--
0


         Guru, "di gugu dan di tiru", mungkin ini salah satu hal yang pernah kita dengar dari rekan sesama guru. Dulu juga guru kita pernah memberi kata ini kepada kita, sebuah konsep nilai diri sebagai panutan. bukan hanya di kelas, namun juga di sekolah dan bahkan di masyarakat. Dahulu banyak guru kita mungkin juga tetangga kita atau bahkan masih dekat dengan keluarga kita, mungkin sanak saudara dari keluarga besar kita. Kita bersekolah di kampung yang kita kenal baik pendidiknya, karena masih satu kampung yang sama. jadi mereka sangat menjaga sikap dan perilaku di kampung tersebut.

Mungkin ada juga, kita bersekolah karena orangtua kita, mengenal watak dan perilaku guru yang mengajar kita saat itu. Jadi semacam ada rasa kepercayaan agar kita sebagai anaknya mendapat guru yang orangtua kita sudah sangat akrab dengan orangtua kita. Karena perilaku dan watak mereka yang baik, yang penuh contoh nilai - nilai moral yang diakui sebuah keluarga atau sebuah kampung yang sama. Jadi sering kali Guru yang mendidik kita karena ada kesamaan nilai - nilai yang orangtua kita anut. Pendidikan yang berdasarkan kepercayaan satu sama lain, atas kesamaan jiwa dan hati. Antara Orangtua dan Guru memiliki kesamaan perasaan dan saling memahami.

Sebuah hal yang mungkin sedikit demi sedikit mulai bergeser saat ini. Karena sekarang bersekolah terkadang karena kemampuan ekonomi atau keinginan orangtua mencapai nilai tertinggi dan prestasi terbaik bagi putra - putrinya. Ada juga karena fasilitasnya yang dianggap mewah dan lingkungan pertemanannya yang elit bagi orang tua, bukan lagi melihat kebutuhan anak. Bisa juga karena kesulitan ekonomi dari keluarga, anak di sekolahkan karena gratis tanpa biaya apapun, kalau bisa malahan dapat bonus A, B, C, D dari sekolahnya yang memang sangat manusiawi sebagai makhluk sosial. Mungkin ada juga yang sekolah karena jaraknya dekat dan tinggal jalan kaki, ini terutama bagi jenjang - jenjang bawah. Namun acap kali karena rasa ketidak percayaan orangtua terhadap kebiasaan putra putrinya yang dianggap suka melanggar aturan atau "dicurigai" sering bepergian tanpa kabar jika sekolahnya lepas dari pantauan mereka. Kondisi terakhir ini, bukan hanya di jenjang sekolah dasar, namun di jenjang menegah dan atas. Bahkan acapkali di jenjang politeknik atau universitas, orangtua tidak percaya anak yang mereka lahirkan dan besarkan dianggap bayi besar yang tidak bisa dipercaya dan dibri kepercayaan lebih.

Ini lah juga yang membuat Guru atau pendidik saat ini, mengamini perilaku orangtua anak - anak tersebut untuk memberi batasan, aturan, garis yang seringkali dan acapkali cukup keras. Kadang ditemui terlalu keras, bukan buat disiplin namun juga megarah ke pemaksaan. Padahal seharusnya siswa - siswi diberikan batasan dan aturan bukan langsung, namun diberi alasan mengapa, apa dampaknya jika melanggar atau bagaimana jika terjadi hal - hal yang salah jika dilakukan. Berikan murid - murid kita alasan, dampak, resiko dan perkuat kemampuan pola pikir mereka ke depannya. Memberikan mereka, akan seperti dampak di waktu akan datang jika mereka berbuat salah atau jika mereka tidak memhami kondisi. Memang, masa depan dan perubahannya tidak ada yang tahu secara pasti, namun dengan memeberi kebebasan dan kemerdekaan berpikir, semoga kita menciptakan anak - anak dan kelak manusia - manusia yang berpikir dan berprilaku merdeka bukan karena hanya sekedar takut.

No Response to "Sudah kah Guru memberi Kemerdekaan bagi murid-muridnya?"

Posting Komentar

Terima kasih...