Arunika merekah di ufuk Kota Nusantara, menyepuh mahkota gedung-gedung beton dengan kehangatan pendar jingga keemasan. Di kota ini, udara bersih dari deru statis maupun dengung pampat yang lazim merambat dari deretan peladen mahadata. Nusantara bernapas dengan ritme yang sepenuhnya purba dan berdenyut—ritme roda gigi, tembaga, uap air, dan gesekan rel besi.
Ketika Aris melangkah keluar dari serambi kediamannya, udara pagi menyergapnya dengan aroma pekat: perpaduan ganjil antara petrikor kertas, rajah tinta cetak, dan sisa jelaga dari stasiun sentral. Di sepanjang trotoar lebar yang dipayungi pepohonan rindang, tak satu pun pejalan kaki yang menunduk takluk pada gawai berlayar kaca. Tidak ada pendaran cahaya biru yang mencetak bayang muram di wajah mereka, tidak pula ada simpang siur sinyal seluler yang menembus kebisuan dinding beton.
Manusia bergerak dengan pandangan yang tak segan bersitatap. Di pangkuan dan genggaman jemari warga yang rehat di bangku taman, terhampar surat kabar cetak yang tebal. Lembar-lembar lapang itu bergemerisik lembut, seolah saling berbisik saat disapa angin pagi. Aris mengangguk takzim menyapa Pak Broto, loper koran uzur di sudut jalan yang menata tumpukan edisi harian dengan telaten. Pagi ini, berita utama mengenai peresmian jalur kereta uap antarkota mendominasi halaman muka, tepercik dalam rupa huruf cetak timbul yang tegas dan legam.
Bab 2: Denyut Jalanan Tanpa Mikroprosesor
Aris melangkah menuju persimpangan utama. Lanskap lalu lintas di kota ini mementaskan orkestrasi mekanis murni. Di atas aspal yang membentang mulus, deru kendaraan berseliweran dengan jujur; bahasa mesin yang dapat dieja oleh setiap montir jalanan. Kendaraan-kendaraan ini—baik yang menenggak bensin maupun meraup daya baterai murni—dirangkai sepenuhnya tanpa Unit Pengendali Mesin (ECU). Tidak ada sirkuit terpadu, tiada komputer penakar injeksi, dan raib sudah layar navigasi yang berpendar manja.Segalanya tunduk pada dalil fisika yang telanjang: karburator yang menghirup udara dan bahan bakar secara mekanis, sistem pengapian distributor berbekal platina, serta roda gigi manual yang menuntut kepiawaian mutlak dari jemari sang pengemudi. Di sisinya, trem kabel berdenting nyaring setiap kali tuas bajanya ditarik, meluncur anggun di atas rel yang membelah jantung kota. Di kejauhan, cerobong lokomotif lintas wilayah menyemburkan napas asap tipis ke angkasa, memekikkan siulan tajam yang menandai migrasi para penglaju pagi.
Kota ini tak takluk pada algoritma nirkasatmata, melainkan berpijak teguh pada presisi roda gigi, regangan pegas, dan keandalan budi daya manusia. Aris mengawasi seorang pengemudi mobil listrik lawas yang menyingkap kap mesin di tepi jalan. Tanpa pemindai digital penentu kerusakan, pria itu hanya bermodalkan sebelah kunci pas dan ketajaman mata untuk menakar sakelar kumparan. Di sini, segala hal tampil kasatmata, tuntas, dan berwujud nyata.
Bab 3: Jejak Transaksi dan Jaringan
Memasuki kawasan niaga, Aris membelokkan langkah ke sebuah kedai roti legendaris yang bersandar di bibir alun-alun. Di dalam ruangan, semerbak gandum yang baru diangkat dari perapian langsung menguar pekat. Saat tiba gilirannya memesan, Aris tidak mengeluarkan kartu plastik nirsentuh, apalagi memindai kode maya. Ia merogoh saku mantelnya, mengulurkan beberapa lembar uang kertas dan koin perak yang berdenting mantap di atas pualam meja kasir.Sang puan kasir tersenyum ramah, tangannya lincah menari di atas mesin hitung dari logam berlapis kuningan. Tombol-tombol angkanya ditekan dan membalas dengan bunyi ketak-ketuk yang ritmis, dipuncaki dentang bel nyaring kala laci kayu jati itu terpental terbuka. Di meja sebelah, seorang saudagar tengah menuntaskan perkara sewa-menyewa menggunakan cek kertas tebal, digores dengan pena celup bertinta hitam legam. Setiap riwayat pertukaran harta tercatat abadi dalam buku besar bersampul kulit—sebuah benteng arsip fisik yang mustahil runtuh hanya karena mati listrik atau retasan peretas.
Usai menyesap sarapannya, Aris menghampiri bilik telepon umum berkabin kayu mahoni di sudut jalan. Di dalamnya bertengger pesawat telepon bakelit hitam yang pejal bersanding dengan cakram putarnya.
Aris menyuapkan sekeping koin perunggu, lalu memutar cakram angka itu satu per satu: sret... klak, sret... klak.
Di ujung saluran, desis statis merambat pelan sebelum akhirnya dikaitkan ke Kantor Telepon Pusat. Seorang operator—wanita bernama Maya yang duduk menghadapi papan sambung raksasa berhias belukar palam penghubung—menyapa dengan vokal yang hangat dan utuh.
"Kantor Pusat Telepon. Ke wilayah mana panggilan ini hendak ditautkan, Tuan?" sapanya sopan.
"Tolong tautkan saya dengan nomor 4-8-2 di Distrik Timur," jawab Aris santai.
Di ruang kendali pusat, jemari lentik Maya seketika mencabut palam kawat jantan, menancapkannya pas ke dalam soket tujuan di atas panel tembaga. Getar dering pun melesat melintasi jaringan kawat yang merajut tiang-tiang kayu kota, menjembatani dua manusia lewat rambatan frekuensi nyata yang dikendarai arus listrik.
Tidak ada pesan instan yang terbang dalam sekejap mata, tidak ada hujan notifikasi yang memberondong atensi, dan tiada lagi keterasingan di balik pendaran layar gawai. Di dunia yang melupakan komputer ini, sang waktu berjalan selaras dengan helaan napas manusia; sebuah era di mana setiap bait percakapan bernilai mahal karena menuntut kehadiran, kesabaran, dan segenap jiwa yang utuh.
konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog dalam rangka lomba blog OmJay
Ketika Aris melangkah keluar dari serambi kediamannya, udara pagi menyergapnya dengan aroma pekat: perpaduan ganjil antara petrikor kertas, rajah tinta cetak, dan sisa jelaga dari stasiun sentral. Di sepanjang trotoar lebar yang dipayungi pepohonan rindang, tak satu pun pejalan kaki yang menunduk takluk pada gawai berlayar kaca. Tidak ada pendaran cahaya biru yang mencetak bayang muram di wajah mereka, tidak pula ada simpang siur sinyal seluler yang menembus kebisuan dinding beton.
Manusia bergerak dengan pandangan yang tak segan bersitatap. Di pangkuan dan genggaman jemari warga yang rehat di bangku taman, terhampar surat kabar cetak yang tebal. Lembar-lembar lapang itu bergemerisik lembut, seolah saling berbisik saat disapa angin pagi. Aris mengangguk takzim menyapa Pak Broto, loper koran uzur di sudut jalan yang menata tumpukan edisi harian dengan telaten. Pagi ini, berita utama mengenai peresmian jalur kereta uap antarkota mendominasi halaman muka, tepercik dalam rupa huruf cetak timbul yang tegas dan legam.
Bab 2: Denyut Jalanan Tanpa Mikroprosesor
Segalanya tunduk pada dalil fisika yang telanjang: karburator yang menghirup udara dan bahan bakar secara mekanis, sistem pengapian distributor berbekal platina, serta roda gigi manual yang menuntut kepiawaian mutlak dari jemari sang pengemudi. Di sisinya, trem kabel berdenting nyaring setiap kali tuas bajanya ditarik, meluncur anggun di atas rel yang membelah jantung kota. Di kejauhan, cerobong lokomotif lintas wilayah menyemburkan napas asap tipis ke angkasa, memekikkan siulan tajam yang menandai migrasi para penglaju pagi.
Kota ini tak takluk pada algoritma nirkasatmata, melainkan berpijak teguh pada presisi roda gigi, regangan pegas, dan keandalan budi daya manusia. Aris mengawasi seorang pengemudi mobil listrik lawas yang menyingkap kap mesin di tepi jalan. Tanpa pemindai digital penentu kerusakan, pria itu hanya bermodalkan sebelah kunci pas dan ketajaman mata untuk menakar sakelar kumparan. Di sini, segala hal tampil kasatmata, tuntas, dan berwujud nyata.
Memasuki kawasan niaga, Aris membelokkan langkah ke sebuah kedai roti legendaris yang bersandar di bibir alun-alun. Di dalam ruangan, semerbak gandum yang baru diangkat dari perapian langsung menguar pekat. Saat tiba gilirannya memesan, Aris tidak mengeluarkan kartu plastik nirsentuh, apalagi memindai kode maya. Ia merogoh saku mantelnya, mengulurkan beberapa lembar uang kertas dan koin perak yang berdenting mantap di atas pualam meja kasir.
Sang puan kasir tersenyum ramah, tangannya lincah menari di atas mesin hitung dari logam berlapis kuningan. Tombol-tombol angkanya ditekan dan membalas dengan bunyi ketak-ketuk yang ritmis, dipuncaki dentang bel nyaring kala laci kayu jati itu terpental terbuka. Di meja sebelah, seorang saudagar tengah menuntaskan perkara sewa-menyewa menggunakan cek kertas tebal, digores dengan pena celup bertinta hitam legam. Setiap riwayat pertukaran harta tercatat abadi dalam buku besar bersampul kulit—sebuah benteng arsip fisik yang mustahil runtuh hanya karena mati listrik atau retasan peretas.
Usai menyesap sarapannya, Aris menghampiri bilik telepon umum berkabin kayu mahoni di sudut jalan. Di dalamnya bertengger pesawat telepon bakelit hitam yang pejal bersanding dengan cakram putarnya.
Aris menyuapkan sekeping koin perunggu, lalu memutar cakram angka itu satu per satu: sret... klak, sret... klak.
Di ujung saluran, desis statis merambat pelan sebelum akhirnya dikaitkan ke Kantor Telepon Pusat. Seorang operator—wanita bernama Maya yang duduk menghadapi papan sambung raksasa berhias belukar palam penghubung—menyapa dengan vokal yang hangat dan utuh.
"Kantor Pusat Telepon. Ke wilayah mana panggilan ini hendak ditautkan, Tuan?" sapanya sopan.
"Tolong tautkan saya dengan nomor 4-8-2 di Distrik Timur," jawab Aris santai.
Di ruang kendali pusat, jemari lentik Maya seketika mencabut palam kawat jantan, menancapkannya pas ke dalam soket tujuan di atas panel tembaga. Getar dering pun melesat melintasi jaringan kawat yang merajut tiang-tiang kayu kota, menjembatani dua manusia lewat rambatan frekuensi nyata yang dikendarai arus listrik.
Tidak ada pesan instan yang terbang dalam sekejap mata, tidak ada hujan notifikasi yang memberondong atensi, dan tiada lagi keterasingan di balik pendaran layar gawai. Di dunia yang melupakan komputer ini, sang waktu berjalan selaras dengan helaan napas manusia; sebuah era di mana setiap bait percakapan bernilai mahal karena menuntut kehadiran, kesabaran, dan segenap jiwa yang utuh.
Sekolah sejatinya adalah rumah
kedua. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, inklusif, dan
bebas dari segala bentuk ancaman agar proses penyerapan ilmu serta pembentukan
karakter dapat berjalan optimal. Untuk menjamin hal ini, pemerintah
melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) telah menetapkan regulasi tegas mengenai pencegahan
kekerasan. Merujuk pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP),
terdapat 6 (enam) kategori kekerasan yang dilarang keras terjadi di lingkungan
sekolah. Sebagai pendidik, saya ingin mengajak Anda semua untuk mengenali
kategori-kategori tersebut agar kita bisa bersama-sama melakukan pencegahan.
Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:
1. Kekerasan Fisik
Ini adalah bentuk kekerasan yang
paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku
terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal
- hal yang dimaksud adalah Memukul, menendang, perkelahian, tawuran,
penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan
sekolah.
2. Kekerasan Psikis
Berbeda dengan kekerasan fisik,
kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak
fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau
membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain Pengucilan,
penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan
yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.
3. Perundungan (Bullying)
Perundungan merupakan irisan
dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik
utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan
relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa
daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior
yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat.
4. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual mencakup
setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang
bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi
secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya Pelecehan
fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto
pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki
nuansa seksual.
5. Diskriminasi dan Intoleransi
Lingkungan belajar harus
menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi
ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan
hak peserta didik. hal yang termasuk ke dalam kateori ini adalah, membeda-bedakan
perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit,
jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan
intelektual, mental, sensorik, dan fisik).
6. Kebijakan yang Mengandung
Kekerasan
Kategori ini sering kali luput
dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung
kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis)
di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya
kekerasan. Contonya antara lain Peraturan sekolah yang mewajibkan
hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi
sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
Mencegah kekerasan bukan hanya
tugas kepala sekolah atau guru bimbingan konseling, melainkan tanggung jawab
kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam
bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan
ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.
Naskah resmi oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:
1. Kekerasan Fisik
Ini adalah bentuk kekerasan yang
paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku
terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal
- hal yang dimaksud adalah Memukul, menendang, perkelahian, tawuran,
penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan
sekolah.
2. Kekerasan Psikis
Berbeda dengan kekerasan fisik,
kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak
fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau
membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain Pengucilan,
penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan
yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.
3. Perundungan (Bullying)
Perundungan merupakan irisan
dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik
utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan
relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa
daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior
yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat.
Kekerasan seksual mencakup
setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang
bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi
secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya Pelecehan
fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto
pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki
nuansa seksual.
5. Diskriminasi dan Intoleransi
Lingkungan belajar harus
menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi
ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan
hak peserta didik. hal yang termasuk ke dalam kateori ini adalah, membeda-bedakan
perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit,
jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan
intelektual, mental, sensorik, dan fisik).
6. Kebijakan yang Mengandung
Kekerasan
Kategori ini sering kali luput
dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung
kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis)
di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya
kekerasan. Contonya antara lain Peraturan sekolah yang mewajibkan
hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi
sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
Mencegah kekerasan bukan hanya tugas kepala sekolah atau guru bimbingan konseling, melainkan tanggung jawab kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.
Setelah kita
mengetahui pengertian Fatherless dan dampak serta akibat yang
ditimbulkan dari hal ini pada tulisan saya Cara Pendidik membantu Siswa -
Siswi "Fatherless" pada bagian satu dan bagian kedua. Maka hal –
hal berikut kita dapat berikan pemahaman dan pengertian yang cukup terkait hal
ini.
1. Jika seorang anak laki – laki
kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria adalah, coba
memberi pemahaman dan konsep – konsep sebagai pria. Misalnya konsep bagaimana
seorang laki – laki harus bisa memperbaiki benda – benda juga meminta maaf dan
memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana
memperlakukan Perempuan dengan baik misalnya tidak memaki dan tidak memukul
perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapihan serta tanggung jawab
sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai nilai
sebagai laki – laki anti merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak
beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan
pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di
depan umum. Serta memberikan kegiatan – kegiatan yang baik dan benar sebagai
laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh – contoh kebaikan dan Tindakan terpuji.
Sehingga mereka memiliki Gambaran seorang ayah dan Gambaran Pria yang tepat.
2. Jika seorang guru Perempuan memberikan contoh kepada murid laki – laki. Berikan mereka penjelasn bagaimana jadi imam dan kepala keluarga yang baik. Berikan konsep saying kepada keluarga baik kepada kakak atau adiknya, kepada ibunya. Berikan cara – cara yang tepat melindungi Perempuan dan anak – anak (atau adik kelasnya jika di sekolah). Berikan contoh kasih sayang seorang ibu yang peduli anaknya. Ciptakan rasa memiliki keluarga yang baik dan tepat. Ajarkan cara mencuci baju atau mencuci piring sehingga mereka tidak menganggap itu pekerjaan Perempuan saja. Ajarkan juga menjaga kebersihan rumah (dan sekolah jika di kelas dan sekolahnya) agar mereka paham bahwa menjaga kebersihan adalah tugas tidak hanya Perempuan saja.
3. Jika seorang siswa atau siswi
tidak hanya punya sosok ayah, namun membeci perilaku buruk ayahnya dan tidak
menginginkan sosok ayah sama sekali. Jika hal seperti ini terjadi, coba
dengarkan konsep seorang ayah dari mereka. gali pengetahuan kenapa mereka
membenci sosok ayah dalam hidup mereka. setelah itu pelan – pelan di jelaskan
bagaimana sosok ayah yang benar seharusnya. Jika mereka tidak terima sosok ayah
yang positif, jangan dipaksakan atau dibantah langsung bahwa mereka harus menerima
sosok ayah dalam hidup mereka. Tujuannya adalah bukan mereka dipaksa menerima
langsung namun pelan – pelan diajak melihat hal – hal positif di ayah yang
mereka lihat di rumah atau dalam keseharian mereka. Mereka jangan sampai dibiarkan
membenci ayahnya, baik ayah kandung yang dibenci karena cerai dan meninggalkan
mereka ataupun ayah yang dibenci karena misalnya perilaku negatifnya (memukul, merokok
parah, minum-minuman alcohol, dan lain – lain). Berikan konsep, jika ayah
mereka demikian maka tetap harus berperilaku baik agar mereka tidak memiliki
kepahitan hidup dengan kondisi ayah mereka. jika anak laki – laki yang
membenci, berikan bahwa kelak mereka tidak berprilaku demikian kepada anak
mereka, jadikan mereka pemutus mata rantai kebencian. Jika anak Perempuan yang
membenci sosok ayah mereka, berikan mereka penjelasan contoh kasih sayang yang benar dan
berikan gambaran positif sosok orangtua yang baik dan tepat. Jadi kelak jika
mereka memilih pasangan, menemukan sosok pria yang tepat dan bukan laki – laki yang
mungkin “bermasalah” dalam hidup mereka.



