Dalam dunia pendidikan, fatherless ditelaah dari bagaimana struktur dan dukungan keluarga memengaruhi performa sekolah, ketahanan akademik (academic resilience), dan perilaku belajar siswa. Ayah memiliki peran unik dalam menanamkan disiplin, pemecahan masalah secara logis, dan dorongan eksplorasi akademis.
Pada bagian kedua ini, saya
selaku penulis ingin mengajak pembaca dalam sudut pandang lebih luas, bukan
hanya dari sudut pendidikan dan keguruan yang akan saya berikan gambaran sebab
dan akibatnya kepada anak didik kita saja, namun juga kepada seluruh isi
sekolah kita. Mari kita bahas beberapa temuan dari peneliti dan tulisan mereka
yang saya temui. Mari kita lihat satu persatu satu persatu dari dunia
pendidikan terlebih dahulu.
Dampak - dampak yang mungkin timbul dari tidak adanya figure menempel
pada peserta didik laki – laki maupun pada peserta didik perempuan:
a. Penurunan prestasi akademik : Anak-anak fatherless cenderung
memiliki motivasi belajar yang lebih rendah dan rentan mengalami kesulitan
konsentrasi di kelas. Motivasi ini di dapat anak dari ayah – ayah yang rajin
atau tekun bekerja, yang dirumahnya ayahnya memiliki sifat ulet dan mau
membantu keluarga (bukan hanya membantu istri, namun juga di masyarakat). Gambaran
ayah yang tekun, rajin, serba bisa tentu akan membuat anak lebih mencontoh
sifat baik ini. Apalagi jika ayahnya senang membaca buku, atau memperbaiki
kondisi rumah, berkebun atau memelihara hewan tertentu, maka anak juga akan
melihat ini.
b. Ketahanan akademik (Academic
resilience) menurun: Ketika menghadapi kegagalan di sekolah
(seperti nilai buruk atau kurang dari standar kelas), anak tanpa figur ayah
yang mendukung sering kali lebih mudah menyerah atau menyalahkan diri sendiri. Sehingga
anak kurang dapat beradaptasi jika nilai turun, mudah menerima apa adanya diri.
Tidak berusaha bertahan untuk mencapai nilai lebih baik, pasrah yang mengarah
ke negatif dan jadi sulit menyelamatkan diri jika sudah gagal.
c. Potensi Putus Sekolah: Kurangnya
pengawasan ganda dari orang tua membuat anak fatherless lebih rentan
membolos atau terlibat dalam masalah kedisiplinan sekolah yang berujung pada
tingginya angka drop out. Jadi ayah yang terus mengikuti perkembangan
belajar dan keseharian putra – putrinya akan lebih memiliki awarness
atau kesiap siagaan jika terjadi masalah dan segera berkonsultasi dengan wali
kelas dan mungkin guru – guru lain terhadap anak – anaknya. Bagi yang tidak
memiliki ayah ini, maka akan tidak ada yang menjaga, sehingga sering kali
meyebabkan resiko drop out karena masalah ini lebih besar lagi.
Ketiga hal
diatas adalah temuan berdasarkan penelitian dengan judul “Dampak Ketiadaan
Peran Ayah (Fatherless) terhadap Pencapaian Akademik Remaja: Kajian Sistematik
(pada Jurnal Psikologi dan Pendidikan UNJ, 2024)1. Kajian ini
menyimpulkan bahwa ketiadaan peran ayah berdampak sangat merugikan pada
pencapaian akademik dan membutuhkan intervensi komprehensif di lingkungan
sekolah. Penelitian oleh Fitroh, S. F., 2014, Jurnal PG-PAUD Trunojoyo dengan
judul “Dampak Fatherless Terhadap Prestasi Belajar Anak” juga
menggambarkan hal yang mirip dengan dampak yang timbul. Tulisan Fitroh ini juga
jadi satu rujukan klasik di Indonesia yang membuktikan secara empiris korelasi
antara absennya ayah dan penurunan capaian belajar anak usia dini.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
1) https://journal.pubmedia.id/index.php/pjp/article/view/2567
2)
Anita
bertanya pada temannya, itu si Budi kan Fatherless sambil senyam senyum
kecil. Sambil sok tau menjelaskan kosakata English kekinian menjelaskan kepada Juleha
sahabatnya. Anita menjelaskan bahwa istilah itu kata lain dari Yatim alias anak
yang ditinggal meninggal ayah kandungnya. Walaupun sudah ada ayah tiri.
Datanglah Pak Anto, beliau mulai menjelaskan di Tengah jam istirahat yang hanya
15 menit dengan konsep yang lebih tepat. Fatherless adalah kosakata baru di Indonesia, banyak kalangan pendidikan dan di
luar pendidikan belum memahami istilah ini. Adapun yang mendengar ini
menyamakan dengan istilah sugarless = sedikit gula atau tanpa gula. Jadikan
menyamakan istilah ini dengan tidak ada ayah kandung. Jikalau pun punya ayah
tiri atau ayah sambung tetap dianggap fatherless. Mungkin ini sedikit Gambaran
sederhana yang dipahami oleh banyak orang lainnya juga.
Tapi mari
kita bedah lebih lanjut istilah ini, dari sudut pandang pendidikan, ilmu
psikologis dan hal – hal lainnya. Sehingga sudut pandang kita sebagai pendidik
juga lebih dalam dan luas menanggapi istilah yang perlu lebih detail
penjabarannya.
Berapa banyak Siswa - siswi yang kita kenal sangat akrab ?
berapa yang kita tahu kehidupan aslinya ? Berapa yang kita pahami kesulitan
pikirannya dan perbedaan sifat mereka di rumah, di sekolah dan di masyarakat ? Jika sudah
mendapat informasi kondisi mereka dalam data fisik misalnya Kartu Keluarga yang
menunjukkan secara hukum bahwa ada kepala keluarga, apakah artinya siswa –
siswi kita sudah memiliki figur ayah? Sebagian pembaca pasti merasa yakin
sudah. Bagaimana jika di Kartu keluarga kolom atas kiri, no paling atas atau nomor
satu adalah benar ada nama laki – laki namun jika kita cocokkan dengan nama ayah kandung siswa – siswi kita ternyata namanya berbeda? Apakah ini juga
berlaku kata fatherless itu, setujukah kita letakkan konsep ini ke anak - anak
didik kita? Secara aturan mungkin benar anak ini tidak memiliki ayah kandung (entah
karena cerai mati atau cerai hidup). Banyak kejadian saat ini, laki – laki dewasa
usianya lebih pendek dengan rerata usia hidup dibawah 50-60 tahun. Namu nada juga,
tentu saja cerai hidup. Inilah yang sering terjadi, Ketika ayah kandung masih
hidup namun tidak pernah datang, tidak pernah menemani masa tumbuh kembang anak
– anaknya, konsep fatherless ini lah yang digunakan oleh para pakar
psikologi. Jadi bukan hanya dari sisi dokumen fisik.
Namun demikian kita akan bahas lebih detail tentang konsep fatherless ini pada bagian kedua pada tulisan di blog ini, baik dari sisi psikologi, hukum dan pendidikan dan catatan data dari ahli – ahli atas temuan konsep baru ini dalam tumbuh kembang dan efek sebab akibat yang ditimbulkan dan dampak lansung maupun tidak langsung terhadap anak didik kita, agar kita mampu menjembatani kehidupan mereka di sekolah dan membantu prestasi mereka di sekolah dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
Waktu
berjalan sambil mengajar, saya mencoba melamar kerja di luar dunia pendidikan. Tentunya
di dunia teknologi informasi sesuai perkuliahan yang saya tekuni dan saya dapat
tambahan ilmunya di lembaga pendidikan. Ilmu yang terus bertambah, memang harus
di gunakan di bidang dan praktik langsung tentunya akan sangat baik dan
menyeimbangkan diri saya pribadi. Pendidik kursus yang memiliki pengalaman
nyata dan pengetahuan realita industry akan lebih baik menurut saya kala itu. Pengalaman
dunia industri atau pengetahuan di pekerjaan yang sama yang saya ajarkan di
lembaga kursus, tentu akan memperkuat posisi saya di lembaga sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan begitu juga akan menguatkan teori saya di pekerjaan
yang menuntut ilmu yang terbaru. Jadi keduanya sama menguntungkan dan sama –
sama saling mendukun satu sama lain. Bekerja di dua tempat: perusahaan PMA (Penanaman
Modal Asing) dari negara pusatnya di Jepang dan Lembaga Pendidikan yang berbasis
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris membuat saya cukup mengalami kelelahan
fisik dan kadang mental. Apalagi saat itu masih harus memegang privat di sabtu
sore atau minggu sore membantu menyelesaikan tulisan murid veteran AL yang
masih menggebu – gebu dengan pengalamannya. Walaupun sangat pelan, penyelesaiannya
masih harus tetap menunggu beliau yang menulis.
Pengalaman
dunia industri atau pengetahuan di pekerjaan yang sama yang saya ajarkan di
lembaga kursus, tentu akan memperkuat posisi saya di lembaga sebagai orang yang
memiliki pengalaman dan begitu juga akan menguatkan teori saya di pekerjaan
yang menuntut ilmu yang terbaru. Jadi keduanya sama menguntungkan dan sama –
sama saling mendukun satu sama lain. Bekerja di dua tempat: perusahaan PMA (Penanaman
Modal Asing) dari negara pusatnya di Jepang dan Lembaga Pendidikan yang berbasis
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris membuat saya cukup mengalami kelelahan
fisik dan kadang mental. Apalagi saat itu masih harus memegang privat di sabtu
sore atau minggu sore membantu menyelesaikan tulisan murid veteran AL yang
masih menggebu – gebu dengan pengalamannya. Walaupun sangat pelan, penyelesaiannya
masih harus tetap menunggu beliau yang menulis.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan om Jay
Jika kita bertanya apa itu kemerdekaan Pendidikan ? Sebagai Guru tentu saja fasilitas pendidikan yang adil merata dan bisa digunakan oleh semua Guru. Apalagi perangkat keras atau perangkat lunak yang gratis itu sudah cukup sebagai Guru pengampu mata Pelajaran Informatika seperti saya. Saya coba membahas beberapa hal lain yang menjadi kemerdekaan dunia pendidikan saat ini dari sudut keadilan yang lebih luas.
Kemerdekaan dalam dunia pendidikan saat ini tidak lagi hanya sekadar bebas dari belenggu fisik atau paksaan kurikulum yang kaku, melainkan kebebasan untuk mengakses ilmu pengetahuan serta mengekspresikan kreativitas tanpa batas. Bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), fase perkembangan remaja awal ini merupakan momen krusial untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka secara mandiri. Pemanfaatan teknologi informatika menjadi motor penggerak utama yang memberikan ruang gerak luas bagi guru dan murid untuk menciptakan suasana belajar yang dinamis, relevan, dan menyenangkan. Melalui digitalisasi, setiap individu memiliki kesempatan yang seimbang untuk berkembang sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing.
Memerdekakan cara belajar berarti membongkar sekat-sekat kelas tradisional dan menggantinya dengan ruang kolaborasi virtual yang tidak terbatas oleh dinding fisik sekolah. Guru Informatika memegang peranan strategis dalam memfasilitasi transformasi ini dengan mengenalkan berbagai platform digital yang berfokus pada efisiensi dan inovasi pembelajaran. Kemerdekaan belajar hadir ketika teknologi digunakan bukan sekadar sebagai alat pengganti papan tulis, melainkan sebagai media untuk mengasah berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian siswa. Dengan landasan teknologi yang tepat, pembelajaran di tingkat SMP dapat ditransformasikan menjadi proses eksplorasi yang memberdayakan dan interaktif bagi seluruh warga sekolah.
1. Pemanfaatan Aplikasi Rumah PendidikanAplikasi Rumah Pendidikan hadir sebagai platform inklusif yang memerdekakan siswa SMP dalam mengakses materi pembelajaran berkualitas kapan saja dan di mana saja. Platform ini menyediakan beragam sumber daya digital, mulai dari buku teks elektronik, modul interaktif, hingga audio-visual yang dirancang sesuai dengan kebutuhan kurikulum nasional. Kehadiran aplikasi ini memangkas kesenjangan akses informasi, sehingga setiap siswa, baik yang berada di pusat kota maupun di daerah terpencil, mendapatkan hak dan kualitas materi belajar yang setara. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih materi yang ingin mereka pelajari secara mandiri, mengulang topik yang sulit, serta mengevaluasi pemahaman mereka melalui latihan soal yang interaktif.
Bagi para pendidik, Rumah Pendidikan memberikan fleksibilitas tinggi dalam merancang pembelajaran yang terdiferensiasi di dalam kelas. Guru dapat mengarahkan siswa untuk mengeksplorasi materi secara mandiri sebelum diskusi kelas dimulai, sehingga waktu tatap muka dapat difokuskan pada kegiatan pemecahan masalah dan proyek kolaboratif. Keberadaan fitur-fitur pendukung di dalam aplikasi ini juga memfasilitasi guru untuk memantau perkembangan belajar murid secara personal dan objektif. Dengan demikian, proses edukasi tidak lagi berpusat pada pengajaran satu arah dari guru, melainkan berkembang menjadi proses pembelajaran mandiri yang menumbuhkan rasa tanggung jawab serta kesadaran belajar sepanjang hayat pada diri siswa SMP.
2. Kreativitas Tanpa Batas Bersama Aplikasi CanvaCanva menjadi salah satu aplikasi yang memberikan dampak signifikan dalam memerdekakan ekspresi visual dan kreativitas siswa jenjang SMP. Pada usia remaja, menyampaikan ide secara visual sering kali menjadi cara yang paling efektif dan menarik bagi mereka untuk menunjukkan pemahaman atas suatu konsep. Canva menyediakan antarmuka yang ramah pengguna beserta ribuan templat presentasi, poster, infografis, dan video yang memungkinkan siswa menyusun karya digital profesional tanpa harus menguasai perangkat lunak desain yang rumit. Melalui media ini, tugas sekolah yang dahulunya terasa menjenuhkan kini bertransformasi menjadi ruang eksplorasi seni dan penyampaian gagasan yang penuh warna.
Dari sudut pandang pembelajaran Informatika, Canva tidak hanya mengajarkan tentang estetika visual, tetapi juga melatih keterampilan komunikasi digital dan etika media. Siswa diajak untuk mempublikasikan ide-ide mereka, menyusun struktur informasi secara logis, serta memahami pentingnya hak cipta saat menggunakan elemen grafis. Guru dapat memanfaatkan Canva untuk penugasan berbasis proyek, di mana siswa bekerja secara kolaboratif dalam kelompok untuk menyelesaikan sebuah poster kampanye sosial atau presentasi ilmiah. Kemerdekaan untuk mengekspresikan pikiran melalui desain visual ini terbukti mampu meningkatkan rasa percaya diri, daya kritis, serta motivasi belajar siswa SMP secara menyeluruh.
3. Optimalisasi Akun Belajar.id dalam Ekosistem GoogleIntegrasi aplikasi Google melalui akun Belajar.id membuka ruang kolaborasi tanpa batas yang sangat esensial bagi pembangunan karakter siswa SMP di era digital. Dengan akun Belajar.id, siswa dan guru mendapatkan akses luas ke berbagai fitur premium Google Workspace for Education, seperti Google Docs, Slides, Sheets, Drive, dan Google Classroom. Fitur penyuntingan bersama secara real-time dalam Google Docs atau Slides memerdekakan siswa dari batasan ruang dan waktu ketika mengerjakan tugas kelompok. Mereka dapat saling memberikan masukan, membagikan ide, dan menyelesaikan proyek bersama meskipun berada di rumah masing-masing, yang secara langsung mengasah keterampilan komunikasi serta kerja sama tim.
Selain memfasilitasi kolaborasi, ekosistem Google berbasis akun Belajar.id ini mengajarkan manajemen data dan literasi digital yang sangat krusial bagi generasi muda. Penggunaan Google Drive mendidik siswa untuk mengorganisasi berkas digital mereka secara rapi dan aman di awan (cloud), sementara Google Classroom menciptakan alur penugasan yang transparan dan ramah lingkungan tanpa kertas. Akun Belajar.id juga menjamin keamanan privasi data siswa dalam lingkungan digital yang terekosistem dengan baik. Pengalaman menggunakan alat-alat kolaboratif ini memberikan kemerdekaan belajar yang terstruktur, sekaligus mempersiapkan siswa SMP dengan kecakapan digital yang dibutuhkan di jenjang pendidikan selanjutnya maupun dunia kerja masa depan.
4. Eksplorasi Pembelajaran 3D dan AR Melalui Assembler EduAssembler Edu membawa kemerdekaan belajar ke tingkat yang lebih tinggi dengan menghadirkan teknologi Augmented Reality (AR) dan materi 3D ke dalam ruang kelas SMP. Konsep-konsep abstrak dalam mata pelajaran seperti IPA, Geografi, maupun Informatika kini dapat divisualisasikan secara nyata dan interaktif di hadapan siswa. Melalui aplikasi ini, siswa tidak hanya membaca teks atau melihat gambar dua dimensi di buku, tetapi dapat memutar, memperbesar, dan mengamati objek 3D seperti struktur sel, tata surya, atau komponen perangkat keras komputer secara langsung. Pengalaman belajar yang imersif ini membangkitkan rasa ingin tahu yang mendalam dan membuat proses pembelajaran menjadi jauh lebih berkesan.
Penggunaan Assembler Edu juga memerdekakan siswa untuk berperan aktif sebagai pencipta konten digital (content creator), bukan sekadar konsumen teknologi. Siswa SMP dapat memanfaatkan fitur kreator di Assembler Edu untuk merancang presentasi berteknologi AR mereka sendiri sebagai bentuk laporan proyek atau tugas akhir. Aktivitas ini melatih logika spasial, pemikiran komputasional, serta kemampuan bercerita (storytelling) berbasis teknologi pada siswa. Dengan mengintegrasikan Assembler Edu ke dalam kurikulum Informatika, sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, di mana daya imajinasi siswa dapat berkembang tanpa batas seiring dengan perkembangan teknologi modern.
naskah resmi ide mandiri dengan pengembangan aplikasi Gemini AI oleh pemilik blog dan kerja sama dengan OmJay
Prompt :
“Saya Guru Informatika. Buatkan artikel kemerdekaan pendidikan di sekolah jenjang SMP dengan bahasan-bahasan sebagai berikut :
1. Aplikasi Rumah Pendidikan
2. Aplikasi Canva
3. Aplikasi di google dengan akun belajar.id
4. Aplikasi Assembler edu
buat tulisan setiap paragraf minimal 200 kata dengan panjang minimal tiap bahasan 2 paragraf masing – masing”
“Saya Guru Informatika. Buatkan artikel kemerdekaan pendidikan di sekolah jenjang SMP dengan bahasan-bahasan sebagai berikut :
1. Aplikasi Rumah Pendidikan
2. Aplikasi Canva
3. Aplikasi di google dengan akun belajar.id
4. Aplikasi Assembler edu
buat tulisan setiap paragraf minimal 200 kata dengan panjang minimal tiap bahasan 2 paragraf masing – masing”

Malam ini saya merenung kembali sebagai pendidik, apa yang sudah saya lakukan untuk membantu siswa – siswi saya pribadi? Terutama yang orangtuanya sudah tidak punya salah satu orang tua atau bahkan keduanya karena sudah wafat atau meninggal. Bantuan apa yang saya sudah coba ulurkan tangan, sebisa saya dan semampu saya untuk mereka yang memanggil saya Pak setiap hari, yang mencium tangan saya setibanya di depan sekolah atau di depan kelas seusai mengajar. Hal-hal sederhana apa yang membuat saya sebagai orang tua mereka di sekolah sesungguhnya.
Berikut hal – hal sederhana yang coba saya lakukan
sebagai pendidik yang memiliki tugas tambahan/merangkap sebagai operator data
:
1. Saya
selalu memastikan data kondisi orang tua mereka dari KK atau kartu keluarga,
memastikan kelengkapan orang tua kandungnya. Jika lengkap dan kondisi keluarga
sesuai kondisi kenyataan atau realitas, tidak perlu saya ulurkan tangan secara
langsung. Namun, jika orang tua lengkap namun ada kerentanan ekonomi, saya menyarankan untuk meminta bantuan untuk kondisi ekonominya, minimal pertama-tama mengecek data desil di kelurahan dahulu, mengingatkan mereka tentang kondisi data pribadinya di Dukcapil/Kependudukan dan Catatan Sipil wilayah terdekat agar lengkap dan bersih dari kondisi yang merugikan mereka ke depannya.
2. Jika siswa – siswi yang kehilangan pencari
nafkah utama alias yatim karena ditinggal wafat. Maka ini jadi salah satu
prioritas utama yang wajib dibantu di sekolah kami dan harus diprioritaskan serta dibantu. Pertama, dengan memastikan ibu yang masih hidup, pendapatannya, kondisi rumah, dan apakah ada anggota keluarga lain yang membantu. Data berikutnya meminta orang tua yang masih hidup untuk mengecek data KK dan desilnya di kelurahan. Jika sudah aman, kami inputkan di Dapodik (Data Pokok Pendidikan) milik bahwa tertulis Yatim dan pendapatan orang tua di bawah Rp 500.000 atau di bawah satu juta rupiah. Hal selanjutnya adalah memastikan semua data sesuai dengan syarat bantuan dari
pemerintah daerah seperti KJP (Kartu Jakarta Pintar) atau dari Kementerian
pendidikan untuk PIP (Program Indonesia Pintar). Selanjutnya, proses mengajukan
dengan pemenuhan semua dokumen yang diperlukan dilakukan kerja sama dengan keuangan sekolah.
3. Jika kedua orang tua sudah wafat dan hanya
ada kakak kandung atau keluarga lain yang membantu, pastikan ada wali atau saudara
yang siap membantu mengurus dokumen – dokumen KK serta dokumen pribadi siswa
atau siswi. Minta wali tersebut membantu mengurus data ke kelurahan dan Dukcapil
dan memastikan lolos Dukcapil untuk anak tersebut. Baru usahakan mengajukan
dengan dokumen yang dimiliki.
4. Jika bantuan sudah pasti tercantum untuk kondisi - kondisi di atas, kadang saya pribadi memantau secara berkala pencairan dan pelaporan bantuan mereka. Terutama yang orangtuanya “single parent” entah
karena Yatim atau piatu atau bahkan keduanya. Perhatian kita sama
pentingnya dengan saat kita mengajukan bantuan untuk mereka. Paling sederhana adalah dengan mengingatkan pencairan, pelaporan, dan kondisi pemakaian yang tepat guna dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan atau saat ini disebut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kedisiplinan dalam bentuk perhatian kita akan memperpanjang bantuan dan meringankan kondisi mereka.
Kadang bantuan tidak harus
memberi uang atau harta dari kantong kita sendiri, Terkadang bantuan kecil guru
dan pendidik dalam mengulurkan tangan, memproses, dan mengajukan sudah menjadi salah
satu cara bersedekah atau berderma kita sebagai orang tua mereka di sekolah.
Nominal berapa pun semoga bisa mengurangi beban ekonomi mereka, asal tertib dan
teratur serta disiplin dalam menerima, menggunakan dan melaporkan bantuan.
Mereka akan lebih bahagia jika orangtuanya di sekolah yang tidak mereka miliki di rumah saat ini, sama kasihnya seperti mereka dulu terima. Itulah uluran
tangan yang bisa saya lakukan.
Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog kerja sama dengan OmJay



