Karya baru Resident Evil 2026 yang terbaru saat ini diperankan oleh tokoh utama yang berbeda. Setelah franchise film Resident Evil yang sebelumnya diperankan oleh Milla Jovovich sebagai Alice sejak 2002 hingga 6 seri selanjutnya yang berakhir pada 2016, kemudian dilanjutkan dengan Resident Evil: The Final Chapter yang berakhir pada 2016 ini, kini sudah masuk chapter baru pada 2026 dengan selisih 10 tahun tanpa film baru. Film ini berasal dari permainan atau gim horor besutan rumah produksi gim Capcom. Pada seri gim yang lebih banyak karena memang ini salah satu seri gim paling laku keras karena alur ceritanya yang mendebarkan dengan latar campuran misteri, horor dan science fiction. Gim ini laku keras karena menguras adrenalin baik sebagai game, sejak awal di buat dan di edarkan. Gim nya sudah lebih banyak versinya dengan penjualan selalu sangat baik, Baik agar tidak berlama - lama membahas film terbarunya, kita lanjut langsung saja.
Berikut resensi versi saya :
Kepanikan massa dan penularan virus secara eksplosif dalam film ini menghadirkan kilas balik yang sangat kuat terhadap realitas wabah COVID-19 yang pernah melanda dunia. Meski COVID-19 tidak mengubah manusia menjadi monster fisik, pola penyebaran patogen, ketakutan akan kontak fisik, dan kepanikan sosial yang tergambar di layar lebar terasa sangat familier. Film ini mengeksploitasi trauma kolektif global tersebut dengan memperlihatkan betapa rentannya pertahanan medis ketika dihadapkan pada patogen mutan yang agresif. Kegagalan karantina awal serta lemahnya transparansi informasi di Raccoon City mencerminkan betapa fatalnya dampak yang timbul jika kewaspadaan terhadap ancaman biologis diabaikan. Narasi fiksi ilmiah ini berhasil memanfaatkan ingatan penonton tentang penutupan kota dan isolasi mandiri untuk membangun ketakutan psikologis yang jauh lebih mendalam.
Risiko penularan penyakit menular berbahaya lainnya juga menjadi subteks kritis yang sangat berbobot di sepanjang cerita film ini. Resident Evil (2026) menekankan bahwa ancaman krisis kesehatan global tidak berhenti pada satu jenis virus saja, melainkan terus mengintai akibat potensi mutasi biologis maupun interaksi manusia dengan lingkungan. Gambaran kehancuran Raccoon City memperingatkan kita akan bahaya laten munculnya patogen baru dengan daya tular tinggi serta masa inkubasi yang sulit terdeteksi. Eskalasi konflik di dalam film menjadi gambaran nyata bagaimana kegagalan mitigasi awal dapat memicu kehancuran sistemik yang melumpuhkan peradaban. Sinematografi yang memperlihatkan ruang-ruang publik yang sepi dan rumah sakit yang kewalahan menjadi pengingat pahit tentang mahalnya harga sebuah kelalaian dalam penanganan wabah.
Secara keseluruhan, Resident Evil (2026) berhasil membuktikan dirinya sebagai film fiksi ilmiah yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga kaya akan refleksi sosial yang kontekstual. Penggabungan genre survival horror dengan narasi bio-terorisme menghasilkan karya yang relevan dengan dinamika kesehatan global masa kini. Keberhasilan film ini terletak pada kemampuannya menyentuh celah ketakutan paling nyata dari masyarakat pascapandemi, yaitu ancaman krisis kesehatan yang lepas kontrol. Bagi para pencinta fiksi ilmiah, karya ini menyajikan kombinasi sempurna antara sensasi mencekam dan wawasan kritis akan pentingnya kesiapsiagaan biosafety. Film ini mengingatkan kita bahwa monster yang paling menakutkan dalam sejarah manusia sering kali berukuran mikroskopis dan tak kasat mata.
Menjaga kesehatan diri dan menerapkan protokol sanitasi secara disiplin adalah langkah krusial untuk melindungi diri serta orang-orang di sekitar kita dari ancaman penyakit menular. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan imunitas, dan tanggap terhadap gejala sakit merupakan benteng pertahanan utama dalam mencegah terjadinya krisis kesehatan yang lebih besar di masa depan.Sutradara Zach Cregger berhasil menghadirkan napas baru bagi waralaba film fiksi ilmiah Resident Evil (2026) melalui alur cerita survival horror yang sangat mencekam. Mengikuti kisah Bryan, seorang kurir medis yang terjebak di Raccoon City saat wabah virus T mematikan pecah, film ini secara bertahap menyeret penonton ke dalam kepanikan kolektif yang luar biasa. Ketegangan visual yang disajikan tidak lagi berfokus pada aksi bombastis pahlawan super, melainkan pada perjuangan manusia biasa dalam bertahan hidup di tengah kehancuran kota. Atmosfer horor isolatif yang dibangun begitu nyata, memperlihatkan bagaimana sebuah sistem kemasyarakatan dapat runtuh seketika ketika patogen tak kasat mata menyebar tanpa kendali. Setiap adegan pengisolasian wilayah dan runtuhnya fasilitas medis terasa sangat relevan, menjadikan fiksi ilmiah ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan cermin kecemasan sosial.
Hari ini saya coba meresensikan film bulan September 2026 berjudul HOPE. sebuah karya besutan sutradara Korea Selatan Karya Na Hong-jin. Pemenang Daniel A. Craft Award for Excellence in Action Cinema di New York dan di Festival Film Cannes 2026 untuk memperebutkan penghargaan tertinggi Palme d'Or. Film ini mendapat sambutan luar biasa berupa standing ovation (tepuk tangan meriah) selama 7 menit dari penonton Cannes.
Berikut resensi versi saya:
Bagi Anda para pencinta fiksi ilmiah yang mendambakan tontonan dengan ketegangan intens dan alur yang sulit ditebak, karya terbaru asal Korea Selatan berjudul Hope ini adalah jawaban yang sempurna. Film ini berhasil menyajikan perpaduan fiksi ilmiah bertema invasi makhluk asing dengan balutan misteri lokal yang sangat mencekam sejak menit pertama. Mengambil latar di kawasan perkampungan pinggir pantai Hop, premis cerita dibuka dengan penemuan tak lazim yang mengancam kedamaian warga setempat. Penonton langsung disuguhi atmosfer misterius saat hewan ternak warga ditemukan tewas mengenaskan secara tidak wajar. Kekacauan berdarah ini menandai dimulainya teror tak kasatmata yang siap merenggut nyawa siapa saja.
Keunggulan utama Hope terletak pada transisi konflik yang dibangun sangat rapi dan bertahap hingga menyentuh puncaknya. Petunjuk awal mengenai ancaman ini sempat dikira berasal dari hewan buas biasa seperti beruang atau macan oleh polisi setempat bernama Beom-seok dan kelompok pemburu pimpinan Sung-ki. Namun, temuan jasad pemilik peternakan dan luka misterius pada korban lain mengarahkan mereka pada kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Keadaan semakin memburuk ketika kota terisolasi dan jejak raksasa mulai ditemukan di berbagai sudut permukiman. Penonton diajak menyusuri lorong-lorong kota yang porak-poranda sambil merasakan ketakutan nyata yang dialami para karakter.
Misteri yang menyelimuti asal-usul makhluk alien ini menjadi daya tarik utama yang dijamin membuat mata Anda tidak bisa berpaling dari layar. Melalui penyelidikan kepolisian dan aksi nekat warga, penonton secara perlahan melihat wujud asli alien yang jangkung, ganas, serta memiliki anatomi unik mirip manusia. Penemuan bayi alien oleh seorang pemburu lokal menjadi titik balik cerita yang sangat emosional sekaligus menegangkan. Keputusan fatal pemburu tersebut memicu amukan induk alien yang ternyata mengamuk di seluruh kota hanya demi mencari anaknya yang hilang. Pembedahan ilmiah terhadap bangkai alien turut menambah kedalaman fiksi ilmiah film ini dengan menyajikan fakta biologi makhluk luar angkasa tersebut.
Aksi kejar-kejaran yang dihadirkan Hope patut diacungi jempol karena mengeksekusi elemen laga dan sinematografi dengan sangat luar biasa. Kolaborasi antara polisi wanita Sung-e dan petugas lokal dalam melawan alien berukuran masif menghasilkan adegan pertarungan yang benar-benar memicu adrenalin. Penggunaan berbagai macam senjata berat, aksi kejar-kejaran kendaraan, hingga adegan berburu di dalam hutan lebat tersaji sangat dinamis dan menegangkan. Setiap karakter diuji batas ketahanannya saat berhadapan langsung dengan alien pemangsa yang responsif terhadap gerakan. Ketegangan ini berhasil dipertahankan konsisten, membuat durasi film terasa berlalu tanpa ada momen yang membosankan.
Tak hanya menjual adegan aksi visual, Hope memiliki keunikan tersendiri dengan memasukkan perspektif emosional dari sisi sang makhluk asing. Momen ketika induk alien terlihat meneteskan air mata saat mencari anaknya memberikan nuansa simpati yang jarang ditemukan dalam film invasi alien biasa. Kedatangan kapal induk serta kemunculan alien dengan tingkatan hierarki baru di akhir cerita memperluas skala ancaman menjadi jauh lebih masif. Penonton dipaksa menyadari bahwa kekacauan di desa Hop hanyalah permulaan dari invasi Bumi yang jauh lebih besar. Kedalaman cerita seperti inilah yang membuat Hope terasa berbobot dan meninggalkan kesan mendalam setelah menontonnya.
Bagi Anda yang sudah terbiasa dengan film bergenre fiksi ilmiah barat, film Hope memberikan kesegaran baru dengan sentuhan kearifan lokal Korea yang sangat pekat. Interaksi antarwarga, dinamika tim pemburu tradisional, hingga respons kepolisian daerah dalam menghadapi ancaman luar angkasa terasa sangat riil dan membumi. Balutan humor tipis di tengah kepanikan warga juga disisipkan dengan pas tanpa merusak ketegangan utama cerita. Kombinasi unsur lokal dan teknologi tinggi ini membuktikan bahwa sinema Asia mampu mengemas cerita fiksi ilmiah kelas dunia. Pengalaman menonton ini akan membuka sudut pandang baru tentang bagaimana sebuah bencana global direspons dari tingkatan masyarakat terkecil.
Jika Anda mengaku sebagai penikmat film sci-fi sejati, menyia-nyiakan film Hope tentu menjadi sebuah kerugian yang sangat besar. Film ini menyajikan paket lengkap yang memenuhi dahaga akan ketegangan, estetika visual, cerita berbobot, serta performa akting para pemain yang amat memukau. Anda akan diajak merasakan sensasi emosi yang naik turun, mulai dari merinding ketakutan hingga terpana oleh keindahan efek visualnya. Jangan ragu untuk segera meluangkan waktu dan memasukkan Hope ke dalam daftar tontonan wajib Anda minggu ini. Rasakan sendiri sensasi teror luar angkasa yang diracik secara jenius dan tidak terlupakan dari bioskop Korea Selatan.
Setelah selesai menikmati ketegangan dalam Hope, dijamin Anda akan langsung ketagihan dan berburu film-film fiksi ilmiah serupa. Menonton film seperti Hope membuka pintu untuk menjelajahi lebih banyak karya sci-fi Korea modern lainnya yang tak kalah berkualitas. Sensasi memecahkan misteri dan menyaksikan perjuangan manusia bertahan hidup melawan ancaman tak dikenal adalah pengalaman sinematik yang selalu dirindukan. Mari ajak teman maupun keluarga Anda untuk bersama-sama menikmati keseruan genre fiksi ilmiah yang semakin berkembang pesat ini. Bersiaplah untuk terperangah dan larut dalam petualangan imajinasi luar biasa yang ditawarkan oleh film-film berkualitas ini.
Kali ini saya menyempatkan diri buat mengobrol santai dengan 5 tipe penonton yang berbeda setelah mereka selesai menonton film Spider-Man: Brand New Day. Penasaran bagaimana pandangan mereka? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!
1. Fans Berat Marvel Universe (MCU)
1. Fans Berat Marvel Universe (MCU)
"Angin segar yang mengembalikan akar Spider-Man ke komik klasik!"
Sebagai penggemar berat MCU, Spider-Man: Brand New Day ini beneran terasa seperti angin segar yang sudah lama ditunggu-tunggu setelah kerumitan multisemesta (multiverse) di fase sebelumnya. Film ini sukses mengembalikan akar karakter Peter Parker ke ranah yang lebih personal dan membumi (grounded), persis seperti dinamika komik era klasik. Penulisan naskahnya cerdas banget dalam mengeksplorasi dampak emosional dari mantra Doctor Strange—Peter harus membangun kembali hidupnya dari nol tanpa bantuan teknologi canggih Stark. Easter eggs yang disebar sepanjang film juga terasa alami dan enggak dipaksakan cuma demi memanjakan penggemar. Kemunculan musuh-musuh baru dengan motivasi yang lebih manusiawi memberi ketegangan yang pas untuk arah baru MCU. Secara keseluruhan, ini transisi sempurna yang membuktikan kalau Spider-Man enggak selalu butuh ancaman tingkat kosmis untuk tampil memukau!
2. Pelajar SMP (Usia 15 Tahun)
"Seru banget dan relate parah sama kehidupan anak sekolah!"
Film Spider-Man: Brand New Day ini seru banget dan relate parah sama kehidupan anak sekolah kayak aku! Konflik Peter Parker saat berusaha beradaptasi di lingkungan barunya tuh terasa miris tapi juga kocak—mirip banget kalau kita baru masuk sekolah baru dan belum punya teman. Aksi menggantung Spider-Man di antara gedung-gedung New York kelihatan keren banget dan visualnya benar-benar memanjakan mata dari awal sampai akhir. Selain itu, selingan humor di tengah adegan pertarungan bikin suasana bioskop enggak tegang terus. Aku paling suka adegan saat dia bikin kostum dan peralatan sederhananya sendiri pakai barang seadanya, kelihatan kreatif banget. Habis nonton film ini, rasanya langsung pengin punya kekuatan super juga biar bisa melewati masalah sehari-hari dengan santai!
3. Orang Dewasa / Rekan Kerja
"Lebih dari sekadar film pahlawan super: sebuah drama kemanusiaan yang menyentuh."
Menonton Spider-Man: Brand New Day memberikan pengalaman cerita yang mengejutkan karena alurnya jauh lebih dewasa dan menyentuh daripada yang saya bayangkan. Film ini tidak sekadar menjual ledakan atau aksi pahlawan super, tetapi juga menyoroti perjuangan kelas pekerja, rasa kesepian, serta tanggung jawab hidup yang harus dipikul seorang pemuda. Melihat Peter Parker berjuang membayar sewa kamar dan membagi waktu antara pekerjaan harian serta kewajibannya terasa sangat relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Akting para pemerannya terasa alami dan mampu membawa penonton ikut merasakan beban emosional karakter utama. Sinematografi dan jalan ceritanya tertata rapi sehingga mudah dinikmati, bahkan oleh orang yang tidak mengikuti belasan film Marvel sebelumnya. Ini adalah drama kemanusiaan yang dibungkus dengan sangat apik dalam balutan film aksi.
4. Pencinta Film Pahlawan Super (Genre Enthusiast)
"Standar baru untuk film pahlawan super skala street-level."
Bagi pencinta genre pahlawan super, film ini memenuhi semua kriteria ideal sebuah eksekusi cerita yang otentik. Koreografi pertarungannya dirancang sangat dinamis, memaksimalkan kelincahan fisik Spider-Man tanpa terlalu bergantung pada efek gambar bentukan komputer (CGI) secara berlebihan. Penokohan karakter protagonis dan antagonisnya yang memiliki kedalaman moral yang seimbang, membuat benturan ideologi di antara mereka terasa sangat intens. Struktur cerita klasik mengenai pengorbanan personal demi kebaikan yang lebih besar dieksekusi dengan pendekatan yang segar dan modern. Film ini berhasil menangkap esensi sejati dari sosok pahlawan super: seseorang yang terus bangkit berdiri meski dunia berulang kali menjatuhkannya. Spider-Man: Brand New Day layak disebut sebagai salah satu standar baru untuk film pahlawan super berkonsep jalanan (street-level).
5. Penonton Bioskop Biasa / Penikmat Akhir Pekan
"Tontonan akhir pekan yang seru, menghibur, dan mudah diikuti!"
Jujur saja, saya datang ke bioskop tanpa ekspektasi tinggi dan tidak terlalu mengikuti alur cerita film-film Spider-Man terdahulu. Namun, Spider-Man: Brand New Day ternyata sangat menghibur dan ceritanya mudah sekali diikuti dari awal sampai akhir. Tempo alur ceritanya pas—tidak terasa membosankan maupun terburu-buru—sehingga waktu dua jam di bioskop terasa berjalan cepat sekali. Efek visual dan musik pengiringnya benar-benar memanjakan mata serta telinga, membuat pengalaman menonton di layar lebar terasa sepadan dengan harga tiketnya. Karakter utamanya sangat mudah disukai karena sifatnya yang ramah, gigih, dan selalu berusaha berbuat baik meskipun sedang tertimpa banyak masalah. Film ini benar-benar tontonan akhir pekan yang memuaskan dan cocok dinikmati bersama teman maupun keluarga.
Demikian sedikit wawancara ringan yang saya buat dengan beberapa orang yang saya temui di awal September lalu. semoga resensi filmnya bisa menambah sudut pandang kalian. Ingat Jangan beli atau nonton bajakan. Tonton dari layar resmi dan penyedia resmi.
Menurut pakar kegempaan yang sudah mulai diperdengarkan dan diberikan kepada masyarakat terkait Kassandra paradox kedua yang akan kita bahas saat ini adalah Sesar Lembang. Pembaca sekalian bisa membaca pada link yang saya berikan di kalimat sebelumnya. Berdasarkan catatan sejarah, gempa yang bersumber dari Sesar Lembang pernah terjadi 600 tahun lalu. Lepasan energi tertahan berarti sudah ratusan tahun tertahan, Pastinya ada lepasan energi lagi yang akan muncul di tahun - tahun depan, walau belum dapat dipastikan waktu tepatnya. Sekali lagi, hal-hal besar yang berisiko besar rasanya kurang digubris masyarakat kita dan kurang dipersiapkan dengan baik. Bukti-bukti apa yang sudah dilepas ke masyarakat oleh para ahli melalui website resmi, media massa dan media sosial, tampaknya belum membuat masyarakat lebih peduli atau high awareness atas info penting ini. Masyarakat nampaknya lebih banyak bersikap pasrah, seakan menunggu kiamat datang adalah bagian dari iman, dan pasrah serta percaya pada nasib baik saja.
Menurut data dari sumber, sesar ini memiliki panjang: ± 29 km, membentang dari wilayah Padalarang (Kabupaten Bandung Barat) hingga Jatinangor/Gunung Manglayang. Kemudian punya kecepatan pergerakan: aktif sekitar 1 hingga 4 milimeter per tahun. Angka ini termasuk lambat, namun terus bergerak yang menyebabkan risiko terus tumbuh per tahun dengan angka kemungkinan jika terjadi gempa berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 6,5 – 7,0. Ini sebuah angka signifikan jika melihat link yang saya cantumkan dalam sistem kegempaan, angka yang, jika bergerak lebih dari 1 menit, dapat meratakan bangunan-bangunan rumah tanpa fondasi kuat dan tahan gempa. Belum lagi jika terjadi gempa di bangunan era Belanda yang masih ada di sekitar Bandung.
Kedua, untuk membuat atau mendirikan bangunan di kawasan Bandung Raya yang mendekati jalur sesar, struktur wajib didesain dengan standar tahan gempa yang kuat. Wilayah dengan jarak sangat dekat (di bawah 3 kilometer dari jalur utama) menuntut kewaspadaan ekstra terhadap amplifikasi guncangan gempa yang besar.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Kemungkinan
kita belum pernah mendengar Paradoks Kassandra atau Cassandra
Paradox. Maka mari kita bahas hal yang baru ini dari beberapa
sudut dan apa kaitannya dengan kondisi akhir - akhir ini yang sudah terjadi di
Indonesia. Setidaknya selama 9 bulan terakhir. Apa kaitannya dengan paradoks ini? Apa kaitannya dengan kebencanaan negeri kita? Dan bagaimana mencegah bencana menjadi hal buruk atau sangat buruk?
Kassandra atau Cassandra dalam sejarahnya berasal dari nama seorang putri kerajaan Troya dalam mitologi Yunani. Seorang putri cantik yang dicintai Dewa Apollo dan diberikan berkah kekuatan dapat memprediksi kejadian di masa mendatang oleh dewa ini. Namun, karena Kassandra sendiri tidak mencintai dan menolak Apollo, maka diberikan kutukan tambahan dalam kekuatannya, yaitu tak seorang pun akan mempercayai ramalannya, meskipun selalu benar. Dalam konteks era kekinian yang penuh modernitas, Kassandra Paradoks merujuk pada fenomena ketika seseorang atau kelompok (umumnya cerdik pandai / ilmuwan / pakar di bidangnya) memberikan peringatan penting tentang bencana atau krisis yang akan datang, namun acap kali diabaikan oleh masyarakat atau pengambil kebijakan karena dianggap pesimis atau tidak sejalan dengan narasi dominan atau kemajuan industri atau kekuatan ekonomi. Bisa juga dianggap menghambat modernitas dan pembangunan suatu bangsa atau kelompok tertentu. Lebih tepatnya, tidak populer dan dianggap anti-pembangunan.
Konsep paradoks Kassandra ini membuat banyak kejadian, baik di sebuah bangsa maupun di sebuah negara, menjadi kerawanan dan acapkali menjadi bencana besar dengan korban puluhan hingga ribuan. Misalnya, di negeri indah kita ini, sudah berapa kali para pakar dan ilmuwan memberikan informasi dan peringatan yang berdasarkan ilmu yang mereka kuasai dan bukan sekadar tebakan tentunya. Mungkin hanya waktu saja yang menjadi penghalang yang membuat mereka tidak mampu menentukan hari, menit, dan detik kejadian secara tepat dan akurat. Bukan karena tidak bisa, tapi sampai saat ini belum ada alat yang bisa dibuktikan secara ilmiah mampu menghitung waktu kejadian. Bagaimanapun, peringatan ini pastinya sudah diprediksi dan sudah sesuai dengan kepakaran mereka.
Bagaimana pengetahuan dari ilmu pakar atau ahli di bidang kebencanaan ini seharusnya dipakai? Kita ambil contoh saja tentang ilmu gunung berapi yang baru saja terjadi beberapa hari lalu, bencana ringannya. Pakar ke Gunung Apian dari Kementerian ESDM pada dokumen LAPORAN KHUSUS Nomor : 1154.Lap/GL.03/BGL.2026 ini sudah memberikan informasi di websitenya sejak Juli 2026. Bahkan di sana sudah ada foto sebagai bukti fisik dan data rekaman alat - alat pelacak yang ditampilkan. Namun, sepertinya pemerintah daerah di dua provinsi terdekat, Lampung dan Banten, tidak menyebarluaskan potensi abu vulkanik atau minimal mengundang media untuk membahas risiko yang akan dihadapi penduduknya. Entah karena dianggap tidak penting atau memang dirasa masih aman jika memang terjadi atau memang waktunya masih lama.
Namun, tidak lama kemudian, kejadian dari informasi ini dipasang di situs web Kementerian ESDM. Pada bulan September, letusan yang sudah diperingatkan lembaga resmi ini pun akhirnya benar - benar nyata. Letusan pada hari Jumat dan Sabtu berdampak hingga hari Senin dan Selasa, bahkan bukan hanya di 2 provinsi, melainkan hingga lebih dari 4 provinsi, termasuk Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Bahkan ada laporan di beberapa kabupaten di Jawa Tengah yang sempat mendapati abu vulkanik dari letusan ini di wilayahnya, walau lebih tipis.
Betapa sulitnya untuk mengerti bahwa ilmu pengetahuan sudah bukan hanya meramalkan, namun sudah sampai pada memprediksi, sebuah data valid dan berdasar hal ilmiah bukan lagi tebak - tebakan untuk dipercayai masyarakat kita dan terlebih pejabat negara ini yang seharusnya sudah lebih melek dan paham pendidikan tinggi. Melihat data dan mempelajari data sudah seharusnya dipahami dan disebarkan untuk keselamatan dan kesehatan kita semua. Data sudah di depan mata, Jika tidak digunakan dengan tepat dan sesuai kepentingannya, malah hanya jadi sekadar data. Namun, jika data sudah dipergunakan dengan tepat dan sesuai kebutuhan, maka bisa menyelamatkan. Sudah saatnya warga negara ini dibuat lebih bernalar dan berakal. Sekadar percaya tahayul dan percaya bahwa semua sudah waktunya dan semua sudah takdirnya harus mulai pelan - pelan diseimbangkan, sehingga tidak memakan korban lebih banyak. Sehingga nyawa manusia menjadi hal berharga, bukan karena dugaan dan bukan sekadar karena ini adalah takdir.
Bagaimana dengan pengetahuan terkait Sesar Lembang? Saya akan membahas di blog ini di post selanjutnya.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Dibagian kedua ini, saya akan menceritakan sistem operasi Windows paling ikonik. Aplikasi atau perangkat lunak paling banyak di pakai di seluruh dunia. Sesuai gambar yang saya unggah di blog ini. Juga kita akan melihat data pengguna Microsoft paling laku di dunia dan mengapa masih banyak yang menggunakan MS XP ini.
Pertama,
mari kita lihat kepanjangan dari XP pada sistem operasi ini. Ada beberapa
penjelasan dari kepanjangannya. XP bisa diartikan sebagai eXPerience, ya, sebuah hal yang ingin dibuat Microsoft sebagai pengalaman indah atau pengalaman
baru bagi seluruh pengguna di dunia. Sistem operasi pertama di dunia yang
menawarkan gambar dan warna yang menarik saat itu. Dunia yang sudah tidak hitam
putih atau sekadar abu - abu seperti pada OS sebelumnya atau seperti DOS yang
hanya berwarna hitam pekat dan putih tulisannya. Dunia pertama yang
sangat visual appeal alias menarik dan cakep di mata pengguna
Microsoft dan mungkin pencinta produk Microsoft sejak Win 3.1 atau Win NT 3.1
dan Windows 2000 atau bahkan Windows Me.
Pernahkah melihat tampilan antarmuka dari sistem operasi buatan paling awal dari Microsoft seperti ini?
Saya mengalami era awal dengan tampilan antarmuka (User Interface) seperti ini di era SD sejak rumah saya kedatangan CPU dengan prosesor Intel Pentium 1. Suatu hal yang saya, sebagai seorang, sangat senang karena memiliki alat permainan yang kala itu sudah sangat keren, walau baru ada game 2D hitam putih dan belum berwarna. Misalnya, permainan pac-man dan Tetris yang area permainannya sebelumnya hanya saya lihat di gadget milik teman. Ayah saya, walau seorang lulusan teknisi, namun tidak pernah memanjakan kami dengan konsol permainan seperti Nintendo atau playstation. Inilah alat permainan dan alat belajar saya : PC dengan otak Pentium 1 dan Windows paling awal yang saya sangat ingat bentuk dan tampilannya sampai sekarang. Masa-masa indah saat dunia seakan baru saja terbuka.
Alat ini juga yang membuka dan menyadarkan saya akan kemajuan teknologi di era tersebut. Sejak SD, saya sudah sering meminjam alat ini bersama kakak saya, jika dia menggunakan PC untuk membuat tugas kuliah dan persiapan skripsinya sambil main tipis - tipis agar ada hiburan kilahnya. Kalau saya, bukan sekadar alat bermain game lawas, melainkan juga untuk belajar membuat tulisan tentang sekolah saya kala itu. Tulisan tentang apa pun yang saya bahkan lupa - lupa ingat saat ini. Namun, saya ingat, setiap saya membuat tulisan dengan sistem operasi ini, Ayah saya sering melihat saya mengetik dan membuat format berbagai bentuk.
Kegemaran saya mengutak-atik di Word pada sistem operasi Windows, terutama juga inilah yang membuat saya mulai menggemari aplikasi - aplikasi buatan Microsoft, tidak terkecuali Excel dan PowerPoint. Rasanya baru kemarin saya belajar menyalakan komputer kakak sebagai hadiah dari Ayah dan membuat ketikan pertama. Walaupun saya tidak menggunakan komputer sesering kakak atau saya pribadi. Beliau paham mengetik dan membuat laporan sederhana dengan alat ini. Karena beliau juga sering membuat laporan dengan Ms. Word dan aplikasi sistem terkomputerisasi di tempatnya bekerja. Aplikasi - aplikasi yang sudah saya kuasai di rumah jadi terasa mundur ketika di SMP saya pribadi masih menggunakan Wordstar dan Lotus 1-2-3. Di rumah sudah menggunakan aplikasi lebih visual, lalu di sekolah kembali ke lingkungan model diketik tipe CLI (command line interface), sebuah hal yang saat itu terasa amat aneh bagi saya, seakan mempelajari 2 hal canggih namun dengan jarak yang terpaut sangat jauh.
Wordstar dan Microsoft Word adalah aplikasi yang memiliki fungsi yang sama, namun dengan tampilan yang sangat jauh berbeda. Walaupun saya sudah akrab dengan tampilan visual, mengaktifkan mode di DOS dan WIndows sendiri terasa seakan belajar dua hal sekaligus saat itu. Seru, namun membuat saya kadang memprotes guru/pengajar ilmu komputer saya, yang saat itu belum mengenal istilah TIK atau Informatika. Walaupun SMP saya adalah sekolah kecil, namun fasilitas sekolah saat itu sudah lebih dari cukup. Uniknya, saat itu perangkat komputer bersifat mobile alias belum terpasang di satu ruangan khusus, namun berpindah sesuai dengan jadwal di sekolah kami atau di sekolah lain yang masih satu yayasan. Jadwal praktik komputer saat itu bergantian dengan sekolah lain dalam 1 kawasan di Jakarta Utara.
Ada 3 sekolah dengan jadwal bergantian, Kadang kami pun diminta membantu mengangkat dan memindahkan peralatan saat jadwal praktik. Hal yang membuat saya juga jadi belajar praktik memasang dan mencopot perangkat keras kala itu. Belajar langsung bahwa praktik komputer karena membantu guru komputer yang datang seminggu sekali kala itu. Padahal di rumah saya sudah belajar Windows 3.1 dan bukan DOS lagi. Namun, menurut ayah saya, saat saya menginfokan bahwa mata pelajaran komputer yang ada di sekolah harus diikuti. Lebih baik diam dan jangan menyakiti perasaan guru komputer-mu, begitu menurut beliau, berbicara bijak.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Sekolah sejatinya adalah rumah
kedua. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, inklusif, dan
bebas dari segala bentuk ancaman agar proses penyerapan ilmu serta pembentukan
karakter dapat berjalan optimal. Untuk menjamin hal ini, pemerintah
melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) telah menetapkan regulasi tegas mengenai pencegahan
kekerasan. Merujuk pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP),
terdapat 6 (enam) kategori kekerasan yang dilarang keras terjadi di lingkungan
sekolah. Sebagai pendidik, saya ingin mengajak Anda semua untuk mengenali
kategori-kategori tersebut agar kita bisa bersama-sama melakukan pencegahan.
Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:1. Kekerasan FisikIni adalah bentuk kekerasan yang
paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku
terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal
- hal yang dimaksud adalah memukul, menendang, perkelahian, tawuran,
penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan
sekolah.
2. Kekerasan PsikisBerbeda dengan kekerasan fisik,
kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak
fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau
membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain pengucilan,
penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan
yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.3. Perundungan (Bullying)Perundungan merupakan irisan
dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik
utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan
relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa
daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior
yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat. 4. Kekerasan Seksual Kekerasan seksual mencakup
setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang
bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi
secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya pelecehan
fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto
pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki
nuansa seksual.5. Diskriminasi dan IntoleransiLingkungan belajar harus
menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi
ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan
hak peserta didik. Hal yang termasuk ke dalam kategori ini adalah, membeda-bedakan
perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit,
jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan
intelektual, mental, sensorik, dan fisik).6. Kebijakan yang Mengandung
KekerasanKategori ini sering kali luput
dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung
kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis)
di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya
kekerasan. Contohnya antara lain peraturan sekolah yang mewajibkan
hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi
sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.Mencegah kekerasan bukan hanya
tugas kepala sekolah atau guru bimbingan dan konseling, melainkan tanggung jawab
kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam
bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan
ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.
Setelah kita
mengetahui pengertian Fatherless dan dampak serta akibat yang
ditimbulkan dari hal ini pada tulisan saya Cara Pendidik membantu Siswa -
Siswi "Fatherless" pada bagian satu dan bagian kedua. Maka hal –
hal berikut kita dapat berikan pemahaman dan pengertian yang cukup terkait hal
ini.
1. Jika seorang anak laki-laki kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria mencoba memberi pemahaman dan konsep-konsep sebagai pria. Misalnya, konsep tentang bagaimana seorang laki-laki harus bisa memperbaiki benda-benda, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana
memperlakukan perempuan dengan baik, misalnya tidak memaki dan tidak memukul
perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapian serta tanggung jawab
sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai-nilai
sebagai laki – laki anti-merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak
beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan
pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di
depan umum. Serta memberikan kegiatan-kegiatan yang baik dan benar sebagai
laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh-contoh kebaikan dan tindakan terpuji.
Sehingga mereka memiliki gambaran seorang ayah dan gambaran pria yang tepat.
1. Jika seorang anak laki-laki kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria mencoba memberi pemahaman dan konsep-konsep sebagai pria. Misalnya, konsep tentang bagaimana seorang laki-laki harus bisa memperbaiki benda-benda, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik, misalnya tidak memaki dan tidak memukul perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapian serta tanggung jawab sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai-nilai sebagai laki – laki anti-merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di depan umum. Serta memberikan kegiatan-kegiatan yang baik dan benar sebagai laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh-contoh kebaikan dan tindakan terpuji. Sehingga mereka memiliki gambaran seorang ayah dan gambaran pria yang tepat.
2. Jika seorang guru Perempuan memberikan contoh kepada murid laki – laki. Berikan kepada mereka penjelasan tentang bagaimana menjadi imam dan kepala keluarga yang baik. Berikan konsep saying kepada keluarga baik kepada kakak atau adiknya, kepada ibunya. Berikan cara-cara yang tepat untuk melindungi perempuan dan anak-anak (atau adik kelasnya jika di sekolah). Berikan contoh kasih sayang seorang ibu yang peduli anaknya. Ciptakan rasa memiliki keluarga yang baik dan tepat. Ajarkan cara mencuci baju atau mencuci piring sehingga mereka tidak menganggap itu pekerjaan perempuan saja. Ajarkan juga menjaga kebersihan rumah (dan sekolah jika di kelas dan sekolahnya) agar mereka paham bahwa menjaga kebersihan adalah tugas tidak hanya perempuan saja.
Demikian sedikit yang mungkin dapat kita bantu, Jika ada di antara murid atau siswa-siswi kita yang memiliki konsep fatherless atau sosok ayah yang tidak ada atau sosok ayah yang punya perilaku kurang positif dan membuat mereka jadi membenci sosok yang seharusnya memberi contoh baik dan memberi kasih sayang yang tepat.
Ada celetukan seorang emak -
emak super pede ke suaminya. begini katanya : "hari begini mane ade yang
gratis bang, ke WC umum saja bayar seribu, dua ribu" begitu ucap
nyablaknya yang saya dengar dari sedikit kejauhan. Sang suami pun dengerin dengan diam dan ngangguk, mencoba memahami sedikit kemarahan istrinya yang dipahami sebagai tanda sayang mungkin.
Lalu saya kembali berpikir, benarkah
demikian, pikir saya. Apakah udara yang saya hirup ini berbayar dan akan ditagih sama
sang pembuat sang tanaman atau pencipta sang pembuat yaitu TUHAN? Apakah di
alam surga nanti, saya akan di tagih bon - bon tagihan atas udara saya hirup
selama puluhan tahun saya di bumi? Mungkinkah saya diminta pertanggungjawaban
atas hak atau kewajiban saya bernapas di dunia selama ini atau entah sampai
usia kapan selesai.
Denger kata - kata ini, saya jadi deg dalam
hati. Jika dunia ini semuanya benar bayar, maka harusnya ke siapa? kalau ada
pengusaha yang sudah kuasai udara bebas, seberapa mengerikan uang tunainya atau
digit - digit angka Rupiah atau mata uangnya. Mungkin mengalahkan Elon Musk
atau mega trilyuner di negeri Patung Liberty yang kekayaannya selalu dipantau
dan ditulis di laporan kekayaan. Pengusaha yang seakan paling kaya, padahal
saya yakin diatas orang kaya masih ada yg lebih orang kaya yang diam - diam atau
introvert. Saya berpikir - pikir benar, bahwa apa ya yang membuat dunia ini
menjadi segalanya tidak gratis dan berbayar semua seperti pikiran ibu ini. Setidaknya pahami pikiran spesial emak-emak ini tentang ekonominya. Berbayar
di kota kan tidak serta-merta berarti harus membayar di desa.
Dalam ilmu ekonomi, kita pasti menganggap apa-apa yang berbayar sebagai liberalisme pasar atau, dalam istilah modern, pasar monopoli tunggal. Padahal tidak semua hal saat saya mengetik
ini pun monopoli saya saat berpikir dan menyampaikan ide. Udara untuk bernapas
dan membagikan ide belum semuanya punya nilai yang sama mahalnya, asal belum dikomersialisasi. Masih bisa dibagikan, misalnya untuk lomba blog yang diadakan Om
Jay ini. Memang akan ada hadiahnya berupa nominal, namun tidak semua peserta akan dapat hadiah, kan. Pasti ada yg setiap lomba pulang dengan tangan
kosong.
Jadi, tidak semua hal di dunia ini dibayari, walau oligopoli oleh sebagian perusahaan yang itu-itu saja pasti akan makin kuat dan makin sempit pemiliknya. Perusahaan sekarang, terutama dari Eropa dan USA, makin banyak yang semakin besar nilai sahamnya maupun kepemilikan lahan dan alat produksinya. Namun, untungnya di Republik Indonesia belum semuanya dioligopoli oleh negara-negara maju tersebut.
Misalnya, produk anti-masuk angin yang punya slogan "orang pintar minum..." ini masih punya sebagian saham lokal. Produk lain contohnya bagi penyuka menghirup nikmatnya lintingan tembakau
buatan perusahaan "Penyimpanan Garam", ini juga masih kepemilikan
lokal setahu saya. Dua perusahaan ini masih sering membagikan cuma - cuma
keuntungannya lewat dana CSR (corporate social responsibility) yang
menggratiskan. Misalnya untuk dana kesehatan masyarakat atau memberikan
beasiswa pendidikan atau beasiswa bagi atlet di olahraga pukul bulu alias bulutangkis
Jadi saya masih
berkesimpulan, di negeri yang katanya banyak oli tapi bukan minyak rem ini.
Negeri kita masih banyak yang gratis, tentu saja tidak seperti suara dari
emak-emak yang saya dengar di kisah di atas. Banyak pengusaha kita yang punya hati
nurani punya banyak gratisan buat kita. Catatannya, asalkan kita punya prestasi,
punya keahlian, punya spesialisasi yang unik. Bukan sekadar bicara dan tidak
berbuat apa-apa lalu bilang " di dunia ini tidak ada yang gratis".
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Dalam dunia pendidikan, fatherless ditelaah dari bagaimana struktur dan dukungan keluarga memengaruhi performa sekolah, ketahanan akademik (academic resilience), dan perilaku belajar siswa. Ayah memiliki peran unik dalam menanamkan disiplin, pemecahan masalah secara logis, dan dorongan eksplorasi akademis.
Pada bagian kedua ini, saya
selaku penulis ingin mengajak pembaca dalam sudut pandang lebih luas, bukan
hanya dari sudut pendidikan dan keguruan yang akan saya berikan gambaran sebab
dan akibatnya kepada anak didik kita saja, namun juga kepada seluruh isi
sekolah kita. Mari kita bahas beberapa temuan dari peneliti dan tulisan mereka
yang saya temui. Mari kita lihat satu persatu satu persatu dari dunia
pendidikan terlebih dahulu.
Dampak - dampak yang mungkin timbul dari tidak adanya figure menempel
pada peserta didik laki – laki maupun pada peserta didik perempuan:
a. Penurunan prestasi akademik : Anak-anak fatherless cenderung
memiliki motivasi belajar yang lebih rendah dan rentan mengalami kesulitan
konsentrasi di kelas. Motivasi ini di dapat anak dari ayah – ayah yang rajin
atau tekun bekerja, yang dirumahnya ayahnya memiliki sifat ulet dan mau
membantu keluarga (bukan hanya membantu istri, namun juga di masyarakat). Gambaran
ayah yang tekun, rajin, serba bisa tentu akan membuat anak lebih mencontoh
sifat baik ini. Apalagi jika ayahnya senang membaca buku, atau memperbaiki
kondisi rumah, berkebun atau memelihara hewan tertentu, maka anak juga akan
melihat ini.
b. Ketahanan akademik (Academic
resilience) menurun: Ketika menghadapi kegagalan di sekolah
(seperti nilai buruk atau kurang dari standar kelas), anak tanpa figur ayah
yang mendukung sering kali lebih mudah menyerah atau menyalahkan diri sendiri. Sehingga
anak kurang dapat beradaptasi jika nilai turun, mudah menerima apa adanya diri.
Tidak berusaha bertahan untuk mencapai nilai lebih baik, pasrah yang mengarah
ke negatif dan jadi sulit menyelamatkan diri jika sudah gagal.
c. Potensi Putus Sekolah: Kurangnya
pengawasan ganda dari orang tua membuat anak fatherless lebih rentan
membolos atau terlibat dalam masalah kedisiplinan sekolah yang berujung pada
tingginya angka drop out. Jadi ayah yang terus mengikuti perkembangan
belajar dan keseharian putra – putrinya akan lebih memiliki awarness
atau kesiap siagaan jika terjadi masalah dan segera berkonsultasi dengan wali
kelas dan mungkin guru – guru lain terhadap anak – anaknya. Bagi yang tidak
memiliki ayah ini, maka akan tidak ada yang menjaga, sehingga sering kali
meyebabkan resiko drop out karena masalah ini lebih besar lagi.
Ketiga hal
diatas adalah temuan berdasarkan penelitian dengan judul “Dampak Ketiadaan
Peran Ayah (Fatherless) terhadap Pencapaian Akademik Remaja: Kajian Sistematik
(pada Jurnal Psikologi dan Pendidikan UNJ, 2024)1. Kajian ini
menyimpulkan bahwa ketiadaan peran ayah berdampak sangat merugikan pada
pencapaian akademik dan membutuhkan intervensi komprehensif di lingkungan
sekolah. Penelitian oleh Fitroh, S. F., 2014, Jurnal PG-PAUD Trunojoyo dengan
judul “Dampak Fatherless Terhadap Prestasi Belajar Anak” juga
menggambarkan hal yang mirip dengan dampak yang timbul. Tulisan Fitroh ini juga
jadi satu rujukan klasik di Indonesia yang membuktikan secara empiris korelasi
antara absennya ayah dan penurunan capaian belajar anak usia dini.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
sumber
Anita bertanya pada temannya, "Itu si Budi kan fatherless?" sambil senyum-senyum kecil. Sambil sok tau menjelaskan kosakata English kekinian menjelaskan kepada Juleha
sahabatnya. Anita menjelaskan bahwa istilah itu adalah kata lain dari yatim, alias anak yang ditinggal meninggal oleh ayah kandungnya. Walaupun sudah ada ayah tiri.
Datanglah Pak Anto, Beliau mulai menjelaskan di tengah jam istirahat yang hanya
15 menit dengan konsep yang lebih tepat. Fatherless adalah kosakata baru di Indonesia, Banyak kalangan pendidikan dan di
luar pendidikan belum memahami istilah ini. Adapun yang mendengar ini
menyamakan dengan istilah sugarless = sedikit gula atau tanpa gula. Jadikan istilah ini menyamai tidak adanya ayah kandung. Jikalaupun punya ayah
tiri atau ayah sambung, tetap dianggap fatherless. Mungkin ini sedikit gambaran
sederhana yang dipahami oleh banyak orang lainnya juga.
Tapi mari
kita bedah lebih lanjut istilah ini, dari sudut pandang pendidikan, ilmu
psikologis dan hal – hal lainnya. Sehingga sudut pandang kita sebagai pendidik juga lebih dalam dan luas dalam menanggapi istilah yang perlu penjabaran yang lebih detail.
Berapa banyak Siswa - siswi yang kita kenal sangat akrab ?
Berapa yang kita tahu tentang kehidupan aslinya ? Berapa yang kita pahami tentang kesulitan berpikir mereka dan perbedaan sifat mereka di rumah, di sekolah, dan di masyarakat ? Jika sudah
mendapat informasi kondisi mereka dalam data fisik misalnya Kartu Keluarga yang
menunjukkan secara hukum bahwa ada kepala keluarga, apakah artinya siswa –
siswi kita sudah memiliki figur ayah? Sebagian pembaca pasti merasa yakin
sudah. Bagaimana jika di Kartu Keluarga, kolom atas kiri, nomor paling atas atau nomor satu, benar ada nama laki-laki, namun jika kita cocokkan dengan nama ayah kandung siswa-siswi kita, ternyata namanya berbeda? Apakah ini juga berlaku untuk kata 'fatherless' itu? Setujukah kita untuk meletakkan konsep ini pada anak-anak didik kita? Secara aturan, mungkin benar anak ini tidak memiliki ayah kandung (entah
karena cerai mati atau cerai hidup). Banyak kejadian saat ini, laki – laki dewasa
usianya lebih pendek dengan rerata usia hidup dibawah 50-60 tahun. Namu nada juga,
tentu saja cerai hidup. Inilah yang sering terjadi ketika ayah kandung masih hidup namun tidak pernah datang, tidak pernah menemani masa tumbuh kembang anak-anaknya. Konsep fatherless inilah yang digunakan oleh para pakar psikologi. Jadi bukan hanya dari sisi dokumen fisik.
Namun demikian kita akan bahas lebih detail tentang
konsep fatherless ini pada bagian kedua pada tulisan di blog ini, baik
dari sisi psikologi, hukum dan pendidikan dan catatan data dari ahli – ahli atas
temuan konsep baru ini dalam tumbuh kembang dan efek sebab akibat yang
ditimbulkan dan dampak lansung maupun tidak langsung terhadap anak didik kita,
agar kita mampu menjembatani kehidupan mereka di sekolah dan membantu prestasi
mereka di sekolah dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay













