Berikut hal – hal sederhana yang coba saya lakukan
sebagai pendidik yang memiliki tugas tambahan/merangkap sebagai operator data
:
1. Saya
selalu memastikan data kondisi orang tua mereka dari KK atau kartu keluarga,
memastikan kelengkapan orang tua kandungnya. Jika lengkap dan kondisi keluarga
sesuai kondisi kenyataan atau realitas, tidak perlu saya ulurkan tangan secara
langsung. Namun, jika orang tua lengkap namun ada kerentanan ekonomi, saya menyarankan untuk meminta bantuan untuk kondisi ekonominya, minimal pertama-tama mengecek data desil di kelurahan dahulu, mengingatkan mereka tentang kondisi data pribadinya di Dukcapil/Kependudukan dan Catatan Sipil wilayah terdekat agar lengkap dan bersih dari kondisi yang merugikan mereka ke depannya.
2. Jika siswa – siswi yang kehilangan pencari
nafkah utama alias yatim karena ditinggal wafat. Maka ini jadi salah satu
prioritas utama yang wajib dibantu di sekolah kami dan harus diprioritaskan serta dibantu. Pertama, dengan memastikan ibu yang masih hidup, pendapatannya, kondisi rumah, dan apakah ada anggota keluarga lain yang membantu. Data berikutnya meminta orang tua yang masih hidup untuk mengecek data KK dan desilnya di kelurahan. Jika sudah aman, kami inputkan di Dapodik (Data Pokok Pendidikan) milik bahwa tertulis Yatim dan pendapatan orang tua di bawah Rp 500.000 atau di bawah satu juta rupiah. Hal selanjutnya adalah memastikan semua data sesuai dengan syarat bantuan dari
pemerintah daerah seperti KJP (Kartu Jakarta Pintar) atau dari Kementerian
pendidikan untuk PIP (Program Indonesia Pintar). Selanjutnya, proses mengajukan
dengan pemenuhan semua dokumen yang diperlukan dilakukan kerja sama dengan keuangan sekolah.
3. Jika kedua orang tua sudah wafat dan hanya
ada kakak kandung atau keluarga lain yang membantu, pastikan ada wali atau saudara
yang siap membantu mengurus dokumen – dokumen KK serta dokumen pribadi siswa
atau siswi. Minta wali tersebut membantu mengurus data ke kelurahan dan Dukcapil
dan memastikan lolos Dukcapil untuk anak tersebut. Baru usahakan mengajukan
dengan dokumen yang dimiliki.
4. Jika bantuan sudah pasti tercantum untuk kondisi - kondisi di atas, kadang saya pribadi memantau secara berkala pencairan dan pelaporan bantuan mereka. Terutama yang orangtuanya “single parent” entah
karena Yatim atau piatu atau bahkan keduanya. Perhatian kita sama
pentingnya dengan saat kita mengajukan bantuan untuk mereka. Paling sederhana adalah dengan mengingatkan pencairan, pelaporan, dan kondisi pemakaian yang tepat guna dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan atau saat ini disebut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kedisiplinan dalam bentuk perhatian kita akan memperpanjang bantuan dan meringankan kondisi mereka.
Kadang bantuan tidak harus
memberi uang atau harta dari kantong kita sendiri, Terkadang bantuan kecil guru
dan pendidik dalam mengulurkan tangan, memproses, dan mengajukan sudah menjadi salah
satu cara bersedekah atau berderma kita sebagai orang tua mereka di sekolah.
Nominal berapa pun semoga bisa mengurangi beban ekonomi mereka, asal tertib dan
teratur serta disiplin dalam menerima, menggunakan dan melaporkan bantuan.
Mereka akan lebih bahagia jika orangtuanya di sekolah yang tidak mereka miliki di rumah saat ini, sama kasihnya seperti mereka dulu terima. Itulah uluran
tangan yang bisa saya lakukan.
No Response to "Cara Pendidik membantu Siswa - Siswi Yatim atau Piatu"
Posting Komentar
Terima kasih...