Setelah kita
mengetahui pengertian Fatherless dan dampak serta akibat yang
ditimbulkan dari hal ini pada tulisan saya Cara Pendidik membantu Siswa -
Siswi "Fatherless" pada bagian satu dan bagian kedua. Maka hal –
hal berikut kita dapat berikan pemahaman dan pengertian yang cukup terkait hal
ini.
1. Jika seorang anak laki – laki
kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria adalah, coba
memberi pemahaman dan konsep – konsep sebagai pria. Misalnya konsep bagaimana
seorang laki – laki harus bisa memperbaiki benda – benda juga meminta maaf dan
memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana
memperlakukan Perempuan dengan baik misalnya tidak memaki dan tidak memukul
perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapihan serta tanggung jawab
sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai nilai
sebagai laki – laki anti merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak
beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan
pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di
depan umum. Serta memberikan kegiatan – kegiatan yang baik dan benar sebagai
laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh – contoh kebaikan dan Tindakan terpuji.
Sehingga mereka memiliki Gambaran seorang ayah dan Gambaran Pria yang tepat.
2. Jika seorang guru Perempuan memberikan
contoh kepada murid laki – laki. Berikan mereka penjelasn bagaimana jadi imam
dan kepala keluarga yang baik. Berikan konsep saying kepada keluarga baik
kepada kakak atau adiknya, kepada ibunya. Berikan cara – cara yang tepat
melindungi Perempuan dan anak – anak (atau adik kelasnya jika di sekolah). Berikan
contoh kasih sayang seorang ibu yang peduli anaknya. Ciptakan rasa memiliki
keluarga yang baik dan tepat. Ajarkan cara mencuci baju atau mencuci piring
sehingga mereka tidak menganggap itu pekerjaan Perempuan saja. Ajarkan juga menjaga
kebersihan rumah (dan sekolah jika di kelas dan sekolahnya) agar mereka paham
bahwa menjaga kebersihan adalah tugas tidak hanya Perempuan saja.
3. Jika seorang siswa atau siswi
tidak hanya punya sosok ayah, namun membeci perilaku buruk ayahnya dan tidak
menginginkan sosok ayah sama sekali. Jika hal seperti ini terjadi, coba
dengarkan konsep seorang ayah dari mereka. gali pengetahuan kenapa mereka
membenci sosok ayah dalam hidup mereka. setelah itu pelan – pelan di jelaskan
bagaimana sosok ayah yang benar seharusnya. Jika mereka tidak terima sosok ayah
yang positif, jangan dipaksakan atau dibantah langsung bahwa mereka harus menerima
sosok ayah dalam hidup mereka. Tujuannya adalah bukan mereka dipaksa menerima
langsung namun pelan – pelan diajak melihat hal – hal positif di ayah yang
mereka lihat di rumah atau dalam keseharian mereka. Mereka jangan sampai dibiarkan
membenci ayahnya, baik ayah kandung yang dibenci karena cerai dan meninggalkan
mereka ataupun ayah yang dibenci karena misalnya perilaku negatifnya (memukul, merokok
parah, minum-minuman alcohol, dan lain – lain). Berikan konsep, jika ayah
mereka demikian maka tetap harus berperilaku baik agar mereka tidak memiliki
kepahitan hidup dengan kondisi ayah mereka. jika anak laki – laki yang
membenci, berikan bahwa kelak mereka tidak berprilaku demikian kepada anak
mereka, jadikan mereka pemutus mata rantai kebencian. Jika anak Perempuan yang
membenci sosok ayah mereka, berikan mereka penjelasan contoh kasih sayang yang benar dan
berikan gambaran positif sosok orangtua yang baik dan tepat. Jadi kelak jika
mereka memilih pasangan, menemukan sosok pria yang tepat dan bukan laki – laki yang
mungkin “bermasalah” dalam hidup mereka.
Demikian sedikit yang dapat kita mungkin bantu, jika ada diantara murid atau
siswa – siswi kita yang memiliki konsep fatherless atau sosok ayah yang tidak ada atau sosok ayah yang
punya perilaku kurang positif dan membuat mereka jadi membenci sosok yang
seharusnya memberi contoh baik dan memberi kasih sayang yang tepat.
No Response to "Cara Pendidik membantu Siswa - Siswi "Fatherless" (bagian-3 selesai)"
Posting Komentar
Terima kasih...