Arunika merekah di ufuk Kota Nusantara, menyepuh mahkota gedung-gedung beton dengan kehangatan pendar jingga keemasan. Di kota ini, udara bersih dari deru statis maupun dengung pampat yang lazim merambat dari deretan peladen mahadata. Nusantara bernapas dengan ritme yang sepenuhnya purba dan berdenyut—ritme roda gigi, tembaga, uap air, dan gesekan rel besi.
Ketika Aris melangkah keluar dari serambi kediamannya, udara pagi menyergapnya dengan aroma pekat: perpaduan ganjil antara petrikor kertas, rajah tinta cetak, dan sisa jelaga dari stasiun sentral. Di sepanjang trotoar lebar yang dipayungi pepohonan rindang, tak satu pun pejalan kaki yang menunduk takluk pada gawai berlayar kaca. Tidak ada pendaran cahaya biru yang mencetak bayang muram di wajah mereka, tidak pula ada simpang siur sinyal seluler yang menembus kebisuan dinding beton.
Manusia bergerak dengan pandangan yang tak segan bersitatap. Di pangkuan dan genggaman jemari warga yang rehat di bangku taman, terhampar surat kabar cetak yang tebal. Lembar-lembar lapang itu bergemerisik lembut, seolah saling berbisik saat disapa angin pagi. Aris mengangguk takzim menyapa Pak Broto, loper koran uzur di sudut jalan yang menata tumpukan edisi harian dengan telaten. Pagi ini, berita utama mengenai peresmian jalur kereta uap antarkota mendominasi halaman muka, tepercik dalam rupa huruf cetak timbul yang tegas dan legam.
Bab 2: Denyut Jalanan Tanpa Mikroprosesor
Aris melangkah menuju persimpangan utama. Lanskap lalu lintas di kota ini mementaskan orkestrasi mekanis murni. Di atas aspal yang membentang mulus, deru kendaraan berseliweran dengan jujur; bahasa mesin yang dapat dieja oleh setiap montir jalanan. Kendaraan-kendaraan ini—baik yang menenggak bensin maupun meraup daya baterai murni—dirangkai sepenuhnya tanpa Unit Pengendali Mesin (ECU). Tidak ada sirkuit terpadu, tiada komputer penakar injeksi, dan raib sudah layar navigasi yang berpendar manja.Segalanya tunduk pada dalil fisika yang telanjang: karburator yang menghirup udara dan bahan bakar secara mekanis, sistem pengapian distributor berbekal platina, serta roda gigi manual yang menuntut kepiawaian mutlak dari jemari sang pengemudi. Di sisinya, trem kabel berdenting nyaring setiap kali tuas bajanya ditarik, meluncur anggun di atas rel yang membelah jantung kota. Di kejauhan, cerobong lokomotif lintas wilayah menyemburkan napas asap tipis ke angkasa, memekikkan siulan tajam yang menandai migrasi para penglaju pagi.
Kota ini tak takluk pada algoritma nirkasatmata, melainkan berpijak teguh pada presisi roda gigi, regangan pegas, dan keandalan budi daya manusia. Aris mengawasi seorang pengemudi mobil listrik lawas yang menyingkap kap mesin di tepi jalan. Tanpa pemindai digital penentu kerusakan, pria itu hanya bermodalkan sebelah kunci pas dan ketajaman mata untuk menakar sakelar kumparan. Di sini, segala hal tampil kasatmata, tuntas, dan berwujud nyata.
Bab 3: Jejak Transaksi dan Jaringan
Memasuki kawasan niaga, Aris membelokkan langkah ke sebuah kedai roti legendaris yang bersandar di bibir alun-alun. Di dalam ruangan, semerbak gandum yang baru diangkat dari perapian langsung menguar pekat. Saat tiba gilirannya memesan, Aris tidak mengeluarkan kartu plastik nirsentuh, apalagi memindai kode maya. Ia merogoh saku mantelnya, mengulurkan beberapa lembar uang kertas dan koin perak yang berdenting mantap di atas pualam meja kasir.Sang puan kasir tersenyum ramah, tangannya lincah menari di atas mesin hitung dari logam berlapis kuningan. Tombol-tombol angkanya ditekan dan membalas dengan bunyi ketak-ketuk yang ritmis, dipuncaki dentang bel nyaring kala laci kayu jati itu terpental terbuka. Di meja sebelah, seorang saudagar tengah menuntaskan perkara sewa-menyewa menggunakan cek kertas tebal, digores dengan pena celup bertinta hitam legam. Setiap riwayat pertukaran harta tercatat abadi dalam buku besar bersampul kulit—sebuah benteng arsip fisik yang mustahil runtuh hanya karena mati listrik atau retasan peretas.
Usai menyesap sarapannya, Aris menghampiri bilik telepon umum berkabin kayu mahoni di sudut jalan. Di dalamnya bertengger pesawat telepon bakelit hitam yang pejal bersanding dengan cakram putarnya.
Aris menyuapkan sekeping koin perunggu, lalu memutar cakram angka itu satu per satu: sret... klak, sret... klak.
Di ujung saluran, desis statis merambat pelan sebelum akhirnya dikaitkan ke Kantor Telepon Pusat. Seorang operator—wanita bernama Maya yang duduk menghadapi papan sambung raksasa berhias belukar palam penghubung—menyapa dengan vokal yang hangat dan utuh.
"Kantor Pusat Telepon. Ke wilayah mana panggilan ini hendak ditautkan, Tuan?" sapanya sopan.
"Tolong tautkan saya dengan nomor 4-8-2 di Distrik Timur," jawab Aris santai.
Di ruang kendali pusat, jemari lentik Maya seketika mencabut palam kawat jantan, menancapkannya pas ke dalam soket tujuan di atas panel tembaga. Getar dering pun melesat melintasi jaringan kawat yang merajut tiang-tiang kayu kota, menjembatani dua manusia lewat rambatan frekuensi nyata yang dikendarai arus listrik.
Tidak ada pesan instan yang terbang dalam sekejap mata, tidak ada hujan notifikasi yang memberondong atensi, dan tiada lagi keterasingan di balik pendaran layar gawai. Di dunia yang melupakan komputer ini, sang waktu berjalan selaras dengan helaan napas manusia; sebuah era di mana setiap bait percakapan bernilai mahal karena menuntut kehadiran, kesabaran, dan segenap jiwa yang utuh.
konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog dalam rangka lomba blog OmJay
Ketika Aris melangkah keluar dari serambi kediamannya, udara pagi menyergapnya dengan aroma pekat: perpaduan ganjil antara petrikor kertas, rajah tinta cetak, dan sisa jelaga dari stasiun sentral. Di sepanjang trotoar lebar yang dipayungi pepohonan rindang, tak satu pun pejalan kaki yang menunduk takluk pada gawai berlayar kaca. Tidak ada pendaran cahaya biru yang mencetak bayang muram di wajah mereka, tidak pula ada simpang siur sinyal seluler yang menembus kebisuan dinding beton.
Manusia bergerak dengan pandangan yang tak segan bersitatap. Di pangkuan dan genggaman jemari warga yang rehat di bangku taman, terhampar surat kabar cetak yang tebal. Lembar-lembar lapang itu bergemerisik lembut, seolah saling berbisik saat disapa angin pagi. Aris mengangguk takzim menyapa Pak Broto, loper koran uzur di sudut jalan yang menata tumpukan edisi harian dengan telaten. Pagi ini, berita utama mengenai peresmian jalur kereta uap antarkota mendominasi halaman muka, tepercik dalam rupa huruf cetak timbul yang tegas dan legam.
Bab 2: Denyut Jalanan Tanpa Mikroprosesor
Segalanya tunduk pada dalil fisika yang telanjang: karburator yang menghirup udara dan bahan bakar secara mekanis, sistem pengapian distributor berbekal platina, serta roda gigi manual yang menuntut kepiawaian mutlak dari jemari sang pengemudi. Di sisinya, trem kabel berdenting nyaring setiap kali tuas bajanya ditarik, meluncur anggun di atas rel yang membelah jantung kota. Di kejauhan, cerobong lokomotif lintas wilayah menyemburkan napas asap tipis ke angkasa, memekikkan siulan tajam yang menandai migrasi para penglaju pagi.
Kota ini tak takluk pada algoritma nirkasatmata, melainkan berpijak teguh pada presisi roda gigi, regangan pegas, dan keandalan budi daya manusia. Aris mengawasi seorang pengemudi mobil listrik lawas yang menyingkap kap mesin di tepi jalan. Tanpa pemindai digital penentu kerusakan, pria itu hanya bermodalkan sebelah kunci pas dan ketajaman mata untuk menakar sakelar kumparan. Di sini, segala hal tampil kasatmata, tuntas, dan berwujud nyata.
Memasuki kawasan niaga, Aris membelokkan langkah ke sebuah kedai roti legendaris yang bersandar di bibir alun-alun. Di dalam ruangan, semerbak gandum yang baru diangkat dari perapian langsung menguar pekat. Saat tiba gilirannya memesan, Aris tidak mengeluarkan kartu plastik nirsentuh, apalagi memindai kode maya. Ia merogoh saku mantelnya, mengulurkan beberapa lembar uang kertas dan koin perak yang berdenting mantap di atas pualam meja kasir.
Sang puan kasir tersenyum ramah, tangannya lincah menari di atas mesin hitung dari logam berlapis kuningan. Tombol-tombol angkanya ditekan dan membalas dengan bunyi ketak-ketuk yang ritmis, dipuncaki dentang bel nyaring kala laci kayu jati itu terpental terbuka. Di meja sebelah, seorang saudagar tengah menuntaskan perkara sewa-menyewa menggunakan cek kertas tebal, digores dengan pena celup bertinta hitam legam. Setiap riwayat pertukaran harta tercatat abadi dalam buku besar bersampul kulit—sebuah benteng arsip fisik yang mustahil runtuh hanya karena mati listrik atau retasan peretas.
Usai menyesap sarapannya, Aris menghampiri bilik telepon umum berkabin kayu mahoni di sudut jalan. Di dalamnya bertengger pesawat telepon bakelit hitam yang pejal bersanding dengan cakram putarnya.
Aris menyuapkan sekeping koin perunggu, lalu memutar cakram angka itu satu per satu: sret... klak, sret... klak.
Di ujung saluran, desis statis merambat pelan sebelum akhirnya dikaitkan ke Kantor Telepon Pusat. Seorang operator—wanita bernama Maya yang duduk menghadapi papan sambung raksasa berhias belukar palam penghubung—menyapa dengan vokal yang hangat dan utuh.
"Kantor Pusat Telepon. Ke wilayah mana panggilan ini hendak ditautkan, Tuan?" sapanya sopan.
"Tolong tautkan saya dengan nomor 4-8-2 di Distrik Timur," jawab Aris santai.
Di ruang kendali pusat, jemari lentik Maya seketika mencabut palam kawat jantan, menancapkannya pas ke dalam soket tujuan di atas panel tembaga. Getar dering pun melesat melintasi jaringan kawat yang merajut tiang-tiang kayu kota, menjembatani dua manusia lewat rambatan frekuensi nyata yang dikendarai arus listrik.
Tidak ada pesan instan yang terbang dalam sekejap mata, tidak ada hujan notifikasi yang memberondong atensi, dan tiada lagi keterasingan di balik pendaran layar gawai. Di dunia yang melupakan komputer ini, sang waktu berjalan selaras dengan helaan napas manusia; sebuah era di mana setiap bait percakapan bernilai mahal karena menuntut kehadiran, kesabaran, dan segenap jiwa yang utuh.
Sekolah sejatinya adalah rumah
kedua. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, inklusif, dan
bebas dari segala bentuk ancaman agar proses penyerapan ilmu serta pembentukan
karakter dapat berjalan optimal. Untuk menjamin hal ini, pemerintah
melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbudristek) telah menetapkan regulasi tegas mengenai pencegahan
kekerasan. Merujuk pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP),
terdapat 6 (enam) kategori kekerasan yang dilarang keras terjadi di lingkungan
sekolah. Sebagai pendidik, saya ingin mengajak Anda semua untuk mengenali
kategori-kategori tersebut agar kita bisa bersama-sama melakukan pencegahan.
Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:
1. Kekerasan Fisik
Ini adalah bentuk kekerasan yang
paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku
terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal
- hal yang dimaksud adalah Memukul, menendang, perkelahian, tawuran,
penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan
sekolah.
2. Kekerasan Psikis
Berbeda dengan kekerasan fisik,
kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak
fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau
membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain Pengucilan,
penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan
yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.
3. Perundungan (Bullying)
Perundungan merupakan irisan
dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik
utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan
relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa
daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior
yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat.
4. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual mencakup
setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang
bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi
secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya Pelecehan
fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto
pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki
nuansa seksual.
5. Diskriminasi dan Intoleransi
Lingkungan belajar harus
menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi
ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan
hak peserta didik. hal yang termasuk ke dalam kateori ini adalah, membeda-bedakan
perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit,
jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan
intelektual, mental, sensorik, dan fisik).
6. Kebijakan yang Mengandung
Kekerasan
Kategori ini sering kali luput
dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung
kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis)
di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya
kekerasan. Contonya antara lain Peraturan sekolah yang mewajibkan
hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi
sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
Mencegah kekerasan bukan hanya
tugas kepala sekolah atau guru bimbingan konseling, melainkan tanggung jawab
kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam
bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan
ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.
Naskah resmi oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:
1. Kekerasan Fisik
Ini adalah bentuk kekerasan yang
paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku
terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal
- hal yang dimaksud adalah Memukul, menendang, perkelahian, tawuran,
penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan
sekolah.
2. Kekerasan Psikis
Berbeda dengan kekerasan fisik,
kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak
fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau
membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain Pengucilan,
penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan
yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.
3. Perundungan (Bullying)
Perundungan merupakan irisan
dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik
utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan
relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa
daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior
yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat.
Kekerasan seksual mencakup
setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang
bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi
secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya Pelecehan
fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto
pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki
nuansa seksual.
5. Diskriminasi dan Intoleransi
Lingkungan belajar harus
menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi
ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan
hak peserta didik. hal yang termasuk ke dalam kateori ini adalah, membeda-bedakan
perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit,
jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan
intelektual, mental, sensorik, dan fisik).
6. Kebijakan yang Mengandung
Kekerasan
Kategori ini sering kali luput
dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung
kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis)
di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya
kekerasan. Contonya antara lain Peraturan sekolah yang mewajibkan
hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi
sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
Mencegah kekerasan bukan hanya tugas kepala sekolah atau guru bimbingan konseling, melainkan tanggung jawab kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.
Setelah kita
mengetahui pengertian Fatherless dan dampak serta akibat yang
ditimbulkan dari hal ini pada tulisan saya Cara Pendidik membantu Siswa -
Siswi "Fatherless" pada bagian satu dan bagian kedua. Maka hal –
hal berikut kita dapat berikan pemahaman dan pengertian yang cukup terkait hal
ini.
1. Jika seorang anak laki – laki
kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria adalah, coba
memberi pemahaman dan konsep – konsep sebagai pria. Misalnya konsep bagaimana
seorang laki – laki harus bisa memperbaiki benda – benda juga meminta maaf dan
memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana
memperlakukan Perempuan dengan baik misalnya tidak memaki dan tidak memukul
perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapihan serta tanggung jawab
sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai nilai
sebagai laki – laki anti merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak
beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan
pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di
depan umum. Serta memberikan kegiatan – kegiatan yang baik dan benar sebagai
laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh – contoh kebaikan dan Tindakan terpuji.
Sehingga mereka memiliki Gambaran seorang ayah dan Gambaran Pria yang tepat.
2. Jika seorang guru Perempuan memberikan contoh kepada murid laki – laki. Berikan mereka penjelasn bagaimana jadi imam dan kepala keluarga yang baik. Berikan konsep saying kepada keluarga baik kepada kakak atau adiknya, kepada ibunya. Berikan cara – cara yang tepat melindungi Perempuan dan anak – anak (atau adik kelasnya jika di sekolah). Berikan contoh kasih sayang seorang ibu yang peduli anaknya. Ciptakan rasa memiliki keluarga yang baik dan tepat. Ajarkan cara mencuci baju atau mencuci piring sehingga mereka tidak menganggap itu pekerjaan Perempuan saja. Ajarkan juga menjaga kebersihan rumah (dan sekolah jika di kelas dan sekolahnya) agar mereka paham bahwa menjaga kebersihan adalah tugas tidak hanya Perempuan saja.
3. Jika seorang siswa atau siswi
tidak hanya punya sosok ayah, namun membeci perilaku buruk ayahnya dan tidak
menginginkan sosok ayah sama sekali. Jika hal seperti ini terjadi, coba
dengarkan konsep seorang ayah dari mereka. gali pengetahuan kenapa mereka
membenci sosok ayah dalam hidup mereka. setelah itu pelan – pelan di jelaskan
bagaimana sosok ayah yang benar seharusnya. Jika mereka tidak terima sosok ayah
yang positif, jangan dipaksakan atau dibantah langsung bahwa mereka harus menerima
sosok ayah dalam hidup mereka. Tujuannya adalah bukan mereka dipaksa menerima
langsung namun pelan – pelan diajak melihat hal – hal positif di ayah yang
mereka lihat di rumah atau dalam keseharian mereka. Mereka jangan sampai dibiarkan
membenci ayahnya, baik ayah kandung yang dibenci karena cerai dan meninggalkan
mereka ataupun ayah yang dibenci karena misalnya perilaku negatifnya (memukul, merokok
parah, minum-minuman alcohol, dan lain – lain). Berikan konsep, jika ayah
mereka demikian maka tetap harus berperilaku baik agar mereka tidak memiliki
kepahitan hidup dengan kondisi ayah mereka. jika anak laki – laki yang
membenci, berikan bahwa kelak mereka tidak berprilaku demikian kepada anak
mereka, jadikan mereka pemutus mata rantai kebencian. Jika anak Perempuan yang
membenci sosok ayah mereka, berikan mereka penjelasan contoh kasih sayang yang benar dan
berikan gambaran positif sosok orangtua yang baik dan tepat. Jadi kelak jika
mereka memilih pasangan, menemukan sosok pria yang tepat dan bukan laki – laki yang
mungkin “bermasalah” dalam hidup mereka.
Ada celetukan seorang emak -
emak super pede ke suaminya. begini katanya : "hari begini mane ade yang
gratis bang, ke WC umum saja bayar seribu, dua ribu" begitu ucap
nyablaknya yang saya dengar dari sedikit kejauhan. Sang suami pun dengerin dengan
diam dan ngangguk mencoba memahami kemarahan sedikit istrinya yang dipahami
sebagai tanda sayang mungkin.
Lalu saya kembali berpikir, benarkah
demikian pikir saya. Apakah udara saya hirup ini berbayar dan akan ditagih sama
sang pembuat sang tanaman atau pencipta sang pembuat yaitu TUHAN? Apakah di
alam surga nanti, saya akan di tagih bon - bon tagihan atas udara saya hirup
selama puluhan tahun saya di bumi? Mungkinkah saya diminta pertanggung jawaban
atas hak atau kewajiban saya bernafas di dunia selama ini atau entah sampai
usia kapan selesai.
Denger kata - kata ini, saya jadi deg dalam
hati. Jika dunia ini semuanya benar bayar maka harusnya ke siapa? kalau ada
pengusaha yang sudah kuasai udara bebas, seberapa mengerikan uang tunainya atau
digit - digit angka Rupiah atau mata uangnya. Mungkin mengalahkan Elon Musk
atau mega trilyuner di negeri patung liberty yang kekayaannya selalu dipantau
dan di tulis di laporan kekayaan. Pengusaha yang seakan paling kaya, padahal
saya yakin diatas orang kaya masih ada yg lebih orang kaya yang diam - diam atau
introvert. Saya berpikir - pikir benar, bahwa apa ya yang membuat dunia ini
menjadi segalanya tidak gratis dan berbayar semua seperti pikiran ibu ini.
Setidaknya memahami pikiran spesial emak - emak ini atas ekonominya. Berbayar
di kota kan tidak serta merta harus bayar di desa.
Dalam ilmu ekonomi kita pasti
menganggap apa-apa yang berbayar dianggap liberalisme pasar atau istilah
modernnya pasar monopoli tunggal. padahal tidak semua hal saat saya mengetik
ini pun monopoli saya saat berpikir dan menyampaikan ide. udara untuk bernafas
dan membagikan ide belum semuanya punya nilai yang sama mahalnya asal belum di
komersialisasi. masih bisa dibagikan misalnya untuk lomba blog yg diadakan om
Jay ini. Memang akan ada hadiahnya berupa nominal, namun tidak semua peserta
juga akan dapat hadiah kan. Pasti ada yg setiap lomba pulang dengan tangan
kosong.
Jadi semua hal di dunia ini tidak semua
bayar, walau oligopoli oleh sebagian perusahaan yang itu itu saja pasti akan
makin kuat dan makin sempit pemiliknya. Perusahaan sekarang terutama dari Eropa
dan USA makin banyak yang semakin besar nilai saham maupun kepemilikan lahan
dan alat produksinya. Namun untungnya di Republik Indonesia belum semua
dimiliki oligopoli dari negara-negara maju tersebut.
Semisalnya, produk anti masuk angin yang
punya slogan "orang pintar minum..." ini masih punya lokal sebagian
sahamnya. Produk lain contohnya bagi penyuka menghirup nikmatnya lintingan tembakau
buatan perusahaan "penyimpanan garam", ini juga masih kepemilikan
lokal setau saya. Dua perusahaan ini masih sering membagikan cuma - cuma
keuntungannya lewat dana CSR (corporate social responsibility) yang
menggratiskan. Misalnya untuk dana kesehatan masyarakat atau memberikan
beasiswa pendidikan atau beasiswa bagi atlit di olahraga pukul bulu.
Jadi saya masih berkesimpulan, di negeri yang katanya banyak oli tapi bukan minyak rem ini. Negeri kita masih banyak yang gratis, tentu saja tidak seperti suara dari emak-emak yang saya dengar di kisah diatas. Banyak pengusaha kita punya hati nurani punya banyak gratisan buat kita. Catatannya asalkan kita punya prestasi, punya keahlian, punya spesialisasi yang unik. Bukan sekedar bicara dan tidak berbuat apa-apa lalu bilang " di dunia ini tidak ada yang gratis".
Dalam dunia pendidikan, fatherless ditelaah dari bagaimana struktur dan dukungan keluarga memengaruhi performa sekolah, ketahanan akademik (academic resilience), dan perilaku belajar siswa. Ayah memiliki peran unik dalam menanamkan disiplin, pemecahan masalah secara logis, dan dorongan eksplorasi akademis.
Pada bagian kedua ini, saya
selaku penulis ingin mengajak pembaca dalam sudut pandang lebih luas, bukan
hanya dari sudut pendidikan dan keguruan yang akan saya berikan gambaran sebab
dan akibatnya kepada anak didik kita saja, namun juga kepada seluruh isi
sekolah kita. Mari kita bahas beberapa temuan dari peneliti dan tulisan mereka
yang saya temui. Mari kita lihat satu persatu satu persatu dari dunia
pendidikan terlebih dahulu.
Dampak - dampak yang mungkin timbul dari tidak adanya figure menempel
pada peserta didik laki – laki maupun pada peserta didik perempuan:
a. Penurunan prestasi akademik : Anak-anak fatherless cenderung
memiliki motivasi belajar yang lebih rendah dan rentan mengalami kesulitan
konsentrasi di kelas. Motivasi ini di dapat anak dari ayah – ayah yang rajin
atau tekun bekerja, yang dirumahnya ayahnya memiliki sifat ulet dan mau
membantu keluarga (bukan hanya membantu istri, namun juga di masyarakat). Gambaran
ayah yang tekun, rajin, serba bisa tentu akan membuat anak lebih mencontoh
sifat baik ini. Apalagi jika ayahnya senang membaca buku, atau memperbaiki
kondisi rumah, berkebun atau memelihara hewan tertentu, maka anak juga akan
melihat ini.
b. Ketahanan akademik (Academic
resilience) menurun: Ketika menghadapi kegagalan di sekolah
(seperti nilai buruk atau kurang dari standar kelas), anak tanpa figur ayah
yang mendukung sering kali lebih mudah menyerah atau menyalahkan diri sendiri. Sehingga
anak kurang dapat beradaptasi jika nilai turun, mudah menerima apa adanya diri.
Tidak berusaha bertahan untuk mencapai nilai lebih baik, pasrah yang mengarah
ke negatif dan jadi sulit menyelamatkan diri jika sudah gagal.
c. Potensi Putus Sekolah: Kurangnya
pengawasan ganda dari orang tua membuat anak fatherless lebih rentan
membolos atau terlibat dalam masalah kedisiplinan sekolah yang berujung pada
tingginya angka drop out. Jadi ayah yang terus mengikuti perkembangan
belajar dan keseharian putra – putrinya akan lebih memiliki awarness
atau kesiap siagaan jika terjadi masalah dan segera berkonsultasi dengan wali
kelas dan mungkin guru – guru lain terhadap anak – anaknya. Bagi yang tidak
memiliki ayah ini, maka akan tidak ada yang menjaga, sehingga sering kali
meyebabkan resiko drop out karena masalah ini lebih besar lagi.
Ketiga hal
diatas adalah temuan berdasarkan penelitian dengan judul “Dampak Ketiadaan
Peran Ayah (Fatherless) terhadap Pencapaian Akademik Remaja: Kajian Sistematik
(pada Jurnal Psikologi dan Pendidikan UNJ, 2024)1. Kajian ini
menyimpulkan bahwa ketiadaan peran ayah berdampak sangat merugikan pada
pencapaian akademik dan membutuhkan intervensi komprehensif di lingkungan
sekolah. Penelitian oleh Fitroh, S. F., 2014, Jurnal PG-PAUD Trunojoyo dengan
judul “Dampak Fatherless Terhadap Prestasi Belajar Anak” juga
menggambarkan hal yang mirip dengan dampak yang timbul. Tulisan Fitroh ini juga
jadi satu rujukan klasik di Indonesia yang membuktikan secara empiris korelasi
antara absennya ayah dan penurunan capaian belajar anak usia dini.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
Anita
bertanya pada temannya, itu si Budi kan Fatherless sambil senyam senyum
kecil. Sambil sok tau menjelaskan kosakata English kekinian menjelaskan kepada Juleha
sahabatnya. Anita menjelaskan bahwa istilah itu kata lain dari Yatim alias anak
yang ditinggal meninggal ayah kandungnya. Walaupun sudah ada ayah tiri.
Datanglah Pak Anto, beliau mulai menjelaskan di Tengah jam istirahat yang hanya
15 menit dengan konsep yang lebih tepat. Fatherless adalah kosakata baru di Indonesia, banyak kalangan pendidikan dan di
luar pendidikan belum memahami istilah ini. Adapun yang mendengar ini
menyamakan dengan istilah sugarless = sedikit gula atau tanpa gula. Jadikan
menyamakan istilah ini dengan tidak ada ayah kandung. Jikalau pun punya ayah
tiri atau ayah sambung tetap dianggap fatherless. Mungkin ini sedikit Gambaran
sederhana yang dipahami oleh banyak orang lainnya juga.
Tapi mari
kita bedah lebih lanjut istilah ini, dari sudut pandang pendidikan, ilmu
psikologis dan hal – hal lainnya. Sehingga sudut pandang kita sebagai pendidik
juga lebih dalam dan luas menanggapi istilah yang perlu lebih detail
penjabarannya.
Berapa banyak Siswa - siswi yang kita kenal sangat akrab ?
berapa yang kita tahu kehidupan aslinya ? Berapa yang kita pahami kesulitan
pikirannya dan perbedaan sifat mereka di rumah, di sekolah dan di masyarakat ? Jika sudah
mendapat informasi kondisi mereka dalam data fisik misalnya Kartu Keluarga yang
menunjukkan secara hukum bahwa ada kepala keluarga, apakah artinya siswa –
siswi kita sudah memiliki figur ayah? Sebagian pembaca pasti merasa yakin
sudah. Bagaimana jika di Kartu keluarga kolom atas kiri, no paling atas atau nomor
satu adalah benar ada nama laki – laki namun jika kita cocokkan dengan nama ayah kandung siswa – siswi kita ternyata namanya berbeda? Apakah ini juga
berlaku kata fatherless itu, setujukah kita letakkan konsep ini ke anak - anak
didik kita? Secara aturan mungkin benar anak ini tidak memiliki ayah kandung (entah
karena cerai mati atau cerai hidup). Banyak kejadian saat ini, laki – laki dewasa
usianya lebih pendek dengan rerata usia hidup dibawah 50-60 tahun. Namu nada juga,
tentu saja cerai hidup. Inilah yang sering terjadi, Ketika ayah kandung masih
hidup namun tidak pernah datang, tidak pernah menemani masa tumbuh kembang anak
– anaknya, konsep fatherless ini lah yang digunakan oleh para pakar
psikologi. Jadi bukan hanya dari sisi dokumen fisik.
Namun demikian kita akan bahas lebih detail tentang konsep fatherless ini pada bagian kedua pada tulisan di blog ini, baik dari sisi psikologi, hukum dan pendidikan dan catatan data dari ahli – ahli atas temuan konsep baru ini dalam tumbuh kembang dan efek sebab akibat yang ditimbulkan dan dampak lansung maupun tidak langsung terhadap anak didik kita, agar kita mampu menjembatani kehidupan mereka di sekolah dan membantu prestasi mereka di sekolah dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Waktu
berjalan sambil mengajar, saya mencoba melamar kerja di luar dunia pendidikan. Tentunya
di dunia teknologi informasi sesuai perkuliahan yang saya tekuni dan saya dapat
tambahan ilmunya di lembaga pendidikan. Ilmu yang terus bertambah, memang harus
di gunakan di bidang dan praktik langsung tentunya akan sangat baik dan
menyeimbangkan diri saya pribadi. Pendidik kursus yang memiliki pengalaman
nyata dan pengetahuan realita industry akan lebih baik menurut saya kala itu. Pengalaman
dunia industri atau pengetahuan di pekerjaan yang sama yang saya ajarkan di
lembaga kursus, tentu akan memperkuat posisi saya di lembaga sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan begitu juga akan menguatkan teori saya di pekerjaan
yang menuntut ilmu yang terbaru. Jadi keduanya sama menguntungkan dan sama –
sama saling mendukun satu sama lain. Bekerja di dua tempat: perusahaan PMA (Penanaman
Modal Asing) dari negara pusatnya di Jepang dan Lembaga Pendidikan yang berbasis
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris membuat saya cukup mengalami kelelahan
fisik dan kadang mental. Apalagi saat itu masih harus memegang privat di sabtu
sore atau minggu sore membantu menyelesaikan tulisan murid veteran AL yang
masih menggebu – gebu dengan pengalamannya. Walaupun sangat pelan, penyelesaiannya
masih harus tetap menunggu beliau yang menulis.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
Jika kita bertanya apa itu kemerdekaan Pendidikan ? Sebagai Guru tentu saja fasilitas pendidikan yang adil merata dan bisa digunakan oleh semua Guru. Apalagi perangkat keras atau perangkat lunak yang gratis itu sudah cukup sebagai Guru pengampu mata Pelajaran Informatika seperti saya. Saya coba membahas beberapa hal lain yang menjadi kemerdekaan dunia pendidikan saat ini dari sudut keadilan yang lebih luas.
Kemerdekaan dalam dunia pendidikan saat ini tidak lagi hanya sekadar bebas dari belenggu fisik atau paksaan kurikulum yang kaku, melainkan kebebasan untuk mengakses ilmu pengetahuan serta mengekspresikan kreativitas tanpa batas. Bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), fase perkembangan remaja awal ini merupakan momen krusial untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka secara mandiri. Pemanfaatan teknologi informatika menjadi motor penggerak utama yang memberikan ruang gerak luas bagi guru dan murid untuk menciptakan suasana belajar yang dinamis, relevan, dan menyenangkan. Melalui digitalisasi, setiap individu memiliki kesempatan yang seimbang untuk berkembang sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing.
Memerdekakan cara belajar berarti membongkar sekat-sekat kelas tradisional dan menggantinya dengan ruang kolaborasi virtual yang tidak terbatas oleh dinding fisik sekolah. Guru Informatika memegang peranan strategis dalam memfasilitasi transformasi ini dengan mengenalkan berbagai platform digital yang berfokus pada efisiensi dan inovasi pembelajaran. Kemerdekaan belajar hadir ketika teknologi digunakan bukan sekadar sebagai alat pengganti papan tulis, melainkan sebagai media untuk mengasah berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian siswa. Dengan landasan teknologi yang tepat, pembelajaran di tingkat SMP dapat ditransformasikan menjadi proses eksplorasi yang memberdayakan dan interaktif bagi seluruh warga sekolah.
1. Pemanfaatan Aplikasi Rumah PendidikanAplikasi Rumah Pendidikan hadir sebagai platform inklusif yang memerdekakan siswa SMP dalam mengakses materi pembelajaran berkualitas kapan saja dan di mana saja. Platform ini menyediakan beragam sumber daya digital, mulai dari buku teks elektronik, modul interaktif, hingga audio-visual yang dirancang sesuai dengan kebutuhan kurikulum nasional. Kehadiran aplikasi ini memangkas kesenjangan akses informasi, sehingga setiap siswa, baik yang berada di pusat kota maupun di daerah terpencil, mendapatkan hak dan kualitas materi belajar yang setara. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih materi yang ingin mereka pelajari secara mandiri, mengulang topik yang sulit, serta mengevaluasi pemahaman mereka melalui latihan soal yang interaktif.
Bagi para pendidik, Rumah Pendidikan memberikan fleksibilitas tinggi dalam merancang pembelajaran yang terdiferensiasi di dalam kelas. Guru dapat mengarahkan siswa untuk mengeksplorasi materi secara mandiri sebelum diskusi kelas dimulai, sehingga waktu tatap muka dapat difokuskan pada kegiatan pemecahan masalah dan proyek kolaboratif. Keberadaan fitur-fitur pendukung di dalam aplikasi ini juga memfasilitasi guru untuk memantau perkembangan belajar murid secara personal dan objektif. Dengan demikian, proses edukasi tidak lagi berpusat pada pengajaran satu arah dari guru, melainkan berkembang menjadi proses pembelajaran mandiri yang menumbuhkan rasa tanggung jawab serta kesadaran belajar sepanjang hayat pada diri siswa SMP.
2. Kreativitas Tanpa Batas Bersama Aplikasi CanvaCanva menjadi salah satu aplikasi yang memberikan dampak signifikan dalam memerdekakan ekspresi visual dan kreativitas siswa jenjang SMP. Pada usia remaja, menyampaikan ide secara visual sering kali menjadi cara yang paling efektif dan menarik bagi mereka untuk menunjukkan pemahaman atas suatu konsep. Canva menyediakan antarmuka yang ramah pengguna beserta ribuan templat presentasi, poster, infografis, dan video yang memungkinkan siswa menyusun karya digital profesional tanpa harus menguasai perangkat lunak desain yang rumit. Melalui media ini, tugas sekolah yang dahulunya terasa menjenuhkan kini bertransformasi menjadi ruang eksplorasi seni dan penyampaian gagasan yang penuh warna.
Dari sudut pandang pembelajaran Informatika, Canva tidak hanya mengajarkan tentang estetika visual, tetapi juga melatih keterampilan komunikasi digital dan etika media. Siswa diajak untuk mempublikasikan ide-ide mereka, menyusun struktur informasi secara logis, serta memahami pentingnya hak cipta saat menggunakan elemen grafis. Guru dapat memanfaatkan Canva untuk penugasan berbasis proyek, di mana siswa bekerja secara kolaboratif dalam kelompok untuk menyelesaikan sebuah poster kampanye sosial atau presentasi ilmiah. Kemerdekaan untuk mengekspresikan pikiran melalui desain visual ini terbukti mampu meningkatkan rasa percaya diri, daya kritis, serta motivasi belajar siswa SMP secara menyeluruh.
3. Optimalisasi Akun Belajar.id dalam Ekosistem GoogleIntegrasi aplikasi Google melalui akun Belajar.id membuka ruang kolaborasi tanpa batas yang sangat esensial bagi pembangunan karakter siswa SMP di era digital. Dengan akun Belajar.id, siswa dan guru mendapatkan akses luas ke berbagai fitur premium Google Workspace for Education, seperti Google Docs, Slides, Sheets, Drive, dan Google Classroom. Fitur penyuntingan bersama secara real-time dalam Google Docs atau Slides memerdekakan siswa dari batasan ruang dan waktu ketika mengerjakan tugas kelompok. Mereka dapat saling memberikan masukan, membagikan ide, dan menyelesaikan proyek bersama meskipun berada di rumah masing-masing, yang secara langsung mengasah keterampilan komunikasi serta kerja sama tim.
Selain memfasilitasi kolaborasi, ekosistem Google berbasis akun Belajar.id ini mengajarkan manajemen data dan literasi digital yang sangat krusial bagi generasi muda. Penggunaan Google Drive mendidik siswa untuk mengorganisasi berkas digital mereka secara rapi dan aman di awan (cloud), sementara Google Classroom menciptakan alur penugasan yang transparan dan ramah lingkungan tanpa kertas. Akun Belajar.id juga menjamin keamanan privasi data siswa dalam lingkungan digital yang terekosistem dengan baik. Pengalaman menggunakan alat-alat kolaboratif ini memberikan kemerdekaan belajar yang terstruktur, sekaligus mempersiapkan siswa SMP dengan kecakapan digital yang dibutuhkan di jenjang pendidikan selanjutnya maupun dunia kerja masa depan.
4. Eksplorasi Pembelajaran 3D dan AR Melalui Assembler EduAssembler Edu membawa kemerdekaan belajar ke tingkat yang lebih tinggi dengan menghadirkan teknologi Augmented Reality (AR) dan materi 3D ke dalam ruang kelas SMP. Konsep-konsep abstrak dalam mata pelajaran seperti IPA, Geografi, maupun Informatika kini dapat divisualisasikan secara nyata dan interaktif di hadapan siswa. Melalui aplikasi ini, siswa tidak hanya membaca teks atau melihat gambar dua dimensi di buku, tetapi dapat memutar, memperbesar, dan mengamati objek 3D seperti struktur sel, tata surya, atau komponen perangkat keras komputer secara langsung. Pengalaman belajar yang imersif ini membangkitkan rasa ingin tahu yang mendalam dan membuat proses pembelajaran menjadi jauh lebih berkesan.
Penggunaan Assembler Edu juga memerdekakan siswa untuk berperan aktif sebagai pencipta konten digital (content creator), bukan sekadar konsumen teknologi. Siswa SMP dapat memanfaatkan fitur kreator di Assembler Edu untuk merancang presentasi berteknologi AR mereka sendiri sebagai bentuk laporan proyek atau tugas akhir. Aktivitas ini melatih logika spasial, pemikiran komputasional, serta kemampuan bercerita (storytelling) berbasis teknologi pada siswa. Dengan mengintegrasikan Assembler Edu ke dalam kurikulum Informatika, sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, di mana daya imajinasi siswa dapat berkembang tanpa batas seiring dengan perkembangan teknologi modern.
naskah resmi ide mandiri dengan pengembangan aplikasi Gemini AI oleh pemilik blog dan kerja sama dengan OmJay
“Saya Guru Informatika. Buatkan artikel kemerdekaan pendidikan di sekolah jenjang SMP dengan bahasan-bahasan sebagai berikut :
1. Aplikasi Rumah Pendidikan
2. Aplikasi Canva
3. Aplikasi di google dengan akun belajar.id
4. Aplikasi Assembler edu
buat tulisan setiap paragraf minimal 200 kata dengan panjang minimal tiap bahasan 2 paragraf masing – masing”

Malam ini saya merenung kembali sebagai pendidik, apa yang sudah saya lakukan untuk membantu siswa – siswi saya pribadi? Terutama yang orangtuanya sudah tidak punya salah satu orang tua atau bahkan keduanya karena sudah wafat atau meninggal. Bantuan apa yang saya sudah coba ulurkan tangan, sebisa saya dan semampu saya untuk mereka yang memanggil saya Pak setiap hari, yang mencium tangan saya setibanya di depan sekolah atau di depan kelas seusai mengajar. Hal-hal sederhana apa yang membuat saya sebagai orang tua mereka di sekolah sesungguhnya.
Kadang bantuan tidak harus
memberi uang atau harta dari kantong kita sendiri, Terkadang bantuan kecil guru
dan pendidik dalam mengulurkan tangan, memproses, dan mengajukan sudah menjadi salah
satu cara bersedekah atau berderma kita sebagai orang tua mereka di sekolah.
Nominal berapa pun semoga bisa mengurangi beban ekonomi mereka, asal tertib dan
teratur serta disiplin dalam menerima, menggunakan dan melaporkan bantuan.
Mereka akan lebih bahagia jika orangtuanya di sekolah yang tidak mereka miliki di rumah saat ini, sama kasihnya seperti mereka dulu terima. Itulah uluran
tangan yang bisa saya lakukan.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan OmJay
Berikut mungkin sedikit kisah, beberapa kepala keluarga yang memilih antara panggilan jiwa sebagai pendidik dan tuntutan sebagai kepala. kisah yang pasti banyak di pelosok negeri. Terlepas ini adalah cerita fiktif. Namun saya yakin perjuangan seperti ini ada ribuan di kota - kota besar, hingga pelosok desa di daerah 3T di seluruh wilayah Indonesia. Kebanggan sebagai kepala keluarga dan sebagai pendidik yang sama harus menjaga moral - adab dan adat budaya serta profesionalisme yang terkadang tanpa batas di manapun berdiri di depan kelas, di sekolah dan juga di hadapan masyarakat. Di hadapan Masyarakat dan orangtua yang kondisinya berubah - ubah, ada yang mendukung dan bahkan ada yang menentang. Silahkan dibaca cerita fiktif ini :
" Di balik meja kayu tua di sudut ruang guru yang mulai pudar catnya, saya sering teringat awal mula menapaki jalan ini. Sudah bertahun-tahun masa kerja saya jalani di dunia pendidikan, mendidik ribuan anak bangsa dengan harapan mereka bisa menjadi lentera bagi Indonesia. Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian yang tulus demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, ketika gema kata merdeka berembus di setiap penjuru negeri, sebuah pertanyaan mengusik benur sanubari saya sebagai seorang guru laki-laki: apakah salah jika seorang pendidik menuntut kesejahteraan yang layak di tanah airnya sendiri?
Sebagai kepala keluarga, tanggung jawab yang saya panggul tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi. Di rumah, ada senyum anak-anak dan harapan seorang istri yang membutuhkan penghidupan yang mencukupi. Namun, kenyataan sering kali memaksa kami hidup dalam keterbatasan. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan hidup kian melonjak tinggi, sementara apresiasi terhadap profesi pendidik kerap kali terasa stagnan. Waktu yang saya curahkan dari pagi hingga petang untuk menyiapkan bahan ajar, memeriksa tugas, dan membimbing siswa seakan tidak berbanding lurus dengan ketenangan finansial yang didapatkan. Apakah pantas jika upaya mencukupi kebutuhan dasar keluarga dianggap sebagai bentuk pengikisan keikhlasan?
Di era modern yang serba cepat ini, tuntutan terhadap guru semakin kompleks. Kami dituntut untuk terus adaptif dengan perkembangan dunia global, menguasai teknologi, dan membentuk karakter generasi muda agar berdaya saing. Namun, bagaimana mungkin seorang guru dapat mentransfer ilmu dengan optimal jika pikirannya masih terbagi oleh kecemasan akan biaya hidup esok hari? Menyuarakan aspirasi untuk kehidupan yang lebih baik bukanlah sebuah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah tuntutan logis agar profesi ini tetap bermartabat dan memiliki daya tarik bagi generasi penerus.
Naskah resmi dibantu dengan AI oleh pemilik blog kerja sama dengan https://wijayalabs.com
aplikasi: Google Gemini, prompt sumber :
Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama
satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri
saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, impian memiliki
lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu
cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat
itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar
tidak merasa bersalah. Saat muda adalah saat mencoba keberanian dan kemauan untuk belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul, saya coba menapaki pembangunan sebuah tempat kursus sendiri walau dengan kegagalan kecil di akhir, karena memang modal dengkul. Tanpa karyawan, saya berusaha sendiri. Tapi setelah
dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya
saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.
Setelah itu, saya tetap menjalani diri sebagai tutor
dan instruktur komputer sesuai dengan ilmu dasar saya. Namun, saya juga mengasah kemampuan mengajar ilmu bahasa Inggris dengan keahlian saya karena saya yakin kemampuan bahasa Inggris saya cukup dengan TOEFL di atas 450 poin kala itu di usia 25 tahun. Maka di usia 27 tahun saya memberanikan diri untuk mengajak English dari tingkat anak-anak SD dahulu, lalu naik ke tingkat-tingkat di atasnya. Sehingga dalam 1-2 tahun saya sudah mampu
mengajar English untuk SMA dan orang dewasa yang level dasar. Sambil tentu saja di
tahun yang sama saya mengajar komputer semua jenjang usia bahkan sampai lansia/pensiunan.Ada satu kisah
yang saya bisa ambil dari murid paling tua saya saat itu. Usianya sudah 70 tahun,
mantan Angkatan Laut yang sudah bergabung di LVRI Tingkat Jakarta Timur saat
itu. Beliau, jiwanya masih pejuang betul, saya rasakan, masih mau menulis sebuah
buku autobiografi tentang dirinya sendiri. Minimal bukunya bisa diterbitkan dan
diberikan ke anak – anak atau cucunya kelak, begitu pesannya. Syukur – Syukur bisa
diberikan ke LVRI atau ke pihak lain yang berminat memperbanyak. Misi saya
hanya satu menurut beliau, membantu merapihkan tulisan dan teks yang beliau
buat di Microsoft Word, menata tulisannya agar rapih, mengecek tulisan di Word.
Beliau ini murid paling disiplin saya pernah ajarkan. Waktu sesibuk apa pun beliau, dipastikan beliau meminta didampingi untuk menulis karyanya. Beliau suka bercerita
masa mudanya di Angkatan Laut, tugas – tugasnya di Irian Jaya, di wilayah -
wilayah Indonesia kala itu. Termasuk tugas menjelang masa pensiunnya saat berkantor dan diminta menjemput rekan-rekan yang terbunuh dan dikembalikan ke Indonesia dari negeri seberang di era Orde Lama yang baru bisa dikebumikan ulang di era Orde Baru. Sebuah tugas berat mengatur pemulangan dan negosiasi saat itu
antarnegara, antardaerah sehingga bisa dikembalikan ke keluarga masing-masing di berbagai daerah setelah puluhan tahun. Beliau bercerita apapun yang
jadi tugasnya saat itu. Namun itu hendak dijadikan buku dan misi saya tetap
sama, memastikan tulisan beliau se akurat mungkin jika harus naik cetak kelak.
Sebuah kebanggan saya kala itu, tidak punya tempat kursus namun bisa membantu
salah satu pejuang era Orde Lama dan era Orde Baru sekaligus.
Namun, saat itu ada panggilan
lain bagi saya untuk terus mengajar, tidak hanya beliau, tetap ada semangat
untuk mengajar anak - anak muda. Kala itu, istilah Indonesia Emas 2045 baru
terdengar, konsep untuk masa depan negara yang lebih baik untuk generasi
selanjutnya. Maka saya setelah melatih Veteran ini, saya tetap sediakan
mengajar English dan Komputer untuk anak – anak di lembaga Pendidikan yang
dahulu dan sambil mencari lembaga pendidikan lain di Jakarta Utara. Kebetulan Kawan
dulu marketing, memberikan sebuah awalan untuk mengajar di daerah Mangga Dua, Jakarta
Utara. Wilayah baru dengan kondisi masyarakatnya yang tentu 100% berbeda. Di sini
saya mengajar English kepada 5 bocah keturunan usia sekolah SD. Tentu mereka di awal
merasa saya berbeda dengan mereka, namun pelan tapi pasti kedekatan mereka
dengan saya bertumbuh. Saya sudah dianggap kakak oleh mereka berlima. Ini pun
bukan pengalaman saya mengajar siswa sekolah dasar di lembaga, jadi saya paham
betul pendekatan terhadap cara belajar mereka. Belajar dahulu, sambil bermain
kemudian. Sambil sesekali memberi mereka hadiah makanan ringan atau sekedar teh
segar sesekali jika kenaikan Tingkat di kelas. Memberi mereka kebanggaan bahwa
mereka berhasil naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Karena secara ekonomi,
mereka jauh lebih mampu, kalau adu harga jajanan mereka pasti saya kalah. Namun, mendekati mereka agar mau belajar dan terus mau belajar setiap minggu 2 kali adalah
tantangan unik. Membuat mereka rajin datang saja sudah perlu usaha, Mereka
datang bukan disuruh mami atau papinya lagi, tapi karena kemauan sendiri.
Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, impian memiliki lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar tidak merasa bersalah. Saat muda adalah saat mencoba keberanian dan kemauan untuk belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul, saya coba menapaki pembangunan sebuah tempat kursus sendiri walau dengan kegagalan kecil di akhir, karena memang modal dengkul. Tanpa karyawan, saya berusaha sendiri. Tapi setelah dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
Jika hari ini saya memilih berdiri di depan kelas, di
depan anak - anak sekolah. Bukan hal pertama yang saya lakukan, bukan juga
sepuluh tahun lalu. Bukan pula karena paksaan nasib atau alasan ekonomi. Saya
percaya ini rencana TUHAN, panggilan yang saya harus lakukan bukan demi saya
pribadi, mungkin demi orang banyak.
Saya pertama kali mendidik, atau lebih sederhana, mengajar bukan di sebuah
sekolah, bukan di sebuah lembaga pendidikan. Namun di
kampus, sebagai tim LitBang (Pelatihan dan Pengembangan) salah satu bagian dari
tim di bawah Perkumpulan Mahasiswa. Sepenuhnya alasan saya diberikan bagian ini,
100% tidak saya pahami.
Saya dulu, sejak SD sampai lulus SMA, adalah siswa biasa
dengan keberanian hampir nol besar jika diminta maju, karena sering demam
panggung dan gemetar. Namun nilai rapor saya memang tidak jelek - jelek sekali, kisaran 10
besar sampai 2 besar di kelas sejak SD sampai lulus SMA. Anggaplah introvert
tapi lumayan tidak kosong kalau pakai istilah kekiniannya. Diberikan amanah
sebagai litbang yang menyiapkan materi pelatihan, menyiapkan lab komputer
dengan segala perangkat keras dan perangkat lunak. Menyiapkan diri sesekali
jika diminta kakak senior untuk menjadi asistennya jika diperlukan. Inilah mungkin dasar
dan pertama kali saya memegang apa yang disebut mengajar atau melatih orang - orang seusia saya atau di bawah umur saya.
Setelah magang, mencari pengalaman sesuai passion dan ilmu di kampus
ternyata melalui PKL masih sulit. Terlebih ditempatkan di divisi marketing sebuah sole agent perusahaan mobil berbahan bakar solar saat itu di bawah grup Astra di wilayah Sunter, Jakarta Utara, cukup membuat kaget. Dengan ilmu minim tentang komputer, diharuskan belajar alat-alat elektronik semacam faksimile, mesin fotokopi, dan komputer yang sudah lebih canggih yang belum dimiliki kampus. bagian PKL dan
magang saat itu pun di divisi Marketing Support yang saya belum pernah dapat
konsepnya. Magang pun hanya jadi keseharian tanpa ada mendapat ilmu apapun.
Selepas magang selesai dan lulus kuliah pun, saya mendapati beberapa kali panggilan kerja dan kesempatan interview, Tidak serta-merta ilmu komputer saya dilihat sebagai sebuah keahlian yang cukup mendukung kepercayaan bagian HRD untuk menerima saya. Padahal IPK 3.01 lebih tinggi dibandingkan dengan 19 teman
seangkatan saya, walau masih kalah dengan 3 orang lainnya. Jadi, jika ada istilah nilai tertinggi, itu tidak menjamin seseorang mudah mendapatkan pekerjaan. HRD era modern tidak butuh 100% orang pintar dan berprestasi tinggi. Ada hal lain di luar angka-angka itu. Itu pun saya amini sekarang sebagai pendidik. Hal yang perlu saya jelaskan dan berikan pemahamannya dengan lebih baik kepada siswa-siswi saya, walau mereka masih di tingkat SMP. Pintar itu perlu, namun memiliki keahlian-keahlian yang beragam atau sesuai cita-cita atau hal positif juga diperlukan di masa depan.
Pekerjaan saya di bidang pendidikan, namun bukan di sekolah sebagai guru.
Sebagai instruktur atau tutor, sebuah lembaga pendidikan ternama yang
pusatnya di Jakarta Timur. Cabangnya berjumlah ratusan dengan konsep franchise
yang tersebar di Indonesia. Sebuah pekerjaan selama kurang lebih 3 tahun yang
memberi saya banyak ilmu baru, bahkan yang belum saya dapatkan di kampus.
Adapun jika sudah dapat di kampus, di tempat kerja ini ilmu saya bertambah
lebih banyak dan saya menjadi semakin mahir. Bahkan ilmu tingkat manajerial seperti jabatan supervisor dan
asisten manajer cabang. Ilmu tentang bagaimana merekrut, menangani bawahan
mulai dari 3 orang hingga 20 orang pada waktu yang bersamaan dalam satu tahun.
Ilmu lain pun saya dapatkan tiap bulan dengan menangani proyek-proyek
pelatihan, baik dengan sekolah negeri maupun swasta, tingkat SMP maupun SMA.
Bahkan sesekali mengatur proyek kerja sama dengan divisi atau subbagian kementerian negara di era
Presiden ke-6. Sebuah ilmu yang menambah kepercayaan diri saya.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan OmJay
Di era Kurikulum Merdeka dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep
Learning), budaya literasi di jenjang SMP tidak lagi berdiri sendiri di
dalam kotak mata pelajaran masing-masing. Ketika guru Bahasa Indonesia dan guru
Matematika berdialog, literasi dan numerasi mewujud sebagai satu kesatuan cara
berpikir yang utuh dan saling menguatkan.
1. Apa itu Literasi di SMP?
Literasi di tingkat SMP kini melampaui
kemampuan sekadar mengeja kata atau merangkum isi bacaan. Dalam konteks deep
learning, literasi adalah kedalaman berpikir saat menyerap dan mengolah
informasi. Siswa diajak untuk membedakan fakta dan opini, menganalisis pesan
tersirat, mengevaluasi kebenaran teks, serta menyampaikan kembali ide-ide
kompleks secara runtut dan santun. Literasi adalah fondasi memahami makna di
balik tulisan.
2. Apa itu Numerasi di SMP?
Meluruskan miskonsepsi yang sering
terjadi: numerasi bukanlah lomba berhitung cepat atau menghafal rumus rumit.
Numerasi adalah kecakapan bernalar menggunakan konsep matematika untuk
menyelesaikan masalah nyata. Di jenjang SMP, numerasi berarti siswa mampu
membaca data grafik, mengenali pola, menghitung estimasi, dan mengambil
keputusan yang logis berdasarkan angka dan data kuantitatif.
3. Apa Keuntungan Numerasi bagi Siswa-Siswi?
Penguasaan numerasi
yang mendalam memberikan keuntungan nyata bagi perkembangan mental siswa:- Nalar Pemecahan
Masalah: Siswa terbiasa membedah masalah besar menjadi bagian-bagian
kecil yang terstruktur.
- Tidak Mudah
Terkecoh: Siswa menjadi lebih kritis terhadap informasi, terutama
klaim statistik atau grafik manipulatif yang beredar di media sosial.
- Kecakapan Hidup
Praktis: Membantu siswa dalam mengelola waktu, merencanakan keuangan
pribadi, hingga memperhitungkan risiko secara rasional.
4. Apa Kaitan Numerasi dengan Mata Pelajaran Informatika?
Hubungan
keduanya sangat fundamental. Jantung dari pelajaran Informatika adalah Computational
Thinking (Berpikir Komputasional). Guru Matematika melihat bahwa struktur
logika pemrograman, penggunaan variabel, pembuatan alur flowchart,
hingga algoritma dasar di kelas Informatika sebenarnya adalah penerapan
langsung dari penalaran numerasi. Tanpa logika numerasi yang kuat, siswa hanya
akan menjadi pengguna teknologi tanpa memahami cara kerjanya.
5. Apakah Numerasi dapat Digabung dengan Pelajaran Informatika?
Penggabungan ini sangat bisa dilakukan dan merupakan bentuk ideal dari deep
learning lintas disiplin ilmu. Siswa dapat mengumpulkan data di lapangan,
mengolah angka tersebut menggunakan perangkat lunak lembar kerja (spreadsheet)
di kelas Informatika, lalu memvisualisasikannya menjadi grafik interaktif.
Melalui kolaborasi ini, angka dari matematika diolah dengan alat dari informatika, lalu dijelaskan kembali menggunakan bahasa yang komunikatif dalam Bahasa Indonesia. Hasilnya, siswa tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga
memiliki kedalaman berpikir yang utuh.
Guru, "di gugu dan di tiru", mungkin ini salah satu hal yang pernah kita dengar dari rekan sesama guru. Dulu juga guru kita pernah memberi kata ini kepada kita, sebuah konsep nilai diri sebagai panutan. Bukan hanya di kelas, tetapi juga di sekolah dan bahkan di masyarakat. Dahulu, banyak guru kita mungkin juga tetangga kita atau bahkan masih dekat dengan keluarga kita, mungkin sanak saudara dari keluarga besar kita. Kita bersekolah di kampung yang pendidiknya kita kenal dengan baik, karena masih satu kampung yang sama. Jadi mereka sangat menjaga sikap dan perilaku di kampung tersebut.
Mungkin ada juga, kita bersekolah karena orang tua kita, mengenal watak dan perilaku guru yang mengajar kita saat itu. Jadi, semacam ada rasa kepercayaan agar kita sebagai anaknya mendapat guru yang sudah sangat akrab dengan orang tua kita. Karena perilaku dan watak mereka yang baik, yang penuh contoh nilai - nilai moral yang diakui sebuah keluarga atau sebuah kampung yang sama. Jadi sering kali guru yang mendidik kita karena ada kesamaan nilai - nilai yang orang tua kita anut. Pendidikan yang berdasarkan kepercayaan satu sama lain, atas kesamaan jiwa dan hati. Antara orang tua dan guru terdapat kesamaan perasaan dan pemahaman yang saling.
Sebuah hal yang mungkin sedikit demi sedikit mulai bergeser saat ini. Karena sekarang bersekolah terkadang karena kemampuan ekonomi atau keinginan orang tua mencapai nilai tertinggi dan prestasi terbaik bagi putra-putrinya. Ada juga karena fasilitasnya yang dianggap mewah dan lingkungan pertemanannya yang elit bagi orang tua, bukan lagi karena melihat kebutuhan anak. Bisa juga karena kesulitan ekonomi dari keluarga, anak disekolahkan karena gratis tanpa biaya apa pun, kalau bisa malahan dapat bonus A, B, C, D dari sekolahnya yang memang sangat manusiawi sebagai makhluk sosial. Mungkin ada juga yang sekolah karena jaraknya dekat dan tinggal jalan kaki, ini terutama bagi jenjang - jenjang bawah. Namun, acap kali karena rasa ketidakpercayaan orang tua terhadap kebiasaan putra-putrinya yang dianggap suka melanggar aturan atau "dicurigai" sering bepergian tanpa kabar jika sekolahnya lepas dari pantauan mereka. Kondisi terakhir ini bukan hanya di jenjang sekolah dasar, tetapi juga di jenjang menengah dan atas. Bahkan acapkali di jenjang politeknik atau universitas, orang tua tidak percaya anak yang mereka lahirkan dan besarkan dianggap bayi besar yang tidak bisa dipercaya dan dibri kepercayaan lebih.
Inilah juga yang membuat guru atau pendidik saat ini mengamini perilaku anak-anak tersebut untuk memberi batasan, aturan, dan garis yang sering kali dan acapkali cukup keras. Kadang ditemui terlalu keras, bukan untuk disiplin, melainkan juga mengarah pada pemaksaan. Padahal seharusnya siswa-siswi diberikan batasan dan aturan, bukan langsung, namun diberi alasan mengapa, apa dampaknya jika melanggar, atau bagaimana jika terjadi hal-hal yang salah jika dilakukan. Berikan murid-murid kita alasan, dampak, dan risiko, serta perkuat kemampuan pola pikir mereka ke depannya. Memberikan mereka, akan seperti dampak di waktu akan datang jika mereka berbuat salah atau jika mereka tidak memhami kondisi. Memang, masa depan dan perubahannya tidak ada yang tahu secara pasti, namun dengan memberi kebebasan dan kemerdekaan berpikir, semoga kita menciptakan anak - anak dan kelak manusia-manusia yang berpikir dan berperilaku merdeka bukan karena hanya sekadar takut.
Hari ini saya
mau mencoba menggelitik sedikit pengalaman dengan 3M yang baru menurut saya.
Bukan 3M berupa uang atau kepanjangan dari 3M (Menguras, Menutup,
Mengubur) pada bidang kebersihan dan kesehatan atau candaan di bidang para
desainer yang 3M (Makasih Mas, desain Mantap).
Sudah sering kali, saya
temui kondisi di lapangan. Di tempat-tempat umum kita, di ranah publik kita, pemandangan yang mencemaskan dan mengkhawatirkan terpampang jelas. Tanpa malu
dan tanpa perasaan bersalah dari orang di sekeliling kita. Bagaimana bagian publik yang sudah ditandai khusus masih dilanggar dengan berbagai alasan nonberadab sebagai bangsa Timur yang menjunjung adat istiadat?
Berikut hal - hal yang menjadi 3M tersebut:
1. Adab sebelum menaiki
kendaraan umum.
Acap kali, setiap kali kita temui dan jumpai, warga dan calon penumpang di tempat pemberhentian kita sulit untuk rapi mengantre. Merasa bahwa dirinya buru-buru sehingga menyalip barisan, marah
tidak mau antre dan marah ketika ditegur. Menganggap orang lain bisa dikalahkan
karena mereka lebih utama.
Ini juga sering kali bukan hanya yang berusia tua namun juga di yang lebih muda. Bukan karena tidak mau,
terkadang tidak tahu bahwa adab mengantri bergantian dan menunggu giliran juga
adalah hal berlaku di masyarakat. Acap kali pejabat kita yang tidak sedang
berdinas dan tidak bertugas atau dalam kondisi pekerjaan melakukan
penyerobotan alur jalan atau antrean rakyat biasa. Adab yang sederhana namun
sulit diikuti. WNI sering bangga atau sekadar iri dengan Jepang yang kini jadi
negara maju, namun tidak diikuti oleh kebiasaan. Jadi sekadar iri yang ikut-ikutan
saja.
2. Kondisi perempatan jalan dan Zebra
Cross
Coba kita tinggalkan kendaraan
umum, kita coba beralih ke pejalan kaki dan kondisi perempatan lalu lintas kita
yang sedang tidak berjalan, namun sedang berhenti belum bergerak. Sering kali
kemerdekaan dan kebebasan tanpa aturan sering digabungkan dan dianggap
kewajaran oleh warga negara, terutama yang berkendaraan roda dua dan terkadang
oleh roda empat. Banyak kondisi Zebra Cross kita di injak dan di tempati
oleh kendaraan roda dua dan empat, yang padahal seharusnya di kosongkan. Entah karena
ada pejalan kaki atau tidaknya saat berhenti di lampu merah. Sebuah aturan
sangat sederhana bahwa kendaraan apapun selain pejalan kaki harus berhenti pada
garis di belakang zebra cross agar memberi kesempatan pada pejalan kaki
untuk menyebrang. Tapi betapa morat maritnya pola piker warga kita yang
menganggap kemerdekaan memiliki kendaraan yang mereka bayar sendiri dan pajaknya
dibayar dibanding pejalan kaki (yang mungkin dianggap tidak bayar pajak).
Sebuah kebiasaan salah hanya karena buru – buru atau karena sudah terlambat.
Hal yang sering di lumrahkan dan dianggap wajar.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan OmJay
Jika kita
melihat Jakarta sebelumnya dengan kondisi bisa berjalan setiap hari jika ingin
atau sekadar ingin sehat sebagai gaya hidup yang dilakukan seminggu sekali atau
dua kali, disebabkan kesibukan. Ingin berhemat untuk jarak dekat hingga
menengah dengan JakLingko yang sangat mengurangi pengeluaran transportasi yang
harus berpindah banyak titik atau bersimpul naik kendaraan umum. Rasanya
Jakarta saat ini bagi sebagian orang sudah cukup atau lebih dari sekadar cukup
walau belum seratus persen sangat nyaman. Sehingga waktu tempuh lumayan bisa
dihitung dan diperkirakan. Juga, biaya pengeluaran rumah tangga dan pribadi
bisa ditekan ke bawah sebagai pengeluaran.
Maka, bahasan
kita di bagian dua ini adalah transportasi yang apalagi istimewa dan bahkan
menghubungkan area dalam kota Jakarta dan juga perbatasan-perbatasan di
sekeliling Jakarta. Transportasi ini ada yang di bawah manajemen BUMN dan di bawah perusahaan swasta, dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya, dan dalam rentang waktu serta usia yang sudah, bahkan sejarahnya dapat ditarik ke era sebelum Indonesia Merdeka, dan ada juga yang baru lahir setelah era reformasi. Jadi, mari kita bahas satu per satu sesuai dengan rentang usia
termuda.
TransJakarta
adalah sebuah kata baru dan perusahaan yang dibentuk setelah era reformasi.
Masa ketika kepuasan publik atas transportasi yang dikelola negara atau
perusahaan koperasi swasta turun hampir ke titik nadir. Era di mana kecelakaan
dan kondisi buruk transportasi kota utama dan ibu kota negara dianggap sebagai
cermin buruk untuk wilayah - wilayah di kota lain di Indonesia. Di era 80
sampai 90, misalnya, ada banyak becak lalu lalang dengan aturan tidak jelas dan
bahkan menunggu penumpang di berbagai pasar yang kadang kala masuk ke jalan
utama kota. Kondisi lambat juga sering kali menghambat lalu lintas. Lalu ada
lagi kendaraan bemo atau bajai era bensin, kendaraan yang berisik dan
memekakkan telinga serta menimbulkan polusi udara.
Kemudian ada MRT kepanjangan dari Moda Raya Terpadu dalam bahasa Indonesia
dan Mass Rapid Transit dalam bahasa Inggris. Sebuah kereta
dalam jalur rel yang berjalan di atas dengan penopang tiang - tiang di tengah
jalan yang kemudian di taman-taman kecil sebagai pemanis. Bukan kereta seperti
umumnya namun kereta terkonsepsi tidak mengambil lahan lebih banyak, lebih sedikit lahan diambil dan dapat beroperasi dengan tidak menggganggu kendaraan dan lalu litas lain. Sebuah konsep desain rekayasa yang baik untuk kota yang sudah padat dan mengalami banyak perempatan dan titik persimpangan yang banyak. sehingga konsepnya tidak menambah kemacetan dan berjalan dalam rute yang sama secara bolak balik tanpa terhalang lalu lintas lainnya.
Jika kita
melihat Jakarta sebelumnya dengan kondisi bisa berjalan setiap hari jika ingin
atau sekadar ingin sehat sebagai gaya hidup yang dilakukan seminggu sekali atau
dua kali, disebabkan kesibukan. Ingin berhemat untuk jarak dekat hingga
menengah dengan JakLingko yang sangat mengurangi pengeluaran transportasi yang
harus berpindah banyak titik atau bersimpul naik kendaraan umum. Rasanya
Jakarta saat ini bagi sebagian orang sudah cukup atau lebih dari sekadar cukup
walau belum seratus persen sangat nyaman. Sehingga waktu tempuh lumayan bisa
dihitung dan diperkirakan. Juga, biaya pengeluaran rumah tangga dan pribadi
bisa ditekan ke bawah sebagai pengeluaran.
Maka, bahasan
kita di bagian dua ini adalah transportasi yang apalagi istimewa dan bahkan
menghubungkan area dalam kota Jakarta dan juga perbatasan-perbatasan di
sekeliling Jakarta. Transportasi ini ada yang di bawah manajemen BUMN dan di bawah perusahaan swasta, dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya, dan dalam rentang waktu serta usia yang sudah, bahkan sejarahnya dapat ditarik ke era sebelum Indonesia Merdeka, dan ada juga yang baru lahir setelah era reformasi. Jadi, mari kita bahas satu per satu sesuai dengan rentang usia
termuda.
TransJakarta
adalah sebuah kata baru dan perusahaan yang dibentuk setelah era reformasi.
Masa ketika kepuasan publik atas transportasi yang dikelola negara atau
perusahaan koperasi swasta turun hampir ke titik nadir. Era di mana kecelakaan
dan kondisi buruk transportasi kota utama dan ibu kota negara dianggap sebagai
cermin buruk untuk wilayah - wilayah di kota lain di Indonesia. Di era 80
sampai 90, misalnya, ada banyak becak lalu lalang dengan aturan tidak jelas dan
bahkan menunggu penumpang di berbagai pasar yang kadang kala masuk ke jalan
utama kota. Kondisi lambat juga sering kali menghambat lalu lintas. Lalu ada
lagi kendaraan bemo atau bajai era bensin, kendaraan yang berisik dan
memekakkan telinga serta menimbulkan polusi udara.
Kemudian ada MRT kepanjangan dari Moda Raya Terpadu dalam bahasa Indonesia
dan Mass Rapid Transit dalam bahasa Inggris. Sebuah kereta
dalam jalur rel yang berjalan di atas dengan penopang tiang - tiang di tengah
jalan yang kemudian di taman-taman kecil sebagai pemanis. Bukan kereta seperti
umumnya namun kereta terkonsepsi tidak mengambil lahan lebih banyak, lebih sedikit lahan diambil dan dapat beroperasi dengan tidak menggganggu kendaraan dan lalu litas lain. Sebuah konsep desain rekayasa yang baik untuk kota yang sudah padat dan mengalami banyak perempatan dan titik persimpangan yang banyak. sehingga konsepnya tidak menambah kemacetan dan berjalan dalam rute yang sama secara bolak balik tanpa terhalang lalu lintas lainnya.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan OmJay














