Setelah itu, saya tetap menjalani diri sebagai tutor
dan instruktur komputer sesuai dengan ilmu dasar saya. Namun, saya juga mengasah kemampuan mengajar ilmu bahasa Inggris dengan keahlian saya karena saya yakin kemampuan bahasa Inggris saya cukup dengan TOEFL di atas 450 poin kala itu di usia 25 tahun. Maka di usia 27 tahun saya memberanikan diri untuk mengajak English dari tingkat anak-anak SD dahulu, lalu naik ke tingkat-tingkat di atasnya. Sehingga dalam 1-2 tahun saya sudah mampu
mengajar English untuk SMA dan orang dewasa yang level dasar. Sambil tentu saja di
tahun yang sama saya mengajar komputer semua jenjang usia bahkan sampai lansia/pensiunan.
Ada satu kisah
yang saya bisa ambil dari murid paling tua saya saat itu. Usianya sudah 70 tahun,
mantan Angkatan Laut yang sudah bergabung di LVRI Tingkat Jakarta Timur saat
itu. Beliau, jiwanya masih pejuang betul, saya rasakan, masih mau menulis sebuah
buku autobiografi tentang dirinya sendiri. Minimal bukunya bisa diterbitkan dan
diberikan ke anak – anak atau cucunya kelak, begitu pesannya. Syukur – Syukur bisa
diberikan ke LVRI atau ke pihak lain yang berminat memperbanyak. Misi saya
hanya satu menurut beliau, membantu merapihkan tulisan dan teks yang beliau
buat di Microsoft Word, menata tulisannya agar rapih, mengecek tulisan di Word.
Beliau ini murid paling disiplin saya pernah ajarkan. Waktu sesibuk apa pun beliau, dipastikan beliau meminta didampingi untuk menulis karyanya. Beliau suka bercerita
masa mudanya di Angkatan Laut, tugas – tugasnya di Irian Jaya, di wilayah -
wilayah Indonesia kala itu. Termasuk tugas menjelang masa pensiunnya saat berkantor dan diminta menjemput rekan-rekan yang terbunuh dan dikembalikan ke Indonesia dari negeri seberang di era Orde Lama yang baru bisa dikebumikan ulang di era Orde Baru. Sebuah tugas berat mengatur pemulangan dan negosiasi saat itu
antarnegara, antardaerah sehingga bisa dikembalikan ke keluarga masing-masing di berbagai daerah setelah puluhan tahun. Beliau bercerita apapun yang
jadi tugasnya saat itu. Namun itu hendak dijadikan buku dan misi saya tetap
sama, memastikan tulisan beliau se akurat mungkin jika harus naik cetak kelak.
Sebuah kebanggan saya kala itu, tidak punya tempat kursus namun bisa membantu
salah satu pejuang era Orde Lama dan era Orde Baru sekaligus.
Namun, saat itu ada panggilan
lain bagi saya untuk terus mengajar, tidak hanya beliau, tetap ada semangat
untuk mengajar anak - anak muda. Kala itu, istilah Indonesia Emas 2045 baru
terdengar, konsep untuk masa depan negara yang lebih baik untuk generasi
selanjutnya. Maka saya setelah melatih Veteran ini, saya tetap sediakan
mengajar English dan Komputer untuk anak – anak di lembaga Pendidikan yang
dahulu dan sambil mencari lembaga pendidikan lain di Jakarta Utara. Kebetulan Kawan
dulu marketing, memberikan sebuah awalan untuk mengajar di daerah Mangga Dua, Jakarta
Utara. Wilayah baru dengan kondisi masyarakatnya yang tentu 100% berbeda. Di sini
saya mengajar English kepada 5 bocah keturunan usia sekolah SD. Tentu mereka di awal
merasa saya berbeda dengan mereka, namun pelan tapi pasti kedekatan mereka
dengan saya bertumbuh. Saya sudah dianggap kakak oleh mereka berlima. Ini pun
bukan pengalaman saya mengajar siswa sekolah dasar di lembaga, jadi saya paham
betul pendekatan terhadap cara belajar mereka. Belajar dahulu, sambil bermain
kemudian. Sambil sesekali memberi mereka hadiah makanan ringan atau sekedar teh
segar sesekali jika kenaikan Tingkat di kelas. Memberi mereka kebanggaan bahwa
mereka berhasil naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Karena secara ekonomi,
mereka jauh lebih mampu, kalau adu harga jajanan mereka pasti saya kalah. Namun, mendekati mereka agar mau belajar dan terus mau belajar setiap minggu 2 kali adalah
tantangan unik. Membuat mereka rajin datang saja sudah perlu usaha, Mereka
datang bukan disuruh mami atau papinya lagi, tapi karena kemauan sendiri.