Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama
satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri
saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, Impian memiliki
lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu
cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat
itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar
tidak merasa bersalah. Saat muda Adalah saat mencoba keberanian dan kemauan
belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul saya coba menapaki
membangun sebuah tempat kursus sendiri walau dengan akhir kegagalan kecil, karena
memang modal dengkul. Tanpa karyawan dan saya usaha sendiri. Tapi setelah
dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya
saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.
Setelah itu saya tetap menjalani diri sebagai tutor
dan instruktur komputer sesuai ilmu dasar saya. Namun juga mengasah mengajar
ilmu Bahasa Inggris dengan keahlian saya karena yakin English saya cukup dengan
TOEFL diatas 450 poin kala itu di usia 25tahun. Maka di usia 27 tahun saya
memberanikan diri mengajak English dari Tingkat anak – anak SD dahulu, lalu
naik ke Tingkat – Tingkat diatasnya. Sehingga dalam 1-2 tahun saya sudah mampu
mengajar English untuk SMA dan dewasa yang level dasar. Sambil tentu saja di
tahun yang sama saya mengajar komputer semua jenjang usia bahkan sampai lansia/pensiunan.
Ada satu kisah
yang saya bisa ambil dari murid paling tua saya saat itu. Usianya sudah 70tahun,
mantan Angkatan Laut yang sudah bergabung di LVRI Tingkat Jakarta Timur saat
itu. Beliau jiwanya masih pejuang betul saya rasakan, masih mau menulis sebuah
buku autobiografi tentang dirinya sendiri. Minimal bukunya bisa diterbitkan dan
diberikan ke anak – anak atau cucunya kelak begitu pesannya. Syukur – Syukur bisa
diberikan ke LVRI atau ke pihak lain yang berminat memperbanyak. Misi saya
hanya satu menurut beliau, membantu merapihkan tulisan dan teks yang beliau
buat di Microsoft Word, menata tulisannya agar rapih, mengecek tulisan di Word.
Beliau ini murid paling disiplin saya pernah ajarkan. Waktu sesibuk apapun
beliau, di pastikan minta di damping menulis karya-nya. Beliau suka bercerita
masa mudanya di Angkatan Laut, tugas – tugasnya di Irian Jaya, di wilayah -
wilayah Indonesia kala itu. Termasuk tugas menjelang masa pensiunnya saat
berkantor dan diminta menjemput rekan – rekan yang terbunuh dan dikembalikan ke
Indonesia dari Negeri sebrang di era Orde Lama yang baru bisa dikebumikan ulang
di era orde baru. Sebuah tugas berat mengatur pemulangan dan negosiasi saat itu
antar negara, antar daerah sehingga bisa dikembalikan ke keluarga masing –
masing di berbagai daerah setelah puluhan tahun. Beliau bercerita apapun yang
jadi tugasnya saat itu. Namun itu hendak dijadikan buku dan misi saya tetap
sama, memastikan tulisan beliau se akurat mungkin jika harus naik cetak kelak.
Sebuah kebanggan saya kala itu, tidak punya tempat kursus namun bisa membantu
salah satu pejuang era Orde Lama dan era Orde Baru sekaligus.
Namun saat itu ada panggilan
lain bagi saya untuk terus mengajar tidak hanya beliau, tetap ada semangat
untuk mengajar anak – anak muda. Kala itu Istilah Indonesia Emas 2045 baru
terdengar, konsep untuk masa depan negara yang lebih baik untuk generasi
selanjutnya. Maka saya setelah melatih Veteran ini, saya tetap sediakan
mengajar English dan Komputer untuk anak – anak di lembaga Pendidikan yang
dahulu dan sambil mencari lembaga pendidikan lain di Jakarta Utara. Kebetulan Kawan
dulu marketing, memberikan sebuah awalan untuk mengajar di daerah Mangga Dua, Jakarta
Utara. Wilayah baru dengan kondisi masyarakatnya yang tentu 100% berbeda. Di sini
saya mengajar English 5 bocah keturunan usia sekolah SD. Tentu mereka di awal
merasa saya berbeda dengan mereka, namun pelan tapi pasti kedekatan mereka
dengan saya bertumbuh. Saya sudah dianggap kakak oleh mereka berlima. Ini pun
bukan pengalaman saya mengajar siswa sekolah dasar di lembaga, jadi saya paham
betul pendekatan dengan cara belajar mereka. Belajar dahulu, sambil main
kemudian. Sambil sesekali memberi mereka hadiah makanan ringan atau sekedar teh
segar sesekali jika kenaikan Tingkat di kelas. Memberi mereka kebanggaan bahwa
mereka berhasil naik ke jenjang kelas lebih tinggi. Karena secara ekonomi,
mereka jauh lebih mampu, kalau adu harga jajanan mereka pasti saya kalah. Namun
mendekati mereka agar mau belajar dan terus mau belajar setiap seminggu 2 kali Adalah
tantangan unik. Membuat mereka rajin datang saja sudah perlu usaha, mereka
datang bukan disiruh mami atau papi nya lagi, tapi karena kemauan sendiri.
Ada satu kisah
yang saya bisa ambil dari murid paling tua saya saat itu. Usianya sudah 70tahun,
mantan Angkatan Laut yang sudah bergabung di LVRI Tingkat Jakarta Timur saat
itu. Beliau jiwanya masih pejuang betul saya rasakan, masih mau menulis sebuah
buku autobiografi tentang dirinya sendiri. Minimal bukunya bisa diterbitkan dan
diberikan ke anak – anak atau cucunya kelak begitu pesannya. Syukur – Syukur bisa
diberikan ke LVRI atau ke pihak lain yang berminat memperbanyak. Misi saya
hanya satu menurut beliau, membantu merapihkan tulisan dan teks yang beliau
buat di Microsoft Word, menata tulisannya agar rapih, mengecek tulisan di Word.
Beliau ini murid paling disiplin saya pernah ajarkan. Waktu sesibuk apapun
beliau, di pastikan minta di damping menulis karya-nya. Beliau suka bercerita
masa mudanya di Angkatan Laut, tugas – tugasnya di Irian Jaya, di wilayah -
wilayah Indonesia kala itu. Termasuk tugas menjelang masa pensiunnya saat
berkantor dan diminta menjemput rekan – rekan yang terbunuh dan dikembalikan ke
Indonesia dari Negeri sebrang di era Orde Lama yang baru bisa dikebumikan ulang
di era orde baru. Sebuah tugas berat mengatur pemulangan dan negosiasi saat itu
antar negara, antar daerah sehingga bisa dikembalikan ke keluarga masing –
masing di berbagai daerah setelah puluhan tahun. Beliau bercerita apapun yang
jadi tugasnya saat itu. Namun itu hendak dijadikan buku dan misi saya tetap
sama, memastikan tulisan beliau se akurat mungkin jika harus naik cetak kelak.
Sebuah kebanggan saya kala itu, tidak punya tempat kursus namun bisa membantu
salah satu pejuang era Orde Lama dan era Orde Baru sekaligus.
Namun saat itu ada panggilan
lain bagi saya untuk terus mengajar tidak hanya beliau, tetap ada semangat
untuk mengajar anak – anak muda. Kala itu Istilah Indonesia Emas 2045 baru
terdengar, konsep untuk masa depan negara yang lebih baik untuk generasi
selanjutnya. Maka saya setelah melatih Veteran ini, saya tetap sediakan
mengajar English dan Komputer untuk anak – anak di lembaga Pendidikan yang
dahulu dan sambil mencari lembaga pendidikan lain di Jakarta Utara. Kebetulan Kawan
dulu marketing, memberikan sebuah awalan untuk mengajar di daerah Mangga Dua, Jakarta
Utara. Wilayah baru dengan kondisi masyarakatnya yang tentu 100% berbeda. Di sini
saya mengajar English 5 bocah keturunan usia sekolah SD. Tentu mereka di awal
merasa saya berbeda dengan mereka, namun pelan tapi pasti kedekatan mereka
dengan saya bertumbuh. Saya sudah dianggap kakak oleh mereka berlima. Ini pun
bukan pengalaman saya mengajar siswa sekolah dasar di lembaga, jadi saya paham
betul pendekatan dengan cara belajar mereka. Belajar dahulu, sambil main
kemudian. Sambil sesekali memberi mereka hadiah makanan ringan atau sekedar teh
segar sesekali jika kenaikan Tingkat di kelas. Memberi mereka kebanggaan bahwa
mereka berhasil naik ke jenjang kelas lebih tinggi. Karena secara ekonomi,
mereka jauh lebih mampu, kalau adu harga jajanan mereka pasti saya kalah. Namun
mendekati mereka agar mau belajar dan terus mau belajar setiap seminggu 2 kali Adalah
tantangan unik. Membuat mereka rajin datang saja sudah perlu usaha, mereka
datang bukan disiruh mami atau papi nya lagi, tapi karena kemauan sendiri.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan https://wijayalabs.com
