Waktu
berjalan sambil mengajar, saya mencoba melamar kerja di luar dunia pendidikan. Tentunya
di dunia teknologi informasi sesuai perkuliahan yang saya tekuni dan saya dapat
tambahan ilmunya di lembaga pendidikan. Ilmu yang terus bertambah, memang harus
di gunakan di bidang dan praktik langsung tentunya akan sangat baik dan
menyeimbangkan diri saya pribadi. Pendidik kursus yang memiliki pengalaman
nyata dan pengetahuan realita industry akan lebih baik menurut saya kala itu. Pengalaman
dunia industri atau pengetahuan di pekerjaan yang sama yang saya ajarkan di
lembaga kursus, tentu akan memperkuat posisi saya di lembaga sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan begitu juga akan menguatkan teori saya di pekerjaan
yang menuntut ilmu yang terbaru. Jadi keduanya sama menguntungkan dan sama –
sama saling mendukun satu sama lain. Bekerja di dua tempat: perusahaan PMA (Penanaman
Modal Asing) dari negara pusatnya di Jepang dan Lembaga Pendidikan yang berbasis
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris membuat saya cukup mengalami kelelahan
fisik dan kadang mental. Apalagi saat itu masih harus memegang privat di sabtu
sore atau minggu sore membantu menyelesaikan tulisan murid veteran AL yang
masih menggebu – gebu dengan pengalamannya. Walaupun sangat pelan, penyelesaiannya
masih harus tetap menunggu beliau yang menulis.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Pengalaman
dunia industri atau pengetahuan di pekerjaan yang sama yang saya ajarkan di
lembaga kursus, tentu akan memperkuat posisi saya di lembaga sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan begitu juga akan menguatkan teori saya di pekerjaan
yang menuntut ilmu yang terbaru. Jadi keduanya sama menguntungkan dan sama –
sama saling mendukun satu sama lain. Bekerja di dua tempat: perusahaan PMA (Penanaman
Modal Asing) dari negara pusatnya di Jepang dan Lembaga Pendidikan yang berbasis
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris membuat saya cukup mengalami kelelahan
fisik dan kadang mental. Apalagi saat itu masih harus memegang privat di sabtu
sore atau minggu sore membantu menyelesaikan tulisan murid veteran AL yang
masih menggebu – gebu dengan pengalamannya. Walaupun sangat pelan, penyelesaiannya
masih harus tetap menunggu beliau yang menulis.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Jika kita bertanya apa itu kemerdekaan Pendidikan ? Sebagai Guru tentu saja fasilitas pendidikan yang adil merata dan bisa digunakan oleh semua Guru. Apalagi perangkat keras atau perangkat lunak yang gratis itu sudah cukup sebagai Guru pengampu mata Pelajaran Informatika seperti saya. Saya coba membahas beberapa hal lain yang menjadi kemerdekaan dunia pendidikan saat ini dari sudut keadilan yang lebih luas.
Kemerdekaan dalam dunia pendidikan saat ini tidak lagi hanya sekadar bebas dari belenggu fisik atau paksaan kurikulum yang kaku, melainkan kebebasan untuk mengakses ilmu pengetahuan serta mengekspresikan kreativitas tanpa batas. Bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), fase perkembangan remaja awal ini merupakan momen krusial untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka secara mandiri. Pemanfaatan teknologi informatika menjadi motor penggerak utama yang memberikan ruang gerak luas bagi guru dan murid untuk menciptakan suasana belajar yang dinamis, relevan, dan menyenangkan. Melalui digitalisasi, setiap individu memiliki kesempatan yang seimbang untuk berkembang sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing.
Memerdekakan cara belajar berarti membongkar sekat-sekat kelas tradisional dan menggantinya dengan ruang kolaborasi virtual yang tidak terbatas oleh dinding fisik sekolah. Guru Informatika memegang peranan strategis dalam memfasilitasi transformasi ini dengan mengenalkan berbagai platform digital yang berfokus pada efisiensi dan inovasi pembelajaran. Kemerdekaan belajar hadir ketika teknologi digunakan bukan sekadar sebagai alat pengganti papan tulis, melainkan sebagai media untuk mengasah berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian siswa. Dengan landasan teknologi yang tepat, pembelajaran di tingkat SMP dapat ditransformasikan menjadi proses eksplorasi yang memberdayakan dan interaktif bagi seluruh warga sekolah.
1. Pemanfaatan Aplikasi Rumah PendidikanAplikasi Rumah Pendidikan hadir sebagai platform inklusif yang memerdekakan siswa SMP dalam mengakses materi pembelajaran berkualitas kapan saja dan di mana saja. Platform ini menyediakan beragam sumber daya digital, mulai dari buku teks elektronik, modul interaktif, hingga audio-visual yang dirancang sesuai dengan kebutuhan kurikulum nasional. Kehadiran aplikasi ini memangkas kesenjangan akses informasi, sehingga setiap siswa, baik yang berada di pusat kota maupun di daerah terpencil, mendapatkan hak dan kualitas materi belajar yang setara. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih materi yang ingin mereka pelajari secara mandiri, mengulang topik yang sulit, serta mengevaluasi pemahaman mereka melalui latihan soal yang interaktif.
Bagi para pendidik, Rumah Pendidikan memberikan fleksibilitas tinggi dalam merancang pembelajaran yang terdiferensiasi di dalam kelas. Guru dapat mengarahkan siswa untuk mengeksplorasi materi secara mandiri sebelum diskusi kelas dimulai, sehingga waktu tatap muka dapat difokuskan pada kegiatan pemecahan masalah dan proyek kolaboratif. Keberadaan fitur-fitur pendukung di dalam aplikasi ini juga memfasilitasi guru untuk memantau perkembangan belajar murid secara personal dan objektif. Dengan demikian, proses edukasi tidak lagi berpusat pada pengajaran satu arah dari guru, melainkan berkembang menjadi proses pembelajaran mandiri yang menumbuhkan rasa tanggung jawab serta kesadaran belajar sepanjang hayat pada diri siswa SMP.
2. Kreativitas Tanpa Batas Bersama Aplikasi CanvaCanva menjadi salah satu aplikasi yang memberikan dampak signifikan dalam memerdekakan ekspresi visual dan kreativitas siswa jenjang SMP. Pada usia remaja, menyampaikan ide secara visual sering kali menjadi cara yang paling efektif dan menarik bagi mereka untuk menunjukkan pemahaman atas suatu konsep. Canva menyediakan antarmuka yang ramah pengguna beserta ribuan templat presentasi, poster, infografis, dan video yang memungkinkan siswa menyusun karya digital profesional tanpa harus menguasai perangkat lunak desain yang rumit. Melalui media ini, tugas sekolah yang dahulunya terasa menjenuhkan kini bertransformasi menjadi ruang eksplorasi seni dan penyampaian gagasan yang penuh warna.
Dari sudut pandang pembelajaran Informatika, Canva tidak hanya mengajarkan tentang estetika visual, tetapi juga melatih keterampilan komunikasi digital dan etika media. Siswa diajak untuk mempublikasikan ide-ide mereka, menyusun struktur informasi secara logis, serta memahami pentingnya hak cipta saat menggunakan elemen grafis. Guru dapat memanfaatkan Canva untuk penugasan berbasis proyek, di mana siswa bekerja secara kolaboratif dalam kelompok untuk menyelesaikan sebuah poster kampanye sosial atau presentasi ilmiah. Kemerdekaan untuk mengekspresikan pikiran melalui desain visual ini terbukti mampu meningkatkan rasa percaya diri, daya kritis, serta motivasi belajar siswa SMP secara menyeluruh.
3. Optimalisasi Akun Belajar.id dalam Ekosistem GoogleIntegrasi aplikasi Google melalui akun Belajar.id membuka ruang kolaborasi tanpa batas yang sangat esensial bagi pembangunan karakter siswa SMP di era digital. Dengan akun Belajar.id, siswa dan guru mendapatkan akses luas ke berbagai fitur premium Google Workspace for Education, seperti Google Docs, Slides, Sheets, Drive, dan Google Classroom. Fitur penyuntingan bersama secara real-time dalam Google Docs atau Slides memerdekakan siswa dari batasan ruang dan waktu ketika mengerjakan tugas kelompok. Mereka dapat saling memberikan masukan, membagikan ide, dan menyelesaikan proyek bersama meskipun berada di rumah masing-masing, yang secara langsung mengasah keterampilan komunikasi serta kerja sama tim.
Selain memfasilitasi kolaborasi, ekosistem Google berbasis akun Belajar.id ini mengajarkan manajemen data dan literasi digital yang sangat krusial bagi generasi muda. Penggunaan Google Drive mendidik siswa untuk mengorganisasi berkas digital mereka secara rapi dan aman di awan (cloud), sementara Google Classroom menciptakan alur penugasan yang transparan dan ramah lingkungan tanpa kertas. Akun Belajar.id juga menjamin keamanan privasi data siswa dalam lingkungan digital yang terekosistem dengan baik. Pengalaman menggunakan alat-alat kolaboratif ini memberikan kemerdekaan belajar yang terstruktur, sekaligus mempersiapkan siswa SMP dengan kecakapan digital yang dibutuhkan di jenjang pendidikan selanjutnya maupun dunia kerja masa depan.
4. Eksplorasi Pembelajaran 3D dan AR Melalui Assembler EduAssembler Edu membawa kemerdekaan belajar ke tingkat yang lebih tinggi dengan menghadirkan teknologi Augmented Reality (AR) dan materi 3D ke dalam ruang kelas SMP. Konsep-konsep abstrak dalam mata pelajaran seperti IPA, Geografi, maupun Informatika kini dapat divisualisasikan secara nyata dan interaktif di hadapan siswa. Melalui aplikasi ini, siswa tidak hanya membaca teks atau melihat gambar dua dimensi di buku, tetapi dapat memutar, memperbesar, dan mengamati objek 3D seperti struktur sel, tata surya, atau komponen perangkat keras komputer secara langsung. Pengalaman belajar yang imersif ini membangkitkan rasa ingin tahu yang mendalam dan membuat proses pembelajaran menjadi jauh lebih berkesan.
Penggunaan Assembler Edu juga memerdekakan siswa untuk berperan aktif sebagai pencipta konten digital (content creator), bukan sekadar konsumen teknologi. Siswa SMP dapat memanfaatkan fitur kreator di Assembler Edu untuk merancang presentasi berteknologi AR mereka sendiri sebagai bentuk laporan proyek atau tugas akhir. Aktivitas ini melatih logika spasial, pemikiran komputasional, serta kemampuan bercerita (storytelling) berbasis teknologi pada siswa. Dengan mengintegrasikan Assembler Edu ke dalam kurikulum Informatika, sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, di mana daya imajinasi siswa dapat berkembang tanpa batas seiring dengan perkembangan teknologi modern.
Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Prompt :
“Saya Guru Informatika. Buatkan artikel kemerdekaan pendidikan di sekolah jenjang SMP dengan bahasan-bahasan sebagai berikut :
1. Aplikasi Rumah Pendidikan
2. Aplikasi Canva
3. Aplikasi di google dengan akun belajar.id
4. Aplikasi Assembler edu
buat tulisan setiap paragraf minimal 200 kata dengan panjang minimal tiap bahasan 2 paragraf masing – masing”
“Saya Guru Informatika. Buatkan artikel kemerdekaan pendidikan di sekolah jenjang SMP dengan bahasan-bahasan sebagai berikut :
1. Aplikasi Rumah Pendidikan
2. Aplikasi Canva
3. Aplikasi di google dengan akun belajar.id
4. Aplikasi Assembler edu
buat tulisan setiap paragraf minimal 200 kata dengan panjang minimal tiap bahasan 2 paragraf masing – masing”

Malam ini saya merenung kembali sebagai pendidik, apa yang sudah saya lakukan untuk membantu siswa – siswi saya pribadi? Terutama yang orangtuanya sudah tidak punya salah satu orang tua atau bahkan keduanya karena sudah wafat atau meninggal. Bantuan apa yang saya sudah coba ulurkan tangan, sebisa saya dan semampu saya untuk mereka yang memanggil saya Pak setiap hari, yang mencium tangan saya setibanya di depan sekolah atau di depan kelas seusai mengajar. Hal-hal sederhana apa yang membuat saya sebagai orang tua mereka di sekolah sesungguhnya.
Berikut hal – hal sederhana yang coba saya lakukan
sebagai pendidik yang memiliki tugas tambahan/merangkap sebagai operator data
:
1. Saya
selalu memastikan data kondisi orang tua mereka dari KK atau kartu keluarga,
memastikan kelengkapan orang tua kandungnya. Jika lengkap dan kondisi keluarga
sesuai kondisi kenyataan atau realitas, tidak perlu saya ulurkan tangan secara
langsung. Namun, jika orang tua lengkap namun ada kerentanan ekonomi, saya menyarankan untuk meminta bantuan untuk kondisi ekonominya, minimal pertama-tama mengecek data desil di kelurahan dahulu, mengingatkan mereka tentang kondisi data pribadinya di Dukcapil/Kependudukan dan Catatan Sipil wilayah terdekat agar lengkap dan bersih dari kondisi yang merugikan mereka ke depannya.
2. Jika siswa – siswi yang kehilangan pencari
nafkah utama alias yatim karena ditinggal wafat. Maka ini jadi salah satu
prioritas utama yang wajib dibantu di sekolah kami dan harus diprioritaskan serta dibantu. Pertama, dengan memastikan ibu yang masih hidup, pendapatannya, kondisi rumah, dan apakah ada anggota keluarga lain yang membantu. Data berikutnya meminta orang tua yang masih hidup untuk mengecek data KK dan desilnya di kelurahan. Jika sudah aman, kami inputkan di Dapodik (Data Pokok Pendidikan) milik bahwa tertulis Yatim dan pendapatan orang tua di bawah Rp 500.000 atau di bawah satu juta rupiah. Hal selanjutnya adalah memastikan semua data sesuai dengan syarat bantuan dari
pemerintah daerah seperti KJP (Kartu Jakarta Pintar) atau dari Kementerian
pendidikan untuk PIP (Program Indonesia Pintar). Selanjutnya, proses mengajukan
dengan pemenuhan semua dokumen yang diperlukan dilakukan kerja sama dengan keuangan sekolah.
3. Jika kedua orang tua sudah wafat dan hanya
ada kakak kandung atau keluarga lain yang membantu, pastikan ada wali atau saudara
yang siap membantu mengurus dokumen – dokumen KK serta dokumen pribadi siswa
atau siswi. Minta wali tersebut membantu mengurus data ke kelurahan dan Dukcapil
dan memastikan lolos Dukcapil untuk anak tersebut. Baru usahakan mengajukan
dengan dokumen yang dimiliki.
4. Jika bantuan sudah pasti tercantum untuk kondisi - kondisi di atas, kadang saya pribadi memantau secara berkala pencairan dan pelaporan bantuan mereka. Terutama yang orangtuanya “single parent” entah
karena Yatim atau piatu atau bahkan keduanya. Perhatian kita sama
pentingnya dengan saat kita mengajukan bantuan untuk mereka. Paling sederhana adalah dengan mengingatkan pencairan, pelaporan, dan kondisi pemakaian yang tepat guna dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan atau saat ini disebut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kedisiplinan dalam bentuk perhatian kita akan memperpanjang bantuan dan meringankan kondisi mereka.
Kadang bantuan tidak harus
memberi uang atau harta dari kantong kita sendiri, Terkadang bantuan kecil guru
dan pendidik dalam mengulurkan tangan, memproses, dan mengajukan sudah menjadi salah
satu cara bersedekah atau berderma kita sebagai orang tua mereka di sekolah.
Nominal berapa pun semoga bisa mengurangi beban ekonomi mereka, asal tertib dan
teratur serta disiplin dalam menerima, menggunakan dan melaporkan bantuan.
Mereka akan lebih bahagia jika orangtuanya di sekolah yang tidak mereka miliki di rumah saat ini, sama kasihnya seperti mereka dulu terima. Itulah uluran
tangan yang bisa saya lakukan.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
Berikut mungkin sedikit kisah, beberapa kepala keluarga yang memilih antara panggilan jiwa sebagai pendidik dan tuntutan sebagai kepala. kisah yang pasti banyak di pelosok negeri. Terlepas ini adalah cerita fiktif. Namun saya yakin perjuangan seperti ini ada ribuan di kota - kota besar, hingga pelosok desa di daerah 3T di seluruh wilayah Indonesia. Kebanggan sebagai kepala keluarga dan sebagai pendidik yang sama harus menjaga moral - adab dan adat budaya serta profesionalisme yang terkadang tanpa batas di manapun berdiri di depan kelas, di sekolah dan juga di hadapan masyarakat. Di hadapan Masyarakat dan orangtua yang kondisinya berubah - ubah, ada yang mendukung dan bahkan ada yang menentang. Silahkan dibaca cerita fiktif ini :
" Di balik meja kayu tua di sudut ruang guru yang mulai pudar catnya, saya sering teringat awal mula menapaki jalan ini. Sudah bertahun-tahun masa kerja saya jalani di dunia pendidikan, mendidik ribuan anak bangsa dengan harapan mereka bisa menjadi lentera bagi Indonesia. Mengajar bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian yang tulus demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, ketika gema kata merdeka berembus di setiap penjuru negeri, sebuah pertanyaan mengusik benur sanubari saya sebagai seorang guru laki-laki: apakah salah jika seorang pendidik menuntut kesejahteraan yang layak di tanah airnya sendiri?
Sebagai kepala keluarga, tanggung jawab yang saya panggul tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi. Di rumah, ada senyum anak-anak dan harapan seorang istri yang membutuhkan penghidupan yang mencukupi. Namun, kenyataan sering kali memaksa kami hidup dalam keterbatasan. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan hidup kian melonjak tinggi, sementara apresiasi terhadap profesi pendidik kerap kali terasa stagnan. Waktu yang saya curahkan dari pagi hingga petang untuk menyiapkan bahan ajar, memeriksa tugas, dan membimbing siswa seakan tidak berbanding lurus dengan ketenangan finansial yang didapatkan. Apakah pantas jika upaya mencukupi kebutuhan dasar keluarga dianggap sebagai bentuk pengikisan keikhlasan?
Di era modern yang serba cepat ini, tuntutan terhadap guru semakin kompleks. Kami dituntut untuk terus adaptif dengan perkembangan dunia global, menguasai teknologi, dan membentuk karakter generasi muda agar berdaya saing. Namun, bagaimana mungkin seorang guru dapat mentransfer ilmu dengan optimal jika pikirannya masih terbagi oleh kecemasan akan biaya hidup esok hari? Menyuarakan aspirasi untuk kehidupan yang lebih baik bukanlah sebuah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah tuntutan logis agar profesi ini tetap bermartabat dan memiliki daya tarik bagi generasi penerus.
Kesejahteraan dan pengabdian tidak seharusnya diposisikan sebagai dua hal yang bertolak belakang. Sebuah bangsa yang benar-benar merdeka adalah bangsa yang mampu menghargai para pahlawan tanpa tanda jasa dengan tindakan nyata, bukan sekadar pujian manis di hari peringatan. Menuntut hak untuk hidup sejahtera bukanlah kejahatan, melainkan langkah awal agar kami dapat mengabdi secara utuh tanpa dibebani kecemasan mendasar. Sebab, ketika guru sejahtera, kualitas pendidikan pun akan terangkat, dan masa depan bangsa akan makin cemerlang."
Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay
aplikasi: Google Gemini, prompt sumber :
"Saya guru laki-laki, buatkan saya naskah karangan untuk blog dengan tema cerita bebas dan judul berikut ini "Salahkah Guru menuntut Hak Sejarahteranya di Negeri yang Merdeka?"
cerita minimal 500 kata dan memiliki kata-kata berikut: keluarga, kesejahteraan, pengabdian, waktu, usia, masa kerja, dunia, Indonesia, merdeka dan tuntutan.
naskah karangan dibuat dalam minimal 4 paragraf. buat senatural mungkin dengan kata-kata dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) versi terbaru."
Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama
satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri
saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, impian memiliki
lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu
cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat
itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar
tidak merasa bersalah. Saat muda adalah saat mencoba keberanian dan kemauan untuk belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul, saya coba menapaki pembangunan sebuah tempat kursus sendiri walau dengan kegagalan kecil di akhir, karena memang modal dengkul. Tanpa karyawan, saya berusaha sendiri. Tapi setelah
dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya
saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.
Setelah itu, saya tetap menjalani diri sebagai tutor
dan instruktur komputer sesuai dengan ilmu dasar saya. Namun, saya juga mengasah kemampuan mengajar ilmu bahasa Inggris dengan keahlian saya karena saya yakin kemampuan bahasa Inggris saya cukup dengan TOEFL di atas 450 poin kala itu di usia 25 tahun. Maka di usia 27 tahun saya memberanikan diri untuk mengajak English dari tingkat anak-anak SD dahulu, lalu naik ke tingkat-tingkat di atasnya. Sehingga dalam 1-2 tahun saya sudah mampu
mengajar English untuk SMA dan orang dewasa yang level dasar. Sambil tentu saja di
tahun yang sama saya mengajar komputer semua jenjang usia bahkan sampai lansia/pensiunan.Ada satu kisah
yang saya bisa ambil dari murid paling tua saya saat itu. Usianya sudah 70 tahun,
mantan Angkatan Laut yang sudah bergabung di LVRI Tingkat Jakarta Timur saat
itu. Beliau, jiwanya masih pejuang betul, saya rasakan, masih mau menulis sebuah
buku autobiografi tentang dirinya sendiri. Minimal bukunya bisa diterbitkan dan
diberikan ke anak – anak atau cucunya kelak, begitu pesannya. Syukur – Syukur bisa
diberikan ke LVRI atau ke pihak lain yang berminat memperbanyak. Misi saya
hanya satu menurut beliau, membantu merapihkan tulisan dan teks yang beliau
buat di Microsoft Word, menata tulisannya agar rapih, mengecek tulisan di Word.
Beliau ini murid paling disiplin saya pernah ajarkan. Waktu sesibuk apa pun beliau, dipastikan beliau meminta didampingi untuk menulis karyanya. Beliau suka bercerita
masa mudanya di Angkatan Laut, tugas – tugasnya di Irian Jaya, di wilayah -
wilayah Indonesia kala itu. Termasuk tugas menjelang masa pensiunnya saat berkantor dan diminta menjemput rekan-rekan yang terbunuh dan dikembalikan ke Indonesia dari negeri seberang di era Orde Lama yang baru bisa dikebumikan ulang di era Orde Baru. Sebuah tugas berat mengatur pemulangan dan negosiasi saat itu
antarnegara, antardaerah sehingga bisa dikembalikan ke keluarga masing-masing di berbagai daerah setelah puluhan tahun. Beliau bercerita apapun yang
jadi tugasnya saat itu. Namun itu hendak dijadikan buku dan misi saya tetap
sama, memastikan tulisan beliau se akurat mungkin jika harus naik cetak kelak.
Sebuah kebanggan saya kala itu, tidak punya tempat kursus namun bisa membantu
salah satu pejuang era Orde Lama dan era Orde Baru sekaligus.
Namun, saat itu ada panggilan
lain bagi saya untuk terus mengajar, tidak hanya beliau, tetap ada semangat
untuk mengajar anak - anak muda. Kala itu, istilah Indonesia Emas 2045 baru
terdengar, konsep untuk masa depan negara yang lebih baik untuk generasi
selanjutnya. Maka saya setelah melatih Veteran ini, saya tetap sediakan
mengajar English dan Komputer untuk anak – anak di lembaga Pendidikan yang
dahulu dan sambil mencari lembaga pendidikan lain di Jakarta Utara. Kebetulan Kawan
dulu marketing, memberikan sebuah awalan untuk mengajar di daerah Mangga Dua, Jakarta
Utara. Wilayah baru dengan kondisi masyarakatnya yang tentu 100% berbeda. Di sini
saya mengajar English kepada 5 bocah keturunan usia sekolah SD. Tentu mereka di awal
merasa saya berbeda dengan mereka, namun pelan tapi pasti kedekatan mereka
dengan saya bertumbuh. Saya sudah dianggap kakak oleh mereka berlima. Ini pun
bukan pengalaman saya mengajar siswa sekolah dasar di lembaga, jadi saya paham
betul pendekatan terhadap cara belajar mereka. Belajar dahulu, sambil bermain
kemudian. Sambil sesekali memberi mereka hadiah makanan ringan atau sekedar teh
segar sesekali jika kenaikan Tingkat di kelas. Memberi mereka kebanggaan bahwa
mereka berhasil naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Karena secara ekonomi,
mereka jauh lebih mampu, kalau adu harga jajanan mereka pasti saya kalah. Namun, mendekati mereka agar mau belajar dan terus mau belajar setiap minggu 2 kali adalah
tantangan unik. Membuat mereka rajin datang saja sudah perlu usaha, Mereka
datang bukan disuruh mami atau papinya lagi, tapi karena kemauan sendiri.
Lepas dari lembaga itu sebagai manajer cabang selama satu tahun, membuat saya merasa sudah waktunya mandiri. Menjadi pemilik diri saya sendiri walau usia belum mencapai 30 tahun saat itu, impian memiliki lembaga sendiri atau minimal punya tempat pelatihan dan kursus sendiri saat itu cukup besar. Muda saatnya mencoba hal – hal besar istilah dalam hati saya saat itu. Seperti ada pepatah pebisnis : habiskan masa mudamu dengan kegagalan, agar tidak merasa bersalah. Saat muda adalah saat mencoba keberanian dan kemauan untuk belajar hal baru tanpa pendampingan seperti dahulu. Betul, saya coba menapaki pembangunan sebuah tempat kursus sendiri walau dengan kegagalan kecil di akhir, karena memang modal dengkul. Tanpa karyawan, saya berusaha sendiri. Tapi setelah dipikir menyewa tempat, promosi manual atau elektronik cukup besar biayanya saat pemasukan belum pasti itu merugikan saat itu.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay



