--
0

 



Ada celetukan seorang emak - emak super pede ke suaminya. begini katanya : "hari begini mane ade yang gratis bang, ke WC umum saja bayar seribu, dua ribu" begitu ucap nyablaknya yang saya dengar dari sedikit kejauhan. Sang suami pun dengerin dengan diam dan ngangguk mencoba memahami kemarahan sedikit istrinya yang dipahami sebagai tanda sayang mungkin.
Lalu saya kembali berpikir, benarkah demikian pikir saya. Apakah udara saya hirup ini berbayar dan akan ditagih sama sang pembuat sang tanaman atau pencipta sang pembuat yaitu TUHAN? Apakah di alam surga nanti, saya akan di tagih bon - bon tagihan atas udara saya hirup selama puluhan tahun saya di bumi? Mungkinkah saya diminta pertanggung jawaban atas hak atau kewajiban saya bernafas di dunia selama ini atau entah sampai usia kapan selesai.
Denger kata - kata ini, saya jadi deg dalam hati. Jika dunia ini semuanya benar bayar maka harusnya ke siapa? kalau ada pengusaha yang sudah kuasai udara bebas, seberapa mengerikan uang tunainya atau digit - digit angka Rupiah atau mata uangnya. Mungkin mengalahkan Elon Musk atau mega trilyuner di negeri patung liberty yang kekayaannya selalu dipantau dan di tulis di laporan kekayaan. Pengusaha yang seakan paling kaya, padahal saya yakin diatas orang kaya masih ada yg lebih orang kaya yang diam - diam atau introvert. Saya berpikir - pikir benar, bahwa apa ya yang membuat dunia ini menjadi segalanya tidak gratis dan berbayar semua seperti pikiran ibu ini. Setidaknya memahami pikiran spesial emak - emak ini atas ekonominya. Berbayar di kota kan tidak serta merta harus bayar di desa.
 
Dalam ilmu ekonomi kita pasti menganggap apa-apa yang berbayar dianggap liberalisme pasar atau istilah modernnya pasar monopoli tunggal. padahal tidak semua hal saat saya mengetik ini pun monopoli saya saat berpikir dan menyampaikan ide. udara untuk bernafas dan membagikan ide belum semuanya punya nilai yang sama mahalnya asal belum di komersialisasi. masih bisa dibagikan misalnya untuk lomba blog yg diadakan om Jay ini. Memang akan ada hadiahnya berupa nominal, namun tidak semua peserta juga akan dapat hadiah kan. Pasti ada yg setiap lomba pulang dengan tangan kosong.
Jadi semua hal di dunia ini tidak semua bayar, walau oligopoli oleh sebagian perusahaan yang itu itu saja pasti akan makin kuat dan makin sempit pemiliknya. Perusahaan sekarang terutama dari Eropa dan USA makin banyak yang semakin besar nilai saham maupun kepemilikan lahan dan alat produksinya. Namun untungnya di Republik Indonesia belum semua dimiliki oligopoli dari negara-negara maju tersebut.
 
Semisalnya, produk anti masuk angin yang punya slogan "orang pintar minum..." ini masih punya lokal sebagian sahamnya. Produk lain contohnya bagi penyuka menghirup nikmatnya lintingan tembakau buatan perusahaan "penyimpanan garam", ini juga masih kepemilikan lokal setau saya. Dua perusahaan ini masih sering membagikan cuma - cuma keuntungannya lewat dana CSR (corporate social responsibility) yang menggratiskan. Misalnya untuk dana kesehatan masyarakat atau memberikan beasiswa pendidikan atau beasiswa bagi atlit di olahraga pukul bulu.

Jadi saya masih berkesimpulan, di negeri yang katanya banyak oli tapi bukan minyak rem ini. Negeri kita masih banyak yang gratis, tentu saja tidak seperti suara dari emak-emak yang saya dengar di kisah diatas. Banyak pengusaha kita punya hati nurani punya banyak gratisan buat kita. Catatannya asalkan kita punya prestasi, punya keahlian, punya spesialisasi yang unik. Bukan sekedar bicara dan tidak berbuat apa-apa lalu bilang " di dunia ini tidak ada yang gratis".

No Response to "Benarkah di dunia ini tidak ada yang gratis?"

Posting Komentar

Terima kasih...