--
0




Apakah kita menyadari satu hal saat pertama kali melihat sesuatu? Misalnya jika kita melihat hari ini dan mau menggunakan kolom komentar pada web berbasis blog yang dimiliki Google. Kita akan melihat seperti gambar dibawah ini. Karena saya seorang blog walker dan suka membaca dan mengomentari isi sebuah blog dan kadang memberi emoticon pada sebuah blog menarik dari judul dan isinya. Maka saya langsung sadar, ada hal yang salah dan tidak pada biasanya dan tidak pada seharusnya.


Begitulah teknologi, apa yang kita lihat hari ini bisa saja beruabh esok hari dan seterusnya. Apa yang kita pahami hari ini, apa yang kita lihat hari ini atau kemarin, bisa saja juga berubah tadi malam. Semua kita lihat dan kita rasa permanen kadang jadi hal lawas di esok pagi dan hari seterusnya. Sistem yang kita lihat dan berjalan normal hari ini, bisa jadi error atau malahan tidak jalan sama sekali. Begitu cepatnya tenologi dan sistem berubah.
Kita sering melihat apa yang lalu terkadang sebagai hal saat ini dan besok mungkin akan ada lagi. mata dan pikiran kita meilhat dan hanya ingin menerima jika suatu hal yang kita lihat sebelumnya, besok atau lusa pasti ada dalam sebuah aplikasi berbasis web. Padahal tidak selalu demikian dan akan selalu demikian.
 
Saya baru mengalaminya Jumat lalu. mengikuti sebuah pelatihan di sebuah sekolah dari Guru Informatika yang berada di wilayah kami. Guru ini menyebutkan sebuah fitur yang nampaknya menjadi andalan beliau untuk membuat materi ini terlihat mudah dan lebih cepat dikerjakan. Apalagi dengan fitur AI yang dilatih dari pelatih kemendikdasmen sebelumnya, beliau begitu yakin dengan fitur penting ini. Namun siang itu, apa yang beliau cari ternyata fiturnya hari itu tiba - tiba menghilang tanpa jejak begitu saja. fitur penghubung antara aplikasi Gemini dan Google Flownya tiba - tiba menghilang. Beliau mencoba meyakinkan kami bahwa data ada namun, fitur mendadak hilang begitu saja dalam hitungan jam sebelum pelatihan kecil ini. Suatu hal yang tidak pernah beliau duga.

Maka bisa dikatakan, apa yang kita sadari saat melihat di hari ini, bisa saja besok atau bahkan beberapa jam akan hilang dan diganti atau berubah.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan
om Jay

 

--
0


 

    Mungkin tidak banyak orang yang pernah mendengar web bernama LinkedIn. web buatan Reid Hoffman yang dibuat ide dan dikembangkan awal di ruang tamu rumahnya sejak 2003. Kemudian berpindah di kantor wilayah Mountain View, California Amerika Serikat. Reid sendiri merupakan orang lama di dunia teknologi informasi, dahulu merupakan eks-eksekutif Paypal, perusahaan milik Elon Musk yang sangat terkenal di dunia teknologi. Sehingga aplikasi ini menjadi sangat terkenal di kalangan profesional pencari kerja dan perekrut kerja di dunia sekitar 2006 dengan mulainya tingkat keuntungan atau  profit  yang mulai terlihat yang sejalan dengan keuntungan dari pengguna yang terus bertumbuh. Perusahaan semakin berkembang dan mendapatkan IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham perdananya di 2011.

setelah resmi semakin menguntungkan, maka perusahaan besar lain seperti Microsoft mulai membeli sebagian besar sahamnya di 2016 dengan proses akuisisi senilai $26.2 million atau setara Rp 461.9 trilyun jika di konversi ke nilai tukar hari ini di 6 September 2026. Kenapa Microsoft sebagai perusahaan yang pernah memonopoli perangkat lunak dunia seperti operating system Windows-nya yang terkenal atau aplikasi lunak office-nya yang saat ini masih mendominasi sebagai jawara aplikasi lunak terbanyak dipakai di Laptop dan PC baik yang resmi maupun bajakan di Indonesia. Perusahaan ini jika mengakuisisi, pastinya ada pertimbangan bisnis dan adanya kepentingan ekonomi maha besar. Jadi LinkedIn memang memonopoli juga seperti Microsoft di era Pendiri nya Bill Gates, sampai akhirnya kalah di pengadilan Eropa. Tentu LinkedIn diharapkan bisa memonopoli pasar yang diemban aplikasi berbasis web ini.
 
Apa yang dapat digunakan pada LinkedIn saat ini?
Pertama, ini adalah aplikasi pertama yang menghubungkan perusahaan multinasional dan Nasional di Indonesia yang menghubungkan informasi langsung dengan pekerjanya yang sudah karyawan tetap sebagai anggota. kedua, aplikasi ini menghubungkan perusahaan dengan pencari kerja baik level awal sampai yang sudah profesional. Ketiga aplikasi ini menghubungkan bagian HRD (Human Resources Department) atau bagian pemberi kerja yang dapat langsung terhubung dengan pencari kerja tanpa ditengahi perusahaan lain alias tanpa Outsourcing system yang terkenal memberikan kesulitan seperti potongan upah kerja besar atau sistem kontrak yang tidak jelas. Sehingga LinkedIn semacam pasar terbuka tiga rangkai sekaligus: perusahaan utama, perwakilan perusahaan melalui HRD dan pencari kerja level tertentu. Biasanya dengan kemampuan dan keahlian tingkat menengah dan mahir.

LinkedIn digunakan untuk perekrutan lintas negara bahkan lintas benua, hingga saat ini sangat mampu digunakan. Banyak pekerja lokal Indonesia saat ini bisa bekerja di luar negri tanpa harus hadir terlebih dahulu di sesi interview di Amerika Serikat atau Eropa dengan membuang uang mahal untuk mendapat pekerjaan Impian dengan keuntungan /  benefit  bentuk Dollar atau Euro. Bahkan pekerja dengan keahlian spesifik bahkan sekarang sudah dicari pencari pekerja / perekrut perusahaan (HeadHunter) besar luar negri langsung di Indonesia. Baik dengan Interview atau bisa datang langsung ke perusahaan perekrut sebagai wakil perusahaan asing tersebut di Indonesia.
 
Dengan kondisi ini, aplikasi ini memiliki secara langsung data diri dan menyimpan jutaan orang - orang yang berkeahlian tingkat menengah hingga tinggi, tidak hanya di bidang informatika namun juga orang - orang di bidang akutansi, ekonomi dan keahlian - keahlian lainnya. Perusahaan juga dapat mengakses dan melihat karyawan - karyawan potensial dari perusahaan saingan maupun divisi - divisi internal perusahaan lain, lengkap dengan seluruh isi tim yang terkoneksi. Inilah kekuatan sebenarnya dari LinkedIn. Jadi jika dahulu orang - orang profesional hanya dapat di lihat oleh rekan se-profesi atau yang tergabung dalam profesi yang sama. Saat ini cukup dengan bergabung sebagai pengguna LinkedIn maka kita dapat membuka basis data sebagian pekerja profesioaal di seluruh dunia. Apalagi jika kita pengguna tingkat / level  Premium maka kita mampu melihat seluruh fungsi LinkedIn. Mulai dari melihat perusahaan, melihat siapa yang tertarik dengan keahlian kita baik secara perorangan, orang-orang perekrut Headhunter hingga perwakilan perusahaan langsung seperti staff atau level C (Chief) manajemen di perusahaan tersebut.
 
Maka jika kita bertanya dan ingin tahu perusahaan apa yang merekrut, siapa yang direkrut dan kebutuhan perusahaan itu seperti apa setiap waktu. LinkedIn adalah web paling dicari di dunia. Maka Microsoft sebagai pemilik saat ini, sangat mudah melihat rekanan bisnisnya atau bahkan pesaingnya dalam perekrutan karyawan terbaik di seluruh dunia. Walaupun pastinya masih tidak 100% membuka tabir rahasia perusahaan, namun setidaknya sudah 90-95% rahasia pekerja di sebuah perusahaan sangat jelas mudah di akses. Jadi pekerja profesional sekarang selain harus memiliki kompetensi resmi bidangnya, setidaknya agar diakui adalah wajib memiliki akun LinkedIn.
Apakah anda memilikinya?


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay



--
0


Bab 4: Katedral Angka Bank Sentral
 

        Gedung Bank Sentral berdiri megah di pusat kota, dibentengi pilar-pilar batu granit pejal yang melambangkan ketahanan dan ketertiban. Di jantung bangunan ini, terbentang sebuah aula raksasa beratap kubah tinggi. Ruangan seluas lapangan sepak bola itu bukanlah tempat yang sunyi, melainkan sebuah katedral perhitungan yang riuh oleh konser mekanis tanpa henti.

Di sinilah ratusan juru hitung insani dan juru catat senior bekerja berdampingan. Lebih dari tiga ratus meja kayu berjejer rapi dalam barisan yang presisi. Di atas panggung kerja itu, tak ada satu pun monitor berpendar atau papan ketik elektronik. Sebagai gantinya, suasana diisi oleh gemertuk biji-biji sempoa kayu jati, dentangan bilah mesin ketik mekanis yang tajam, serta derit halus dari putaran roda gigi Aritmometer—kalkulator mekanis bertenaga engkol berbahan kuningan dan baja.
Di barisan terdepan, duduk Aris. Sebagai juru catat senior yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade, Aris adalah salah satu sangga utama di aula ini. Tugasnya tak main-main: menyelaraskan neraca perdagangan luar negeri dan merekapitulasi arus kas nasional. Di dunia tanpa cip silikon ini, seluruh pasak keuangan negara bergantung penuh pada ketajaman logika, daya ingat, dan ketangkasan jemari para pekerja di ruangan tersebut.

Bab 5: Tarian Sempoa dan Roda Gigi

Jemari Aris bergerak dengan kelincahan fantastis di atas deretan biji sempoa. Klak-klik, klak-klik. Setiap geseran biji kayu mewakili ribuan, jutaan, hingga miliaran rupiah. Di sebelah sempoanya, bersanding sebuah Aritmometer berbobot pejal. Aris memasukkan deretan digit angka dengan menggeser tuas-tuas kecil pada panel logam, lalu memutar engkol utama di samping mesin: krii-klak!

Roda-roda gigi internal berputar di dalam kotak kuningan, menjumlahkan nilai secara fisik melalui perpindahan takik mekanis. Suara denting bel kecil berbunyi saat perhitungan mencapai batas puluhan ribu, menandakan bahwa angka akumulasi telah siap dimeteraikan dalam catatan.

“Dua puluh empat juta delapan ratus lima puluh ribu…” gumam Aris lirih, menyuarakan angka yang baru saja diproses oleh logikanya.

Ia lalu berpaling ke mesin ketik mekanis di sisi kirinya. Dengan cermat, Aris memasukkan tiga lembar kertas formulir neraca tebal yang diselingi dua lembar kertas karbon hitam. Kertas karbon ini digunakan untuk membuat salinan arsip secara simultan tanpa perlu menyalin ulang. Aris merenggangkan jemarinya sejenak, menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai mengetikkan angka-angka hasil perhitungannya ke atas lembaran resmi Bank Sentral.


Bab 6: Beban Kertas Karbon dan Batas Manusia

Matahari makin meninggi, menumpahkan suria terik yang menembus jendela-jendela kaca patri Bank Sentral. Jejak kelelahan mulai membayang di bawah mata Aris. Punggungnya terasa sengal akibat duduk tegak berjam-jam, sementara otot-otot lengannya pegal oleh gerakan memutar engkol Aritmometer yang konstan. Cahaya lampu gantung yang temaram mulai membuat matanya kabur dan pedih.

Di sinilah letak muasal konflik di dunia yang menggantungkan diri pada perhitungan manual: keterbatasan fisik manusia. Otak manusia bukanlah mesin yang tak kenal lelah, dan raga manusia rentan terhadap ketidaktelitian saat rasa kantuk dan kelelahan menyergap.

Aris sedang mengetik baris terakhir dari dokumen neraca keuangan bulanan—sebuah dokumen setebal lima puluh halaman yang telah dihitungnya sejak subuh. Jemarinya yang gemetar tipis menekan salah satu bilah mesin ketik.
Tuk!

Jantung Aris seakan berhenti berdetak saat melihat karakter yang tertera di atas kertas. Di kolom akumulasi tenggat pajak, jemarinya secara tak sengaja menekan angka ‘8’, padahal perhitungan di sempoa secara mutlak menunjukkan angka ‘3’.
Aris tertegun. Di atas lembaran kertas karbon, kesalahan ketik adalah dosa fatal tanpa ampun. Tidak ada tombol hapus instan, tidak ada fungsi pembatalan, dan tidak ada koreksi digital. Penggunaan cairan koreksi atau pengerokan tinta pada kertas dokumen resmi bernomor seri dilarang keras oleh regulasi bank karena dianggap sebagai bentuk pemalsuan data.
Srekkk.

Dengan helaan napas berat dan rasa kecewa yang merayap, Aris menarik tuas penggulung mesin ketik, lalu merobek tiga lembar kertas neraca yang hampir tuntas itu. Kertas karbon hitam yang terlipat melepaskan serbuk jelaga tebal yang mengotori jemarinya. Kesalahan satu angka berarti seluruh halaman itu batal demi hukum. Yang lebih menyakitkan: ia harus menghitung ulang seluruh deret data dari awal untuk memastikan tidak ada akumulasi kesalahan yang terbawa.

Aris menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu. Ia menatap ratusan rekan kerjanya di sekeliling aula yang juga sedang berjuang melawan rasa lelah, tumpukan dokumen tebal, dan ancaman kesalahan ketik yang senantiasa mengintai. Pekerjaan ini terasa sangat lambat, rumit, dan menguras stamina jiwa serta raga.

Namun, saat Aris menatap telapak tangannya yang ternoda tinta dan jelaga karbon, ada satu kesadaran murni yang terbersit di benaknya. Di dunia tanpa komputer ini, tidak ada proses yang instan. Setiap angka yang tertera di dalam buku kas negara lahir dari keringat, ketelitian, dedikasi, dan kejujuran murni manusia—bukti nyata bahwa peradaban mereka bergerak bukan karena dorongan mesin pintar yang dingin, melainkan karena keandalan jiwa manusia yang pantang menyerah.



Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay

--
0



 Bab 1: Arunika Mekanis

        Arunika merekah di ufuk Kota Nusantara, menyepuh mahkota gedung-gedung beton dengan kehangatan pendar jingga keemasan. Di kota ini, udara bersih dari deru statis maupun dengung pampat yang lazim merambat dari deretan peladen mahadata. Nusantara bernapas dengan ritme yang sepenuhnya purba dan berdenyut—ritme roda gigi, tembaga, uap air, dan gesekan rel besi.

Ketika Aris melangkah keluar dari serambi kediamannya, udara pagi menyergapnya dengan aroma pekat: perpaduan ganjil antara petrikor kertas, rajah tinta cetak, dan sisa jelaga dari stasiun sentral. Di sepanjang trotoar lebar yang dipayungi pepohonan rindang, tak satu pun pejalan kaki yang menunduk takluk pada gawai berlayar kaca. Tidak ada pendaran cahaya biru yang mencetak bayang muram di wajah mereka, tidak pula ada simpang siur sinyal seluler yang menembus kebisuan dinding beton.
Manusia bergerak dengan pandangan yang tak segan bersitatap. Di pangkuan dan genggaman jemari warga yang rehat di bangku taman, terhampar surat kabar cetak yang tebal. Lembar-lembar lapang itu bergemerisik lembut, seolah saling berbisik saat disapa angin pagi. Aris mengangguk takzim menyapa Pak Broto, loper koran uzur di sudut jalan yang menata tumpukan edisi harian dengan telaten. Pagi ini, berita utama mengenai peresmian jalur kereta uap antarkota mendominasi halaman muka, tepercik dalam rupa huruf cetak timbul yang tegas dan legam.


                        Bab 2: Denyut Jalanan Tanpa Mikroprosesor

        Aris melangkah menuju persimpangan utama. Lanskap lalu lintas di kota ini mementaskan orkestrasi mekanis murni. Di atas aspal yang membentang mulus, deru kendaraan berseliweran dengan jujur; bahasa mesin yang dapat dieja oleh setiap montir jalanan. Kendaraan-kendaraan ini—baik yang menenggak bensin maupun meraup daya baterai murni—dirangkai sepenuhnya tanpa Unit Pengendali Mesin (ECU). Tidak ada sirkuit terpadu, tiada komputer penakar injeksi, dan raib sudah layar navigasi yang berpendar manja.

Segalanya tunduk pada dalil fisika yang telanjang: karburator yang menghirup udara dan bahan bakar secara mekanis, sistem pengapian distributor berbekal platina, serta roda gigi manual yang menuntut kepiawaian mutlak dari jemari sang pengemudi. Di sisinya, trem kabel berdenting nyaring setiap kali tuas bajanya ditarik, meluncur anggun di atas rel yang membelah jantung kota. Di kejauhan, cerobong lokomotif lintas wilayah menyemburkan napas asap tipis ke angkasa, memekikkan siulan tajam yang menandai migrasi para penglaju pagi.
Kota ini tak takluk pada algoritma nirkasatmata, melainkan berpijak teguh pada presisi roda gigi, regangan pegas, dan keandalan budi daya manusia. Aris mengawasi seorang pengemudi mobil listrik lawas yang menyingkap kap mesin di tepi jalan. Tanpa pemindai digital penentu kerusakan, pria itu hanya bermodalkan sebelah kunci pas dan ketajaman mata untuk menakar sakelar kumparan. Di sini, segala hal tampil kasatmata, tuntas, dan berwujud nyata.


                                Bab 3: Jejak Transaksi dan Jaringan

        Memasuki kawasan niaga, Aris membelokkan langkah ke sebuah kedai roti legendaris yang bersandar di bibir alun-alun. Di dalam ruangan, semerbak gandum yang baru diangkat dari perapian langsung menguar pekat. Saat tiba gilirannya memesan, Aris tidak mengeluarkan kartu plastik nirsentuh, apalagi memindai kode maya. Ia merogoh saku mantelnya, mengulurkan beberapa lembar uang kertas dan koin perak yang berdenting mantap di atas pualam meja kasir.

Sang puan kasir tersenyum ramah, tangannya lincah menari di atas mesin hitung dari logam berlapis kuningan. Tombol-tombol angkanya ditekan dan membalas dengan bunyi ketak-ketuk yang ritmis, dipuncaki dentang bel nyaring kala laci kayu jati itu terpental terbuka. Di meja sebelah, seorang saudagar tengah menuntaskan perkara sewa-menyewa menggunakan cek kertas tebal, digores dengan pena celup bertinta hitam legam. Setiap riwayat pertukaran harta tercatat abadi dalam buku besar bersampul kulit—sebuah benteng arsip fisik yang mustahil runtuh hanya karena mati listrik atau retasan peretas.
Usai menyesap sarapannya, Aris menghampiri bilik telepon umum berkabin kayu mahoni di sudut jalan. Di dalamnya bertengger pesawat telepon bakelit hitam yang pejal bersanding dengan cakram putarnya.

Aris menyuapkan sekeping koin perunggu, lalu memutar cakram angka itu satu per satu: sret... klak, sret... klak.

Di ujung saluran, desis statis merambat pelan sebelum akhirnya dikaitkan ke Kantor Telepon Pusat. Seorang operator—wanita bernama Maya yang duduk menghadapi papan sambung raksasa berhias belukar palam penghubung—menyapa dengan vokal yang hangat dan utuh.

"Kantor Pusat Telepon. Ke wilayah mana panggilan ini hendak ditautkan, Tuan?" sapanya sopan.
"Tolong tautkan saya dengan nomor 4-8-2 di Distrik Timur," jawab Aris santai.

Di ruang kendali pusat, jemari lentik Maya seketika mencabut palam kawat jantan, menancapkannya pas ke dalam soket tujuan di atas panel tembaga. Getar dering pun melesat melintasi jaringan kawat yang merajut tiang-tiang kayu kota, menjembatani dua manusia lewat rambatan frekuensi nyata yang dikendarai arus listrik.
Tidak ada pesan instan yang terbang dalam sekejap mata, tidak ada hujan notifikasi yang memberondong atensi, dan tiada lagi keterasingan di balik pendaran layar gawai. Di dunia yang melupakan komputer ini, sang waktu berjalan selaras dengan helaan napas manusia; sebuah era di mana setiap bait percakapan bernilai mahal karena menuntut kehadiran, kesabaran, dan segenap jiwa yang utuh.


Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay

--
0

        Sekolah sejatinya adalah rumah kedua. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk ancaman agar proses penyerapan ilmu serta pembentukan karakter dapat berjalan optimal. Untuk menjamin hal ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan regulasi tegas mengenai pencegahan kekerasan. Merujuk pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP), terdapat 6 (enam) kategori kekerasan yang dilarang keras terjadi di lingkungan sekolah. Sebagai pendidik, saya ingin mengajak Anda semua untuk mengenali kategori-kategori tersebut agar kita bisa bersama-sama melakukan pencegahan.

Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:
1. Kekerasan Fisik
Ini adalah bentuk kekerasan yang paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal - hal yang dimaksud adalah memukul, menendang, perkelahian, tawuran, penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan sekolah.

2. Kekerasan Psikis
Berbeda dengan kekerasan fisik, kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain pengucilan, penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.
3. Perundungan (Bullying)
Perundungan merupakan irisan dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat.
 4. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual mencakup setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya pelecehan fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki nuansa seksual.
5. Diskriminasi dan Intoleransi
Lingkungan belajar harus menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan hak peserta didik. Hal yang termasuk ke dalam kategori ini adalah, membeda-bedakan perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit, jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan intelektual, mental, sensorik, dan fisik).
6. Kebijakan yang Mengandung Kekerasan
Kategori ini sering kali luput dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis) di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya kekerasan. Contohnya antara lain peraturan sekolah yang mewajibkan hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
Mencegah kekerasan bukan hanya tugas kepala sekolah atau guru bimbingan dan konseling, melainkan tanggung jawab kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.


Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay