--
0

 


Dibagian kedua ini, saya akan menceritakan sistem operasi Windows paling ikonik. Aplikasi atau perangkat lunak paling banyak di pakai di seluruh dunia. Sesuai gambar yang saya unggah di blog ini. Juga kita akan melihat data pengguna Microsoft paling laku di dunia dan mengapa masih banyak yang menggunakan MS XP ini. 


Pertama, mari kita lihat kepanjangan dari XP pada sistem operasi ini. Ada beberapa penjelasan dari kepanjangannya. XP bisa diartikan sebagai eXPerience, ya, sebuah hal yang ingin dibuat Microsoft sebagai pengalaman indah atau pengalaman baru bagi seluruh pengguna di dunia. Sistem operasi pertama di dunia yang menawarkan gambar dan warna yang menarik saat itu. Dunia yang sudah tidak hitam putih atau sekadar abu - abu seperti pada OS sebelumnya atau seperti DOS yang hanya berwarna hitam pekat dan putih tulisannya. Dunia pertama yang sangat visual appeal alias menarik dan cakep di mata pengguna Microsoft dan mungkin pencinta produk Microsoft sejak Win 3.1 atau Win NT 3.1 dan Windows 2000 atau bahkan Windows Me.


Microsoft XP ini juga merupakan salah satu produk terbaik kala itu setelah versi Windows sebelumnya yang dianggap kurang sukses dan tidak menarik secara tampilan. XP sendiri setelah diluncurkan menjadi sistem operasi paling banyak digunakan, sejalan dengan bertambahnya jumlah pengguna PC di seluruh dunia yang terus bertambah, bahkan mencapai miliaran. Keuntungan XP selain tampak indah secara visual desain, OS ini juga paling ringan dengan tampilan yang dianggap berkelas. Lalu XP juga sistem operasi paling mudah diinstal, dimodifikasi, hingga paling lengkap  tools-nya saat itu bagi pengguna Windows, tentu saja dengan versi di bawahnya.


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay


--
0

 








Pernahkah melihat tampilan antarmuka dari sistem operasi buatan paling awal dari Microsoft seperti ini?

Saya mengalami era awal dengan tampilan antarmuka (User Interface) seperti ini di era SD sejak rumah saya kedatangan CPU dengan prosesor Intel Pentium 1. Suatu hal yang saya, sebagai seorang, sangat senang karena memiliki alat permainan yang kala itu sudah sangat keren, walau baru ada game 2D hitam putih dan belum berwarna. Misalnya, permainan pac-man dan Tetris yang area permainannya sebelumnya hanya saya lihat di gadget milik teman. Ayah saya, walau seorang lulusan teknisi, namun tidak pernah memanjakan kami dengan konsol permainan seperti Nintendo atau playstation. Inilah alat permainan dan alat belajar saya : PC dengan otak Pentium 1 dan Windows paling awal yang saya sangat ingat bentuk dan tampilannya sampai sekarang. Masa-masa indah saat dunia seakan baru saja terbuka.

Alat ini juga yang membuka dan menyadarkan saya akan kemajuan teknologi di era tersebut. Sejak SD, saya sudah sering meminjam alat ini bersama kakak saya, jika dia menggunakan PC untuk membuat tugas kuliah dan persiapan skripsinya sambil main tipis - tipis agar ada hiburan kilahnya. Kalau saya, bukan sekadar alat bermain game lawas, melainkan juga untuk belajar membuat tulisan tentang sekolah saya kala itu. Tulisan tentang apa pun yang saya bahkan lupa - lupa ingat saat ini. Namun, saya ingat, setiap saya membuat tulisan dengan sistem operasi ini, Ayah saya sering melihat saya mengetik dan membuat format berbagai bentuk.

Kegemaran saya mengutak-atik di Word pada sistem operasi Windows, terutama juga inilah yang membuat saya mulai menggemari aplikasi - aplikasi buatan Microsoft, tidak terkecuali Excel dan PowerPoint. Rasanya baru kemarin saya belajar menyalakan komputer kakak sebagai hadiah dari Ayah dan membuat ketikan pertama. Walaupun saya tidak menggunakan komputer sesering kakak atau saya pribadi. Beliau paham mengetik dan membuat laporan sederhana dengan alat ini. Karena beliau juga sering membuat laporan dengan Ms. Word dan aplikasi sistem terkomputerisasi di tempatnya bekerja. Aplikasi - aplikasi yang sudah saya kuasai di rumah jadi terasa mundur ketika di SMP saya pribadi masih menggunakan Wordstar dan Lotus 1-2-3. Di rumah sudah menggunakan aplikasi lebih visual, lalu di sekolah kembali ke lingkungan model diketik tipe CLI (command line interface), sebuah hal yang saat itu terasa amat aneh bagi saya, seakan mempelajari 2 hal canggih namun dengan jarak yang terpaut sangat jauh.

Wordstar dan Microsoft Word adalah aplikasi yang memiliki fungsi yang sama, namun dengan tampilan yang sangat jauh berbeda. Walaupun saya sudah akrab dengan tampilan visual, mengaktifkan mode di DOS dan WIndows sendiri terasa seakan belajar dua hal sekaligus saat itu. Seru, namun membuat saya kadang memprotes guru/pengajar ilmu komputer saya, yang saat itu belum mengenal istilah TIK atau Informatika. Walaupun SMP saya adalah sekolah kecil, namun fasilitas sekolah saat itu sudah lebih dari cukup. Uniknya, saat itu perangkat komputer bersifat mobile alias belum terpasang di satu ruangan khusus, namun berpindah sesuai dengan jadwal di sekolah kami atau di sekolah lain yang masih satu yayasan. Jadwal praktik komputer saat itu bergantian dengan sekolah lain dalam 1 kawasan di Jakarta Utara.

Ada 3 sekolah dengan jadwal bergantian, Kadang kami pun diminta membantu mengangkat dan memindahkan peralatan saat jadwal praktik. Hal yang membuat saya juga jadi belajar praktik memasang dan mencopot perangkat keras kala itu. Belajar langsung bahwa praktik komputer karena membantu guru komputer yang datang seminggu sekali kala itu. Padahal di rumah saya sudah belajar Windows 3.1 dan bukan DOS lagi. Namun, menurut ayah saya, saat saya menginfokan bahwa mata pelajaran komputer yang ada di sekolah harus diikuti. Lebih baik diam dan jangan menyakiti perasaan guru komputer-mu, begitu menurut beliau, berbicara bijak.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan
om Jay


--
0

 


Bab 11: Warta Lintas Samudra

Usai menuntaskan urusan di Gedung Arsip, Aris melangkahkan kaki menuju Gedung Pos dan Telekomunikasi Pusat untuk mengirimkan salinan laporan konfirmasi kepada cabang Bank Sentral di benua seberang. Di tempat ini, warta antarbenua tidak meluncur dalam hitungan milidetik menembus ruang hampa, melainkan merayap melalui serat-serat tembaga di dasar samudra dan lambung kapal pos uap.
Aula stasiun telekomunikasi itu bergema oleh paduan suara pita ketik dan ketukan kawat yang tak pernah reda. Di sepanjang meja panjang, puluhan operator telegraf duduk memegang kunci pemancar tembaga. Jemari mereka menari mengetukkan kode Morse—tit-tit-tet-tit—mengubah setiap huruf tulisan tangan menjadi getaran pulsa listrik yang merambat melalui kabel lintas laut.

Di sudut lain ruangan, mesin-mesin teleks dan telegraf cetak berderet menempel di dinding. Mesin-mesin mekanis itu berdentang nyaring saat menerima pesan, mencetak karakter demi karakter di atas pita kertas tipis berperekat yang terpotong secara otomatis sesuai panjang kalimat.

"Mengirim pesan singkat dua puluh kata ke ibu kota benua seberang memakan biaya setara dengan gaji mingguan seorang buruh," bisik seorang kasir stasiun pos saat menerima draf tulisan tangan Aris.

Setiap kata di dunia tanpa komputer ini sangat berharga. Tidak ada ruang untuk obrolan nirguna atau pesan sampah. Orang-orang memilih kata dengan sangat cermat, memadatkan pemikiran paling krusial ke dalam kalimat telegrafis yang lugas. Jika warta yang dikirimkan terlalu panjang untuk ditransmisikan via kabel, pilihan terakhir adalah Pos Uap dan Udara—surat-surat tebal berstempel lilin yang diangkut oleh kapal nirmesin atau kapal terbang amfibi (flying boat) yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke seberang lautan.


Bab 12: Cakrawala dan Sekstan

Keterbatasan komunikasi jarak jauh berbanding lurus dengan kerumitan dunia navigasi. Sore itu, Aris menumpang trem kabel menuju kawasan pelabuhan untuk menemui rekannya, seorang perwira navigasi kapal niaga bernama Kapten Hendra. Di pelabuhan, jajaran tiang kapal dan cerobong asap kapal uap tampak membelah langit senja.

Di dalam kabin kemudi kapal, Aris tidak menemukan monitor layar sentuh, peta digital, ataupun perangkat Penentu Posisi Global (GPS). Tidak ada radar elektronik yang memancarkan pendaran hijau untuk mendeteksi keberadaan badai atau daratan di balik kabut tebal.

"Navigasi kami di samudra lepas sepenuhnya bergantung pada benda langit, Peta Kelautan Admiralty, dan ketepatan kronometer mekanis," kata Kapten Hendra seraya menunjukkan sebuah instrumen kuningan berukir yang tersimpan anggun di dalam kotak kayu jati. "Ini adalah sekstan. Saat malam tiba dan awan menyingkap langit, kami mengukur sudut ketinggian bintang Polaris atau Bintang Pari dari garis horison untuk menentukan posisi bujur dan lintang kapal."

Di udara, para penerbang pesawat komersial pun mengarahkan burung besi mereka dengan prinsip yang sama. Mereka terbang melintasi benua dengan membaca kontur sungai, jalur kereta api, serta puncak gunung melalui jendela kokpit. Ketika malam gelap gulita membungkus bumi, keselamatan penerbangan dan pelayaran diserahkan penuh pada menara suar yang berputar di sepanjang garis pantai dan puncak bukit.

Tanpa adanya kendali otomatis dari mikroprosesor, setiap penerbangan dan pelayaran adalah wujud keberanian murni, intuisi alam, serta perhitungan matematis manual yang sahih. Seorang navigator bukan sekadar pengawas layar, melainkan seorang ahli astronomi dan kartografi yang mempertaruhkan nyawa demi menjaga arah di tengah ganasnya alam.


Bab 13: Jejak Angka yang Rompang

Sekembalinya ke meja kerja di Bank Sentral pada malam hari, suasana aula utama telah sepi. Lampu-lampu gantung memberikan pendaran cahaya kuning hangat yang menimpa tumpukan buku besar di meja Aris. Berbekal dokumen warkat tanah tahun 1948 dari Gedung Arsip serta laporan rekapitulasi energi dari Pembangkit Listrik Kota, Aris mulai menyelaraskan neraca anggaran pasokan listrik untuk jaringan pabrik dan trem kota.

Aris memutar engkol Aritmometer-nya dengan ritme yang teratur: krii-klak, krii-klak. Jemari kirinya menelusuri deretan angka pada lembaran kertas kalkulasi bulanan.
Namun, pada putaran engkol yang ke-140, gerakan tangan Aris terhenti seketika.
Mata Aris terpaku pada angka akumulasi di panel Aritmometer. Ada yang tidak beres. Ia mengusap matanya, lalu menghitung ulang menggunakan sempoa di sisinya: klak-klik, klak-klik. Biji-biji kayu digeser dengan cepat, dikelompokkan berdasarkan satuan, puluhan, dan ribuan. Hasilnya tetap sama.

Terjadi selisih perhitungan yang sangat menganga. Terdapat deviasi sebesar jutaan megawatt-jam antara energi listrik yang diproduksi oleh stasiun pembangkit uap utama dengan jumlah energi yang terdaftar dalam penerimaan kas daerah serta konsumsi riil industri. Dalam sistem fisik kota, daya listrik sebesar itu cukup untuk menerangi seluruh kota selama tiga bulan penuh.
Namun, di dalam laporan keuangan manual, daya listrik raksasa tersebut menguap begitu saja tanpa jejak—bagaikan hilang ditelan bumi.


Bab 14: Kebocoran di Balik Kertas

Aris menarik napas panjang, merasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang. Ia membeberkan lima lembar peta jaringan distribusi listrik dan tiga buku kas besar di atas mejanya. Dengan bantuan jangka dan penggaris kuningan, ia mulai memetakan alur distribusi energi secara visual di atas kertas grafik.

Di sinilah celah fatal dari sebuah peradaban berbasis kertas terungkap. Karena seluruh pencatatan dilakukan secara manual oleh ratusan juru catat di tingkat distrik, laporan pasokan energi memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dikompilasi hingga sampai ke meja pusat. Celah waktu yang panjang ini, ditambah dengan akumulasi kesalahan pembulatan angka di atas kertas karbon, telah dimanfaatkan oleh pihak tak dikenal untuk menyembunyikan kebocoran data pasokan yang sangat terstruktur.

"Seseorang telah memanipulasi angka-angka ini secara bertahap," gumam Aris dengan suara bergetar. "Satu angka dikurangi di distrik barat, setengah angka disamarkan di distrik selatan... Dalam jangka waktu lima tahun, ini adalah penyedotan energi secara ilegal dalam skala raksasa."

Di dunia tanpa komputer, peretasan tidak dilakukan melalui kode program atau perangkat perusak (malware). Peretasan terjadi di dalam benak manusia—melalui permainan pena, pengalihan dokumen fisik, dan pemanfaatan kelelahan mata para juru catat senior seperti dirinya.

Aris menyandarkan tubuhnya, menatap keluar jendela tinggi Bank Sentral. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak berkedip menembus kegelapan malam. Ia menyadari bahwa di balik keindahan dan keteraturan roda gigi, kertas karbon, dan jaringan kawat tembaga ini, ada sebuah kejahatan terselubung yang bekerja sangat rapi. Dan hanya melalui ketelitian tangan serta keandalan otaknya, kebocoran raksasa yang mengancam kestabilan energi kota ini dapat diungkap hingga ke akarnya.



Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay


--
0




Bab 7: Labirin Kertas di Menara Arsip

Untuk menyelesaikan ketidaksesuaian data pada neraca keuangan nasional, Aris membutuhkan satu dokumen krusial: Warkat Hak Atas Tanah dan Riwayat Transaksi Obligasi Negara Tahun 1948. Di dunia yang tidak mengenal basis data digital, lembaran data tersebut tidak disimpan di dalam ruang penyimpanan virtual atau ruang awan, melainkan di dalam Gedung Arsip Kependudukan dan Keuangan Negara—sebuah struktur megah berlantai delapan yang seluruh interiornya difungsikan sebagai benteng kertas raksasa.

Aris melangkah melintasi gerbang besi tempa gedung tersebut. Seketika, aroma khas gabungan antara kertas tua yang lapuk, minyak cat kayu, dan kapur barus menyeruak memenuhi indra penciumannya. Di hadapannya, terbentang pemandangan agung yang menakjubkan sekaligus menggentarkan: ribuan lemari kayu jati setinggi sepuluh meter berjejer rapi hingga batas pandangan mata.

Setiap lemari dilengkapi dengan tangga kayu beroda yang terpasang pada rel besi di bagian atas dan bawah, memungkinkan para petugas arsip meluncur dari satu ujung rak ke ujung lainnya untuk menjangkau tumpukan berkas di lantai atas.

Tanpa adanya cip memori atau pemindai sinar laser, setiap informasi mengenai puluhan juta jiwa warga negara—mulai dari catatan kelahiran, riwayat medis, akta perkawinan, kepemilikan tanah, hingga catatan perpajakan—terwujud secara fisik dalam bentuk jilidan buku besar bersampul kulit tebal, lembaran manuskrip, dan folder manila yang ditata menurut hierarki ketat.

 Di gedung ini, informasi memiliki bobot, bentuk, dan tempat yang nyata. Jika sebuah dokumen terbakar atau hilang dari raknya, secara hukum informasi tersebut lenyap dari peradaban. Oleh karena itu, Gedung Arsip dijaga bagaikan tempat suci. Kelembapan udara diatur secara manual menggunakan nampan-nampan berisi garam penyerap lembap dan saluran ventilasi angin yang dirancang khusus untuk mencegah jamur serta rayap merusak ingatan fisik bangsa.

 
Bab 8: Tarian Kartu Indeks Kardex dan Dewey

Aris mendekati meja pelayanan utama yang berada di tengah aula. Di belakang meja kayu berukir tersebut, duduk Pak Tejo, seorang Petugas Arsip Utama berpakaian seragam cokelat tua dengan kacamata tebal yang menggantung di dadanya.

 "Selamat pagi, Pak Tejo. Saya membutuhkan berkas riwayat obligasi dan surat tanah distrik empat atas nama Keluarga Martoatmodjo tahun 1948," ujar Aris seraya menyerahkan surat pengantar resmi berstempel basah dari Bank Sentral.

Pak Tejo menerima surat tersebut, memeriksanya dengan cermat menggunakan suryakanta, lalu membubuhkan stempel jam kedatangan. Tanpa menatap layar monitor—karena benda itu memang tidak pernah ada—Pak Tejo berbalik menuju deretan lemari logam setinggi dada manusia yang memenuhi area belakang meja layanan. Ini adalah ruangan Kardex dan Katalog Indeks Dewey.

 Pencarian informasi di tempat ini adalah sebuah seni deduksi fisik yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Pak Tejo menarik salah satu laci logam berlabel “M-48-OBL”.

Suara gesekan besi yang nyaring terdengar saat laci terbuka, memamerkan ribuan kartu indeks berukuran kecil yang disusun secara abjad dan numerik.
Dengan jemari yang cekatan dan terlatih selama puluhan tahun, Pak Tejo memilah kartu-kartu tebal berwarna jingga tersebut satu per satu: sret, sret, sret. Setiap kartu berisi informasi petunjuk lokasi: nomor lantai, kode lorong, nomor lemari, hingga koordinat rak spesifik tempat dokumen fisik disimpan.

 "Aris," kata Pak Tejo seraya mencatat kode koordinat di atas selembar kertas memo kecil. "Dokumen yang Anda cari berada di Lantai Lima, Lorong Tujuh, Lemari B-12, Rak C. Namun, karena ini dokumen vital berusia lebih dari lima puluh tahun, petugas kami harus memverifikasi keabsahan stempel lilin dan kecocokan nomor seri di buku registrasi induk."

 Pak Tejo menatap Aris dengan pandangan yang memaklumi. "Mencari berkas ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses pengambilan, pengecekan kondisi fisik, hingga pencatatan keluar-masuk arsip akan memakan waktu setidaknya tiga hari kerja. Jika ada kendala perbedaan ejaan nama lama, bisa memakan waktu hingga seminggu."

 Aris mengangguk paham. Dalam birokrasi kertas, kecepatan dikorbankan demi kepastian fisik dan akurasi yang sah secara hukum.
 

Bab 9: Gema Tabung Pneumatik dan Kurir Langkah Cepat

 Selagi menunggu proses pendaftaran permohonan berkasnya, Aris berdiri di dekat pilar utama gedung, mengamati sistem sirkulasi komunikasi internal yang menakjubkan. Di sepanjang dinding dan langit-langit gedung berarsitektur neoklasik ini, terpasang jaringan pipa tembaga mengilap yang saling bersilangan. Ini adalah Sistem Tabung Pneumatik—jaringan saraf pengirim pesan jarak pendek berkecepatan tinggi.
Wushhhhh... KLAK!

 Suara hisapan udara bertekanan tinggi bergema di dalam saluran pipa. Sebuah kapsul logam berbentuk silinder meluncur cepat keluar dari mulut pipa kuningan di dekat meja Pak Tejo. Dengan sigap, Pak Tejo membuka kait kapsul tersebut dan mengeluarkan selembar formulir permintaan arsip darurat yang baru saja dikirimkan dari lantai dasar.

 Namun, sistem pipa pneumatik hanya mampu menampung kapsul berisi beberapa lembar memo atau kartu indeks. Untuk dokumen tebal, buku besar, atau bundel arsip yang berbobot berat, gedung ini mengandalkan profesi yang sangat terhormat dan vital: Kurir Berkas Langkah Cepat (Quick-Foot Document Courier).


 Aris memperhatikan lalu-lalang para kurir tersebut. Mereka adalah pemuda-pemuda bertubuh atletis yang mengenakan seragam rompi kulit ringan dan sepatu bersol karet tebal tanpa bunyi. Di pinggang mereka terikat tas kain kanvas berkapasitas besar. Tanpa lelah, mereka berlari dengan langkah terukur menaiki tangga-tangga melingkar, melintasi jembatan penyeberangan antar-lorong, dan menyusuri koridor-koridor panjang.
 
Para kurir ini menghafal setiap sudut, kode lorong, dan denah gedung di luar kepala. Mereka bertugas mengantarkan bundel berkas antar-departemen dengan tenggat waktu yang ketat. Peluh yang membasahi dahi para kurir ini adalah bahan bakar utama yang menjaga roda birokrasi negara tetap berputar. Tanpa kelincahan kaki dan daya tahan fisik mereka, aliran informasi antar-kementerian akan lumpuh total.


Bab 10: Keabsahan dalam Lembaran Sahih

Tiga hari kemudian, Aris kembali ke Gedung Arsip Nasional. Di atas meja pelayanan Pak Tejo, kini telah tergeletak sebuah map manila tebal berwarna cokelat tua yang diikat rapi dengan tali rami dan disegel menggunakan cap lilin merah bertuliskan lambang negara.


Pak Tejo memotong tali rami tersebut menggunakan pisau lipat kecil, lalu membuka map dengan sangat hati-hati. Di dalamnya terbentang lembaran kertas perkamen tebal berhiaskan tulisan tangan kaligrafi dengan tinta pudar yang anggun. Di bagian bawahnya, tertera tanda tangan para pejabat masa lalu serta tera timbul yang membentuk relief sah pada serat kertas.


 "Ini adalah Warkat Asli tahun 1948," kata Pak Tejo dengan nada penuh penghormatan terhadap sejarah. "Setiap angka di dalamnya dicatat oleh juru ukur tanah dan bendahara negara yang bersumpah di bawah kitab suci. Tidak ada manipulasi digital, tidak ada peretasan sinyal, dan tidak ada salinan siluman."


 Aris menyentuh permukaan kertas tua itu dengan ujung jarinya. Ia merasakan tekstur serat kayu yang kasar dan timbulan bekas ketukan mesin ketik tua yang menembus hingga ke belakang lembaran. Di dunia tanpa komputer ini, data bukan sekadar deretan angka nol dan satu yang abstrak dan mudah menguap di dalam ruang hampa elektronik. Data adalah sesuatu yang berwujud, bernapas, dan memiliki sejarah yang terukir nyata.


Dengan membawa map tebal itu di dalam tas kulitnya, Aris melangkah keluar dari Gedung Arsip. Di luar, matahari siang menyinari Kota Nusantara dengan benderang. Suara klakson terompet mobil klasik, dering bel trem kabel, dan siulan kereta uap menyatu menjadi simfoni peradaban yang tangguh.


Pekerjaannya di Bank Sentral memang lambat, rumit, dan melelahkan. Namun, saat melangkah menyusuri trotoar yang ramai oleh lalu-lalang manusia yang saling menyapa, Aris tersenyum bangga. Ia tahu bahwa setiap detik waktu yang dihabiskan untuk menghitung, mencatat, dan mencari berkas adalah bukti keandalan akal budi manusia—sebuah dunia yang tidak dikendalikan oleh mesin pintar yang dingin, melainkan dihidupkan oleh kehangatan jiwa dan ketekunan tangan-tangan manusia.



Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay



 

--
0




Apakah kita menyadari satu hal saat pertama kali melihat sesuatu? Misalnya jika kita melihat hari ini dan mau menggunakan kolom komentar pada web berbasis blog yang dimiliki Google. Kita akan melihat seperti gambar dibawah ini. Karena saya seorang blog walker dan suka membaca dan mengomentari isi sebuah blog dan kadang memberi emoticon pada sebuah blog menarik dari judul dan isinya. Maka saya langsung sadar, ada hal yang salah dan tidak pada biasanya dan tidak pada seharusnya.


Begitulah teknologi, apa yang kita lihat hari ini bisa saja beruabh esok hari dan seterusnya. Apa yang kita pahami hari ini, apa yang kita lihat hari ini atau kemarin, bisa saja juga berubah tadi malam. Semua kita lihat dan kita rasa permanen kadang jadi hal lawas di esok pagi dan hari seterusnya. Sistem yang kita lihat dan berjalan normal hari ini, bisa jadi error atau malahan tidak jalan sama sekali. Begitu cepatnya tenologi dan sistem berubah.
Kita sering melihat apa yang lalu terkadang sebagai hal saat ini dan besok mungkin akan ada lagi. mata dan pikiran kita meilhat dan hanya ingin menerima jika suatu hal yang kita lihat sebelumnya, besok atau lusa pasti ada dalam sebuah aplikasi berbasis web. Padahal tidak selalu demikian dan akan selalu demikian.
 
Saya baru mengalaminya Jumat lalu. mengikuti sebuah pelatihan di sebuah sekolah dari Guru Informatika yang berada di wilayah kami. Guru ini menyebutkan sebuah fitur yang nampaknya menjadi andalan beliau untuk membuat materi ini terlihat mudah dan lebih cepat dikerjakan. Apalagi dengan fitur AI yang dilatih dari pelatih kemendikdasmen sebelumnya, beliau begitu yakin dengan fitur penting ini. Namun siang itu, apa yang beliau cari ternyata fiturnya hari itu tiba - tiba menghilang tanpa jejak begitu saja. fitur penghubung antara aplikasi Gemini dan Google Flownya tiba - tiba menghilang. Beliau mencoba meyakinkan kami bahwa data ada namun, fitur mendadak hilang begitu saja dalam hitungan jam sebelum pelatihan kecil ini. Suatu hal yang tidak pernah beliau duga.

Maka bisa dikatakan, apa yang kita sadari saat melihat di hari ini, bisa saja besok atau bahkan beberapa jam akan hilang dan diganti atau berubah.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan
om Jay