Tampilkan postingan dengan label aplikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aplikasi. Tampilkan semua postingan
--
0

 

Menurut pakar kegempaan yang sudah mulai diperdengarkan dan diberikan kepada masyarakat terkait Kassandra paradox kedua yang akan kita bahas saat ini adalah Sesar Lembang. Pembaca sekalian bisa membaca pada link yang saya berikan di kalimat sebelumnya. Berdasarkan catatan sejarah, gempa yang bersumber dari Sesar Lembang pernah terjadi 600 tahun lalu. Lepasan energi tertahan berarti sudah ratusan tahun tertahan, Pastinya ada lepasan energi lagi yang akan muncul di tahun - tahun depan, walau belum dapat dipastikan waktu tepatnya. Sekali lagi, hal-hal besar yang berisiko besar rasanya kurang digubris masyarakat kita dan kurang dipersiapkan dengan baik. Bukti-bukti apa yang sudah dilepas ke masyarakat oleh para ahli melalui website resmi, media massa dan media sosial, tampaknya belum membuat masyarakat lebih peduli atau  high awareness atas info penting ini. Masyarakat nampaknya lebih banyak bersikap pasrah, seakan menunggu kiamat datang adalah bagian dari iman, dan pasrah serta percaya pada nasib baik saja.

Menurut data dari sumber, sesar ini memiliki panjang: ± 29 km, membentang dari wilayah Padalarang (Kabupaten Bandung Barat) hingga Jatinangor/Gunung Manglayang. Kemudian punya kecepatan pergerakan: aktif sekitar 1 hingga 4 milimeter per tahun. Angka ini termasuk lambat, namun terus bergerak yang menyebabkan risiko terus tumbuh per tahun dengan angka kemungkinan jika terjadi gempa berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 6,5 – 7,0. Ini sebuah angka signifikan jika melihat link yang saya cantumkan dalam sistem kegempaan, angka yang, jika bergerak lebih dari 1 menit, dapat meratakan bangunan-bangunan rumah tanpa fondasi kuat dan tahan gempa. Belum lagi jika terjadi gempa di bangunan era Belanda yang masih ada di sekitar Bandung.


Menurut pakar gempa pada video dari ESDM ini, pemetaan wilayah utama sesar dan wilayah sekitar yang terdampak sudah dipetakan risikonya dan dimunculkan secara resmi. Tinggal bagaimana pemerintah daerah Jawa Barat pada umumnya dan pemerintah daerah Bandung mengelola data ini. Jangan sampai Kassandra Paradox terjadi lagi, seperti kasus likuifaksi di Sulawesi dan gempa bumi di wilayah Aceh yang memakan banyak korban. Jika Sesar Lembang tidak diantisipasi, korban bisa berlipat - lipat jumlahnya karena jumlah penduduk di Jawa Barat juga lebih banyak. Semoga pengetahuan dan peringatan yang sudah dilakukan menjauhan kita dari sikap masa bodoh dan menganggap waktunya masih lama atau bahkan mungkin tidak kena. Jadilah warga yang bukan sekedar lari dan menyelamatkan diri, namun harus jadi warga yang peduli diri, keluarga dan tetangga atau masyarakat luas.

Caranya bagaimana agar terhindar dari dampak utama jika terjadi gempa yang bersumber dari Sesar Lembang ini?

        Pertama, menurut ahli kegempaan, jangan membangun rumah di dekat atau persis di depan sesar tersebut. Menurut ahli peneliti gempa, jarak aman dari garis retakan sesar sudah cukup pada radius minimal 40 meterPemerintah Provinsi Jawa Barat melalui peraturan konservasi kawasan menetapkan sempadan atau zona penyangga (buffer zone) selebar 200 hingga 250 meter di sisi kiri dan kanan Sesar Lembang dan tidak mengizinkan pembangunan permukiman atau adanya bangunan di area tersebut. Sejumlah kajian mitigasi bencana mengadaptasi standar aman sekitar 100 hingga 150 meter dari titik suar atau rekahan patahan aktif. Intinya, semakin jauh semakin baik, namun ada prasyarat lain agar lebih aman.

            Kedua, untuk membuat atau mendirikan bangunan di kawasan Bandung Raya yang mendekati jalur sesar, struktur wajib didesain dengan standar tahan gempa yang kuat. Wilayah dengan jarak sangat dekat (di bawah 3 kilometer dari jalur utama) menuntut kewaspadaan ekstra terhadap amplifikasi guncangan gempa yang besar.

Sebenarnya, memahami kemudian merancang bukan hanya jarak, melainkan jenis bangunan yang baik, tentunya mengurangi korban jiwa dan kerusakan yang sangat parah.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay



--
0

 


Kemungkinan kita belum pernah mendengar Paradoks Kassandra atau Cassandra Paradox.  Maka mari kita bahas hal yang baru ini dari beberapa sudut dan apa kaitannya dengan kondisi akhir - akhir ini yang sudah terjadi di Indonesia. Setidaknya selama 9 bulan terakhir. Apa kaitannya dengan paradoks ini? Apa kaitannya dengan kebencanaan negeri kita? Dan bagaimana mencegah bencana menjadi hal buruk atau sangat buruk?

Kassandra atau Cassandra dalam sejarahnya berasal dari nama seorang putri kerajaan Troya dalam mitologi Yunani. Seorang putri cantik yang dicintai Dewa Apollo dan diberikan berkah kekuatan dapat memprediksi kejadian di masa mendatang oleh dewa ini. Namun, karena Kassandra sendiri tidak mencintai dan menolak Apollo, maka diberikan kutukan tambahan dalam kekuatannya, yaitu tak seorang pun akan mempercayai ramalannya, meskipun selalu benar. Dalam konteks era kekinian yang penuh modernitas, Kassandra Paradoks merujuk pada fenomena ketika seseorang atau kelompok (umumnya cerdik pandai / ilmuwan / pakar di bidangnya) memberikan peringatan penting tentang bencana atau krisis yang akan datang, namun acap kali diabaikan oleh masyarakat atau pengambil kebijakan karena dianggap pesimis atau tidak sejalan dengan narasi dominan atau kemajuan industri atau kekuatan ekonomi. Bisa juga dianggap menghambat modernitas dan pembangunan suatu bangsa atau kelompok tertentu. Lebih tepatnya, tidak populer dan dianggap anti-pembangunan.


Konsep paradoks Kassandra ini membuat banyak kejadian, baik di sebuah bangsa maupun di sebuah negara, menjadi kerawanan dan acapkali menjadi bencana besar dengan korban puluhan hingga ribuan. Misalnya, di negeri indah kita ini, sudah berapa kali para pakar dan ilmuwan memberikan informasi dan peringatan yang berdasarkan ilmu yang mereka kuasai dan bukan sekadar tebakan tentunya. Mungkin hanya waktu saja yang menjadi penghalang yang membuat mereka tidak mampu menentukan hari, menit, dan detik kejadian secara tepat dan akurat. Bukan karena tidak bisa, tapi sampai saat ini belum ada alat yang bisa dibuktikan secara ilmiah mampu menghitung waktu kejadian. Bagaimanapun, peringatan ini pastinya sudah diprediksi dan sudah sesuai dengan kepakaran mereka.

Bagaimana pengetahuan dari ilmu pakar atau ahli di bidang kebencanaan ini seharusnya dipakai? Kita ambil contoh saja tentang ilmu gunung berapi yang baru saja terjadi beberapa hari lalu, bencana ringannya. Pakar ke Gunung Apian dari Kementerian ESDM pada dokumen LAPORAN KHUSUS Nomor : 1154.Lap/GL.03/BGL.2026  ini sudah memberikan informasi di websitenya sejak Juli 2026. Bahkan di sana sudah ada foto sebagai bukti fisik dan data rekaman alat - alat pelacak yang ditampilkan. Namun, sepertinya pemerintah daerah di dua provinsi terdekat, Lampung dan Banten, tidak menyebarluaskan potensi abu vulkanik atau minimal mengundang media untuk membahas risiko yang akan dihadapi penduduknya. Entah karena dianggap tidak penting atau memang dirasa masih aman jika memang terjadi atau memang waktunya masih lama.

Namun, tidak lama kemudian, kejadian dari informasi ini dipasang di situs web Kementerian ESDM. Pada bulan September, letusan yang sudah diperingatkan lembaga resmi ini pun akhirnya benar - benar nyata. Letusan pada hari Jumat dan Sabtu berdampak hingga hari Senin dan Selasa, bahkan bukan hanya di 2 provinsi, melainkan hingga lebih dari 4 provinsi, termasuk Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Bahkan ada laporan di beberapa kabupaten di Jawa Tengah yang sempat mendapati abu vulkanik dari letusan ini di wilayahnya, walau lebih tipis.


Betapa sulitnya untuk mengerti bahwa ilmu pengetahuan sudah bukan hanya meramalkan, namun sudah sampai pada memprediksi, sebuah data valid dan berdasar hal ilmiah bukan lagi tebak - tebakan untuk dipercayai masyarakat kita dan terlebih pejabat negara ini yang seharusnya sudah lebih melek dan paham pendidikan tinggi. Melihat data dan mempelajari data sudah seharusnya dipahami dan disebarkan untuk keselamatan dan kesehatan kita semua. Data sudah di depan mata, Jika tidak digunakan dengan tepat dan sesuai kepentingannya, malah hanya jadi sekadar data. Namun, jika data sudah dipergunakan dengan tepat dan sesuai kebutuhan, maka bisa menyelamatkan. Sudah saatnya warga negara ini dibuat lebih bernalar dan berakal. Sekadar percaya tahayul dan percaya bahwa semua sudah waktunya dan semua sudah takdirnya harus mulai pelan - pelan diseimbangkan, sehingga tidak memakan korban lebih banyak. Sehingga nyawa manusia menjadi hal berharga, bukan karena dugaan dan bukan sekadar karena ini adalah takdir.

Bagaimana dengan pengetahuan terkait Sesar Lembang? Saya akan membahas di blog ini di post selanjutnya.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


--
0

 


Dibagian kedua ini, saya akan menceritakan sistem operasi Windows paling ikonik. Aplikasi atau perangkat lunak paling banyak di pakai di seluruh dunia. Sesuai gambar yang saya unggah di blog ini. Juga kita akan melihat data pengguna Microsoft paling laku di dunia dan mengapa masih banyak yang menggunakan MS XP ini. 


Pertama, mari kita lihat kepanjangan dari XP pada sistem operasi ini. Ada beberapa penjelasan dari kepanjangannya. XP bisa diartikan sebagai eXPerience, ya, sebuah hal yang ingin dibuat Microsoft sebagai pengalaman indah atau pengalaman baru bagi seluruh pengguna di dunia. Sistem operasi pertama di dunia yang menawarkan gambar dan warna yang menarik saat itu. Dunia yang sudah tidak hitam putih atau sekadar abu - abu seperti pada OS sebelumnya atau seperti DOS yang hanya berwarna hitam pekat dan putih tulisannya. Dunia pertama yang sangat visual appeal alias menarik dan cakep di mata pengguna Microsoft dan mungkin pencinta produk Microsoft sejak Win 3.1 atau Win NT 3.1 dan Windows 2000 atau bahkan Windows Me.


Microsoft XP ini juga merupakan salah satu produk terbaik kala itu setelah versi Windows sebelumnya yang dianggap kurang sukses dan tidak menarik secara tampilan. XP sendiri setelah diluncurkan menjadi sistem operasi paling banyak digunakan, sejalan dengan bertambahnya jumlah pengguna PC di seluruh dunia yang terus bertambah, bahkan mencapai miliaran. Keuntungan XP selain tampak indah secara visual desain, OS ini juga paling ringan dengan tampilan yang dianggap berkelas. Lalu XP juga sistem operasi paling mudah diinstal, dimodifikasi, hingga paling lengkap  tools-nya saat itu bagi pengguna Windows, tentu saja dengan versi di bawahnya.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


--
0

 








Pernahkah melihat tampilan antarmuka dari sistem operasi buatan paling awal dari Microsoft seperti ini?

Saya mengalami era awal dengan tampilan antarmuka (User Interface) seperti ini di era SD sejak rumah saya kedatangan CPU dengan prosesor Intel Pentium 1. Suatu hal yang saya, sebagai seorang, sangat senang karena memiliki alat permainan yang kala itu sudah sangat keren, walau baru ada game 2D hitam putih dan belum berwarna. Misalnya, permainan pac-man dan Tetris yang area permainannya sebelumnya hanya saya lihat di gadget milik teman. Ayah saya, walau seorang lulusan teknisi, namun tidak pernah memanjakan kami dengan konsol permainan seperti Nintendo atau playstation. Inilah alat permainan dan alat belajar saya : PC dengan otak Pentium 1 dan Windows paling awal yang saya sangat ingat bentuk dan tampilannya sampai sekarang. Masa-masa indah saat dunia seakan baru saja terbuka.

Alat ini juga yang membuka dan menyadarkan saya akan kemajuan teknologi di era tersebut. Sejak SD, saya sudah sering meminjam alat ini bersama kakak saya, jika dia menggunakan PC untuk membuat tugas kuliah dan persiapan skripsinya sambil main tipis - tipis agar ada hiburan kilahnya. Kalau saya, bukan sekadar alat bermain game lawas, melainkan juga untuk belajar membuat tulisan tentang sekolah saya kala itu. Tulisan tentang apa pun yang saya bahkan lupa - lupa ingat saat ini. Namun, saya ingat, setiap saya membuat tulisan dengan sistem operasi ini, Ayah saya sering melihat saya mengetik dan membuat format berbagai bentuk.

Kegemaran saya mengutak-atik di Word pada sistem operasi Windows, terutama juga inilah yang membuat saya mulai menggemari aplikasi - aplikasi buatan Microsoft, tidak terkecuali Excel dan PowerPoint. Rasanya baru kemarin saya belajar menyalakan komputer kakak sebagai hadiah dari Ayah dan membuat ketikan pertama. Walaupun saya tidak menggunakan komputer sesering kakak atau saya pribadi. Beliau paham mengetik dan membuat laporan sederhana dengan alat ini. Karena beliau juga sering membuat laporan dengan Ms. Word dan aplikasi sistem terkomputerisasi di tempatnya bekerja. Aplikasi - aplikasi yang sudah saya kuasai di rumah jadi terasa mundur ketika di SMP saya pribadi masih menggunakan Wordstar dan Lotus 1-2-3. Di rumah sudah menggunakan aplikasi lebih visual, lalu di sekolah kembali ke lingkungan model diketik tipe CLI (command line interface), sebuah hal yang saat itu terasa amat aneh bagi saya, seakan mempelajari 2 hal canggih namun dengan jarak yang terpaut sangat jauh.

Wordstar dan Microsoft Word adalah aplikasi yang memiliki fungsi yang sama, namun dengan tampilan yang sangat jauh berbeda. Walaupun saya sudah akrab dengan tampilan visual, mengaktifkan mode di DOS dan WIndows sendiri terasa seakan belajar dua hal sekaligus saat itu. Seru, namun membuat saya kadang memprotes guru/pengajar ilmu komputer saya, yang saat itu belum mengenal istilah TIK atau Informatika. Walaupun SMP saya adalah sekolah kecil, namun fasilitas sekolah saat itu sudah lebih dari cukup. Uniknya, saat itu perangkat komputer bersifat mobile alias belum terpasang di satu ruangan khusus, namun berpindah sesuai dengan jadwal di sekolah kami atau di sekolah lain yang masih satu yayasan. Jadwal praktik komputer saat itu bergantian dengan sekolah lain dalam 1 kawasan di Jakarta Utara.

Ada 3 sekolah dengan jadwal bergantian, Kadang kami pun diminta membantu mengangkat dan memindahkan peralatan saat jadwal praktik. Hal yang membuat saya juga jadi belajar praktik memasang dan mencopot perangkat keras kala itu. Belajar langsung bahwa praktik komputer karena membantu guru komputer yang datang seminggu sekali kala itu. Padahal di rumah saya sudah belajar Windows 3.1 dan bukan DOS lagi. Namun, menurut ayah saya, saat saya menginfokan bahwa mata pelajaran komputer yang ada di sekolah harus diikuti. Lebih baik diam dan jangan menyakiti perasaan guru komputer-mu, begitu menurut beliau, berbicara bijak.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan
om Jay


--


Berikut beberapa aplikasi pengolah Grafis dan sejarah awalnya yang jarang diketahui orang. dan aplikasi berikut masih dipakai oleh perorangan maupun perusahaan-perusahaan besar untuk mengolah gambar agar lebih terlihat luar biasa.

a. Adobe Page Maker 

PageMaker merupakan salah satu program desktop publishingyang pertama, diperkenalkan pada tahun 1985 oleh AldusCorporation, awalnya untuk kemudian-baru Apple Macintosh dan pada tahun 1987 untuk PC menjalankan lalu-baru Windows 1.0.
PageMaker dianugerahi Excellence Award SPA Software untukPemakaian Komputer Baru Terbaik di 1986. PageMaker bergantung pada bahasa halaman PostScript Adobe Systems 'deskripsi, dan pada tahun 1994 Adobe Systems mengakuisisi Aldus dan Page Maker.
Sebagai aplikasi bergantung pada antarmuka pengguna grafis, PageMaker membantu mempopulerkan platform Macintosh danlingkungan Windows

--
0

a. KSpread
Aplikasi pengolah angka (spreadsheet) yang bersifat Open Source dan Multiplatform. Open Source adalah mendownload aplikasi secara gratis dari internet,dan menggunakannya. Multiplatform adalah dapat dijalankan dapat diberbagai sistem operasi, baik itu Windows, Linux, maupun sistem operasi lainnya.

--
0

Suatu program pengolah dokumen berisi teks dan gambar yang memiliki banyak keistimewaan dan sangat profesional dibanding dengan program teks yang sudah ada.