Kemungkinan
kita belum pernah mendengar Paradoks Kassandra atau Cassandra
Paradox. Maka mari kita bahas hal yang baru ini dari beberapa
sudut dan apa kaitannya dengan kondisi akhir - akhir ini yang sudah terjadi di
Indonesia. Setidaknya selama 9 bulan terakhir. Apa kaitannya dengan paradoks ini? Apa kaitannya dengan kebencanaan negeri kita? Dan bagaimana mencegah bencana menjadi hal buruk atau sangat buruk?
Kassandra atau Cassandra dalam sejarahnya berasal dari nama seorang putri kerajaan Troya
dalam mitologi Yunani. Seorang putri cantik yang dicintai Dewa Apollo dan
diberikan berkah kekuatan dapat memprediksi kejadian di masa mendatang oleh
dewa ini. Namun, karena Kassandra sendiri tidak mencintai dan menolak Apollo,
maka diberikan kutukan tambahan dalam kekuatannya, yaitu tak seorang pun
akan mempercayai ramalannya, meskipun selalu benar. Dalam konteks era
kekinian yang penuh modernitas, Kassandra Paradoks merujuk pada fenomena ketika
seseorang atau kelompok (umumnya cerdik pandai / ilmuwan / pakar di bidangnya)
memberikan peringatan penting tentang bencana atau krisis yang akan datang, namun
acap kali diabaikan oleh masyarakat atau pengambil kebijakan karena dianggap
pesimis atau tidak sejalan dengan narasi dominan atau kemajuan industri atau
kekuatan ekonomi. Bisa juga dianggap menghambat modernitas dan pembangunan
suatu bangsa atau kelompok tertentu. Lebih tepatnya, tidak populer dan dianggap
anti-pembangunan.

Konsep paradoks Kassandra
ini membuat banyak kejadian, baik di sebuah bangsa maupun di sebuah negara,
menjadi kerawanan dan acapkali menjadi bencana besar dengan korban puluhan
hingga ribuan. Misalnya, di negeri indah kita ini, sudah berapa kali para pakar
dan ilmuwan memberikan informasi dan peringatan yang berdasarkan ilmu yang
mereka kuasai dan bukan sekadar tebakan tentunya. Mungkin hanya waktu saja yang menjadi penghalang yang membuat mereka tidak mampu menentukan hari, menit, dan detik kejadian secara tepat dan akurat. Bukan karena tidak bisa, tapi sampai
saat ini belum ada alat yang bisa dibuktikan secara ilmiah mampu menghitung
waktu kejadian. Bagaimanapun, peringatan ini pastinya sudah diprediksi dan
sudah sesuai dengan kepakaran mereka.
Bagaimana
pengetahuan dari ilmu pakar atau ahli di bidang kebencanaan ini seharusnya
dipakai? Kita ambil contoh saja tentang ilmu gunung berapi yang baru saja
terjadi beberapa hari lalu, bencana ringannya. Pakar ke Gunung Apian dari
Kementerian ESDM pada dokumen LAPORAN
KHUSUS Nomor : 1154.Lap/GL.03/BGL.2026 ini sudah memberikan
informasi di websitenya sejak Juli 2026. Bahkan di sana sudah ada foto sebagai
bukti fisik dan data rekaman alat - alat pelacak yang ditampilkan. Namun,
sepertinya pemerintah daerah di dua provinsi terdekat, Lampung dan Banten,
tidak menyebarluaskan potensi abu vulkanik atau minimal mengundang media untuk
membahas risiko yang akan dihadapi penduduknya. Entah karena dianggap tidak
penting atau memang dirasa masih aman jika memang terjadi atau memang waktunya
masih lama.
Namun, tidak lama kemudian, kejadian dari informasi ini dipasang di situs web Kementerian ESDM. Pada bulan September, letusan yang sudah diperingatkan lembaga resmi ini pun akhirnya benar - benar nyata. Letusan pada hari Jumat dan Sabtu berdampak hingga hari Senin dan Selasa, bahkan bukan hanya di 2 provinsi, melainkan hingga lebih dari 4 provinsi, termasuk Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Bahkan ada laporan di beberapa kabupaten di Jawa Tengah yang sempat mendapati abu vulkanik dari letusan ini di wilayahnya, walau lebih tipis.
Betapa sulitnya untuk mengerti bahwa ilmu pengetahuan sudah bukan hanya meramalkan, namun sudah sampai pada memprediksi, sebuah data valid dan berdasar hal ilmiah bukan lagi tebak - tebakan untuk dipercayai masyarakat kita dan terlebih pejabat negara ini yang seharusnya sudah lebih melek dan paham pendidikan tinggi. Melihat data dan mempelajari data sudah seharusnya dipahami dan disebarkan untuk keselamatan dan kesehatan kita semua. Data sudah di depan mata, Jika tidak digunakan dengan tepat dan sesuai kepentingannya, malah hanya jadi sekadar data. Namun, jika data sudah dipergunakan dengan tepat dan sesuai kebutuhan, maka bisa menyelamatkan. Sudah saatnya warga negara ini dibuat lebih bernalar dan berakal. Sekadar percaya tahayul dan percaya bahwa semua sudah waktunya dan semua sudah takdirnya harus mulai pelan - pelan diseimbangkan, sehingga tidak memakan korban lebih banyak. Sehingga nyawa manusia menjadi hal berharga, bukan karena dugaan dan bukan sekadar karena ini adalah takdir.
Bagaimana dengan pengetahuan terkait Sesar Lembang? Saya akan membahas di blog ini di post selanjutnya.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
No Response to "Kassandra Paradox, Bencana dan Pencegahan"
Posting Komentar
Terima kasih...