Gedung Bank Sentral berdiri megah di pusat kota, dibentengi pilar-pilar batu granit pejal yang melambangkan ketahanan dan ketertiban. Di jantung bangunan ini, terbentang sebuah aula raksasa beratap kubah tinggi. Ruangan seluas lapangan sepak bola itu bukanlah tempat yang sunyi, melainkan sebuah katedral perhitungan yang riuh oleh konser mekanis tanpa henti.
Di sinilah ratusan juru hitung insani dan juru catat senior bekerja berdampingan. Lebih dari tiga ratus meja kayu berjejer rapi dalam barisan yang presisi. Di atas panggung kerja itu, tak ada satu pun monitor berpendar atau papan ketik elektronik. Sebagai gantinya, suasana diisi oleh gemertuk biji-biji sempoa kayu jati, dentangan bilah mesin ketik mekanis yang tajam, serta derit halus dari putaran roda gigi Aritmometer—kalkulator mekanis bertenaga engkol berbahan kuningan dan baja.
Di barisan terdepan, duduk Aris. Sebagai juru catat senior yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade, Aris adalah salah satu sangga utama di aula ini. Tugasnya tak main-main: menyelaraskan neraca perdagangan luar negeri dan merekapitulasi arus kas nasional. Di dunia tanpa cip silikon ini, seluruh pasak keuangan negara bergantung penuh pada ketajaman logika, daya ingat, dan ketangkasan jemari para pekerja di ruangan tersebut.
Bab 5: Tarian Sempoa dan Roda Gigi
Jemari Aris bergerak dengan kelincahan fantastis di atas deretan biji sempoa. Klak-klik, klak-klik. Setiap geseran biji kayu mewakili ribuan, jutaan, hingga miliaran rupiah. Di sebelah sempoanya, bersanding sebuah Aritmometer berbobot pejal. Aris memasukkan deretan digit angka dengan menggeser tuas-tuas kecil pada panel logam, lalu memutar engkol utama di samping mesin: krii-klak!
Roda-roda gigi internal berputar di dalam kotak kuningan, menjumlahkan nilai secara fisik melalui perpindahan takik mekanis. Suara denting bel kecil berbunyi saat perhitungan mencapai batas puluhan ribu, menandakan bahwa angka akumulasi telah siap dimeteraikan dalam catatan.
“Dua puluh empat juta delapan ratus lima puluh ribu…” gumam Aris lirih, menyuarakan angka yang baru saja diproses oleh logikanya.
Ia lalu berpaling ke mesin ketik mekanis di sisi kirinya. Dengan cermat, Aris memasukkan tiga lembar kertas formulir neraca tebal yang diselingi dua lembar kertas karbon hitam. Kertas karbon ini digunakan untuk membuat salinan arsip secara simultan tanpa perlu menyalin ulang. Aris merenggangkan jemarinya sejenak, menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai mengetikkan angka-angka hasil perhitungannya ke atas lembaran resmi Bank Sentral.
Bab 6: Beban Kertas Karbon dan Batas Manusia
Matahari makin meninggi, menumpahkan suria terik yang menembus jendela-jendela kaca patri Bank Sentral. Jejak kelelahan mulai membayang di bawah mata Aris. Punggungnya terasa sengal akibat duduk tegak berjam-jam, sementara otot-otot lengannya pegal oleh gerakan memutar engkol Aritmometer yang konstan. Cahaya lampu gantung yang temaram mulai membuat matanya kabur dan pedih.
Di sinilah letak muasal konflik di dunia yang menggantungkan diri pada perhitungan manual: keterbatasan fisik manusia. Otak manusia bukanlah mesin yang tak kenal lelah, dan raga manusia rentan terhadap ketidaktelitian saat rasa kantuk dan kelelahan menyergap.
Aris sedang mengetik baris terakhir dari dokumen neraca keuangan bulanan—sebuah dokumen setebal lima puluh halaman yang telah dihitungnya sejak subuh. Jemarinya yang gemetar tipis menekan salah satu bilah mesin ketik.
Tuk!
Jantung Aris seakan berhenti berdetak saat melihat karakter yang tertera di atas kertas. Di kolom akumulasi tenggat pajak, jemarinya secara tak sengaja menekan angka ‘8’, padahal perhitungan di sempoa secara mutlak menunjukkan angka ‘3’.
Aris tertegun. Di atas lembaran kertas karbon, kesalahan ketik adalah dosa fatal tanpa ampun. Tidak ada tombol hapus instan, tidak ada fungsi pembatalan, dan tidak ada koreksi digital. Penggunaan cairan koreksi atau pengerokan tinta pada kertas dokumen resmi bernomor seri dilarang keras oleh regulasi bank karena dianggap sebagai bentuk pemalsuan data.
Srekkk.
Dengan helaan napas berat dan rasa kecewa yang merayap, Aris menarik tuas penggulung mesin ketik, lalu merobek tiga lembar kertas neraca yang hampir tuntas itu. Kertas karbon hitam yang terlipat melepaskan serbuk jelaga tebal yang mengotori jemarinya. Kesalahan satu angka berarti seluruh halaman itu batal demi hukum. Yang lebih menyakitkan: ia harus menghitung ulang seluruh deret data dari awal untuk memastikan tidak ada akumulasi kesalahan yang terbawa.
Aris menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu. Ia menatap ratusan rekan kerjanya di sekeliling aula yang juga sedang berjuang melawan rasa lelah, tumpukan dokumen tebal, dan ancaman kesalahan ketik yang senantiasa mengintai. Pekerjaan ini terasa sangat lambat, rumit, dan menguras stamina jiwa serta raga.
Namun, saat Aris menatap telapak tangannya yang ternoda tinta dan jelaga karbon, ada satu kesadaran murni yang terbersit di benaknya. Di dunia tanpa komputer ini, tidak ada proses yang instan. Setiap angka yang tertera di dalam buku kas negara lahir dari keringat, ketelitian, dedikasi, dan kejujuran murni manusia—bukti nyata bahwa peradaban mereka bergerak bukan karena dorongan mesin pintar yang dingin, melainkan karena keandalan jiwa manusia yang pantang menyerah.
No Response to "Dunia tanpa komputer (bagian-2)"
Posting Komentar
Terima kasih...