Hiburan minggu ini yang paling saya tunggu adalah film yang akan tayang pada rentang waktu 23–25 September ini. Filmnya tentu saja Avengers: Endgame Encore. Maka saya coba kaitkan karya digital yang sempat menghebohkan dunia film fiksi ilmiah ini dengan pengalaman sebagai guru Informatika jenjang SMP
Bagi seorang pencinta film
Marvel, menyaksikan Avengers: Endgame Encore (versi tayang ulang dengan
adegan tambahan) memberikan pengalaman visual yang sangat menarik, layaknya
mengamati perkembangan teknologi dalam dunia sinematik. Jika kita tinjau dari
sudut pandang ilmu informatika, film ini bukan sekadar kisah para pahlawan
super melawan Musuh Utama, melainkan sebuah contoh nyata dari pemrosesan data
tingkat tinggi. Animasi berbasis komputer (computer-generated imagery)
yang digunakan mampu mengolah jutaan piksel dengan sangat halus, sehingga
setiap efek ledakan, kostum digital, hingga karakter fiksi tampak begitu nyata
di layar lebar.
Jalan cerita film ini juga
menyajikan analogi yang sangat relevan dengan konsep pemrosesan algoritma dalam
komputer. Perjalanan melintasi waktu yang dilakukan oleh para tokoh utama
menyerupai sistem pencarian data dalam basis data (database), di mana
mereka harus kembali ke titik data masa lalu untuk memperbaiki kesalahan di
masa kini. Proses ini membutuhkan ketepatan dan logika yang runtut, persis
seperti penulisan kode program yang tidak boleh mengalami kesalahan logika (logical
error) agar sistem tidak mengalami kerusakan secara keseluruhan.
Satu aspek yang paling menonjol
dari segi teknologi adalah teknik pemudaan usia secara digital (digital
de-aging) pada para pemeran utama. Proses visual ini memanfaatkan
kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin (machine learning) untuk
menganalisis wajah para aktor di masa muda, lalu menerapkannya pada adegan baru
secara presisi. Hasil rekayasa digital ini menghasilkan tampilan grafis yang
sangat rapi, sehingga penonton dari berbagai generasi dapat menikmati alur
cerita tanpa terganggu oleh ketidaksesuaian visual.
Secara keseluruhan, versi Encore
ini memberikan bonus materi berupa potongan adegan dan penghormatan khusus yang
memperkaya struktur cerita. Meskipun adegan tambahan yang disajikan relatif
singkat, karya sinematik ini berhasil membuktikan bagaimana kolaborasi antara
seni peran dan kemajuan teknologi informasi dapat menciptakan sebuah hiburan
yang megah. Film ini sangat layak ditonton oleh remaja maupun orang tua karena
menyampaikan pesan tentang kerja sama tim yang dikemas dengan keindahan
teknologi grafis masa kini.
Semoga Rabu depan kita bisa bahas versi aslinya bukan berdasar konten kreator lokal
Beberapa hari ini, saya cermati banyak orang mengalami flu dan demam, kadang disertai batuk ringan. Tanpa terkecuali, siswa - siswi saya sendiri di sekolah kami. Jika saya tanya dan coba ngobrol dengan mereka, kebanyakan karena warga di dalam rumahnya sendiri sudah ada yang kena gejala yang mirip sejak 1-2 minggu lalu dan ada yang sudah sembuh dan belum.
Menurut beberapa sumber yang saya baca, saat ini juga sedang muncul istilah baru yang saya dengar, yaitu influenza A. Ini informasinya bukan flu varian baru seperti covid-19 yang banyak seri dan variannya. Infonsya hanya dua jika terkena manusia Influenza A dan Influenza B serta Influenza C. Di Indonesia sendiri, jika mengutip dari website kesehatan yang berafiliasi dengan beberapa dokter lainnya, tertulis saat ini Indonesia sedang mulai banyak yang terkena Influenza A. Karena di kawasan ASEAN juga memang sedang tinggi penularannya walau belum bisa disebut wabah apalagi disebut KLB (Kejadian Luar Biasa) seperti tahun 2019, semoga saja tidak terjadi.
Berdasarkan penelusuran saya pribadi di media terkait kesehatan, baik swasta maupun resmi pemerintah menyebutkan beberapa gejala umum influenza A sebagai berikut :
- Demam tinggi
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Lemas
Virus influenza A menyebar melalui percikan ingus atau liur (droplet) yang dihasilkan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Droplet ini dapat terhirup oleh orang lain atau menempel pada permukaan benda di sekitar penderita. Jadi, misalnya, rumah dengan kepadatan tinggi atau fasilitas umum yang sirkulasi udaranya tidak terbuka penuh, namun dengan AC atau tertutup sama sekali.
Virus influenza A menyebar melalui percikan ingus atau liur (droplet) yang dihasilkan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Droplet ini dapat terhirup oleh orang lain atau menempel pada permukaan benda di sekitar penderita. Jadi, misalnya, rumah dengan kepadatan tinggi atau fasilitas umum yang sirkulasi udaranya tidak terbuka penuh, namun dengan AC atau tertutup sama sekali.
Pernah dengar istilah Cardiovaskular, bilik jantung, mikroorganisme?? mungkin pernah atau sering tapi kadang bingung atau sulit kalau sudah ditanya sama guru atau orang lain, terutama untuk menjelaskannya...
Sama penulis juga gitu dulu waktu masih SMP atau SMA juga begitu, banyak istilah Biologi atau Kesehatan yang buat kita sulit mengucapkan apalagi menjelaskannya kepada orang lain. :)

