Usai menuntaskan urusan di Gedung Arsip, Aris melangkahkan kaki menuju Gedung Pos dan Telekomunikasi Pusat untuk mengirimkan salinan laporan konfirmasi kepada cabang Bank Sentral di benua seberang. Di tempat ini, warta antarbenua tidak meluncur dalam hitungan milidetik menembus ruang hampa, melainkan merayap melalui serat-serat tembaga di dasar samudra dan lambung kapal pos uap.
Aula stasiun telekomunikasi itu bergema oleh paduan suara pita ketik dan ketukan kawat yang tak pernah reda. Di sepanjang meja panjang, puluhan operator telegraf duduk memegang kunci pemancar tembaga. Jemari mereka menari mengetukkan kode Morse—tit-tit-tet-tit—mengubah setiap huruf tulisan tangan menjadi getaran pulsa listrik yang merambat melalui kabel lintas laut.
Di sudut lain ruangan, mesin-mesin teleks dan telegraf cetak berderet menempel di dinding. Mesin-mesin mekanis itu berdentang nyaring saat menerima pesan, mencetak karakter demi karakter di atas pita kertas tipis berperekat yang terpotong secara otomatis sesuai panjang kalimat.
"Mengirim pesan singkat dua puluh kata ke ibu kota benua seberang memakan biaya setara gaji mingguan seorang buruh," bisik seorang kasir stasiun pos saat menerima draf tulisan tangan Aris.
Setiap kata di dunia tanpa komputer ini berharga sangat mahal. Tidak ada ruang untuk obrolan nirguna atau pesan sampah. Orang-orang memilih kata dengan sangat cermat, memadatkan pemikiran paling krusial ke dalam kalimat telegrafis yang lugas. Jika warta yang dikirimkan terlalu panjang untuk ditransmisikan via kabel, pilihan terakhir adalah Pos Uap dan Udara—surat-surat tebal berstempel lilin yang diangkut oleh kapal nirmesin atau kapal terbang amfibi (flying boat) yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke seberang lautan.
Bab 12: Cakrawala dan Sekstan
Keterbatasan komunikasi jarak jauh berbanding lurus dengan kerumitan dunia navigasi. Sore itu, Aris menumpang trem kabel menuju kawasan pelabuhan untuk menemui rekannya, seorang perwira navigasi kapal niaga bernama Kapten Hendra. Di pelabuhan, jajaran tiang kapal dan cerobong asap kapal uap tampak membelah langit senja.
Di dalam kabin kemudi kapal, Aris tidak menemukan monitor layar sentuh, peta digital, ataupun perangkat Penentu Posisi Global (GPS). Tidak ada radar elektronik yang memancarkan pendaran hijau untuk mendeteksi keberadaan badai atau daratan di balik kabut tebal.
"Navigasi kami di samudra lepas sepenuhnya bergantung pada benda langit, Peta Kelautan Admiralty, dan ketepatan kronometer mekanis," kata Kapten Hendra seraya menunjukkan sebuah instrumen kuningan berukir yang tersimpan anggun di dalam kotak kayu jati. "Ini adalah sekstan. Saat malam tiba dan awan menyingkap langit, kami mengukur sudut ketinggian bintang Polaris atau Bintang Pari dari garis horison untuk menentukan posisi bujur dan lintang kapal."
Di udara, para penerbang pesawat komersial pun mengarahkan burung besi mereka dengan prinsip yang sama. Mereka terbang melintasi benua dengan membaca kontur sungai, jalur kereta api, serta puncak gunung melalui jendela kokpit. Ketika malam gelap gulita membungkus bumi, keselamatan penerbangan dan pelayaran diserahkan penuh pada menara suar yang berputar di sepanjang garis pantai dan puncak bukit.
Tanpa adanya kendali otomatis dari mikroprosesor, setiap penerbangan dan pelayaran adalah wujud keberanian murni, intuisi alam, serta perhitungan matematis manual yang sahih. Seorang navigator bukan sekadar pengawas layar, melainkan seorang ahli astronomi dan kartografi yang mempertaruhkan nyawa demi menjaga arah di tengah ganasnya alam.
Bab 13: Jejak Angka yang Rompang
Sekembalinya ke meja kerja di Bank Sentral pada malam hari, suasana aula utama telah sepi. Lampu-lampu gantung memberikan pendaran cahaya kuning hangat yang menimpa tumpukan buku besar di meja Aris. Berbekal dokumen warkat tanah tahun 1948 dari Gedung Arsip serta laporan rekapitulasi energi dari Pembangkit Listrik Kota, Aris mulai menyelaraskan neraca anggaran pasokan listrik untuk jaringan pabrik dan trem kota.
Aris memutar engkol Aritmometer-nya dengan ritme yang teratur: krii-klak, krii-klak. Jemari kirinya menelusuri deretan angka pada lembaran kertas kalkulasi bulanan.
Namun, pada putaran engkol yang ke-140, gerakan tangan Aris terhenti seketika.
Mata Aris terpaku pada angka akumulasi di panel Aritmometer. Ada yang tidak beres. Ia mengusap matanya, lalu menghitung ulang menggunakan sempoa di sisinya: klak-klik, klak-klik. Biji-biji kayu digeser dengan cepat, dikelompokkan berdasarkan satuan, puluhan, dan ribuan. Hasilnya tetap sama.
Terjadi selisih perhitungan yang sangat menganga. Terdapat deviasi sebesar jutaan megawatt-jam antara energi listrik yang diproduksi oleh stasiun pembangkit uap utama dengan jumlah energi yang terdaftar dalam penerimaan kas daerah serta konsumsi riil industri. Dalam sistem fisik kota, daya listrik sebesar itu cukup untuk menerangi seluruh kota selama tiga bulan penuh.
Namun, di dalam laporan keuangan manual, daya listrik raksasa tersebut menguap begitu saja tanpa jejak—bagaikan hilang ditelan bumi.
Bab 14: Kebocoran di Balik Kertas
Aris menarik napas panjang, merasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang. Ia membeberkan lima lembar peta jaringan distribusi listrik dan tiga buku kas besar di atas mejanya. Dengan bantuan jangka dan penggaris kuningan, ia mulai memetakan alur distribusi energi secara visual di atas kertas grafik.
Di sinilah celah fatal dari sebuah peradaban berbasis kertas terungkap. Karena seluruh pencatatan dilakukan secara manual oleh ratusan juru catat di tingkat distrik, laporan pasokan energi memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dikompilasi hingga sampai ke meja pusat. Celah waktu yang panjang ini, ditambah dengan akumulasi kesalahan pembulatan angka di atas kertas karbon, telah dimanfaatkan oleh pihak tak dikenal untuk menyembunyikan kebocoran data pasokan yang sangat terstruktur.
"Seseorang telah memanipulasi angka-angka ini secara bertahap," gumam Aris dengan suara bergetar. "Satu angka dikurangi di distrik barat, setengah angka disamarkan di distrik selatan... Dalam jangka waktu lima tahun, ini adalah penyedotan energi secara ilegal dalam skala raksasa."
Di dunia tanpa komputer, peretasan tidak dilakukan melalui kode program atau perangkat perusak (malware). Peretasan terjadi di dalam benak manusia—melalui permainan pena, pengalihan dokumen fisik, dan pemanfaatan kelelahan mata para juru catat senior seperti dirinya.
Aris menyandarkan tubuhnya, menatap keluar jendela tinggi Bank Sentral. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak berkedip menembus kegelapan malam. Ia menyadari bahwa di balik keindahan dan keteraturan roda gigi, kertas karbon, dan jaringan kawat tembaga ini, ada sebuah kejahatan terselubung yang bekerja sangat rapi. Dan hanya melalui ketelitian tangan serta keandalan otaknya, kebocoran raksasa yang mengancam kestabilan energi kota ini dapat diungkap hingga ke akarnya.
No Response to "Dunia tanpa komputer (bagian-4)"
Posting Komentar
Terima kasih...