
Anita
bertanya pada temannya, itu si Budi kan Fatherless sambil senyam senyum
kecil. Sambil sok tau menjelaskan kosakata English kekinian menjelaskan kepada Juleha
sahabatnya. Anita menjelaskan bahwa istilah itu kata lain dari Yatim alias anak
yang ditinggal meninggal ayah kandungnya. Walaupun sudah ada ayah tiri.
Datanglah Pak Anto, beliau mulai menjelaskan di Tengah jam istirahat yang hanya
15 menit dengan konsep yang lebih tepat. Fatherless adalah kosakata baru di Indonesia, banyak kalangan pendidikan dan di
luar pendidikan belum memahami istilah ini. Adapun yang mendengar ini
menyamakan dengan istilah sugarless = sedikit gula atau tanpa gula. Jadikan
menyamakan istilah ini dengan tidak ada ayah kandung. Jikalau pun punya ayah
tiri atau ayah sambung tetap dianggap fatherless. Mungkin ini sedikit Gambaran
sederhana yang dipahami oleh banyak orang lainnya juga.
Tapi mari
kita bedah lebih lanjut istilah ini, dari sudut pandang pendidikan, ilmu
psikologis dan hal – hal lainnya. Sehingga sudut pandang kita sebagai pendidik
juga lebih dalam dan luas menanggapi istilah yang perlu lebih detail
penjabarannya.
Berapa banyak Siswa - siswi yang kita kenal sangat akrab ?
berapa yang kita tahu kehidupan aslinya ? Berapa yang kita pahami kesulitan
pikirannya dan perbedaan sifat mereka di rumah, di sekolah dan di masyarakat ? Jika sudah
mendapat informasi kondisi mereka dalam data fisik misalnya Kartu Keluarga yang
menunjukkan secara hukum bahwa ada kepala keluarga, apakah artinya siswa –
siswi kita sudah memiliki figur ayah? Sebagian pembaca pasti merasa yakin
sudah. Bagaimana jika di Kartu keluarga kolom atas kiri, no paling atas atau nomor
satu adalah benar ada nama laki – laki namun jika kita cocokkan dengan nama ayah kandung siswa – siswi kita ternyata namanya berbeda? Apakah ini juga
berlaku kata fatherless itu, setujukah kita letakkan konsep ini ke anak - anak
didik kita? Secara aturan mungkin benar anak ini tidak memiliki ayah kandung (entah
karena cerai mati atau cerai hidup). Banyak kejadian saat ini, laki – laki dewasa
usianya lebih pendek dengan rerata usia hidup dibawah 50-60 tahun. Namu nada juga,
tentu saja cerai hidup. Inilah yang sering terjadi, Ketika ayah kandung masih
hidup namun tidak pernah datang, tidak pernah menemani masa tumbuh kembang anak
– anaknya, konsep fatherless ini lah yang digunakan oleh para pakar
psikologi. Jadi bukan hanya dari sisi dokumen fisik.
Namun demikian kita akan bahas lebih detail tentang
konsep fatherless ini pada bagian kedua pada tulisan di blog ini, baik
dari sisi psikologi, hukum dan pendidikan dan catatan data dari ahli – ahli atas
temuan konsep baru ini dalam tumbuh kembang dan efek sebab akibat yang
ditimbulkan dan dampak lansung maupun tidak langsung terhadap anak didik kita,
agar kita mampu menjembatani kehidupan mereka di sekolah dan membantu prestasi
mereka di sekolah dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
No Response to "Cara Pendidik membantu Siswa - Siswi "Fatherless" (bagian-1)"
Posting Komentar
Terima kasih...