nya saat itu bagi pengguna Windows, tentu saja dengan versi di bawahnya.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


--
0

 








Pernahkah melihat tampilan antarmuka dari sistem operasi buatan paling awal dari Microsoft seperti ini?

Saya mengalami era awal dengan tampilan antarmuka (User Interface) seperti ini di era SD sejak rumah saya kedatangan CPU dengan prosesor Intel Pentium 1. Suatu hal yang saya, sebagai seorang, sangat senang karena memiliki alat permainan yang kala itu sudah sangat keren, walau baru ada game 2D hitam putih dan belum berwarna. Misalnya, permainan pac-man dan Tetris yang area permainannya sebelumnya hanya saya lihat di gadget milik teman. Ayah saya, walau seorang lulusan teknisi, namun tidak pernah memanjakan kami dengan konsol permainan seperti Nintendo atau playstation. Inilah alat permainan dan alat belajar saya : PC dengan otak Pentium 1 dan Windows paling awal yang saya sangat ingat bentuk dan tampilannya sampai sekarang. Masa-masa indah saat dunia seakan baru saja terbuka.

Alat ini juga yang membuka dan menyadarkan saya akan kemajuan teknologi di era tersebut. Sejak SD, saya sudah sering meminjam alat ini bersama kakak saya, jika dia menggunakan PC untuk membuat tugas kuliah dan persiapan skripsinya sambil main tipis - tipis agar ada hiburan kilahnya. Kalau saya, bukan sekadar alat bermain game lawas, melainkan juga untuk belajar membuat tulisan tentang sekolah saya kala itu. Tulisan tentang apa pun yang saya bahkan lupa - lupa ingat saat ini. Namun, saya ingat, setiap saya membuat tulisan dengan sistem operasi ini, Ayah saya sering melihat saya mengetik dan membuat format berbagai bentuk.

Kegemaran saya mengutak-atik di Word pada sistem operasi Windows, terutama juga inilah yang membuat saya mulai menggemari aplikasi - aplikasi buatan Microsoft, tidak terkecuali Excel dan PowerPoint. Rasanya baru kemarin saya belajar menyalakan komputer kakak sebagai hadiah dari Ayah dan membuat ketikan pertama. Walaupun saya tidak menggunakan komputer sesering kakak atau saya pribadi. Beliau paham mengetik dan membuat laporan sederhana dengan alat ini. Karena beliau juga sering membuat laporan dengan Ms. Word dan aplikasi sistem terkomputerisasi di tempatnya bekerja. Aplikasi - aplikasi yang sudah saya kuasai di rumah jadi terasa mundur ketika di SMP saya pribadi masih menggunakan Wordstar dan Lotus 1-2-3. Di rumah sudah menggunakan aplikasi lebih visual, lalu di sekolah kembali ke lingkungan model diketik tipe CLI (command line interface), sebuah hal yang saat itu terasa amat aneh bagi saya, seakan mempelajari 2 hal canggih namun dengan jarak yang terpaut sangat jauh.

Wordstar dan Microsoft Word adalah aplikasi yang memiliki fungsi yang sama, namun dengan tampilan yang sangat jauh berbeda. Walaupun saya sudah akrab dengan tampilan visual, mengaktifkan mode di DOS dan WIndows sendiri terasa seakan belajar dua hal sekaligus saat itu. Seru, namun membuat saya kadang memprotes guru/pengajar ilmu komputer saya, yang saat itu belum mengenal istilah TIK atau Informatika. Walaupun SMP saya adalah sekolah kecil, namun fasilitas sekolah saat itu sudah lebih dari cukup. Uniknya, saat itu perangkat komputer bersifat mobile alias belum terpasang di satu ruangan khusus, namun berpindah sesuai dengan jadwal di sekolah kami atau di sekolah lain yang masih satu yayasan. Jadwal praktik komputer saat itu bergantian dengan sekolah lain dalam 1 kawasan di Jakarta Utara.

Ada 3 sekolah dengan jadwal bergantian, Kadang kami pun diminta membantu mengangkat dan memindahkan peralatan saat jadwal praktik. Hal yang membuat saya juga jadi belajar praktik memasang dan mencopot perangkat keras kala itu. Belajar langsung bahwa praktik komputer karena membantu guru komputer yang datang seminggu sekali kala itu. Padahal di rumah saya sudah belajar Windows 3.1 dan bukan DOS lagi. Namun, menurut ayah saya, saat saya menginfokan bahwa mata pelajaran komputer yang ada di sekolah harus diikuti. Lebih baik diam dan jangan menyakiti perasaan guru komputer-mu, begitu menurut beliau, berbicara bijak.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan
om Jay


--
0

 


Bab 11: Warta Lintas Samudra

Usai menuntaskan urusan di Gedung Arsip, Aris melangkahkan kaki menuju Gedung Pos dan Telekomunikasi Pusat untuk mengirimkan salinan laporan konfirmasi kepada cabang Bank Sentral di benua seberang. Di tempat ini, warta antarbenua tidak meluncur dalam hitungan milidetik menembus ruang hampa, melainkan merayap melalui serat-serat tembaga di dasar samudra dan lambung kapal pos uap.
Aula stasiun telekomunikasi itu bergema oleh paduan suara pita ketik dan ketukan kawat yang tak pernah reda. Di sepanjang meja panjang, puluhan operator telegraf duduk memegang kunci pemancar tembaga. Jemari mereka menari mengetukkan kode Morse—tit-tit-tet-tit—mengubah setiap huruf tulisan tangan menjadi getaran pulsa listrik yang merambat melalui kabel lintas laut.

Di sudut lain ruangan, mesin-mesin teleks dan telegraf cetak berderet menempel di dinding. Mesin-mesin mekanis itu berdentang nyaring saat menerima pesan, mencetak karakter demi karakter di atas pita kertas tipis berperekat yang terpotong secara otomatis sesuai panjang kalimat.

"Mengirim pesan singkat dua puluh kata ke ibu kota benua seberang memakan biaya setara dengan gaji mingguan seorang buruh," bisik seorang kasir stasiun pos saat menerima draf tulisan tangan Aris.

Setiap kata di dunia tanpa komputer ini sangat berharga. Tidak ada ruang untuk obrolan nirguna atau pesan sampah. Orang-orang memilih kata dengan sangat cermat, memadatkan pemikiran paling krusial ke dalam kalimat telegrafis yang lugas. Jika warta yang dikirimkan terlalu panjang untuk ditransmisikan via kabel, pilihan terakhir adalah Pos Uap dan Udara—surat-surat tebal berstempel lilin yang diangkut oleh kapal nirmesin atau kapal terbang amfibi (flying boat) yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke seberang lautan.


Bab 12: Cakrawala dan Sekstan

Keterbatasan komunikasi jarak jauh berbanding lurus dengan kerumitan dunia navigasi. Sore itu, Aris menumpang trem kabel menuju kawasan pelabuhan untuk menemui rekannya, seorang perwira navigasi kapal niaga bernama Kapten Hendra. Di pelabuhan, jajaran tiang kapal dan cerobong asap kapal uap tampak membelah langit senja.

Di dalam kabin kemudi kapal, Aris tidak menemukan monitor layar sentuh, peta digital, ataupun perangkat Penentu Posisi Global (GPS). Tidak ada radar elektronik yang memancarkan pendaran hijau untuk mendeteksi keberadaan badai atau daratan di balik kabut tebal.

"Navigasi kami di samudra lepas sepenuhnya bergantung pada benda langit, Peta Kelautan Admiralty, dan ketepatan kronometer mekanis," kata Kapten Hendra seraya menunjukkan sebuah instrumen kuningan berukir yang tersimpan anggun di dalam kotak kayu jati. "Ini adalah sekstan. Saat malam tiba dan awan menyingkap langit, kami mengukur sudut ketinggian bintang Polaris atau Bintang Pari dari garis horison untuk menentukan posisi bujur dan lintang kapal."

Di udara, para penerbang pesawat komersial pun mengarahkan burung besi mereka dengan prinsip yang sama. Mereka terbang melintasi benua dengan membaca kontur sungai, jalur kereta api, serta puncak gunung melalui jendela kokpit. Ketika malam gelap gulita membungkus bumi, keselamatan penerbangan dan pelayaran diserahkan penuh pada menara suar yang berputar di sepanjang garis pantai dan puncak bukit.

Tanpa adanya kendali otomatis dari mikroprosesor, setiap penerbangan dan pelayaran adalah wujud keberanian murni, intuisi alam, serta perhitungan matematis manual yang sahih. Seorang navigator bukan sekadar pengawas layar, melainkan seorang ahli astronomi dan kartografi yang mempertaruhkan nyawa demi menjaga arah di tengah ganasnya alam.


Bab 13: Jejak Angka yang Rompang

Sekembalinya ke meja kerja di Bank Sentral pada malam hari, suasana aula utama telah sepi. Lampu-lampu gantung memberikan pendaran cahaya kuning hangat yang menimpa tumpukan buku besar di meja Aris. Berbekal dokumen warkat tanah tahun 1948 dari Gedung Arsip serta laporan rekapitulasi energi dari Pembangkit Listrik Kota, Aris mulai menyelaraskan neraca anggaran pasokan listrik untuk jaringan pabrik dan trem kota.

Aris memutar engkol Aritmometer-nya dengan ritme yang teratur: krii-klak, krii-klak. Jemari kirinya menelusuri deretan angka pada lembaran kertas kalkulasi bulanan.
Namun, pada putaran engkol yang ke-140, gerakan tangan Aris terhenti seketika.
Mata Aris terpaku pada angka akumulasi di panel Aritmometer. Ada yang tidak beres. Ia mengusap matanya, lalu menghitung ulang menggunakan sempoa di sisinya: klak-klik, klak-klik. Biji-biji kayu digeser dengan cepat, dikelompokkan berdasarkan satuan, puluhan, dan ribuan. Hasilnya tetap sama.

Terjadi selisih perhitungan yang sangat menganga. Terdapat deviasi sebesar jutaan megawatt-jam antara energi listrik yang diproduksi oleh stasiun pembangkit uap utama dengan jumlah energi yang terdaftar dalam penerimaan kas daerah serta konsumsi riil industri. Dalam sistem fisik kota, daya listrik sebesar itu cukup untuk menerangi seluruh kota selama tiga bulan penuh.
Namun, di dalam laporan keuangan manual, daya listrik raksasa tersebut menguap begitu saja tanpa jejak—bagaikan hilang ditelan bumi.


Bab 14: Kebocoran di Balik Kertas

Aris menarik napas panjang, merasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang. Ia membeberkan lima lembar peta jaringan distribusi listrik dan tiga buku kas besar di atas mejanya. Dengan bantuan jangka dan penggaris kuningan, ia mulai memetakan alur distribusi energi secara visual di atas kertas grafik.

Di sinilah celah fatal dari sebuah peradaban berbasis kertas terungkap. Karena seluruh pencatatan dilakukan secara manual oleh ratusan juru catat di tingkat distrik, laporan pasokan energi memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dikompilasi hingga sampai ke meja pusat. Celah waktu yang panjang ini, ditambah dengan akumulasi kesalahan pembulatan angka di atas kertas karbon, telah dimanfaatkan oleh pihak tak dikenal untuk menyembunyikan kebocoran data pasokan yang sangat terstruktur.

"Seseorang telah memanipulasi angka-angka ini secara bertahap," gumam Aris dengan suara bergetar. "Satu angka dikurangi di distrik barat, setengah angka disamarkan di distrik selatan... Dalam jangka waktu lima tahun, ini adalah penyedotan energi secara ilegal dalam skala raksasa."

Di dunia tanpa komputer, peretasan tidak dilakukan melalui kode program atau perangkat perusak (malware). Peretasan terjadi di dalam benak manusia—melalui permainan pena, pengalihan dokumen fisik, dan pemanfaatan kelelahan mata para juru catat senior seperti dirinya.

Aris menyandarkan tubuhnya, menatap keluar jendela tinggi Bank Sentral. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak berkedip menembus kegelapan malam. Ia menyadari bahwa di balik keindahan dan keteraturan roda gigi, kertas karbon, dan jaringan kawat tembaga ini, ada sebuah kejahatan terselubung yang bekerja sangat rapi. Dan hanya melalui ketelitian tangan serta keandalan otaknya, kebocoran raksasa yang mengancam kestabilan energi kota ini dapat diungkap hingga ke akarnya.



Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay


--
0




Bab 7: Labirin Kertas di Menara Arsip

Untuk menyelesaikan ketidaksesuaian data pada neraca keuangan nasional, Aris membutuhkan satu dokumen krusial: Warkat Hak Atas Tanah dan Riwayat Transaksi Obligasi Negara Tahun 1948. Di dunia yang tidak mengenal basis data digital, lembaran data tersebut tidak disimpan di dalam ruang penyimpanan virtual atau ruang awan, melainkan di dalam Gedung Arsip Kependudukan dan Keuangan Negara—sebuah struktur megah berlantai delapan yang seluruh interiornya difungsikan sebagai benteng kertas raksasa.

Aris melangkah melintasi gerbang besi tempa gedung tersebut. Seketika, aroma khas gabungan antara kertas tua yang lapuk, minyak cat kayu, dan kapur barus menyeruak memenuhi indra penciumannya. Di hadapannya, terbentang pemandangan agung yang menakjubkan sekaligus menggentarkan: ribuan lemari kayu jati setinggi sepuluh meter berjejer rapi hingga batas pandangan mata.

Setiap lemari dilengkapi dengan tangga kayu beroda yang terpasang pada rel besi di bagian atas dan bawah, memungkinkan para petugas arsip meluncur dari satu ujung rak ke ujung lainnya untuk menjangkau tumpukan berkas di lantai atas.

Tanpa adanya cip memori atau pemindai sinar laser, setiap informasi mengenai puluhan juta jiwa warga negara—mulai dari catatan kelahiran, riwayat medis, akta perkawinan, kepemilikan tanah, hingga catatan perpajakan—terwujud secara fisik dalam bentuk jilidan buku besar bersampul kulit tebal, lembaran manuskrip, dan folder manila yang ditata menurut hierarki ketat.

 Di gedung ini, informasi memiliki bobot, bentuk, dan tempat yang nyata. Jika sebuah dokumen terbakar atau hilang dari raknya, secara hukum informasi tersebut lenyap dari peradaban. Oleh karena itu, Gedung Arsip dijaga bagaikan tempat suci. Kelembapan udara diatur secara manual menggunakan nampan-nampan berisi garam penyerap lembap dan saluran ventilasi angin yang dirancang khusus untuk mencegah jamur serta rayap merusak ingatan fisik bangsa.

 
Bab 8: Tarian Kartu Indeks Kardex dan Dewey

Aris mendekati meja pelayanan utama yang berada di tengah aula. Di belakang meja kayu berukir tersebut, duduk Pak Tejo, seorang Petugas Arsip Utama berpakaian seragam cokelat tua dengan kacamata tebal yang menggantung di dadanya.

 "Selamat pagi, Pak Tejo. Saya membutuhkan berkas riwayat obligasi dan surat tanah distrik empat atas nama Keluarga Martoatmodjo tahun 1948," ujar Aris seraya menyerahkan surat pengantar resmi berstempel basah dari Bank Sentral.

Pak Tejo menerima surat tersebut, memeriksanya dengan cermat menggunakan suryakanta, lalu membubuhkan stempel jam kedatangan. Tanpa menatap layar monitor—karena benda itu memang tidak pernah ada—Pak Tejo berbalik menuju deretan lemari logam setinggi dada manusia yang memenuhi area belakang meja layanan. Ini adalah ruangan Kardex dan Katalog Indeks Dewey.

 Pencarian informasi di tempat ini adalah sebuah seni deduksi fisik yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Pak Tejo menarik salah satu laci logam berlabel “M-48-OBL”.

Suara gesekan besi yang nyaring terdengar saat laci terbuka, memamerkan ribuan kartu indeks berukuran kecil yang disusun secara abjad dan numerik.
Dengan jemari yang cekatan dan terlatih selama puluhan tahun, Pak Tejo memilah kartu-kartu tebal berwarna jingga tersebut satu per satu: sret, sret, sret. Setiap kartu berisi informasi petunjuk lokasi: nomor lantai, kode lorong, nomor lemari, hingga koordinat rak spesifik tempat dokumen fisik disimpan.

 "Aris," kata Pak Tejo seraya mencatat kode koordinat di atas selembar kertas memo kecil. "Dokumen yang Anda cari berada di Lantai Lima, Lorong Tujuh, Lemari B-12, Rak C. Namun, karena ini dokumen vital berusia lebih dari lima puluh tahun, petugas kami harus memverifikasi keabsahan stempel lilin dan kecocokan nomor seri di buku registrasi induk."

 Pak Tejo menatap Aris dengan pandangan yang memaklumi. "Mencari berkas ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses pengambilan, pengecekan kondisi fisik, hingga pencatatan keluar-masuk arsip akan memakan waktu setidaknya tiga hari kerja. Jika ada kendala perbedaan ejaan nama lama, bisa memakan waktu hingga seminggu."

 Aris mengangguk paham. Dalam birokrasi kertas, kecepatan dikorbankan demi kepastian fisik dan akurasi yang sah secara hukum.
 

Bab 9: Gema Tabung Pneumatik dan Kurir Langkah Cepat

 Selagi menunggu proses pendaftaran permohonan berkasnya, Aris berdiri di dekat pilar utama gedung, mengamati sistem sirkulasi komunikasi internal yang menakjubkan. Di sepanjang dinding dan langit-langit gedung berarsitektur neoklasik ini, terpasang jaringan pipa tembaga mengilap yang saling bersilangan. Ini adalah Sistem Tabung Pneumatik—jaringan saraf pengirim pesan jarak pendek berkecepatan tinggi.
Wushhhhh... KLAK!

 Suara hisapan udara bertekanan tinggi bergema di dalam saluran pipa. Sebuah kapsul logam berbentuk silinder meluncur cepat keluar dari mulut pipa kuningan di dekat meja Pak Tejo. Dengan sigap, Pak Tejo membuka kait kapsul tersebut dan mengeluarkan selembar formulir permintaan arsip darurat yang baru saja dikirimkan dari lantai dasar.

 Namun, sistem pipa pneumatik hanya mampu menampung kapsul berisi beberapa lembar memo atau kartu indeks. Untuk dokumen tebal, buku besar, atau bundel arsip yang berbobot berat, gedung ini mengandalkan profesi yang sangat terhormat dan vital: Kurir Berkas Langkah Cepat (Quick-Foot Document Courier).


 Aris memperhatikan lalu-lalang para kurir tersebut. Mereka adalah pemuda-pemuda bertubuh atletis yang mengenakan seragam rompi kulit ringan dan sepatu bersol karet tebal tanpa bunyi. Di pinggang mereka terikat tas kain kanvas berkapasitas besar. Tanpa lelah, mereka berlari dengan langkah terukur menaiki tangga-tangga melingkar, melintasi jembatan penyeberangan antar-lorong, dan menyusuri koridor-koridor panjang.
 
Para kurir ini menghafal setiap sudut, kode lorong, dan denah gedung di luar kepala. Mereka bertugas mengantarkan bundel berkas antar-departemen dengan tenggat waktu yang ketat. Peluh yang membasahi dahi para kurir ini adalah bahan bakar utama yang menjaga roda birokrasi negara tetap berputar. Tanpa kelincahan kaki dan daya tahan fisik mereka, aliran informasi antar-kementerian akan lumpuh total.


Bab 10: Keabsahan dalam Lembaran Sahih

Tiga hari kemudian, Aris kembali ke Gedung Arsip Nasional. Di atas meja pelayanan Pak Tejo, kini telah tergeletak sebuah map manila tebal berwarna cokelat tua yang diikat rapi dengan tali rami dan disegel menggunakan cap lilin merah bertuliskan lambang negara.


Pak Tejo memotong tali rami tersebut menggunakan pisau lipat kecil, lalu membuka map dengan sangat hati-hati. Di dalamnya terbentang lembaran kertas perkamen tebal berhiaskan tulisan tangan kaligrafi dengan tinta pudar yang anggun. Di bagian bawahnya, tertera tanda tangan para pejabat masa lalu serta tera timbul yang membentuk relief sah pada serat kertas.


 "Ini adalah Warkat Asli tahun 1948," kata Pak Tejo dengan nada penuh penghormatan terhadap sejarah. "Setiap angka di dalamnya dicatat oleh juru ukur tanah dan bendahara negara yang bersumpah di bawah kitab suci. Tidak ada manipulasi digital, tidak ada peretasan sinyal, dan tidak ada salinan siluman."


 Aris menyentuh permukaan kertas tua itu dengan ujung jarinya. Ia merasakan tekstur serat kayu yang kasar dan timbulan bekas ketukan mesin ketik tua yang menembus hingga ke belakang lembaran. Di dunia tanpa komputer ini, data bukan sekadar deretan angka nol dan satu yang abstrak dan mudah menguap di dalam ruang hampa elektronik. Data adalah sesuatu yang berwujud, bernapas, dan memiliki sejarah yang terukir nyata.


Dengan membawa map tebal itu di dalam tas kulitnya, Aris melangkah keluar dari Gedung Arsip. Di luar, matahari siang menyinari Kota Nusantara dengan benderang. Suara klakson terompet mobil klasik, dering bel trem kabel, dan siulan kereta uap menyatu menjadi simfoni peradaban yang tangguh.


Pekerjaannya di Bank Sentral memang lambat, rumit, dan melelahkan. Namun, saat melangkah menyusuri trotoar yang ramai oleh lalu-lalang manusia yang saling menyapa, Aris tersenyum bangga. Ia tahu bahwa setiap detik waktu yang dihabiskan untuk menghitung, mencatat, dan mencari berkas adalah bukti keandalan akal budi manusia—sebuah dunia yang tidak dikendalikan oleh mesin pintar yang dingin, melainkan dihidupkan oleh kehangatan jiwa dan ketekunan tangan-tangan manusia.



Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay



 

--
0


 

    Mungkin tidak banyak orang yang pernah mendengar web bernama LinkedIn. web buatan Reid Hoffman yang dibuat ide dan dikembangkan awal di ruang tamu rumahnya sejak 2003. Kemudian berpindah di kantor wilayah Mountain View, California Amerika Serikat. Reid sendiri merupakan orang lama di dunia teknologi informasi, dahulu merupakan eks-eksekutif Paypal, perusahaan milik Elon Musk yang sangat terkenal di dunia teknologi. Sehingga aplikasi ini menjadi sangat terkenal di kalangan profesional pencari kerja dan perekrut kerja di dunia sekitar 2006 dengan mulainya tingkat keuntungan atau  profit  yang mulai terlihat yang sejalan dengan keuntungan dari pengguna yang terus bertumbuh. Perusahaan semakin berkembang dan mendapatkan IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham perdananya di 2011.

setelah resmi semakin menguntungkan, maka perusahaan besar lain seperti Microsoft mulai membeli sebagian besar sahamnya di 2016 dengan proses akuisisi senilai $26.2 million atau setara Rp 461.9 trilyun jika di konversi ke nilai tukar hari ini di 6 September 2026. Kenapa Microsoft sebagai perusahaan yang pernah memonopoli perangkat lunak dunia seperti operating system Windows-nya yang terkenal atau aplikasi lunak office-nya yang saat ini masih mendominasi sebagai jawara aplikasi lunak terbanyak dipakai di Laptop dan PC baik yang resmi maupun bajakan di Indonesia. Perusahaan ini jika mengakuisisi, pastinya ada pertimbangan bisnis dan adanya kepentingan ekonomi maha besar. Jadi LinkedIn memang memonopoli juga seperti Microsoft di era Pendiri nya Bill Gates, sampai akhirnya kalah di pengadilan Eropa. Tentu LinkedIn diharapkan bisa memonopoli pasar yang diemban aplikasi berbasis web ini.
 
Apa yang dapat digunakan pada LinkedIn saat ini?
Pertama, ini adalah aplikasi pertama yang menghubungkan perusahaan multinasional dan Nasional di Indonesia yang menghubungkan informasi langsung dengan pekerjanya yang sudah karyawan tetap sebagai anggota. kedua, aplikasi ini menghubungkan perusahaan dengan pencari kerja baik level awal sampai yang sudah profesional. Ketiga aplikasi ini menghubungkan bagian HRD (Human Resources Department) atau bagian pemberi kerja yang dapat langsung terhubung dengan pencari kerja tanpa ditengahi perusahaan lain alias tanpa Outsourcing system yang terkenal memberikan kesulitan seperti potongan upah kerja besar atau sistem kontrak yang tidak jelas. Sehingga LinkedIn semacam pasar terbuka tiga rangkai sekaligus: perusahaan utama, perwakilan perusahaan melalui HRD dan pencari kerja level tertentu. Biasanya dengan kemampuan dan keahlian tingkat menengah dan mahir.

LinkedIn digunakan untuk perekrutan lintas negara bahkan lintas benua, hingga saat ini sangat mampu digunakan. Banyak pekerja lokal Indonesia saat ini bisa bekerja di luar negri tanpa harus hadir terlebih dahulu di sesi interview di Amerika Serikat atau Eropa dengan membuang uang mahal untuk mendapat pekerjaan Impian dengan keuntungan /  benefit  bentuk Dollar atau Euro. Bahkan pekerja dengan keahlian spesifik bahkan sekarang sudah dicari pencari pekerja / perekrut perusahaan (HeadHunter) besar luar negri langsung di Indonesia. Baik dengan Interview atau bisa datang langsung ke perusahaan perekrut sebagai wakil perusahaan asing tersebut di Indonesia.
 
Dengan kondisi ini, aplikasi ini memiliki secara langsung data diri dan menyimpan jutaan orang - orang yang berkeahlian tingkat menengah hingga tinggi, tidak hanya di bidang informatika namun juga orang - orang di bidang akutansi, ekonomi dan keahlian - keahlian lainnya. Perusahaan juga dapat mengakses dan melihat karyawan - karyawan potensial dari perusahaan saingan maupun divisi - divisi internal perusahaan lain, lengkap dengan seluruh isi tim yang terkoneksi. Inilah kekuatan sebenarnya dari LinkedIn. Jadi jika dahulu orang - orang profesional hanya dapat di lihat oleh rekan se-profesi atau yang tergabung dalam profesi yang sama. Saat ini cukup dengan bergabung sebagai pengguna LinkedIn maka kita dapat membuka basis data sebagian pekerja profesioaal di seluruh dunia. Apalagi jika kita pengguna tingkat / level  Premium maka kita mampu melihat seluruh fungsi LinkedIn. Mulai dari melihat perusahaan, melihat siapa yang tertarik dengan keahlian kita baik secara perorangan, orang-orang perekrut Headhunter hingga perwakilan perusahaan langsung seperti staff atau level C (Chief) manajemen di perusahaan tersebut.
 
Maka jika kita bertanya dan ingin tahu perusahaan apa yang merekrut, siapa yang direkrut dan kebutuhan perusahaan itu seperti apa setiap waktu. LinkedIn adalah web paling dicari di dunia. Maka Microsoft sebagai pemilik saat ini, sangat mudah melihat rekanan bisnisnya atau bahkan pesaingnya dalam perekrutan karyawan terbaik di seluruh dunia. Walaupun pastinya masih tidak 100% membuka tabir rahasia perusahaan, namun setidaknya sudah 90-95% rahasia pekerja di sebuah perusahaan sangat jelas mudah di akses. Jadi pekerja profesional sekarang selain harus memiliki kompetensi resmi bidangnya, setidaknya agar diakui adalah wajib memiliki akun LinkedIn.
Apakah anda memilikinya?


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay