--

Jika hari ini saya memilih berdiri di depan kelas, di
depan anak - anak sekolah. Bukan hal pertama yang saya lakukan, bukan juga
sepuluh tahun lalu. Bukan pula karena paksaan nasib atau alasan ekonomi. Saya
percaya ini rencana TUHAN, panggilan yang saya harus lakukan bukan demi saya
pribadi, mungkin demi orang banyak.
Saya pertama kali mendidik, atau lebih sederhana, mengajar bukan di sebuah
sekolah, bukan di sebuah lembaga pendidikan. Namun di
kampus, sebagai tim LitBang (Pelatihan dan Pengembangan) salah satu bagian dari
tim di bawah Perkumpulan Mahasiswa. Sepenuhnya alasan saya diberikan bagian ini,
100% tidak saya pahami.
Saya dulu, sejak SD sampai lulus SMA, adalah siswa biasa
dengan keberanian hampir nol besar jika diminta maju, karena sering demam
panggung dan gemetar. Namun nilai rapor saya memang tidak jelek - jelek sekali, kisaran 10
besar sampai 2 besar di kelas sejak SD sampai lulus SMA. Anggaplah introvert
tapi lumayan tidak kosong kalau pakai istilah kekiniannya. Diberikan amanah
sebagai litbang yang menyiapkan materi pelatihan, menyiapkan lab komputer
dengan segala perangkat keras dan perangkat lunak. Menyiapkan diri sesekali
jika diminta kakak senior untuk menjadi asistennya jika diperlukan. Inilah mungkin dasar
dan pertama kali saya memegang apa yang disebut mengajar atau melatih orang -
orang seusia saya atau di bawah umur saya.
Setelah magang, mencari pengalaman sesuai passion dan ilmu di kampus
ternyata melalui PKL masih sulit. Terlebih ditempatkan di divisi marketing sebuah sole agent perusahaan mobil berbahan bakar solar saat itu di bawah grup Astra di wilayah Sunter, Jakarta Utara, cukup membuat kaget. Dengan ilmu minim di komputer, namun diharuskan belajar alat-alat elektronik semacam faksimile, mesin fotokopi, komputer yang sudah lebih canggih yang kampus belum miliki. bagian PKL dan
magang saat itu pun di divisi Marketing Support yang saya belum pernah dapat
konsepnya. Magang pun hanya jadi keseharian tanpa ada mendapat ilmu apapun.
Selepas magang selesai dan lulus kuliah pun, saya mendapati beberapa kali panggilan kerja dan kesempatan interview, Tidak serta-merta ilmu komputer saya dilihat sebagai sebuah keahlian yang cukup mendukung kepercayaan bagian HRD untuk menerima saya. Padahal IPK 3.01 lebih tinggi dibandingkan dengan 19 teman
seangkatan saya, walau masih kalah dengan 3 orang lainnya. Jadi, jika ada istilah nilai tertinggi, itu tidak menjamin seseorang mudah mendapatkan pekerjaan. HRD era
modern tidak butuh 100% orang pintar dan nilai tinggi, ada hal lain di luar
angka - angka itu. Itu pun saya amini sekarang sebagai pendidik. Hal yang perlu saya jelaskan dan berikan pemahamannya dengan lebih baik kepada siswa-siswi saya, walau mereka masih di tingkat SMP. Bahwa pintar itu perlu, namun memiliki keahlian - keahlian yang beragam atau sesuai cita - cita atau hal positif juga di perlukan di masa depan.
Pekerjaan saya di bidang pendidikan, namun bukan di sekolah sebagai guru.
Sebagai instruktur atau tutor, sebuah lembaga pendidikan ternama yang
pusatnya di Jakarta Timur. Cabangnya berjumlah ratusan dengan konsep franchise
yang tersebar di Indonesia. Sebuah pekerjaan selama kurang lebih 3 tahun yang
memberi saya banyak ilmu baru, bahkan yang belum saya dapatkan di kampus.
Adapun jika sudah dapat di kampus, di tempat kerja ini ilmu saya bertambah
lebih banyak dan menjadi semakin mahir. Bahkan ilmu tingkat manajerial seperti jabatan Supervisor dan
asisten manajer Cabang. Ilmu tentang bagaimana merekrut, menangani bawahan
mulai dari 3 orang hingga 20 orang pada waktu yang bersamaan dalam satu tahun.
Ilmu lain pun saya dapatkan tiap bulan dengan menangani proyek-proyek
pelatihan, baik dengan sekolah negeri maupun swasta, tingkat SMP maupun SMA.
Bahkan sesekali mengatur proyek kerja sama dengan divisi atau subbagian kementerian negara di era
Presiden ke-6. Sebuah ilmu yang menambah kepercayaan diri saya.
No Response to "Panggilan Jiwa yang tidak pernah padam (bagian-1)"
Posting Komentar
Terima kasih...