3. Jika seorang siswa atau siswi
tidak hanya punya sosok ayah, namun membenci perilaku buruk ayahnya dan tidak
menginginkan sosok ayah sama sekali. Jika hal seperti ini terjadi, coba
dengarkan konsep seorang ayah dari mereka. gali pengetahuan kenapa mereka
membenci sosok ayah dalam hidup mereka. Setelah itu perlahan dijelaskan
bagaimana sosok ayah yang benar seharusnya. Jika mereka tidak menerima sosok ayah
yang positif, jangan dipaksakan atau dibantah langsung bahwa mereka harus menerima
sosok ayah dalam hidup mereka. Tujuannya bukan mereka dipaksa menerima langsung, namun pelan-pelan diajak melihat hal-hal positif pada ayah yang mereka lihat di rumah atau dalam keseharian mereka. Mereka jangan sampai dibiarkan membenci ayahnya, baik ayah kandung yang dibenci karena bercerai dan meninggalkan mereka ataupun ayah yang dibenci karena misalnya perilaku negatifnya (memukul, merokok parah, minum alkohol, dan lain-lain). Berikan konsep, jika ayah
mereka demikian, maka tetap harus berperilaku baik agar mereka tidak memiliki
kepahitan hidup dengan kondisi ayah mereka. Jika anak laki – laki yang
membenci, berikan bahwa kelak mereka tidak berperilaku demikian kepada anak
mereka, jadikan mereka pemutus mata rantai kebencian. Jika anak perempuan membenci sosok ayah mereka, berikan mereka penjelasan tentang contoh kasih sayang yang benar dan berikan gambaran positif tentang sosok orang tua yang baik dan tepat. Jadi kelak jika
mereka memilih pasangan, menemukan sosok pria yang tepat dan bukan laki – laki yang
mungkin “bermasalah” dalam hidup mereka.
Demikian sedikit yang mungkin dapat kita bantu, Jika ada di antara murid atau siswa-siswi kita yang memiliki konsep fatherless atau sosok ayah yang tidak ada atau sosok ayah yang punya perilaku kurang positif dan membuat mereka jadi membenci sosok yang seharusnya memberi contoh baik dan memberi kasih sayang yang tepat.