--
0


Bab 4: Katedral Angka Bank Sentral
 

        Gedung Bank Sentral berdiri megah di pusat kota, dibentengi pilar-pilar batu granit pejal yang melambangkan ketahanan dan ketertiban. Di jantung bangunan ini, terbentang sebuah aula raksasa beratap kubah tinggi. Ruangan seluas lapangan sepak bola itu bukanlah tempat yang sunyi, melainkan sebuah katedral perhitungan yang riuh oleh konser mekanis tanpa henti.

Di sinilah ratusan juru hitung insani dan juru catat senior bekerja berdampingan. Lebih dari tiga ratus meja kayu berjejer rapi dalam barisan yang presisi. Di atas panggung kerja itu, tak ada satu pun monitor berpendar atau papan ketik elektronik. Sebagai gantinya, suasana diisi oleh gemertuk biji-biji sempoa kayu jati, dentangan bilah mesin ketik mekanis yang tajam, serta derit halus dari putaran roda gigi Aritmometer—kalkulator mekanis bertenaga engkol berbahan kuningan dan baja.
Di barisan terdepan, duduk Aris. Sebagai juru catat senior yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade, Aris adalah salah satu sangga utama di aula ini. Tugasnya tak main-main: menyelaraskan neraca perdagangan luar negeri dan merekapitulasi arus kas nasional. Di dunia tanpa cip silikon ini, seluruh pasak keuangan negara bergantung penuh pada ketajaman logika, daya ingat, dan ketangkasan jemari para pekerja di ruangan tersebut.

Bab 5: Tarian Sempoa dan Roda Gigi

Jemari Aris bergerak dengan kelincahan fantastis di atas deretan biji sempoa. Klak-klik, klak-klik. Setiap geseran biji kayu mewakili ribuan, jutaan, hingga miliaran rupiah. Di sebelah sempoanya, bersanding sebuah Aritmometer berbobot pejal. Aris memasukkan deretan digit angka dengan menggeser tuas-tuas kecil pada panel logam, lalu memutar engkol utama di samping mesin: krii-klak!

Roda-roda gigi internal berputar di dalam kotak kuningan, menjumlahkan nilai secara fisik melalui perpindahan takik mekanis. Suara denting bel kecil berbunyi saat perhitungan mencapai batas puluhan ribu, menandakan bahwa angka akumulasi telah siap dimeteraikan dalam catatan.

“Dua puluh empat juta delapan ratus lima puluh ribu…” gumam Aris lirih, menyuarakan angka yang baru saja diproses oleh logikanya.

Ia lalu berpaling ke mesin ketik mekanis di sisi kirinya. Dengan cermat, Aris memasukkan tiga lembar kertas formulir neraca tebal yang diselingi dua lembar kertas karbon hitam. Kertas karbon ini digunakan untuk membuat salinan arsip secara simultan tanpa perlu menyalin ulang. Aris merenggangkan jemarinya sejenak, menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai mengetikkan angka-angka hasil perhitungannya ke atas lembaran resmi Bank Sentral.


Bab 6: Beban Kertas Karbon dan Batas Manusia

Matahari makin meninggi, menumpahkan suria terik yang menembus jendela-jendela kaca patri Bank Sentral. Jejak kelelahan mulai membayang di bawah mata Aris. Punggungnya terasa sengal akibat duduk tegak berjam-jam, sementara otot-otot lengannya pegal oleh gerakan memutar engkol Aritmometer yang konstan. Cahaya lampu gantung yang temaram mulai membuat matanya kabur dan pedih.

Di sinilah letak muasal konflik di dunia yang menggantungkan diri pada perhitungan manual: keterbatasan fisik manusia. Otak manusia bukanlah mesin yang tak kenal lelah, dan raga manusia rentan terhadap ketidaktelitian saat rasa kantuk dan kelelahan menyergap.

Aris sedang mengetik baris terakhir dari dokumen neraca keuangan bulanan—sebuah dokumen setebal lima puluh halaman yang telah dihitungnya sejak subuh. Jemarinya yang gemetar tipis menekan salah satu bilah mesin ketik.
Tuk!

Jantung Aris seakan berhenti berdetak saat melihat karakter yang tertera di atas kertas. Di kolom akumulasi tenggat pajak, jemarinya secara tak sengaja menekan angka ‘8’, padahal perhitungan di sempoa secara mutlak menunjukkan angka ‘3’.
Aris tertegun. Di atas lembaran kertas karbon, kesalahan ketik adalah dosa fatal tanpa ampun. Tidak ada tombol hapus instan, tidak ada fungsi pembatalan, dan tidak ada koreksi digital. Penggunaan cairan koreksi atau pengerokan tinta pada kertas dokumen resmi bernomor seri dilarang keras oleh regulasi bank karena dianggap sebagai bentuk pemalsuan data.
Srekkk.

Dengan helaan napas berat dan rasa kecewa yang merayap, Aris menarik tuas penggulung mesin ketik, lalu merobek tiga lembar kertas neraca yang hampir tuntas itu. Kertas karbon hitam yang terlipat melepaskan serbuk jelaga tebal yang mengotori jemarinya. Kesalahan satu angka berarti seluruh halaman itu batal demi hukum. Yang lebih menyakitkan: ia harus menghitung ulang seluruh deret data dari awal untuk memastikan tidak ada akumulasi kesalahan yang terbawa.

Aris menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu. Ia menatap ratusan rekan kerjanya di sekeliling aula yang juga sedang berjuang melawan rasa lelah, tumpukan dokumen tebal, dan ancaman kesalahan ketik yang senantiasa mengintai. Pekerjaan ini terasa sangat lambat, rumit, dan menguras stamina jiwa serta raga.

Namun, saat Aris menatap telapak tangannya yang ternoda tinta dan jelaga karbon, ada satu kesadaran murni yang terbersit di benaknya. Di dunia tanpa komputer ini, tidak ada proses yang instan. Setiap angka yang tertera di dalam buku kas negara lahir dari keringat, ketelitian, dedikasi, dan kejujuran murni manusia—bukti nyata bahwa peradaban mereka bergerak bukan karena dorongan mesin pintar yang dingin, melainkan karena keandalan jiwa manusia yang pantang menyerah.



Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay

--
0



 Bab 1: Arunika Mekanis

        Arunika merekah di ufuk Kota Nusantara, menyepuh mahkota gedung-gedung beton dengan kehangatan pendar jingga keemasan. Di kota ini, udara bersih dari deru statis maupun dengung pampat yang lazim merambat dari deretan peladen mahadata. Nusantara bernapas dengan ritme yang sepenuhnya purba dan berdenyut—ritme roda gigi, tembaga, uap air, dan gesekan rel besi.

Ketika Aris melangkah keluar dari serambi kediamannya, udara pagi menyergapnya dengan aroma pekat: perpaduan ganjil antara petrikor kertas, rajah tinta cetak, dan sisa jelaga dari stasiun sentral. Di sepanjang trotoar lebar yang dipayungi pepohonan rindang, tak satu pun pejalan kaki yang menunduk takluk pada gawai berlayar kaca. Tidak ada pendaran cahaya biru yang mencetak bayang muram di wajah mereka, tidak pula ada simpang siur sinyal seluler yang menembus kebisuan dinding beton.
Manusia bergerak dengan pandangan yang tak segan bersitatap. Di pangkuan dan genggaman jemari warga yang rehat di bangku taman, terhampar surat kabar cetak yang tebal. Lembar-lembar lapang itu bergemerisik lembut, seolah saling berbisik saat disapa angin pagi. Aris mengangguk takzim menyapa Pak Broto, loper koran uzur di sudut jalan yang menata tumpukan edisi harian dengan telaten. Pagi ini, berita utama mengenai peresmian jalur kereta uap antarkota mendominasi halaman muka, tepercik dalam rupa huruf cetak timbul yang tegas dan legam.


                        Bab 2: Denyut Jalanan Tanpa Mikroprosesor

        Aris melangkah menuju persimpangan utama. Lanskap lalu lintas di kota ini mementaskan orkestrasi mekanis murni. Di atas aspal yang membentang mulus, deru kendaraan berseliweran dengan jujur; bahasa mesin yang dapat dieja oleh setiap montir jalanan. Kendaraan-kendaraan ini—baik yang menenggak bensin maupun meraup daya baterai murni—dirangkai sepenuhnya tanpa Unit Pengendali Mesin (ECU). Tidak ada sirkuit terpadu, tiada komputer penakar injeksi, dan raib sudah layar navigasi yang berpendar manja.

Segalanya tunduk pada dalil fisika yang telanjang: karburator yang menghirup udara dan bahan bakar secara mekanis, sistem pengapian distributor berbekal platina, serta roda gigi manual yang menuntut kepiawaian mutlak dari jemari sang pengemudi. Di sisinya, trem kabel berdenting nyaring setiap kali tuas bajanya ditarik, meluncur anggun di atas rel yang membelah jantung kota. Di kejauhan, cerobong lokomotif lintas wilayah menyemburkan napas asap tipis ke angkasa, memekikkan siulan tajam yang menandai migrasi para penglaju pagi.
Kota ini tak takluk pada algoritma nirkasatmata, melainkan berpijak teguh pada presisi roda gigi, regangan pegas, dan keandalan budi daya manusia. Aris mengawasi seorang pengemudi mobil listrik lawas yang menyingkap kap mesin di tepi jalan. Tanpa pemindai digital penentu kerusakan, pria itu hanya bermodalkan sebelah kunci pas dan ketajaman mata untuk menakar sakelar kumparan. Di sini, segala hal tampil kasatmata, tuntas, dan berwujud nyata.


                                Bab 3: Jejak Transaksi dan Jaringan

        Memasuki kawasan niaga, Aris membelokkan langkah ke sebuah kedai roti legendaris yang bersandar di bibir alun-alun. Di dalam ruangan, semerbak gandum yang baru diangkat dari perapian langsung menguar pekat. Saat tiba gilirannya memesan, Aris tidak mengeluarkan kartu plastik nirsentuh, apalagi memindai kode maya. Ia merogoh saku mantelnya, mengulurkan beberapa lembar uang kertas dan koin perak yang berdenting mantap di atas pualam meja kasir.

Sang puan kasir tersenyum ramah, tangannya lincah menari di atas mesin hitung dari logam berlapis kuningan. Tombol-tombol angkanya ditekan dan membalas dengan bunyi ketak-ketuk yang ritmis, dipuncaki dentang bel nyaring kala laci kayu jati itu terpental terbuka. Di meja sebelah, seorang saudagar tengah menuntaskan perkara sewa-menyewa menggunakan cek kertas tebal, digores dengan pena celup bertinta hitam legam. Setiap riwayat pertukaran harta tercatat abadi dalam buku besar bersampul kulit—sebuah benteng arsip fisik yang mustahil runtuh hanya karena mati listrik atau retasan peretas.
Usai menyesap sarapannya, Aris menghampiri bilik telepon umum berkabin kayu mahoni di sudut jalan. Di dalamnya bertengger pesawat telepon bakelit hitam yang pejal bersanding dengan cakram putarnya.

Aris menyuapkan sekeping koin perunggu, lalu memutar cakram angka itu satu per satu: sret... klak, sret... klak.

Di ujung saluran, desis statis merambat pelan sebelum akhirnya dikaitkan ke Kantor Telepon Pusat. Seorang operator—wanita bernama Maya yang duduk menghadapi papan sambung raksasa berhias belukar palam penghubung—menyapa dengan vokal yang hangat dan utuh.

"Kantor Pusat Telepon. Ke wilayah mana panggilan ini hendak ditautkan, Tuan?" sapanya sopan.
"Tolong tautkan saya dengan nomor 4-8-2 di Distrik Timur," jawab Aris santai.

Di ruang kendali pusat, jemari lentik Maya seketika mencabut palam kawat jantan, menancapkannya pas ke dalam soket tujuan di atas panel tembaga. Getar dering pun melesat melintasi jaringan kawat yang merajut tiang-tiang kayu kota, menjembatani dua manusia lewat rambatan frekuensi nyata yang dikendarai arus listrik.
Tidak ada pesan instan yang terbang dalam sekejap mata, tidak ada hujan notifikasi yang memberondong atensi, dan tiada lagi keterasingan di balik pendaran layar gawai. Di dunia yang melupakan komputer ini, sang waktu berjalan selaras dengan helaan napas manusia; sebuah era di mana setiap bait percakapan bernilai mahal karena menuntut kehadiran, kesabaran, dan segenap jiwa yang utuh.


Konsep, ide dan pembuatan oleh pemilik Blog berbantu AI untuk #60hariMenulis dengan om Jay

--
0

        Sekolah sejatinya adalah rumah kedua. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk ancaman agar proses penyerapan ilmu serta pembentukan karakter dapat berjalan optimal. Untuk menjamin hal ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan regulasi tegas mengenai pencegahan kekerasan. Merujuk pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP), terdapat 6 (enam) kategori kekerasan yang dilarang keras terjadi di lingkungan sekolah. Sebagai pendidik, saya ingin mengajak Anda semua untuk mengenali kategori-kategori tersebut agar kita bisa bersama-sama melakukan pencegahan.

Berikut adalah enam kategori kekerasan dalam dunia pendidikan:
1. Kekerasan Fisik
Ini adalah bentuk kekerasan yang paling kasatmata. Kekerasan fisik melibatkan kontak langsung oleh pelaku terhadap korban, baik menggunakan alat bantu maupun tidak. Contoh dari hal - hal yang dimaksud adalah memukul, menendang, perkelahian, tawuran, penganiayaan, hingga eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa di lingkungan sekolah.

2. Kekerasan Psikis
Berbeda dengan kekerasan fisik, kekerasan psikis menyerang mental dan emosional korban tanpa adanya kontak fisik. Tujuannya adalah untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau membuat perasaan korban menjadi tidak nyaman. Antara lain pengucilan, penolakan dalam kelompok, penghinaan, penyebaran rumor atau fitnah, panggilan yang mengejek (mencela nama orang tua/fisik), intimidasi, dan teror.
3. Perundungan (Bullying)
Perundungan merupakan irisan dari kekerasan fisik dan/atau psikis, namun memiliki dua karakteristik utama: dilakukan secara berulang dan didasari oleh ketimpangan relasi kuasa (pelaku merasa lebih kuat, lebih senior, atau lebih berkuasa daripada korban). Tindakan kategori ini termasuk, jika sekelompok siswa senior yang secara rutin memalak atau mengolok-olok siswa junior setiap jam istirahat.
 4. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual mencakup setiap perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang bagian tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Tindakan ini dapat terjadi secara langsung maupun melalui media daring. Contohnya pelecehan fisik, ujaran bernuansa seksual, mengintip ruang ganti/toilet, membagikan foto pribadi korban tanpa izin, hingga pemberian hukuman dari pendidik yang memiliki nuansa seksual.
5. Diskriminasi dan Intoleransi
Lingkungan belajar harus menghargai kebinekaan. Tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi ketika ada pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan yang merugikan hak peserta didik. Hal yang termasuk ke dalam kategori ini adalah, membeda-bedakan perlakuan atau menghalangi hak siswa berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit, jenis kelamin, status sosial ekonomi, maupun kondisi disabilitas (kemampuan intelektual, mental, sensorik, dan fisik).
6. Kebijakan yang Mengandung Kekerasan
Kategori ini sering kali luput dari perhatian karena bersifat sistemik. Kebijakan yang mengandung kekerasan adalah segala bentuk keputusan (baik tertulis maupun tidak tertulis) di satuan pendidikan yang berpotensi menimbulkan atau melegitimasi terjadinya kekerasan. Contohnya antara lain peraturan sekolah yang mewajibkan hukuman fisik bagi siswa yang terlambat, atau aturan berpakaian yang diiringi sanksi diskriminatif terhadap kelompok tertentu.
Mencegah kekerasan bukan hanya tugas kepala sekolah atau guru bimbingan dan konseling, melainkan tanggung jawab kita bersama. Jika Anda melihat atau mengetahui adanya indikasi dari keenam bentuk kekerasan di atas, jangan ragu untuk melapor. Mari bersinergi menciptakan ruang belajar yang merdeka dari kekerasan.


Naskah resmi berbantu AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay



--
0


 

        Setelah kita mengetahui pengertian Fatherless dan dampak serta akibat yang ditimbulkan dari hal ini pada tulisan saya Cara Pendidik membantu Siswa - Siswi "Fatherless" pada bagian satu dan bagian kedua. Maka hal – hal berikut kita dapat berikan pemahaman dan pengertian yang cukup terkait hal ini.

 

1. Jika seorang anak laki-laki kurang memiliki peran seorang ayah, maka kita sebagai guru pria mencoba memberi pemahaman dan konsep-konsep sebagai pria. Misalnya, konsep tentang bagaimana seorang laki-laki harus bisa memperbaiki benda-benda, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan yang dibuat. Memberi pengertian dan cara bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik, misalnya tidak memaki dan tidak memukul perempuan, memberikan konsep kedisiplinan dan kerapian serta tanggung jawab sebagai laki – laki yang benar. Selain itu juga bisa ditanamkan nilai-nilai sebagai laki – laki anti-merokok, agar hidupnya sehat serta suka olahraga. Ajak beribadah teratur sebagai kepala keluarga di kemudian hari. Juga kitab isa memberikan pengetahuan tentang laki – laki harus bagaimana bersikap dan berprilaku di depan umum. Serta memberikan kegiatan-kegiatan yang baik dan benar sebagai laki – laki. Tentunya dengan memberikan contoh-contoh kebaikan dan tindakan terpuji. Sehingga mereka memiliki gambaran seorang ayah dan gambaran pria yang tepat.

2. Jika seorang guru Perempuan memberikan contoh kepada murid laki – laki. Berikan kepada mereka penjelasan tentang bagaimana menjadi imam dan kepala keluarga yang baik. Berikan konsep saying kepada keluarga baik kepada kakak atau adiknya, kepada ibunya. Berikan cara-cara yang tepat untuk melindungi perempuan dan anak-anak (atau adik kelasnya jika di sekolah). Berikan contoh kasih sayang seorang ibu yang peduli anaknya. Ciptakan rasa memiliki keluarga yang baik dan tepat. Ajarkan cara mencuci baju atau mencuci piring sehingga mereka tidak menganggap itu pekerjaan perempuan saja. Ajarkan juga menjaga kebersihan rumah (dan sekolah jika di kelas dan sekolahnya) agar mereka paham bahwa menjaga kebersihan adalah tugas tidak hanya perempuan saja.

 3. Jika seorang siswa atau siswi tidak hanya punya sosok ayah, namun membenci perilaku buruk ayahnya dan tidak menginginkan sosok ayah sama sekali. Jika hal seperti ini terjadi, coba dengarkan konsep seorang ayah dari mereka. gali pengetahuan kenapa mereka membenci sosok ayah dalam hidup mereka. Setelah itu perlahan dijelaskan bagaimana sosok ayah yang benar seharusnya. Jika mereka tidak menerima sosok ayah yang positif, jangan dipaksakan atau dibantah langsung bahwa mereka harus menerima sosok ayah dalam hidup mereka. Tujuannya bukan mereka dipaksa menerima langsung, namun pelan-pelan diajak melihat hal-hal positif pada ayah yang mereka lihat di rumah atau dalam keseharian mereka. Mereka jangan sampai dibiarkan membenci ayahnya, baik ayah kandung yang dibenci karena bercerai dan meninggalkan mereka ataupun ayah yang dibenci karena misalnya perilaku negatifnya (memukul, merokok parah, minum alkohol, dan lain-lain). Berikan konsep, jika ayah mereka demikian, maka tetap harus berperilaku baik agar mereka tidak memiliki kepahitan hidup dengan kondisi ayah mereka. Jika anak laki – laki yang membenci, berikan bahwa kelak mereka tidak berperilaku demikian kepada anak mereka, jadikan mereka pemutus mata rantai kebencian. Jika anak perempuan membenci sosok ayah mereka, berikan mereka penjelasan tentang contoh kasih sayang yang benar dan berikan gambaran positif tentang sosok orang tua yang baik dan tepat. Jadi kelak jika mereka memilih pasangan, menemukan sosok pria yang tepat dan bukan laki – laki yang mungkin “bermasalah” dalam hidup mereka.

Demikian sedikit yang mungkin dapat kita bantu, Jika ada di antara murid atau siswa-siswi kita yang memiliki konsep fatherless atau sosok ayah yang tidak ada atau sosok ayah yang punya perilaku kurang positif dan membuat mereka jadi membenci sosok yang seharusnya memberi contoh baik dan memberi kasih sayang yang tepat.



Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay

--
0

 



Ada celetukan seorang emak - emak super pede ke suaminya. begini katanya : "hari begini mane ade yang gratis bang, ke WC umum saja bayar seribu, dua ribu" begitu ucap nyablaknya yang saya dengar dari sedikit kejauhan. Sang suami pun dengerin dengan diam dan ngangguk, mencoba memahami sedikit kemarahan istrinya yang dipahami sebagai tanda sayang mungkin.

Lalu saya kembali berpikir, benarkah demikian, pikir saya. Apakah udara yang saya hirup ini berbayar dan akan ditagih sama sang pembuat sang tanaman atau pencipta sang pembuat yaitu TUHAN? Apakah di alam surga nanti, saya akan di tagih bon - bon tagihan atas udara saya hirup selama puluhan tahun saya di bumi? Mungkinkah saya diminta pertanggungjawaban atas hak atau kewajiban saya bernapas di dunia selama ini atau entah sampai usia kapan selesai.


Denger kata - kata ini, saya jadi deg dalam hati. Jika dunia ini semuanya benar bayar, maka harusnya ke siapa? kalau ada pengusaha yang sudah kuasai udara bebas, seberapa mengerikan uang tunainya atau digit - digit angka Rupiah atau mata uangnya. Mungkin mengalahkan Elon Musk atau mega trilyuner di negeri Patung Liberty yang kekayaannya selalu dipantau dan ditulis di laporan kekayaan. Pengusaha yang seakan paling kaya, padahal saya yakin diatas orang kaya masih ada yg lebih orang kaya yang diam - diam atau introvert. Saya berpikir - pikir benar, bahwa apa ya yang membuat dunia ini menjadi segalanya tidak gratis dan berbayar semua seperti pikiran ibu ini. Setidaknya pahami pikiran spesial emak-emak ini tentang ekonominya. Berbayar di kota kan tidak serta-merta berarti harus membayar di desa.
 
Dalam ilmu ekonomi, kita pasti menganggap apa-apa yang berbayar sebagai liberalisme pasar atau, dalam istilah modern, pasar monopoli tunggal. Padahal tidak semua hal saat saya mengetik ini pun monopoli saya saat berpikir dan menyampaikan ide. Udara untuk bernapas dan membagikan ide belum semuanya punya nilai yang sama mahalnya, asal belum dikomersialisasi. Masih bisa dibagikan, misalnya untuk lomba blog yang diadakan Om Jay ini. Memang akan ada hadiahnya berupa nominal, namun tidak semua peserta akan dapat hadiah, kan. Pasti ada yg setiap lomba pulang dengan tangan kosong.
Jadi, tidak semua hal di dunia ini dibayari, walau oligopoli oleh sebagian perusahaan yang itu-itu saja pasti akan makin kuat dan makin sempit pemiliknya. Perusahaan sekarang, terutama dari Eropa dan USA, makin banyak yang semakin besar nilai sahamnya maupun kepemilikan lahan dan alat produksinya. Namun, untungnya di Republik Indonesia belum semuanya dioligopoli oleh negara-negara maju tersebut.
 
Misalnya, produk anti-masuk angin yang punya slogan "orang pintar minum..." ini masih punya sebagian saham lokal. Produk lain contohnya bagi penyuka menghirup nikmatnya lintingan tembakau buatan perusahaan "Penyimpanan Garam", ini juga masih kepemilikan lokal setahu saya. Dua perusahaan ini masih sering membagikan cuma - cuma keuntungannya lewat dana CSR (corporate social responsibility) yang menggratiskan. Misalnya untuk dana kesehatan masyarakat atau memberikan beasiswa pendidikan atau beasiswa bagi atlet di olahraga pukul bulu alias bulutangkis

Jadi saya masih berkesimpulan, di negeri yang katanya banyak oli tapi bukan minyak rem ini. Negeri kita masih banyak yang gratis, tentu saja tidak seperti suara dari emak-emak yang saya dengar di kisah di atas. Banyak pengusaha kita yang punya hati nurani punya banyak gratisan buat kita. Catatannya, asalkan kita punya prestasi, punya keahlian, punya spesialisasi yang unik. Bukan sekadar bicara dan tidak berbuat apa-apa lalu bilang " di dunia ini tidak ada yang gratis".


Naskah resmi non-AI oleh pemilik blog dalam rangka lomba #60hariMenulis dengan om Jay