--
0

 


Berikut mungkin  sedikit kisah, beberapa kepala keluarga yang memilih antara panggilan jiwa sebagai pendidik dan tuntutan sebagai kepala. kisah yang pasti banyak di pelosok negeri. Terlepas ini adalah cerita fiktif. Namun saya yakin perjuangan seperti ini ada ribuan di kota - kota besar, hingga pelosok desa di daerah 3T di seluruh wilayah Indonesia. Kebanggan sebagai kepala keluarga dan sebagai pendidik yang sama harus menjaga moral - adab dan adat budaya serta profesionalisme yang terkadang tanpa batas di manapun berdiri di depan kelas, di sekolah dan juga di hadapan masyarakat. Di hadapan Masyarakat dan orangtua yang kondisinya berubah - ubah, ada yang mendukung dan bahkan ada yang menentang. Silahkan dibaca cerita fiktif ini :

" Di balik meja kayu tua di sudut ruang guru yang mulai pudar catnya, saya sering teringat awal mula menapaki jalan ini. Sudah bertahun-tahun masa kerja saya jalani di dunia pendidikan, mendidik ribuan anak bangsa dengan harapan mereka bisa menjadi lentera bagi Indonesia. Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian yang tulus demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, ketika gema kata merdeka berembus di setiap penjuru negeri, sebuah pertanyaan mengusik benur sanubari saya sebagai seorang guru laki-laki: apakah salah jika seorang pendidik menuntut kesejahteraan yang layak di tanah airnya sendiri?
Sebagai kepala keluarga, tanggung jawab yang saya panggul tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi. Di rumah, ada senyum anak-anak dan harapan seorang istri yang membutuhkan penghidupan yang mencukupi. Namun, kenyataan sering kali memaksa kami hidup dalam keterbatasan. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan hidup kian melonjak tinggi, sementara apresiasi terhadap profesi pendidik kerap kali terasa stagnan. Waktu yang saya curahkan dari pagi hingga petang untuk menyiapkan bahan ajar, memeriksa tugas, dan membimbing siswa seakan tidak berbanding lurus dengan ketenangan finansial yang didapatkan. Apakah pantas jika upaya mencukupi kebutuhan dasar keluarga dianggap sebagai bentuk pengikisan keikhlasan?
Di era modern yang serba cepat ini, tuntutan terhadap guru semakin kompleks. Kami dituntut untuk terus adaptif dengan perkembangan dunia global, menguasai teknologi, dan membentuk karakter generasi muda agar berdaya saing. Namun, bagaimana mungkin seorang guru dapat mentransfer ilmu dengan optimal jika pikirannya masih terbagi oleh kecemasan akan biaya hidup esok hari? Menyuarakan aspirasi untuk kehidupan yang lebih baik bukanlah sebuah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah tuntutan logis agar profesi ini tetap bermartabat dan memiliki daya tarik bagi generasi penerus.


Kesejahteraan dan pengabdian tidak seharusnya diposisikan sebagai dua hal yang bertolak belakang. Sebuah bangsa yang benar-benar merdeka adalah bangsa yang mampu menghargai para pahlawan tanpa tanda jasa dengan tindakan nyata, bukan sekadar pujian manis di hari peringatan. Menuntut hak untuk hidup sejahtera bukanlah kejahatan, melainkan langkah awal agar kami dapat mengabdi secara utuh tanpa dibebani kecemasan mendasar. Sebab, ketika guru sejahtera, kualitas pendidikan pun akan terangkat, dan masa depan bangsa akan makin cemerlang."


Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


aplikasi: Google Gemini,  prompt sumber :
"Saya guru laki-laki, buatkan saya naskah karangan untuk blog dengan tema cerita bebas dan judul  berikut ini "Salahkah Guru menuntut Hak Sejarahteranya di Negeri yang Merdeka?"
cerita minimal 500 kata dan memiliki kata-kata berikut: keluarga, kesejahteraan, pengabdian, waktu, usia, masa kerja, dunia, Indonesia, merdeka dan tuntutan.
naskah karangan dibuat dalam minimal 4 paragraf. buat senatural mungkin dengan kata-kata dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) versi terbaru."

--
0

 



Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, impian memiliki lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar tidak merasa bersalah. Saat muda adalah saat mencoba keberanian dan kemauan untuk belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul, saya coba menapaki pembangunan sebuah tempat kursus sendiri walau dengan kegagalan kecil di akhir, karena memang modal dengkul. Tanpa karyawan, saya berusaha sendiri. Tapi setelah dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.

Setelah itu, saya tetap menjalani diri sebagai tutor dan instruktur komputer sesuai dengan ilmu dasar saya. Namun, saya juga mengasah kemampuan mengajar ilmu bahasa Inggris dengan keahlian saya karena saya yakin kemampuan bahasa Inggris saya cukup dengan TOEFL di atas 450 poin kala itu di usia 25 tahun. Maka di usia 27 tahun saya memberanikan diri untuk mengajak English dari tingkat anak-anak SD dahulu, lalu naik ke tingkat-tingkat di atasnya. Sehingga dalam 1-2 tahun saya sudah mampu mengajar English untuk SMA dan orang dewasa yang level dasar. Sambil tentu saja di tahun yang sama saya mengajar komputer semua jenjang usia bahkan sampai lansia/pensiunan.
Ada satu kisah yang saya bisa ambil dari murid paling tua saya saat itu. Usianya sudah 70 tahun, mantan Angkatan Laut yang sudah bergabung di LVRI Tingkat Jakarta Timur saat itu. Beliau, jiwanya masih pejuang betul, saya rasakan, masih mau menulis sebuah buku autobiografi tentang dirinya sendiri. Minimal bukunya bisa diterbitkan dan diberikan ke anak – anak atau cucunya kelak, begitu pesannya. Syukur – Syukur bisa diberikan ke LVRI atau ke pihak lain yang berminat memperbanyak. Misi saya hanya satu menurut beliau, membantu merapihkan tulisan dan teks yang beliau buat di Microsoft Word, menata tulisannya agar rapih, mengecek tulisan di Word. Beliau ini murid paling disiplin saya pernah ajarkan. Waktu sesibuk apa pun beliau, dipastikan beliau meminta didampingi untuk menulis karyanya. Beliau suka bercerita masa mudanya di Angkatan Laut, tugas – tugasnya di Irian Jaya, di wilayah - wilayah Indonesia kala itu. Termasuk tugas menjelang masa pensiunnya saat berkantor dan diminta menjemput rekan-rekan yang terbunuh dan dikembalikan ke Indonesia dari negeri seberang di era Orde Lama yang baru bisa dikebumikan ulang di era Orde Baru. Sebuah tugas berat mengatur pemulangan dan negosiasi saat itu antarnegara, antardaerah sehingga bisa dikembalikan ke keluarga masing-masing di berbagai daerah setelah puluhan tahun. Beliau bercerita apapun yang jadi tugasnya saat itu. Namun itu hendak dijadikan buku dan misi saya tetap sama, memastikan tulisan beliau se akurat mungkin jika harus naik cetak kelak. Sebuah kebanggan saya kala itu, tidak punya tempat kursus namun bisa membantu salah satu pejuang era Orde Lama dan era Orde Baru sekaligus.

Namun, saat itu ada panggilan lain bagi saya untuk terus mengajar, tidak hanya beliau, tetap ada semangat untuk mengajar anak - anak muda. Kala itu, istilah Indonesia Emas 2045 baru terdengar, konsep untuk masa depan negara yang lebih baik untuk generasi selanjutnya. Maka saya setelah melatih Veteran ini, saya tetap sediakan mengajar English dan Komputer untuk anak – anak di lembaga Pendidikan yang dahulu dan sambil mencari lembaga pendidikan lain di Jakarta Utara. Kebetulan Kawan dulu marketing, memberikan sebuah awalan untuk mengajar di daerah Mangga Dua, Jakarta Utara. Wilayah baru dengan kondisi masyarakatnya yang tentu 100% berbeda. Di sini saya mengajar English kepada 5 bocah keturunan usia sekolah SD. Tentu mereka di awal merasa saya berbeda dengan mereka, namun pelan tapi pasti kedekatan mereka dengan saya bertumbuh. Saya sudah dianggap kakak oleh mereka berlima. Ini pun bukan pengalaman saya mengajar siswa sekolah dasar di lembaga, jadi saya paham betul pendekatan terhadap cara belajar mereka. Belajar dahulu, sambil bermain kemudian. Sambil sesekali memberi mereka hadiah makanan ringan atau sekedar teh segar sesekali jika kenaikan Tingkat di kelas. Memberi mereka kebanggaan bahwa mereka berhasil naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Karena secara ekonomi, mereka jauh lebih mampu, kalau adu harga jajanan mereka pasti saya kalah. Namun, mendekati mereka agar mau belajar dan terus mau belajar setiap minggu 2 kali adalah tantangan unik. Membuat mereka rajin datang saja sudah perlu usaha, Mereka datang bukan disuruh mami atau papinya lagi, tapi karena kemauan sendiri.




Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


--
0

 


        Jika hari ini saya memilih berdiri di depan kelas, di depan anak - anak sekolah. Bukan hal pertama yang saya lakukan, bukan juga sepuluh tahun lalu. Bukan pula karena paksaan nasib atau alasan ekonomi. Saya percaya ini rencana TUHAN, panggilan yang saya harus lakukan bukan demi saya pribadi, mungkin demi orang banyak.
 
Saya pertama kali mendidik, atau lebih sederhana, mengajar bukan di sebuah sekolah, bukan di sebuah lembaga pendidikan. Namun di kampus, sebagai tim LitBang (Pelatihan dan Pengembangan) salah satu bagian dari tim di bawah Perkumpulan Mahasiswa. Sepenuhnya alasan saya diberikan bagian ini, 100% tidak saya pahami.

    Saya dulu, sejak SD sampai lulus SMA, adalah siswa biasa dengan keberanian hampir nol besar jika diminta maju, karena sering demam panggung dan gemetar. Namun nilai rapor saya memang tidak jelek - jelek sekali, kisaran 10 besar sampai 2 besar di kelas sejak SD sampai lulus SMA. Anggaplah introvert tapi lumayan tidak kosong kalau pakai istilah kekiniannya. Diberikan amanah sebagai litbang yang menyiapkan materi pelatihan, menyiapkan lab komputer dengan segala perangkat keras dan perangkat lunak. Menyiapkan diri sesekali jika diminta kakak senior untuk menjadi asistennya jika diperlukan. Inilah mungkin dasar dan pertama kali saya memegang apa yang disebut mengajar atau melatih orang - orang seusia saya atau di bawah umur saya.
 
Setelah magang, mencari pengalaman sesuai passion dan ilmu di kampus ternyata melalui PKL masih sulit. Terlebih ditempatkan di divisi marketing sebuah sole agent perusahaan mobil berbahan bakar solar saat itu di bawah grup Astra di wilayah Sunter, Jakarta Utara, cukup membuat kaget. Dengan ilmu minim tentang komputer, diharuskan belajar alat-alat elektronik semacam faksimile, mesin fotokopi, dan komputer yang sudah lebih canggih yang belum dimiliki kampus. bagian PKL dan magang saat itu pun di divisi Marketing Support yang saya belum pernah dapat konsepnya. Magang pun hanya jadi keseharian tanpa ada mendapat ilmu apapun.

 
Selepas magang selesai dan lulus kuliah pun, saya mendapati beberapa kali panggilan kerja dan kesempatan interview, Tidak serta-merta ilmu komputer saya dilihat sebagai sebuah keahlian yang cukup mendukung kepercayaan bagian HRD untuk menerima saya. Padahal IPK 3.01 lebih tinggi dibandingkan dengan 19 teman seangkatan saya, walau masih kalah dengan 3 orang lainnya. Jadi, jika ada istilah nilai tertinggi, itu tidak menjamin seseorang mudah mendapatkan pekerjaan. HRD era modern tidak butuh 100% orang pintar dan berprestasi tinggi. Ada hal lain di luar angka-angka itu. Itu pun saya amini sekarang sebagai pendidik. Hal yang perlu saya jelaskan dan berikan pemahamannya dengan lebih baik kepada siswa-siswi saya, walau mereka masih di tingkat SMP. Pintar itu perlu, namun memiliki keahlian-keahlian yang beragam atau sesuai cita-cita atau hal positif juga diperlukan di masa depan.
 
Pekerjaan saya di bidang pendidikan, namun bukan di sekolah sebagai guru. Sebagai instruktur atau tutor, sebuah lembaga pendidikan ternama yang pusatnya di Jakarta Timur. Cabangnya berjumlah ratusan dengan konsep franchise yang tersebar di Indonesia. Sebuah pekerjaan selama kurang lebih 3 tahun yang memberi saya banyak ilmu baru, bahkan yang belum saya dapatkan di kampus. Adapun jika sudah dapat di kampus, di tempat kerja ini ilmu saya bertambah lebih banyak dan saya menjadi semakin mahir. Bahkan ilmu tingkat manajerial seperti jabatan supervisor dan asisten manajer cabang. Ilmu tentang bagaimana merekrut, menangani bawahan mulai dari 3 orang hingga 20 orang pada waktu yang bersamaan dalam satu tahun. Ilmu lain pun saya dapatkan tiap bulan dengan menangani proyek-proyek pelatihan, baik dengan sekolah negeri maupun swasta, tingkat SMP maupun SMA. Bahkan sesekali mengatur proyek kerja sama dengan divisi atau subbagian kementerian negara di era Presiden ke-6. Sebuah ilmu yang menambah kepercayaan diri saya.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay

--
0



                Di era Kurikulum Merdeka dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), budaya literasi di jenjang SMP tidak lagi berdiri sendiri di dalam kotak mata pelajaran masing-masing. Ketika guru Bahasa Indonesia dan guru Matematika berdialog, literasi dan numerasi mewujud sebagai satu kesatuan cara berpikir yang utuh dan saling menguatkan.
1. Apa itu literasi di SMP?
Literasi di tingkat SMP kini melampaui kemampuan sekadar mengeja kata atau merangkum isi bacaan. Dalam konteks deep learning, literasi adalah kedalaman berpikir saat menyerap dan mengolah informasi. Siswa diajak untuk membedakan fakta dan opini, menganalisis pesan tersirat, mengevaluasi kebenaran teks, serta menyampaikan kembali ide-ide kompleks secara runtut dan santun. Literasi adalah fondasi untuk memahami makna di balik tulisan.

2. Apa itu numerasi di SMP?
Meluruskan miskonsepsi yang sering terjadi: numerasi bukanlah lomba berhitung cepat atau menghafal rumus rumit. Numerasi adalah kecakapan bernalar menggunakan konsep matematika untuk menyelesaikan masalah nyata. Di jenjang SMP, numerasi berarti siswa mampu membaca data grafik, mengenali pola, menghitung estimasi, dan mengambil keputusan yang logis berdasarkan angka dan data kuantitatif.

3. Apa keuntungan numerasi bagi Siswa-Siswi?
Penguasaan numerasi yang mendalam memberikan keuntungan nyata bagi perkembangan mental siswa:
  • Nalar Pemecahan Masalah: Siswa terbiasa membedah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang terstruktur.
  • Tidak Mudah Terkecoh: Siswa menjadi lebih kritis terhadap informasi, terutama klaim statistik atau grafik manipulatif yang beredar di media sosial.
  • Kecakapan Hidup Praktis: Membantu siswa dalam mengelola waktu, merencanakan keuangan pribadi, hingga memperhitungkan risiko secara rasional.
4. Apa Kaitan Numerasi dengan Mata Pelajaran Informatika?
Hubungan keduanya sangat fundamental. Jantung dari pelajaran Informatika adalah Computational Thinking (Berpikir Komputasional). Guru Matematika melihat bahwa struktur logika pemrograman, penggunaan variabel, pembuatan alur flowchart, hingga algoritma dasar di kelas Informatika sebenarnya adalah penerapan langsung dari penalaran numerasi. Tanpa logika numerasi yang kuat, siswa hanya akan menjadi pengguna teknologi tanpa memahami cara kerjanya.

5. Apakah numerasi dapat digabungkan dengan pelajaran Informatika?
Penggabungan ini sangat bisa dilakukan dan merupakan bentuk ideal dari deep learning lintas disiplin ilmu. Siswa dapat mengumpulkan data di lapangan, mengolah angka tersebut menggunakan perangkat lunak lembar kerja (spreadsheet) di kelas Informatika, lalu memvisualisasikannya menjadi grafik interaktif.
Melalui kolaborasi ini, angka dari matematika diolah dengan alat dari informatika, lalu dijelaskan kembali menggunakan bahasa yang komunikatif dalam bahasa Indonesia. Hasilnya, siswa tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir yang utuh.


Naskah resmi oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


--
0


         Guru, "di gugu dan di tiru", mungkin ini salah satu hal yang pernah kita dengar dari rekan sesama guru. Dulu juga guru kita pernah memberi kata ini kepada kita, sebuah konsep nilai diri sebagai panutan. Bukan hanya di kelas, tetapi juga di sekolah dan bahkan di masyarakat. Dahulu, banyak guru kita mungkin juga tetangga kita atau bahkan masih dekat dengan keluarga kita, mungkin sanak saudara dari keluarga besar kita. Kita bersekolah di kampung yang pendidiknya kita kenal dengan baik, karena masih satu kampung yang sama. Jadi mereka sangat menjaga sikap dan perilaku di kampung tersebut.

Mungkin ada juga, kita bersekolah karena orang tua kita, mengenal watak dan perilaku guru yang mengajar kita saat itu. Jadi, semacam ada rasa kepercayaan agar kita sebagai anaknya mendapat guru yang sudah sangat akrab dengan orang tua kita. Karena perilaku dan watak mereka yang baik, yang penuh contoh nilai - nilai moral yang diakui sebuah keluarga atau sebuah kampung yang sama. Jadi sering kali guru yang mendidik kita karena ada kesamaan nilai - nilai yang orang tua kita anut. Pendidikan yang berdasarkan kepercayaan satu sama lain, atas kesamaan jiwa dan hati. Antara orang tua dan guru terdapat kesamaan perasaan dan pemahaman yang saling.

Sebuah hal yang mungkin sedikit demi sedikit mulai bergeser saat ini. Karena sekarang bersekolah terkadang karena kemampuan ekonomi atau keinginan orang tua mencapai nilai tertinggi dan prestasi terbaik bagi putra-putrinya. Ada juga karena fasilitasnya yang dianggap mewah dan lingkungan pertemanannya yang elit bagi orang tua, bukan lagi karena melihat kebutuhan anak. Bisa juga karena kesulitan ekonomi dari keluarga, anak disekolahkan karena gratis tanpa biaya apa pun, kalau bisa malahan dapat bonus A, B, C, D dari sekolahnya yang memang sangat manusiawi sebagai makhluk sosial. Mungkin ada juga yang sekolah karena jaraknya dekat dan tinggal jalan kaki, ini terutama bagi jenjang - jenjang bawah. Namun, acap kali karena rasa ketidakpercayaan orang tua terhadap kebiasaan putra-putrinya yang dianggap suka melanggar aturan atau "dicurigai" sering bepergian tanpa kabar jika sekolahnya lepas dari pantauan mereka. Kondisi terakhir ini bukan hanya di jenjang sekolah dasar, tetapi juga di jenjang menengah dan atas. Bahkan acapkali di jenjang politeknik atau universitas, orang tua tidak percaya anak yang mereka lahirkan dan besarkan dianggap bayi besar yang tidak bisa dipercaya dan dibri kepercayaan lebih.

Inilah juga yang membuat guru atau pendidik saat ini mengamini perilaku anak-anak tersebut untuk memberi batasan, aturan, dan garis yang sering kali dan acapkali cukup keras. Kadang ditemui terlalu keras, bukan untuk disiplin, melainkan juga mengarah pada pemaksaan. Padahal seharusnya siswa-siswi diberikan batasan dan aturan, bukan langsung, namun diberi alasan mengapa, apa dampaknya jika melanggar, atau bagaimana jika terjadi hal-hal yang salah jika dilakukan. Berikan murid-murid kita alasan, dampak, dan risiko, serta perkuat kemampuan pola pikir mereka ke depannya. Memberikan mereka, akan seperti dampak di waktu akan datang jika mereka berbuat salah atau jika mereka tidak memhami kondisi. Memang, masa depan dan perubahannya tidak ada yang tahu secara pasti, namun dengan memberi kebebasan dan kemerdekaan berpikir, semoga kita menciptakan anak - anak dan kelak manusia-manusia yang berpikir dan berperilaku merdeka bukan karena hanya sekadar takut.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay