Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
--
0

 





     Siapa pernah menyangka, siswa yang dahulu selalu keringat dingin dan kakinya gemetar saat diminta maju dan menjelaskan tugasnya. Sekedar membacakan UUD 45 di pinggir lapangan di depan ratusan teman seangkatan dan kakak kelasnya itu, kini acapkali berdiri di depan lapangan upacara. Bukan sebagai siswa lagi tentunya, kadang jadi Pembina Upacara yang berdiri di belakang podium atau tiang mic.

Hari ini di depan siswa - siswinya, harus menghadapi kembali masa itu. Membaca teks proklamasi menggantikan guru yang entah kebetulan atau takdir mengingatkan kembali masa – masa di mana harus menghadapi kondisi yang manusiawi: demam panggung di hadapan orang lain. Namun tentu saja semua berbeda, karena yang dulu sering kali demam panggung dengan rasa khawatir dan takut salah atau bercucuran keringat. Hari ini di Hari Ulang Tahun (HUT) ke Delapan Puluh Satu, sudah bukan jadi kendala besar, karena sudah lebih siap. Sudah lebih memahami psikologi diri sendiri dan berusaha mampu menghadapi. Namun tetap saja, manusiawi juga ada rasa sedikit berdebar karena bukan kegiatan yang dilakukan setiap hari.

Memang beda rasanya di depan kelas yang konsep dasarnya membacakan, menuliskan atau memberi ilmu dengan kondisi hari ini. Berdiri depan ratusan siswa – siswi serta rekan guru lain yang usianya berbeda – beda tentu saja, menciptakan atmosfir dan perasaan berbeda pula. Seper sekian detik sebelum upacara hari ini dimulai di saat kaki saya menginjak lapangan setelah dari ubin Gedung sekolah. Tiba – tiba saya seperti di bawa pikiran dan kenangan sejarah seperti yang diceritakan oleh guru Sejarah SMP saya. kisah – kisah dimana persiapan upacara pertama di kala itu.

Membaca kalimat - kalimat ini yang dahulu adalah dokumen yang paling sakral, paling ditunggu pembacaannya. Isi Dokumen yang tulisannya dibuat oleh Para Proklamator sendiri dan diketik ulang dari coretan hasil buah pikir proklamator dan rekan pejuang – pejuang bangsa. Pemimpin bangsa yang dimana, mereka adalah “pelari lanjutan” perjuangan-perjuangan pahlawan pendahulunya dan yang punya kewajiban, mungkin bukan menyelesaikan namun memulai babak baru bangsa – negara - harapan rakyatnya di seluruh nusantara.

Seketika detik – detik proklamasi itu bukan hanya sekedar saya bacakan, namun seperti jadi luapan semangat dan motivasi di hari perayaan kemerdekaan ini. 81 tahun untuk manusia bukan usia muda lagi, usia kematangan diri sudah terbentuk dan malahan harusnya sudah menapaki masa atau usia kebijakan diri. Sudah 3 - 4 generasi berlalu memimpin bangsa ini.

Saya mencoba membacakan agar menjadi motivasi bagi siswa – siswi saya. Tidak hanya sekedar membaca naskah kertas dokumen dalam pegangan tangan saya. Berusaha membacakan dengan penuh kekhidmatan dan kondisi yang saya bayangkan sebelumnya. Menciptakan suasana semangat dan juga agar bisa menjadi contoh, karena inilah salah satu cara memberi contoh terbaik sebagai Guru sesuai dengan semboyan yang diberikan  Ki Hadjar Dewantara “Ing ngarso sung tulodo”.  Terutama bagi siswa – siswi saya yang saya paham sampai detik ini, belum berani dan belum mau menjadi pengisi kegiatan upacara setiap senin atau di hari-hari besar lainnya. Semoga contoh sederhana di hari spesial kemerdekaan ini menjadi bukti, bahwa semua tidak harus saat kondisi terbaik, namun mencoba Adalah sebuah kemenangan besar bagi calon – calon penerus atau bahkan pemimpin bangsa besar ini.

Dirgahayu Republik Indonesia. Sekali Merdeka tetap Merdeka.

Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.




naskah resmi pemilik blog dan 
kerjasama dengan https://wijayalabs.com