
Kemarin baru
saja, kita merasa Merdeka dan merayakan berbagai kegiatan – kegiatan yang
membuat bahagia anak – anak kecil dengan permainan dan hadiah kecil yang
mungkin bisa dirasakan setahun sekali. Ibu – ibu yang dapat peralatan dapur
tambahan untuk memasak atau membuat kue dari menang lomba Tingkat RT atau
bahkan RW di lingkungannya. Atau bapak – bapak dapat ember, kipas angina atau
hadiah lainnya. Ada juga Karang Taruna yang mulai di aktifkan
kembali di tingkat – tingkat terendah diatas jenjang keluarga –
keluarga Indonesia. Bahkan saat ini mulai ramai pawai – pawai kemeriahan dengan
pakaian dan semacam “cosplay” dengan baju burung – burung atau
tokoh – tokoh yang bernuasa Nusantara. Semoga semangat ber-sosialisasi seperti
ini terus bertumbuh di masyarakat kita yang sempat hilang di era pasca
reformasi awal.
Saya pun juga jadi kembali teringat masa kecil di Jakarta saat usia sekolah, menang makan kerupuk dan dapat hadiah dua buah buku dan 2 pensil yang dilapisi kertas warna coklat dengan tulisan, juara dua makan kerupuk. Tahun berikutnya dapat juara satu lomba permainan memasukkan paku ke dalam botol dengan hadiah sebuah botol minum bagus warna – warni. Mungkin saat ini bisa disebut sebagai tumbler yang modelnya sekelas harga ratusan ribu jika di rupiahkan ke tahun 2026. Namun apapun hadiahnya terutama; kesenangan, kebahagiaan, teman satu wilayah itu lebih menarik dibanding menang atau kalahnya (walau sedikit cemberut kalau belum dapat hadiah utama). Hadiah hiburan setiap anak dapat agar adil - merata tentu saja dibuat oleh panitia yang saat itu karang taruna yang saya kenal akrab karena masih tetangga kami. Perasaan adil – merata yang dibagikan bagi yang kalah ini juga yang membuat anak – anak tidak pulang ke pintu rumah dengan tangan kosong. Ada bingkisan seperti hadiah Natal oleh Sinterklas bagi yang belum berhasil juara 1-3 di tiap lomba. Saya ingat betul momen indah ini di masa kanak – kanak saya, mungkin tidak semua daerah seperti di tempat saya tinggal.
Terkait memori ini pun, saya jadi kembali teringat dengan sebuah artikel di media – media sejarah kekinian yang lebih terasa indie bagi media massa besar. Sebut saja misalnya Historia.id yang sudah ada sejak 2010 jadi rujukan saya bacaan karena dari sudut pandang berbeda, terasa segar dan unik atau Tirto.id yang dengan infografisnya yang enak dilihat serta mudah dipahami. Dua web ini jadi rujukan saya terkadang untuk data sejarah dan data mengenai Informatika yang saya ajarkan. Web ini juga sering membahas hal – hal yang bahkan belum ada di kurikulum dengan kurang lebihnya. Karena saya yakin ilmu pengetahuan terus bergerak dan sebagai pendidik harus mendapat asupan yang cukup mengenai informasi temuan sejarah baru atau data yang faktual dan kekinian.
Dalam salah satu artikelnya di web tirto.id1 berstempel waktu (time stamp) 20 Desember 2018 misalnya yang membahas Pembangunan jalan raya Anyer – Panarukan yang saat modern sekarang masuk wilayah provinsi Banten hingga provinsi Jawa Timur sepanjang lebih dari 1.000 Km. Rakyat dari sepanjang wilayah itu berpartisipasi, tentunya dengan paksaan dan keharusan dari tingkatan diatasnya serta menjadi korban dari perilaku penjajahan kejam dan tidak manusiawi. Proses keikut sertaan rakyat yang kala itu pastinya tidak adil dan belum sesuai ukuran HAM saat era modern ini.
Bahkan jika boleh mengambil artikel dari Historia.id2 berstempel waktu lebih awal di 22 Mei 2015, bahkan sastrawan terkenal Pramoedya dalam karyanya Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang menjadi salah satu kutipan artikel tersebut berbunyi : “ “Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya”. Maka jelas memakan korban ribuan rakyat saat itu di sepanjang jalan yang dibangun, maka keadilan di masa itu dipastikan nol dalam satu tahun pembangunannya.
Namun berita dan artikel di tahun 2020 dan setelahnya ditemukan ulang bahwa Dandels sebagai penggagas dan yang memerintahkan proyek mega besar di era itu mencoba bersikap adil - merata dengan memberikan sejumlah dana. Berdasarkan data angka tercatat di artikel berita seperti Kompas.com3 berstempel waktu 31 Agustus 2024 atau news detik.com tercatat sekitar 30.000 ringgit (1 ringgit / rijksdaalder = 2,40 gulden) di masa itu. Dana itu terutama di Pembangunan jalan Jakarta ke Bogor hingga tahapan Bogor ke kandanghaur yang saat ini masuk Cirebon Barat. Kemudian selepas pembangunan di wilayah Karangsamboeng hingga Losari inilah ujung akhir masih dibayarkan.
Jadi beberapa kisah usaha adil – merata ini sebenarnya dicoba usahakan hingga titik tertentu. Namun setelah memasuki wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur inilah, ketidak adilan dirasakan rakyat di sepanjang jalur berikutnya. Namun ini pun hasil rapat Daendels dengan para bupati – bupati lokal wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tanggal 25 Mei 1808 di rumah dinas Residen Semarang di Jalan Bojong4, berdasarkan penelitian Endah Sri Hartatik dalam jurnal 'Paramita: Historical Studies Journal, 26 (2), 2016’.
Namun setelah saya telusuri kembali berita – berita terkini, sudah sepantasnya nama – nama rakyat dan warga yang membangun jalan yang saat ini menjadi salah satu jalan Nasional sejak pembangunannya hingga saat ini untuk dikenang dan di abadikan dengan pantas dan layak. Apapun cara, usaha dan hal – hal yang bersifat baik dan bertujuan ke rakyat semoga dapat disambut baik.
Hal ini pun tampaknya mulai diadakan dengan penanda tanganan kolaborasi kepala daerah Serang, Banten dengan kepala daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur dengan konsep Festival Anyer – Panarukan seperti yang terdapat di video Youtube channel cnnindonesia 5 berstempel waktu Kamis, 30 Juli 2026 jam 19.45. Setidaknya sejarah ini di di ceritakan kembali, dikenang kembali dan di hidupkan dari rakyat untuk rakyat kembali. Seperti juga yang tercantum pada portal resmi serangkab.go.id berstempel waktu Selasa, 18 Agustus 2026 6
Namun setelah saya telusuri kembali berita – berita terkini, sudah sepantasnya nama – nama rakyat dan warga yang membangun jalan yang saat ini menjadi salah satu jalan Nasional sejak pembangunannya hingga saat ini untuk dikenang dan di abadikan dengan pantas dan layak. Apapun cara, usaha dan hal – hal yang bersifat baik dan bertujuan ke rakyat semoga dapat disambut baik.
Hal ini pun tampaknya mulai diadakan dengan penanda tanganan kolaborasi kepala daerah Serang, Banten dengan kepala daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur dengan konsep Festival Anyer – Panarukan seperti yang terdapat di video Youtube channel cnnindonesia 5 berstempel waktu Kamis, 30 Juli 2026 jam 19.45. Setidaknya sejarah ini di di ceritakan kembali, dikenang kembali dan di hidupkan dari rakyat untuk rakyat kembali. Seperti juga yang tercantum pada portal resmi serangkab.go.id berstempel waktu Selasa, 18 Agustus 2026 6
Saya pun juga jadi kembali teringat masa kecil di Jakarta saat usia sekolah, menang makan kerupuk dan dapat hadiah dua buah buku dan 2 pensil yang dilapisi kertas warna coklat dengan tulisan, juara dua makan kerupuk. Tahun berikutnya dapat juara satu lomba permainan memasukkan paku ke dalam botol dengan hadiah sebuah botol minum bagus warna – warni. Mungkin saat ini bisa disebut sebagai tumbler yang modelnya sekelas harga ratusan ribu jika di rupiahkan ke tahun 2026. Namun apapun hadiahnya terutama; kesenangan, kebahagiaan, teman satu wilayah itu lebih menarik dibanding menang atau kalahnya (walau sedikit cemberut kalau belum dapat hadiah utama). Hadiah hiburan setiap anak dapat agar adil - merata tentu saja dibuat oleh panitia yang saat itu karang taruna yang saya kenal akrab karena masih tetangga kami. Perasaan adil – merata yang dibagikan bagi yang kalah ini juga yang membuat anak – anak tidak pulang ke pintu rumah dengan tangan kosong. Ada bingkisan seperti hadiah Natal oleh Sinterklas bagi yang belum berhasil juara 1-3 di tiap lomba. Saya ingat betul momen indah ini di masa kanak – kanak saya, mungkin tidak semua daerah seperti di tempat saya tinggal.
Terkait memori ini pun, saya jadi kembali teringat dengan sebuah artikel di media – media sejarah kekinian yang lebih terasa indie bagi media massa besar. Sebut saja misalnya Historia.id yang sudah ada sejak 2010 jadi rujukan saya bacaan karena dari sudut pandang berbeda, terasa segar dan unik atau Tirto.id yang dengan infografisnya yang enak dilihat serta mudah dipahami. Dua web ini jadi rujukan saya terkadang untuk data sejarah dan data mengenai Informatika yang saya ajarkan. Web ini juga sering membahas hal – hal yang bahkan belum ada di kurikulum dengan kurang lebihnya. Karena saya yakin ilmu pengetahuan terus bergerak dan sebagai pendidik harus mendapat asupan yang cukup mengenai informasi temuan sejarah baru atau data yang faktual dan kekinian.
Dalam salah satu artikelnya di web tirto.id1 berstempel waktu (time stamp) 20 Desember 2018 misalnya yang membahas Pembangunan jalan raya Anyer – Panarukan yang saat modern sekarang masuk wilayah provinsi Banten hingga provinsi Jawa Timur sepanjang lebih dari 1.000 Km. Rakyat dari sepanjang wilayah itu berpartisipasi, tentunya dengan paksaan dan keharusan dari tingkatan diatasnya serta menjadi korban dari perilaku penjajahan kejam dan tidak manusiawi. Proses keikut sertaan rakyat yang kala itu pastinya tidak adil dan belum sesuai ukuran HAM saat era modern ini.
Bahkan jika boleh mengambil artikel dari Historia.id2 berstempel waktu lebih awal di 22 Mei 2015, bahkan sastrawan terkenal Pramoedya dalam karyanya Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang menjadi salah satu kutipan artikel tersebut berbunyi : “ “Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya”. Maka jelas memakan korban ribuan rakyat saat itu di sepanjang jalan yang dibangun, maka keadilan di masa itu dipastikan nol dalam satu tahun pembangunannya.
Namun berita dan artikel di tahun 2020 dan setelahnya ditemukan ulang bahwa Dandels sebagai penggagas dan yang memerintahkan proyek mega besar di era itu mencoba bersikap adil - merata dengan memberikan sejumlah dana. Berdasarkan data angka tercatat di artikel berita seperti Kompas.com3 berstempel waktu 31 Agustus 2024 atau news detik.com tercatat sekitar 30.000 ringgit (1 ringgit / rijksdaalder = 2,40 gulden) di masa itu. Dana itu terutama di Pembangunan jalan Jakarta ke Bogor hingga tahapan Bogor ke kandanghaur yang saat ini masuk Cirebon Barat. Kemudian selepas pembangunan di wilayah Karangsamboeng hingga Losari inilah ujung akhir masih dibayarkan.
Jadi beberapa kisah usaha adil – merata ini sebenarnya dicoba usahakan hingga titik tertentu. Namun setelah memasuki wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur inilah, ketidak adilan dirasakan rakyat di sepanjang jalur berikutnya. Namun ini pun hasil rapat Daendels dengan para bupati – bupati lokal wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tanggal 25 Mei 1808 di rumah dinas Residen Semarang di Jalan Bojong4, berdasarkan penelitian Endah Sri Hartatik dalam jurnal 'Paramita: Historical Studies Journal, 26 (2), 2016’.
Namun setelah saya telusuri kembali berita – berita terkini, sudah sepantasnya nama – nama rakyat dan warga yang membangun jalan yang saat ini menjadi salah satu jalan Nasional sejak pembangunannya hingga saat ini untuk dikenang dan di abadikan dengan pantas dan layak. Apapun cara, usaha dan hal – hal yang bersifat baik dan bertujuan ke rakyat semoga dapat disambut baik.
Hal ini pun tampaknya mulai diadakan dengan penanda tanganan kolaborasi kepala daerah Serang, Banten dengan kepala daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur dengan konsep Festival Anyer – Panarukan seperti yang terdapat di video Youtube channel cnnindonesia 5 berstempel waktu Kamis, 30 Juli 2026 jam 19.45. Setidaknya sejarah ini di di ceritakan kembali, dikenang kembali dan di hidupkan dari rakyat untuk rakyat kembali. Seperti juga yang tercantum pada portal resmi serangkab.go.id berstempel waktu Selasa, 18 Agustus 2026 6
Namun setelah saya telusuri kembali berita – berita terkini, sudah sepantasnya nama – nama rakyat dan warga yang membangun jalan yang saat ini menjadi salah satu jalan Nasional sejak pembangunannya hingga saat ini untuk dikenang dan di abadikan dengan pantas dan layak. Apapun cara, usaha dan hal – hal yang bersifat baik dan bertujuan ke rakyat semoga dapat disambut baik.
Hal ini pun tampaknya mulai diadakan dengan penanda tanganan kolaborasi kepala daerah Serang, Banten dengan kepala daerah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur dengan konsep Festival Anyer – Panarukan seperti yang terdapat di video Youtube channel cnnindonesia 5 berstempel waktu Kamis, 30 Juli 2026 jam 19.45. Setidaknya sejarah ini di di ceritakan kembali, dikenang kembali dan di hidupkan dari rakyat untuk rakyat kembali. Seperti juga yang tercantum pada portal resmi serangkab.go.id berstempel waktu Selasa, 18 Agustus 2026 6
sumber
1.https://tirto.id/sejarah-jalur-daendels-semacam-jalan-tol-di-era-hindia-belanda-dcnj
2.https://www.historia.id/article/sepuluh-fakta-di-balik-pembangunan-jalan-daendels-dari-anyer-ke-panarukan-6ae2w
3.https://www.kompas.com/tren/read/2024/08/31/173000265/dibayar-atau-ditipu-fakta-upah-kerja-rodi-jalan-daendels-anyer-panarukan
4.https://news.detik.com/berita/d-5365828/daendels-bayar-upah-pekerja-jalan-anyer-panarukan-tapi-dikorupsi-benarkah
5.https://www.cnnindonesia.com/tv/20260730190826-407-1386800/video-festival-anyer-panarukan-bangkitkan-jalur-ekonomi-kolonial
6.https://serangkab.go.id/berita/songsong-festival-anyer-panarukan-camat-anyar-imron-satukan-seni-budaya-silat-dan-debus
No Response to "Sejarah yang jarang diketahui Rakyat, Keadilan dan Pemerataan"
Posting Komentar
Terima kasih...