Guru, "di gugu dan di tiru", mungkin ini salah satu hal yang pernah kita dengar dari rekan sesama guru. Dulu juga guru kita pernah memberi kata ini kepada kita, sebuah konsep nilai diri sebagai panutan. Bukan hanya di kelas, tetapi juga di sekolah dan bahkan di masyarakat. Dahulu, banyak guru kita mungkin juga tetangga kita atau bahkan masih dekat dengan keluarga kita, mungkin sanak saudara dari keluarga besar kita. Kita bersekolah di kampung yang pendidiknya kita kenal dengan baik, karena masih satu kampung yang sama. Jadi mereka sangat menjaga sikap dan perilaku di kampung tersebut.
Mungkin ada juga, kita bersekolah karena orang tua kita, mengenal watak dan perilaku guru yang mengajar kita saat itu. Jadi, semacam ada rasa kepercayaan agar kita sebagai anaknya mendapat guru yang sudah sangat akrab dengan orang tua kita. Karena perilaku dan watak mereka yang baik, yang penuh contoh nilai - nilai moral yang diakui sebuah keluarga atau sebuah kampung yang sama. Jadi sering kali guru yang mendidik kita karena ada kesamaan nilai - nilai yang orang tua kita anut. Pendidikan yang berdasarkan kepercayaan satu sama lain, atas kesamaan jiwa dan hati. Antara orang tua dan guru terdapat kesamaan perasaan dan pemahaman yang saling.
Sebuah hal yang mungkin sedikit demi sedikit mulai bergeser saat ini. Karena sekarang bersekolah terkadang karena kemampuan ekonomi atau keinginan orang tua mencapai nilai tertinggi dan prestasi terbaik bagi putra-putrinya. Ada juga karena fasilitasnya yang dianggap mewah dan lingkungan pertemanannya yang elit bagi orang tua, bukan lagi karena melihat kebutuhan anak. Bisa juga karena kesulitan ekonomi dari keluarga, anak disekolahkan karena gratis tanpa biaya apa pun, kalau bisa malahan dapat bonus A, B, C, D dari sekolahnya yang memang sangat manusiawi sebagai makhluk sosial. Mungkin ada juga yang sekolah karena jaraknya dekat dan tinggal jalan kaki, ini terutama bagi jenjang - jenjang bawah. Namun, acap kali karena rasa ketidakpercayaan orang tua terhadap kebiasaan putra-putrinya yang dianggap suka melanggar aturan atau "dicurigai" sering bepergian tanpa kabar jika sekolahnya lepas dari pantauan mereka. Kondisi terakhir ini bukan hanya di jenjang sekolah dasar, tetapi juga di jenjang menengah dan atas. Bahkan acapkali di jenjang politeknik atau universitas, orang tua tidak percaya anak yang mereka lahirkan dan besarkan dianggap bayi besar yang tidak bisa dipercaya dan dibri kepercayaan lebih.
Inilah juga yang membuat guru atau pendidik saat ini mengamini perilaku anak-anak tersebut untuk memberi batasan, aturan, dan garis yang sering kali dan acapkali cukup keras. Kadang ditemui terlalu keras, bukan untuk disiplin, melainkan juga mengarah pada pemaksaan. Padahal seharusnya siswa-siswi diberikan batasan dan aturan, bukan langsung, namun diberi alasan mengapa, apa dampaknya jika melanggar, atau bagaimana jika terjadi hal-hal yang salah jika dilakukan. Berikan murid-murid kita alasan, dampak, dan risiko, serta perkuat kemampuan pola pikir mereka ke depannya. Memberikan mereka, akan seperti dampak di waktu akan datang jika mereka berbuat salah atau jika mereka tidak memhami kondisi. Memang, masa depan dan perubahannya tidak ada yang tahu secara pasti, namun dengan memberi kebebasan dan kemerdekaan berpikir, semoga kita menciptakan anak - anak dan kelak manusia-manusia yang berpikir dan berperilaku merdeka bukan karena hanya sekadar takut.
Hari ini saya
mau mencoba menggelitik sedikit pengalaman dengan 3M yang baru menurut saya.
Bukan 3M berupa uang atau kepanjangan dari 3M (Menguras, Menutup,
Mengubur) pada bidang kebersihan dan kesehatan atau candaan di bidang para
desainer yang 3M (Makasih Mas, desain Mantap).
Sudah sering kali, saya
temui kondisi di lapangan. Di tempat-tempat umum kita, di ranah publik kita, pemandangan yang mencemaskan dan mengkhawatirkan terpampang jelas. Tanpa malu
dan tanpa perasaan bersalah dari orang di sekeliling kita. Bagaimana bagian publik yang sudah ditandai khusus masih dilanggar dengan berbagai alasan nonberadab sebagai bangsa Timur yang menjunjung adat istiadat?
Berikut hal - hal yang menjadi 3M tersebut:
1. Adab sebelum menaiki
kendaraan umum.
Acap kali, setiap kali kita temui dan jumpai, warga dan calon penumpang di tempat pemberhentian kita sulit untuk rapi mengantre. Merasa bahwa dirinya buru-buru sehingga menyalip barisan, marah
tidak mau antre dan marah ketika ditegur. Menganggap orang lain bisa dikalahkan
karena mereka lebih utama.
Ini juga sering kali bukan hanya yang berusia tua namun juga di yang lebih muda. Bukan karena tidak mau,
terkadang tidak tahu bahwa adab mengantri bergantian dan menunggu giliran juga
adalah hal berlaku di masyarakat. Acap kali pejabat kita yang tidak sedang
berdinas dan tidak bertugas atau dalam kondisi pekerjaan melakukan
penyerobotan alur jalan atau antrean rakyat biasa. Adab yang sederhana namun
sulit diikuti. WNI sering bangga atau sekadar iri dengan Jepang yang kini jadi
negara maju, namun tidak diikuti oleh kebiasaan. Jadi sekadar iri yang ikut-ikutan
saja.
2. Kondisi perempatan jalan dan Zebra
Cross
Coba kita tinggalkan kendaraan
umum, kita coba beralih ke pejalan kaki dan kondisi perempatan lalu lintas kita
yang sedang tidak berjalan, namun sedang berhenti belum bergerak. Sering kali
kemerdekaan dan kebebasan tanpa aturan sering digabungkan dan dianggap
kewajaran oleh warga negara, terutama yang berkendaraan roda dua dan terkadang
oleh roda empat. Banyak kondisi Zebra Cross kita di injak dan di tempati
oleh kendaraan roda dua dan empat, yang padahal seharusnya di kosongkan. Entah karena
ada pejalan kaki atau tidaknya saat berhenti di lampu merah. Sebuah aturan
sangat sederhana bahwa kendaraan apapun selain pejalan kaki harus berhenti pada
garis di belakang zebra cross agar memberi kesempatan pada pejalan kaki
untuk menyebrang. Tapi betapa morat maritnya pola piker warga kita yang
menganggap kemerdekaan memiliki kendaraan yang mereka bayar sendiri dan pajaknya
dibayar dibanding pejalan kaki (yang mungkin dianggap tidak bayar pajak).
Sebuah kebiasaan salah hanya karena buru – buru atau karena sudah terlambat.
Hal yang sering di lumrahkan dan dianggap wajar.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Jika kita
melihat Jakarta sebelumnya dengan kondisi bisa berjalan setiap hari jika ingin
atau sekadar ingin sehat sebagai gaya hidup yang dilakukan seminggu sekali atau
dua kali, disebabkan kesibukan. Ingin berhemat untuk jarak dekat hingga
menengah dengan JakLingko yang sangat mengurangi pengeluaran transportasi yang
harus berpindah banyak titik atau bersimpul naik kendaraan umum. Rasanya
Jakarta saat ini bagi sebagian orang sudah cukup atau lebih dari sekadar cukup
walau belum seratus persen sangat nyaman. Sehingga waktu tempuh lumayan bisa
dihitung dan diperkirakan. Juga, biaya pengeluaran rumah tangga dan pribadi
bisa ditekan ke bawah sebagai pengeluaran.
Maka, bahasan
kita di bagian dua ini adalah transportasi yang apalagi istimewa dan bahkan
menghubungkan area dalam kota Jakarta dan juga perbatasan-perbatasan di
sekeliling Jakarta. Transportasi ini ada yang di bawah manajemen BUMN dan di bawah perusahaan swasta, dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya, dan dalam rentang waktu serta usia yang sudah, bahkan sejarahnya dapat ditarik ke era sebelum Indonesia Merdeka, dan ada juga yang baru lahir setelah era reformasi. Jadi, mari kita bahas satu per satu sesuai dengan rentang usia
termuda.
TransJakarta
adalah sebuah kata baru dan perusahaan yang dibentuk setelah era reformasi.
Masa ketika kepuasan publik atas transportasi yang dikelola negara atau
perusahaan koperasi swasta turun hampir ke titik nadir. Era di mana kecelakaan
dan kondisi buruk transportasi kota utama dan ibu kota negara dianggap sebagai
cermin buruk untuk wilayah - wilayah di kota lain di Indonesia. Di era 80
sampai 90, misalnya, ada banyak becak lalu lalang dengan aturan tidak jelas dan
bahkan menunggu penumpang di berbagai pasar yang kadang kala masuk ke jalan
utama kota. Kondisi lambat juga sering kali menghambat lalu lintas. Lalu ada
lagi kendaraan bemo atau bajai era bensin, kendaraan yang berisik dan
memekakkan telinga serta menimbulkan polusi udara.
Kemudian ada MRT kepanjangan dari Moda Raya Terpadu dalam bahasa Indonesia
dan Mass Rapid Transit dalam bahasa Inggris. Sebuah kereta
dalam jalur rel yang berjalan di atas dengan penopang tiang - tiang di tengah
jalan yang kemudian di taman-taman kecil sebagai pemanis. Bukan kereta seperti
umumnya namun kereta terkonsepsi tidak mengambil lahan lebih banyak, lebih sedikit lahan diambil dan dapat beroperasi dengan tidak menggganggu kendaraan dan lalu litas lain. Sebuah konsep desain rekayasa yang baik untuk kota yang sudah padat dan mengalami banyak perempatan dan titik persimpangan yang banyak. sehingga konsepnya tidak menambah kemacetan dan berjalan dalam rute yang sama secara bolak balik tanpa terhalang lalu lintas lainnya.
Jika kita
melihat Jakarta sebelumnya dengan kondisi bisa berjalan setiap hari jika ingin
atau sekadar ingin sehat sebagai gaya hidup yang dilakukan seminggu sekali atau
dua kali, disebabkan kesibukan. Ingin berhemat untuk jarak dekat hingga
menengah dengan JakLingko yang sangat mengurangi pengeluaran transportasi yang
harus berpindah banyak titik atau bersimpul naik kendaraan umum. Rasanya
Jakarta saat ini bagi sebagian orang sudah cukup atau lebih dari sekadar cukup
walau belum seratus persen sangat nyaman. Sehingga waktu tempuh lumayan bisa
dihitung dan diperkirakan. Juga, biaya pengeluaran rumah tangga dan pribadi
bisa ditekan ke bawah sebagai pengeluaran.
Maka, bahasan
kita di bagian dua ini adalah transportasi yang apalagi istimewa dan bahkan
menghubungkan area dalam kota Jakarta dan juga perbatasan-perbatasan di
sekeliling Jakarta. Transportasi ini ada yang di bawah manajemen BUMN dan di bawah perusahaan swasta, dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya, dan dalam rentang waktu serta usia yang sudah, bahkan sejarahnya dapat ditarik ke era sebelum Indonesia Merdeka, dan ada juga yang baru lahir setelah era reformasi. Jadi, mari kita bahas satu per satu sesuai dengan rentang usia
termuda.
TransJakarta
adalah sebuah kata baru dan perusahaan yang dibentuk setelah era reformasi.
Masa ketika kepuasan publik atas transportasi yang dikelola negara atau
perusahaan koperasi swasta turun hampir ke titik nadir. Era di mana kecelakaan
dan kondisi buruk transportasi kota utama dan ibu kota negara dianggap sebagai
cermin buruk untuk wilayah - wilayah di kota lain di Indonesia. Di era 80
sampai 90, misalnya, ada banyak becak lalu lalang dengan aturan tidak jelas dan
bahkan menunggu penumpang di berbagai pasar yang kadang kala masuk ke jalan
utama kota. Kondisi lambat juga sering kali menghambat lalu lintas. Lalu ada
lagi kendaraan bemo atau bajai era bensin, kendaraan yang berisik dan
memekakkan telinga serta menimbulkan polusi udara.
Kemudian ada MRT kepanjangan dari Moda Raya Terpadu dalam bahasa Indonesia
dan Mass Rapid Transit dalam bahasa Inggris. Sebuah kereta
dalam jalur rel yang berjalan di atas dengan penopang tiang - tiang di tengah
jalan yang kemudian di taman-taman kecil sebagai pemanis. Bukan kereta seperti
umumnya namun kereta terkonsepsi tidak mengambil lahan lebih banyak, lebih sedikit lahan diambil dan dapat beroperasi dengan tidak menggganggu kendaraan dan lalu litas lain. Sebuah konsep desain rekayasa yang baik untuk kota yang sudah padat dan mengalami banyak perempatan dan titik persimpangan yang banyak. sehingga konsepnya tidak menambah kemacetan dan berjalan dalam rute yang sama secara bolak balik tanpa terhalang lalu lintas lainnya.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Jika kita melihat Jakarta hari ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal berubah dan bertambah sesuai dengan jumlah penduduknya. Kota metropolitan menjadi kota megapolitan, bahkan sekarang sudah lebih besar lagi. Banyak perubahan besar di berbagai bidang yang mungkin kita pikir tidak mungkin di era - era sebelumnya. Pembangunan fisiknya pun semakin baik dan membantu warganya menjadi lebih bergerak dan merdeka
Mari kita ambil paling bawah, hal mendasar setiap anugerah TUHAN di kota besar ini. Pada era 1990 sampai awal 2000, sangat menyebalkan bagi pejalan kaki untuk berjalan di trotoar. Kondisi trotoar yang tidak sesuai dengan tubuh dan gerak, banyaknya lubang, serta ubin trotoar yang tidak rata atau bahkan membahayakan pejalan kaki. Namun, kini berjalan kaki bagi banyak pekerja yang kendaraannya tidak sampai di tempat kerja atau bahkan sampai di pintu masuk kantornya pun, merasa lebih nyaman. Misalnya, area sepanjang Sudirman sampai Bundaran Hotel Indonesia atau maju lebih ke arah Monas. Trotoar sudah nyaman, sebagian ditutupi pepohonan dan ada kursi-kursi sekadar untuk duduk agar tidak terlalu lelah.
Kemudian ada kegiatan CFD / Car Free Day dimana pejalan kaki bukan karena terpaksa harus. Berjalan kaki sudah seperti gaya hidup akhir pekan yang wajib dilakukan; baik tua, muda, bahkan anak - anak. Walau terkadang seminggu sekali bagi pekerja di kota ini. Namun setidaknya trotoar di kanan kiri area CFD ini juga sudah sama nyamannya. Suatu hal yang tidak pernah terpikirkan bagi warga Jakarta yang hidup dan tinggal di kota ini 20-30 tahun lalu. Kota yang lebih nyaman tidak hanya di akhir pekan, tetapi juga setiap hari, jadi kota yang lebih baik.
Kemudian kondisi lain juga diperbaiki, misalnya dengan angkutan umum resmi yang disubsidi oleh APBD Pemerintah Daerah Jakarta. Ada JakLingko (gabungan kata Jakarta dan kata jejaring dalam bahasa Manggarai, Nusa Tenggara Timur). Awalnya kendaraan gratis ini berasal dari sebutan OkTrip dan disesuaikan dengan kosakata baru yang masuk ke KBBI pada tahun 2018.
Angkutan gratis yang disubsidi penuh ini menawarkan kenyamanan, kondisi kendaraan umum yang tidak berhenti sembarangan, tidak menunggu sampai penuh, dan sopir yang ugal-ugalan. Kenyamanan warga Jakarta semakin dimanjakan lebih tinggi tingkatannya. Dari berjalan kaki yang menyehatkan untuk jarak dekat, kemudian ditambah angkutan gratis yang bisa menempuh jarak 10–20 km per satu arah rutenya. Sebuah jarak yang cukup membuat berkeringat jika berjalan di terik kota di wilayah tropis. Tentu saja keunggulannya bukan nyaman dan gratis saja. Namun juga unit yang berjarak tidak terlalu lama, umumnya hanya berkisar 5 menit di kondisi normal. Tentu saja, ini di luar waktu di jalan saat mungkin terkendala kemacetan di lingkungan Jakarta yang padat. Keunggulan lainnya. JakLingko ini melewati area-area di Jakarta seperti perkampungan atau wilayah sempit di jalan di permukiman padat penduduk, sehingga menjadi pengumpan/feeder wilayah Jakarta yang tidak dilewati angkutan umum biasa lainnya. Trayek atau jalurnya dibuat sedemikian rupa tidak beriringan dengan angkot - angkot yang sebelumnya, sudah dipegang, misalnya oleh gabungan KWK (Koperasi Wahana Kalpika) atau angkutan kecil lainnya.
Penyediaan kendaraan tanpa berbayar alias gratis, menjangkau area kecil dan dengan rentang waktu singkat dalam menunggu, membuat jaklingko ini saat ini cukup banyak memerdekakan penduduk Jakarta. Cukup dengan syarat menempelkan kartu keluaran bank BUMN atau bank Swasta tertentu yang ada di Indonesia, misalnya eMoney dari Bank Mandiri atau Flazz dari bank swasta BCA. sebuah syarat mudah yang memerdekakan warga Jakarta. Walau dengan kondisi yang tidak selalu sempurna tentunya. Karena sistem Jaklingko pun tidak selalu menjadi solusi tanpa masalah di lapangan. Namun, secara keseluruhan semua berjalan cukup baik dengan terus bertambahnya rute - rute yang dilalui dengan pertimbangan tertentu oleh Pemda dan TransJakarta sebagai operator di lapangan.

Kemarin baru saja, kita merasa merdeka dan merayakan berbagai kegiatan yang membuat bahagia anak-anak kecil dengan permainan dan hadiah kecil yang mungkin bisa dirasakan setahun sekali. Ibu – ibu yang dapat peralatan dapur
tambahan untuk memasak atau membuat kue dari menang lomba tingkat RT atau
bahkan RW di lingkungannya. Atau bapak – bapak dapat ember, kipas angina atau
hadiah lainnya. Ada juga Karang Taruna yang mulai di aktifkan
kembali di tingkat – tingkat atas jenjang keluarga –
keluarga Indonesia. Bahkan saat ini mulai ramai pawai – pawai kemeriahan dengan
pakaian dan semacam “cosplay” dengan baju burung – burung atau
tokoh – tokoh yang bernuansa Nusantara. Semoga semangat bersosialisasi seperti
ini terus bertumbuh di masyarakat kita yang sempat hilang di era pascareformasi awal.
Saya pun juga jadi kembali
teringat masa kecil di Jakarta saat usia sekolah, menang makan kerupuk dan
dapat hadiah dua buah buku dan 2 pensil yang dilapisi kertas warna coklat
dengan tulisan, juara dua makan kerupuk. Tahun berikutnya dapat juara satu lomba
permainan memasukkan paku ke dalam botol dengan hadiah sebuah botol minum bagus
warna – warni. Mungkin saat ini bisa disebut sebagai tumbler yang
modelnya sekelas, seharga ratusan ribu jika dirupiahkan ke tahun 2026. Namun
pun hadiahnya, terutama; kesenangan, kebahagiaan, teman satu wilayah itu
lebih menarik dibanding menang atau kalahnya (walau sedikit cemberut kalau
belum dapat hadiah utama). Hadiah hiburan yang setiap anak dapat agar adil dan merata tentu saja dibuat oleh panitia yang saat itu adalah Karang Taruna yang saya kenal akrab karena masih tetangga kami. Perasaan adil-merata yang dibagikan bagi
yang kalah ini juga yang membuat anak – anak tidak pulang ke pintu rumah dengan
tangan kosong. Ada bingkisan seperti hadiah Natal dari Sinterklas bagi
yang belum berhasil juara 1-3 di tiap lomba. Saya ingat betul momen indah ini
di masa kanak-kanak saya, Mungkin tidak semua daerah seperti di tempat saya
tinggal.
Terkait memori ini pun, saya
jadi kembali teringat dengan sebuah artikel di media – media sejarah kekinian
yang lebih terasa indie bagi media massa besar. Sebut saja
misalnya Historia.id yang sudah ada sejak 2010 jadi rujukan saya bacaan karena
dari sudut pandang berbeda, terasa segar dan unik atau Tirto.id yang
dengan infografisnya yang enak dilihat serta mudah dipahami. Dua web ini jadi
rujukan saya terkadang untuk data sejarah dan data mengenai Informatika yang
saya ajarkan. Web ini juga sering membahas hal – hal yang bahkan belum ada di
kurikulum dengan kurang lebihnya. Karena saya yakin ilmu pengetahuan terus
bergerak dan sebagai pendidik harus mendapat asupan yang cukup mengenai
informasi temuan sejarah baru atau data yang faktual dan kekinian.
Dalam salah satu artikelnya di web Tirto.id1 berstempel waktu (time stamp) 20 Desember 2018, misalnya, yang membahas pembangunan jalan raya Anyer – Panarukan yang saat ini masuk wilayah Provinsi Banten hingga Provinsi Jawa Timur sepanjang lebih dari 1.000 km. Rakyat dari sepanjang wilayah itu
berpartisipasi, tentunya dengan paksaan dan keharusan dari tingkatan di atasnya serta menjadi korban dari perilaku penjajahan kejam dan tidak manusiawi. Proses
keikut sertaan rakyat yang kala itu pastinya tidak adil dan belum sesuai ukuran
HAM saat era modern ini.
Bahkan jika boleh mengambil artikel dari Historia.id2 berstempel
waktu lebih awal di 22 Mei 2015, bahkan sastrawan terkenal Pramoedya dalam
karyanya Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang menjadi salah
satu kutipan artikel tersebut berbunyi : “ “Sejak dapat dipergunakan pada 1809
telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya”. Maka jelas memakan
korban ribuan rakyat saat itu di sepanjang jalan yang dibangun, maka keadilan
di masa itu dipastikan nol dalam satu tahun pembangunannya.
Namun, berita dan artikel pada tahun 2020 dan setelahnya kembali ditemukan bahwa Dandels, sebagai penggagas dan yang memerintahkan proyek mega besar di era itu, mencoba bersikap adil-merata dengan memberikan sejumlah dana. Berdasarkan
data angka tercatat di artikel berita seperti Kompas.com3 berstempel
waktu 31 Agustus 2024 atau news detik.com, tercatat sekitar 30.000 ringgit (1
ringgit / rijksdaalder = 2,40 gulden) di masa itu. Dana itu terutama di
Pembangunan jalan Jakarta ke Bogor hingga tahapan Bogor ke kandanghaur yang
saat ini masuk Cirebon Barat. Kemudian selepas pembangunan di wilayah
Karangsamboeng hingga Losari inilah ujung akhir masih dibayarkan.
Jadi, beberapa kisah usaha adil –
merata ini sebenarnya dicoba usahakan hingga titik tertentu. Namun, setelah
memasuki wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur inilah, ketidakadilan dirasakan
rakyat di sepanjang jalur berikutnya. Namun ini pun hasil rapat Daendels dengan para bupati lokal wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tanggal 25 Mei 1808 di rumah dinas Residen Semarang di Jalan Bojong 4, berdasarkan penelitian Endah Sri Hartatik dalam jurnal 'Paramita: Historical Studies Journal, 26 (2), 2016’.
Namun, setelah saya telusuri
kembali berita – berita terkini, sudah sepantasnya nama-nama rakyat dan warga
yang membangun jalan yang saat ini menjadi salah satu jalan nasional sejak
pembangunannya hingga saat ini untuk dikenang dan diabadikan dengan pantas dan
layak. Apa pun cara, usaha, dan hal-hal yang bersifat baik dan bertujuan untuk rakyat, semoga dapat disambut dengan baik.
Hal ini pun tampaknya mulai diadakan dengan penandatanganan kolaborasi kepala daerah Serang, Banten, dengan kepala daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dengan konsep Festival Anyer – Panarukan seperti yang terdapat di video Youtube channel CNN Indonesia 5 berstempel waktu Kamis, 30 Juli 2026, jam 19.45. Setidaknya sejarah ini diceritakan
kembali, dikenang kembali, dan dihidupkan dari rakyat untuk rakyat kembali.
Seperti juga yang tercantum pada portal resmi serangkab.go.id berstempel
waktu Selasa, 18 Agustus 2026 6
Namun, setelah saya telusuri kembali berita – berita terkini, sudah sepantasnya
nama – nama rakyat dan warga yang membangun jalan yang saat ini menjadi salah
satu jalan nasional sejak pembangunannya hingga saat ini untuk dikenang dan diabadikan dengan pantas dan layak. Apa pun cara, usaha dan hal-hal yang bersifat baik dan bertujuan untuk rakyat semoga dapat disambut dengan baik.
Hal ini pun tampaknya mulai diadakan dengan penandatanganan kolaborasi kepala daerah Serang, Banten, dengan kepala daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dengan konsep Festival Anyer – Panarukan seperti yang terdapat di video Youtube channel CNN Indonesia 5 berstempel waktu Kamis, 30 Juli 2026, jam 19.45. Setidaknya sejarah ini diceritakan kembali, dikenang kembali, dan dihidupkan oleh rakyat untuk rakyat kembali. Seperti juga yang tercantum pada portal
resmi serangkab.go.id berstempel waktu
Selasa, 18 Agustus 2026 6
sumber
1.https://tirto.id/sejarah-jalur-daendels-semacam-jalan-tol-di-era-hindia-belanda-dcnj
2.https://www.historia.id/article/sepuluh-fakta-di-balik-pembangunan-jalan-daendels-dari-anyer-ke-panarukan-6ae2w
3.https://www.kompas.com/tren/read/2024/08/31/173000265/dibayar-atau-ditipu-fakta-upah-kerja-rodi-jalan-daendels-anyer-panarukan
4.https://news.detik.com/berita/d-5365828/daendels-bayar-upah-pekerja-jalan-anyer-panarukan-tapi-dikorupsi-benarkah
5.https://www.cnnindonesia.com/tv/20260730190826-407-1386800/video-festival-anyer-panarukan-bangkitkan-jalur-ekonomi-kolonial
6.https://serangkab.go.id/berita/songsong-festival-anyer-panarukan-camat-anyar-imron-satukan-seni-budaya-silat-dan-debus



